
malam itu adalah malam terpanas bagi mereka berdua, alunan gemericik air hujan menambah suasana romantis di malam yang dingin itu, entah berapa lama permainan itu berlangsung, Shesa dan Vano akhirnya menyudahi aktivitas mereka berdua.
keduanya terlelap karena telah beraktivitas yang melelahkan tadi, hingga akhirnya ponsel Vano berdering, Vano terjaga dan mendengar ponselnya berdering, sementara ia melihat sang istri sedang terlelap dalam pelukannya, dengan sangat pelan ia meletakkan kepala Shesa pada bantal dengan sangat hati-hati, agar ia tidak membangunkannya.
kemudian ia beranjak mengambil ponsel yang terletak diatas nakas, ia melihat layar ponselnya dengan sedikit terkejut.
"Excel...ada apa dia malam-malam meneleponku" gumam Vano bertanya-tanya
lantas ia segera mengangkat telepon dari Excel.
"iya...ada apa?"
"bisakah kita ketemu, ada hal penting yang ingin aku sampaikan" ucap Excel serius.
"hm....sekarang?" seru Vano.
"lebih cepat lebih baik" jawab Excel
"baiklah..." jawab Vano
"aku tunggu di tempat biasa, cafe 77" seru Excel
Vano menutup ponselnya, lantas ia segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
setelah beberapa saat, Vano keluar dari kamar mandi, Vano bersiap untuk menemui Excel, ia melihat Shesa masih pulas dalam tidurnya, dan ia tak ingin mengganggu tidur sang istri, lantas Vano segera keluar dari rumah untuk menemui Excel segera.
setelah beberapa menit Vano telah sampai di cafe 77, ia turun dari mobilnya dan segera menemui Excel yang sudah menunggunya.
"ada apa kau memanggilku kemari?" seru Vano saat sampai di tempat Excel berada.
"duduklah" seru Excel mempersilahkan Vano
setelah Vano duduk di kursinya, kemudian Excel membuka pembicaraan tentang hal yang baru saja ia ketahui.
"kau tahu kenapa aku memanggilmu kemari?" seru Excel dengan tatapan seriusnya.
Vano terdiam, ia masih belum faham tentang apa yang dimaksud Excel kepadanya.
"Siska..." nama itu Excel sebut, dan itu membuat Vano mengeratkan giginya.
"kau harus hati-hati dengan Siska, ada sesuatu yang direncanakan Siska untuk memisahkan kalian berdua, ada seseorang yang mendukung Siska dari belakang, setidaknya orang itu cukup berpengaruh" ucap Excel menjelaskan.
"kau tidak akan menyangka siapa sebenarnya wanita itu, karena wanita itu sangat dekat sekali dengan keluargamu" sambung Excel
Vano menatap tajam kearah Excel, ia melihat kali ini Excel tidak menampakkan kebohongan di wajahnya.
"siapa perempuan itu?" tanya Vano penasaran
"Veronica Thamrin" ucap Excel lugas, hal itu membuat Vano terkejut, rupanya Veronica yang tak lain ibunya Helena, adalah orang dibalik keluarnya Siska dari penjara.
"tante Veronica!" ucap Vano lirih
"ia menggunakan Siska sebagai alat untuk memisahkanmu dengan anak dan istrimu, kau harus hati-hati, kali ini Siska menyusun rencana untuk memisahkan kalian" seru Excel serius.
Vano terdiam, ia mengepalkan tangannya, ia tak menyangka bahwa ibunya Helena yang selama ini ia hormati, ternyata berniat untuk memisahkan dia dan istrinya.
"kenapa tante Veronica harus melakukan ini padaku?" seru Vano dengan tatapan amarahnya.
"dendam lama, berawal dari dendam asmara antara perempuan itu dan kedua orang tuamu!" seru Excel mencoba menjelaskan.
"apa maksudmu?" Ucap Vano sembari mengerutkan dahinya.
" cinta segitiga antara om Hendrawan, mamamu dan perempuan itu!"
Vano semakin tidak mengerti dengan apa yang Excel katakan.
