
Shesa mulai berjalan menghampiri kamar baby Ray, ia buka pintunya, terlihat disana baby Ray tampak mengoceh dan belum tertidur, ia menghentak-hentakkan kakinya yang kecil dan menggerak-gerakkan tangannya yang mungil, sementara bu Lasmi tertidur di sebuah kursi di sebelah box bayi, terlihat ia kelelahan dan menyandarkan kepalanya pada kotak tempat tidur baby Ray.
Shesa menghampiri bu Lasmi, dan membangunkannya dengan pelan, agar bu Lasmi bisa tidur kembali ke kamar.
"Bu Lasmi_Bu Lasmi" seru Shesa dengan lembut, terlihat Bu Lasmi mulai membuka kedua matanya, samar terlihat wajah Shesa yang sedang tersenyum kepadanya. Bu Lasmi mengangkat kepalanya dan membuka matanya dengan sempurna.
"Non Shesa, maaf saya ketiduran" ucap bu Lasmi minta maaf.
"Bu Lasmi maafkan saya, saya sedikit terlambat, sekarang Bu Lasmi bisa kembali ke kamar, Bu Lasmi istirahat saja, saya yang akan menjaga Ray dan membawanya ke kamar" ucap Shesa sembari tersenyum.
"Baiklah Non, kalau begitu saya permisi" pamit Bu Lasmi. Shesa mengangguk, kemudian Bu Lasmi beranjak pergi meninggalkan kamar baby Ray.
Shesa menghampiri putranya yang terlihat belum mengantuk. Kemudian Ia menggendongnya, dan meletakkannya di atas pangkuan.
Shesa membuka sebagian bajunya, tampak baby Ray merindukan ibunya, dengan cepat ia menyusu pada Shesa sembari tangan mungilnya memegang satu buah dada Shesa, seolah-olah ia tidak mau orang lain mengambilnya, meskipun tak bisa dipungkiri bagian dada Shesa sudah mulai ada tanda-tanda khas karya suaminya.
"Sayang, kamu rindu ya sama mama, maafin mama ya, sekarang mama bersamamu, anak mama yang pinter" ucap Shesa sembari mengusap lembut puncak kepala Baby Ray yang lembut.
Shesa membiarkan baby nya puas untuk menyusu pada PD nya, sesekali ia memandangi wajah putranya yang terlihat menggemaskan, saking lahapnya baby Ray menyusu pada PD Shesa, sehingga terdengar suara khas mulut baby Ray yang semangat menyesap air susu dari ibunya.
Setelah lima belas menit, tampak baby Ray melepaskan put*ng susu ibunya, Ia tampak kenyang dan tertidur dalam dekapan Shesa. Wajahnya yang tenang membuat Shesa sangat bahagia, putra nya benar-benar membawa wajah sang ayah, hidung yang mancung, mata yang indah, bibir mungil yang mirip sekali dengan suaminya.
Baby Ray mulai tidur dengan pulas, Shesa mencoba meletakkan nya pada box bayi, dengan lembut Shesa meletakkan putranya agar tidur dengan nyaman.
******
Sementara di kamar, Vano menyusul istrinya yang masih berada di kamar baby mereka. Vano hanya memakai piyama kimono yang menampakkan dadanya yang berbulu, terlihat sangat seksi dan menggoda.
Tak menunggu lama Vano sudah tiba di kamar baby mereka, Ia membuka pintu secara perlahan, tampak sang istri tengah menidurkan putra nya ke dalam box bayi.
Vano menutup pintunya kembali, Shesa menoleh suaminya yang baru saja datang, Vano berjalan dan menghampiri Shesa dan bayi mereka.
"Dia sudah tidur, lihatlah betapa damai wajah putra kita" seru Shesa sembari memperhatikan kemiripan wajah putranya dan Vano.
"Hm...seperti wajah papanya yang damai" sahut Vano yang membuat Shesa menoleh paksa. Sementara Vano menaikkan alisnya sembari menyunggingkan senyumnya. Shesa memutar bola mata nya, dan menggelengkan kepalanya, tiba-tiba saja Vano memeluknya dari belakang d an saling menempelkan pipi mereka.
Tangan Vano melingkar pada pinggang Shesa sembari menatap baby mereka penuh cinta.
"Baby kita sudah tertidur pulas" ucap Shesa
"Hmm...ayo sayang kita lanjutkan, malam ini masih panjang, Ray sudah tidur, ayolah!" bisik Vano mesra sembari menyusuri leher jenjang istrinya.
"Melanjutkan apa?" tanya Shesa pura-pura tidak tahu.
Vano tidak menjawabnya, justru Ia semakin nakal dengan mere*as dan memasukkan tangannya kedalam baju Shesa.
"Sayang jangan dong nanti Ray bangun" balas Shesa sembari memegang kepala Vano yang terus menjelajahi ceruk leher sang istri.
