
"Helena, Mommy benar-benar tidak mengerti apa maksudmu? kenapa kamu berpikir kalau itu adalah selendang Leona?" tanya Veronica
"Nenek mengenali selendang itu Mommy, selendang itu punya nenek yang diberikan kepada Tante Leona, disaat sebelum kecelakaan itu terjadi, dan kenapa selendang itu ada di tangan Mommy?... atau jangan-jangan Mommy adalah otak dibalik kecelakaan Tante Leona? Mommy sengaja membuang selendang itu untuk menghilangkan jejak, iya kan Mommy?" seru Helena yang terus menekan Veronica untuk berbicara dengan sejujurnya.
"sial... kenapa Helena bisa berkata seperti itu, dia tidak boleh tahu, bahwa aku yang telah membuat Leona kecelakaan" gumam Veronica dengan rencana liciknya.
"Helena sayang, kenapa kamu menuduh Mommy seperti itu, dengarkan Mommy... Mommy memang memiliki selendang itu, tapi bukan berarti selendang itu punya Leona, ada banyak selendang yang sama dengan warna dan bahan yang sama, ya... mungkin kebetulan selendang Mommy sama dengan selendang punya Tante Leona.... sudahlah sayang, Mommy mau pergi dulu, kamu jangan mikir yang nggak- nggak tentang Mommy...oke!" ucap Veronica sembari berlalu meninggalkan Helena yang masih penuh tanda tanya.
Helena menatap Veronica yang tengah berlalu meninggalkan ruangan, Helena terpikirkan sesuatu untuk mencari tahu dengan siapa Mommy nya berbicara, karena Helena sangat yakin Mommy nya ada hubungannya dengan kecelakaan yang menimpa Leona.
Helena adalah gadis yang jenius, ia selalu bisa menguak misteri yang belum terpecahkan, maka dari itu, Vano sering bekerja sama dengan Helena baik dalam masalah bisnis ataupun yang lainnya.
Hari ini Helena akan memeriksa telepon yang baru saja digunakan Mommy nya untuk berbicara dengan seseorang yang sempat ia dengarkan tadi.
Helena selalu menyadap setiap hal yang ada didalam rumahnya tanpa sepengetahuan Mommy nya, karena ia adalah gadis yang suka berpetualang dan mencoba sesuatu yang baru, tak perduli ia lakukan dalam rumahnya sendiri, karena mengingat Veronica adalah pebisnis wanita yang cukup berpengaruh, ia khawatir tentang keadaan Mommy nya jika saja ada musuh bisnis Mommy nya yang ingin menipu perusahaan mereka.
awalnya Helena menyadap setiap apapun untuk kepentingan perusahaan Mommy nya, tapi sekarang tujuan Helena berubah, Helena ingin mencari tahu tentang hubungan Mommy nya dengan kecelakaan yang menyebabkan Leona meninggal dunia.
Helena segera mengambil laptop nya dan menghubungkan data server telepon dengan data peretas miliknya.
Ia mulai mencari keberadaan nomor yang telah dihubungi Veronica tadi, dengan teliti Helena mencari sinyal nomor itu berada.
"apa...ini tidak mungkin, nomor ini menuju desa yang Shesa kunjungi, untuk apa mereka kesana? atau jangan-jangan apa yang Mommy bilang tentang wanita dalam telepon itu adalah Tante Leona? Tante Leona masih hidup... astaga, Mommy ingin menghabisi nyawa Tante Leona?" ucap Helena yang sangat terkejut saat ia merasa ibunya Vano masih hidup.
Helena bergegas untuk bersiap pergi menyusul Shesa, ia khawatir tentang keadaan Shesa dan Vano, anak buah Mommy nya bisa saja menyakiti mereka, mengingat mereka hanya pergi berdua tanpa seorang anak buah pun.
*******
di desa...
Vano tampak sedang melihat bibi Lily tengah membawa air didalam timba, bibi Lily terlihat kesusahan membawa air tersebut, karena sepertinya ia kelelahan naik turun dalam kondisi alam di pedesaan sekitar lereng gunung.
Vano segera berlari menghampiri bibi Lily dan membantu nya untuk membawa air tersebut sampai di rumah.