"sekarang Veronica ingin membalas ketidak adilan ini, apalagi suaminya sudah meninggal, ia menganggap om Hendrawan adalah penyebab kematian Vincent, maka dari itu ia ingin balas dendam kepada papa kamu dengan cara menyakiti dirimu" ucap Excel
Vano semakin mengepalkan tangannya, wajahnya semakin merah padam, ia tak menyangka sang istri di ikut-ikutkan dalam masalah ini.
"tante Veronica boleh saja menyakitiku, aku tidak peduli, tapi aku tidak terima jika dia menyentuh Shesa dan calon anak kami, aku akan buat perhitungan padanya, jika sedikit saja dia menyentuh istriku, biarpun sehelai rambutpun, aku akan membuatnya menyesal" seru Vano serius.
"kau tidak perlu khawatir, selama aku masih hidup, Siska tidak akan bisa menyentuh Shesa dan bayinya, aku janji padamu" janji Excel sungguh-sungguh sembari mengulurkan tangannya kepada Vano.
"terimakasih Excel " ucap Vano sembari membalas uluran tangan kerjasama dari Excel
********
jam menunjukkan pukul 4 pagi, Shesa mulai mengerjapkan matanya, ia meraba tempat tidur suaminya, namun sayang, ia tak mendapati keberadaan Vano disampingnya.
"sayang, kamu dimana?" seru Shesa sembari melihat tempat tidur yang kosong, kemudian ia beranjak ke kamar mandi dengan melilitkan selimut untuk menutupi tubuh polosnya, ia membuka kamar mandi, namun tetap saja ia belum menemukan sang suami.
"ke mana dia?" gumamnya penuh tanda tanya.
akhirnya ia mengambil ponselnya dan menghubungi Vano.
Ponsel Vano berdering, lantas ia segera mengangkatnya karena ia tahu Shesa sedang menghubunginya.
"iya...sayang"
"sayang kamu ada dimana? aku cari-cari kamu tapi tidak ada?" seru Shesa gelisah.
"aku ada urusan sebentar, sebentar lagi aku pulang" jawab Vano
"iya...baiklah, cepat pulang" seru Shesa
"hm...muach"
Excel melihat Vano yang begitu mencintai Shesa, ia tersenyum tipis melihat sikap yang romantis terhadap istrinya.
"istrimu?" tanya Excel pada Vano.
"iya...." jawabnya singkat
"pasti kamu kesini tidak pamitan padanya?" goda Excel.
Vano tersenyum sembari mengambil sepuntung rokok, kemudian ia menyalakan apinya.
"dia masih tidur, jadi aku tidak sempat membangunkannya, aku langsung kesini!" ucap Vano sesekali ia menghisap rokok itu, tampak wajah tampannya di keliling oleh asap putih itu.
"pulanglah...istrimu mencarimu" ucap Excel menggoda
"iya sebentar lagi, sudah lama aku tidak menikmati rokok ini, kau tahukan istriku sedang hamil, aku benar-benar harus menjauhkan istriku dari asap rokok" ucapnya
"ya...ya..ya...aku mengerti, puas kan bro, tempat ini kau bebas merokok dengan sepuasmu" canda Excel diiringi tawa kecil di sudut bibirnya.
"katakan, bagaimana hubunganmu dengan Vera? kapan kalian akan menikah?" tanya Vano
"pasti, secepatnya kami akan menikah, setelah aku berhasil membangun kembali perusahaan om Dewa yang sempat ku hancurkan sendiri, sekarang masih enam puluh persen" tutur Excel
"iya aku tahu itu, semoga kau cepat menyelesaikannya" ucap Vano menyemangati
"thanks bro, jujur ini bukanlah hal yang mudah untukku, kesalahpahaman itu benar-benar membuatku sangat berdosa, aku lukai mereka yang tidak bersalah, demi keegoisanku, aku telah menyakiti wanita yang aku cintai, rasanya aku ingin memutar waktu, dan kuperbaiki kesalahanku yang terlanjur tejadi, aku benar-benar pria yang bodoh" sesal Excel sembari menundukkan wajahnya.
"tidak ada kata terlambat, semua masih bisa diperbaiki, tunjukkan kalau kau benar-benar pria sejati, aku yakin kau pasti mampu, lampu hijau sudah kau dapatkan dari papa Dewa, tinggal bagaimana caranya saja kau memanfaatkan itu sebaik mungkin" ucap Vano sembari menepuk bahu Excel.
BERSAMBUNG
💖💖💖💖💖