
"hmm...jam berapa ini? aku lapar banget" Shesa mulai membuka matanya perlahan, ia mendapati dirinya sedang tidur di ranjang yang berbeda, waktu itu masih pagi sekali, jam masih menunjukkan pukul 5 pagi, ia melihat Vano masih tertidur pulas disampingnya, sesekali ia mengusap dan mencium kening Vano, Shesa masih mengingat jelas kejadian tadi malam, bagaimana Vano membuatnya tidak berdaya.
perlahan ia beranjak berdiri dan pergi ke kamar mandi, ia menutupi tubuh polosnya dengan selimut, dengan langkah yang sedikit gontai, Shesa berjalan menuju kamar mandi, ia berendam dalam bathtub, sesekali ia memejamkan matanya menikmati aroma terapi dalam kamar mandi itu, ia meregangkan otot-otot nya yang terasa kaku akibat terlalu banyak gerakan saat bergoyang bersama Vano.
setelah dirasa cukup, Shesa segera beranjak keluar dari kamar mandi, ia lupa bahwa bajunya masih dikamar sebelah, sekarang ia hanya mengenakan handuk piyama untuk menutupi tubuhnya. Shesa keluar dari kamar mandi, ia masih melihat Vano tertidur, lantas ia segera keluar dari kamar itu.
Shesa membuka kamar hotel yang pertama, ia menuju ruang ganti dan segera mengganti bajunya, disaat Shesa sedang berganti baju tiba-tiba Vano memeluknya dari belakang.
"ahhh...kamu ngagetin aja deh" seru Shesa yang merasa sangat terkejut Vano memeluk tubuh polosnya, Vano semakin erat mendekap tubuh Shesa yang sintal itu.
" hmm... kenapa kamu tinggalin aku sendiri" bisik Vano pada telinga Shesa, sambil memeluk Shesa dari belakang, Vano dengan leluasa bergerak lincah diarea terlarang milik Shesa, dan itu membuat Shesa sedikit mengeluarkan suara-suara khas yang membuat telinga Vano semakin panas ingin terus melakukan hal itu.
"akhhhh... sayang sudah dong, aku mau ganti baju dulu, aku lapar banget" pinta Shesa agar Vano menghentikan permainannya, lantas Vano dengan segera melepaskan tangan jahilnya dari daerah atas dan daerah yang dibawah sana, sebenarnya dia sangat ingin kembali memadu kasih, namun karena Shesa merasa lapar, jadi dia terpaksa menurunkan kembali tegangan yang sudah terlanjur ia rasakan pada adik kecilnya, ia tak mau memaksa Shesa bercinta dengannya disaat istrinya sedang lapar.
"baiklah kalau begitu aku mandi dulu, biar aku suruh pelayan membawakan makanan kesini..hm" tukas Vano sembari membelai pipi Shesa, dan Shesapun mengangguk senang, ia sudah sangat lapar, energinya terkuras untuk melayani ulah Vano yang brutal.
Shesa mulai memakai bajunya, dan ia memoles wajah cantiknya dengan makeup yang natural, nampak jelas sekali kissmark yang ditinggalkan Vano di area PD nya lebih dominan ketimbang dileher Shesa, karena Vano tak ingin merepotkan istrinya dalam berhias, sehingga Shesa tak perlu repot-repot lagi, menambahkan krim ajaib di leher nya yang jenjang.
setelah beberapa saat ada seseorang yang sedang mengetuk pintu, dengan senangnya Shesa bergegas membuka pintu, fikirnya itu adalah pelayan yang sedang membawakan makanan untuknya, kemudian ia membuka pintu kamarnya.
"hai...Shesa" sapa Mita dan Nabila dengan begitu senangnya, sontak saja wajah Shesa yang tadinya senang sekarang berubah menjadi masam.
"eh... kalian, ada apa?" tanya Shesa pada kedua temannya itu, Mita dan Nabila hendak mengajak Shesa untuk menikmati sunrise di pantai Kuta.
"Shesa...kita keluar yuk, kita lihat sunrise pagi ini" ajak Nabila senang.
"ah...tidak tidak, aku di kamar ajah, aku masih ngantuk banget" Jawab Shesa terpaksa berbohong, karena Vano masih berada di dalam kamar mandi.