"bibi, sini saya bantu" seru Vano sembari membawa timba berisi air tersebut.
bibi Lily melihat Vano dengan tatapan penuh tanya, apa yang ada dalam Vano, seolah ia telah mengenalnya, bibi Lily cukup lama diam berdiri menatap sosok pemuda yang sedang berada disampingnya itu.
tiba-tiba Vano mendekati bibi Lily yang tengah terdiam di tempatnya.
"bibi... kenapa bibi masih disini?" tanya Vano yang membuat bibi Lily terkejut.
kemudian bibi Lily segera melangkahkan kakinya untuk pulang ke rumah.
"ada apa dengan perasaanku? siapa pemuda ini? kenapa aku begitu senang jika berada didekatnya, apakah dia punya hubungan dengan diriku? aku benar-benar tidak ingat apa-apa" gumam bibi Lily
setelah beberapa saat Vano dan bibi Lily tiba di rumah, Vano melihat bibi Lily segera pergi meninggalkannya, namun Vano seolah ingin mengenal lebih wanita bercadar itu.
"tunggu" seru Vano menghentikan langkah bibi Lily.
"mama" ucap Vano lirih.
namun dengan cepat ia menyadari bahwa bibi Lily bukanlah mamanya, namun Vano seolah ingin sekali memandang bola mata yang telah membuatnya rindu dengan mamanya, bibi Lily menatap sendu kepada Vano, ada sebuah ikatan batin antara ia dengan Vano.
tiba-tiba Vano berkata kepada bibi Lily.
"bibi... entah kenapa aku ingin sekali memeluk bibi, aku teringat almarhum mama, bolehkah aku memeluk bibi sebentar saja" pinta Vano kepada wanita yang membuatnya tersentuh itu.
bibi Lily mengangguk, entah perasaan apa, ia sendiri juga tidak tahu, saat Vano meminta untuk memeluknya, dengan refleks tangan bibi Lily siap menyambut Vano untuk memeluknya.
Vano mulai memeluk bibi Lily, entah kenapa air mata itu tumpah disaat ia memeluk wanita yang belum ia kenal sebelumnya, pun demikian dengan bibi Lily, ia merasa sangat senang dan terharu, seperti pelukan antara ibu dan anak, pelukan kerinduan yang teramat dalam.
tampak Shesa melihat suaminya yang sedang menangis dalam pelukan bibi Lily, sejenak ia teringat akan ucapan Vano, bahwa Vano hanya akan menangis untuk dua orang wanita, yaitu dirinya dan ibunya, yang tak lain adalah Leona.
"kenapa aku ikut terharu melihat suamiku memeluk bibi Lily, mereka seperti bukan orang lain, seperti ada ikatan batin diantara mereka, atau jangan-jangan....!" gumam Shesa yang mulai berpikir bahwa bibi Lily adalah Leona.
"bibi Lily, siapa bibi Lily? aku harus mencari tahu informasi tentang bibi Lily....Nata, iya aku harus menanyakan siapa bibi Lily kepada Nata!" seru Shesa sembari berlalu menemui Nata.
Shesa melihat Nata sedang berada di belakang rumahnya, Nata tengah memetik sayur di ladang untuk dibuat makan siang nanti.
Nata terkejut melihat Shesa yang tengah menghampirinya.
"nona muda... kenapa kemari, disini panas non, nanti saya dimarahi loh sama tuan muda!" seru Nata kepada Shesa yang tengah menghampiri Nata di ladangnya.
Nata mengajak Shesa untuk duduk disebuah gubuk kecil ditengah ladang mereka.
"nona ada apa kesini?" tanya Nata
"aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu?" Jawab Shesa.
"menanyakan apa non?" tanya Nata
"tentang bibi Lily!" jawab Shesa serius
"bibi Lily!" ucap Nata yang terkejut kenapa Shesa menanyakan hal itu padanya.
"katakan padaku Nata, siapa sebenarnya bibi Lily? apa dia saudaramu?" tanya Shesa menyelidik
"bukan non, bibi Lily bukan saudara kami" seru Nata yang membuat Shesa semakin penasaran tentang sosok bibi Lily.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥
HAI SEMUA, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA...VOTE KALIAN AUTHOR TUNGGU 😊😊