"ngantuk?? tapi wajahmu kelihatan seger kok, trus itu rambutmu juga basah, mana mungkin kamu masih ngantuk" seru Mita menyelidik.
"eh...ini...ini...iya tadi aku habis mandi, tapi aku masih merasa ngantuk lagi, jadi aku putuskan untuk didalam kamar saja" ucap Shesa dengan senyum paksa.
"Mita...Nabila...ternyata kalian disini" sahut Monic dari kejauhan yang sedang memanggil mereka berdua, Monic berlari kecil menghampiri Mita dan Nabila yang berdiri didepan kamar Shesa.
"ya ampun, aku cariin kalian berdua ternyata ada disini" seru Monic yang sengaja mengalihkan perhatian Mita dan Nabila, Shesa menatap Monic dan ia mengisyaratkan agar Monic mengajaknya pergi, dan Monic mengerti bahasa mata yang dilemparkan Shesa kepadanya, Monic mengangguk pelan.
"Mita, Nabila ayo, keburu tinggi loh matahari nya" ajak Monic agar Mita dan Nabila segera pergi dari kamar Shesa.
"oh iya...lupa, nanti malam kita bobo dikamar mu ya, lusa soalnya kita udah balik ke Surabaya" sahut Mita.
"hm.. tentu saja, kamar ini terbuka lebar untuk kalian semua" jawab Shesa senyum, lantas ketiga temannya berlalu pergi dari hadapannya, Shesa segera masuk ke dalam kamarnya, dan mengunci kembali pintu kamar itu, tiba-tiba Vano sudah berdiri dibelakang Shesa, dan ketika Shesa membalikkan badannya, ia sangat terkejut sekali melihat Vano yang berdiri hanya mengenakan handuk yang melilit tubuh polosnya.
"aww...sayang, ya ampun udah berapa kali kamu ngagetin aku" Shesa menghela nafas panjang, Vano dengan cepat membawa Shesa keatas pundaknya, seperti orang yang sedang memanggul sesuatu di pundaknya.
"isshh... turunkan aku sayang" seru Shesa sembari memukul-mukul punggung Vano dengan kedua tangannya yang mungil, Vano membaringkan tubuh Shesa di atas tempat tidur mewahnya.
dengan rambut yang terlihat masih basah, Vano terlihat sangat cool, otot-otot yang terlihat sangat jelas pada lengan dan dada Vano, membuat wanita manapun akan terpesona dengan ketampanannya, Shesa mulai menggigit bibir bawahnya, lantas ia menarik tangan Vano agar menyentuh tubuhnya, Vano sadar istrinya ini sedang menggoda dirinya.
dengan gerakan lembut, Shesa mengecup dada bidang Vano yang ditumbuhi bulu-bulu halus, semakin panas dan semakin kebawah sentuhan itu ia rasakan, Vano sudah tak tahan untuk tidak mencium tubuh Shesa, dengan sangat lembut ia membalas apa yang sudah dilakukan Shesa terhadapnya.
"ehm...stop it" pinta Shesa agar Vano menjauh dari tempat yang dibawah disana, dan tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.
Vano dengan sangat kecewa terpaksa menghentikan kembali penjelajahan pagi ini, Shesa tersenyum nakal pada suaminya lantas ia segera membuka pintu kamarnya, dilihatnya seorang pelayan datang membawa makanan yang sudah Vano pesan tadi.
"hmm...yummy" seru Shesa kegirangan sembari membawa makanan yang sudah ia tunggu-tunggu dari tadi
Vano terpaksa menidurkan juniornya yang selalu ingin masuk kedalam sana.
"sayang...kita makan dulu yuk, ini enak banget loh" ajak Shesa kepada Vano yang terlanjur membatalkan aktivitas kemesraan mereka.
"makanlah duluan, aku ganti baju dulu" seru Vano dengan wajah masamnya, Shesa tersenyum geli melihat ekspresi Vano yang lucu itu, dan Vano sadar bahwa Shesa sudah menertawakan nya.
"kenapa senyum senyum sendiri?" tanya Vano dengan wajah serius.
" hah...nggak, siapa juga yang senyum senyum, udah ganti baju sana" jawab Shesa mengelak.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