"Akkkhhhh....."
Keduanya semakin terhanyut dalam suasana romantis itu, disaat bibir itu saling bertaut dan keduanya menikmati luma*an demi luma*an yang membuat jiwa meronta-ronta.
Tiba-tiba saja Baby Ray terbangun dan menangis dengan diselingi sedikit ocehan khas dari mulutnya yang mungil.
Sontak saja Vano dan Shesa terpaksa menghentikan aktivitas mereka, dengan cepat keduanya menghampiri Baby Ray dan melihat ekspresi putra mereka.
Vano dan Shesa saling menatap saat Baby Ray menertawakan mereka berdua, Vano menepuk jidatnya dan menghela nafas panjangnya, kali ini Ia benar-benar sudah di kerjai oleh Baby mereka.
Shesa tertawa melihat suaminya lemas seketika, kemudian Ia mengangkat putranya dan menggendongnya.
"Sepertinya Ray tidak mau di tinggalkan" ucap Shesa sembari mengusap punggung putranya dengan lembut.
Vano menghampiri putranya dan mencium pipi Baby Ray yang gembul sembari mengatakan sesuatu.
"Hm...kamu nakal ya, malah tertawa, senang ya kalau papa nggak disayang mama, hm" ucapnya sambil menciumi pipi Baby Ray.
Sementara Vano masih gemas mencium pipi putranya, tiba-tiba saja tangan Baby Ray yang gembul meraih rambut Vano dan menariknya dengan kuat. Sontak itu membuat Vano berteriak.
"Aaawwwww....lepas lepas, lepasin sayang, Ray...kamu sudah bikin papa sakit sayang" pekik Vano saat rambut lebatnya ditarik-tarik oleh putranya.
Shesa justru tertawa geli melihat tingkah Baby mereka, tampak Ray tertawa seolah tangannya mendapat mainan baru.
"Sudah sayang, lepasin rambut papa...sini mama temenin Ray bobo" bujuk Shesa kepada Babynya, seolah putranya mengerti apa yang dimaksud ibunya, kemudian Ia melepaskan rambut Vano dari tangan gemoinya.
"Hahhh...rambutku, untung saja nggak jebol sampai ke akarnya...hmmm, awas kamu ya, udah ngerjain papa" seru Vano sambil mengusap -usap rambutnya yang acak-acakan akibat cengkeraman baby Ray.
"Aku mau membawa Baby kita ke kamar, kasihan dia sendirian, Bu Lasmi aku suruh kembali ke kamarnya, kasihan beliau terlihat kelelahan, kita yang akan menemani Ray tidur, tidak apa-apa kan sayang" pinta Shesa memelas.
Dengan terpaksa Vano harus mengurungkan niatnya untuk bercinta lagi dengan istrinya, Ia melihat Baby Ray tampak merindukan pelukan ibunya, untuk sementara Vano harus ikhlas mengalah.
"Baiklah, kita temani Ray bersama" ucap Vano sembari membawa Shesa dan putranya pergi ke kamar mereka.
Sesampainya di dalam kamar, Shesa meletakkan putranya diatas tempat tidur mereka, tampak baby Ray sangat senang tidur diantara mama dan papanya.
Vano dan Shesa tidur di samping putra mereka, Dengan berbaring, Shesa menyusui baby Ray sembari menepuk-nepuk lembut pantatnya yang gemoy, tampak baby Ray begitu menikmati dekapan sang ibu.
Tak butuh waktu lama, akhirnya put*ng susu Shesa terlepas dari mulut mungil baby Ray, perlahan Shesa memasukkan kembali kendi air susu baby Ray ke dalam bajunya. Dan akhirnya Ray tidur dengan pulas.
Sementara Vano terus memperhatikan apa yang dilakukan istrinya, senyumnya mulai nakal, Shesa mengerti apa maksud suaminya, Ia langsung pergi ke kamar mandi sembari memberi kode kepada Vano untuk datang kepadanya, agar Baby Ray tidak terbangun saat-saat mereka tengah menikmati syurga dunia.
Vano membalasnya dengan senyum bahagia, dan dengan segera ia menyusul istrinya masuk ke dalam kamar mandi.
Ngapain ya mereka???? 😁
Ya mandi lah 😁😁😁
BERSAMBUNG
❤❤❤❤❤
...Cukup ya.... othor nggak bisa melanjutkannya, kalian bisa menebak sendiri, positif thinking aja, mungkin mereka sedang mandi 😁🙏...
...Sekali lagi yang tidak suka dengan bab yang seperti ini, silahkan di skip, tidak perlu menghujat, cukuplah bijak dengan tidak usah di baca...yang penting jempol nya masih tertinggal 😁😁🙏🙏...
Yuk gaes ramaikan novel karya Kak Ayi yang berjudul Menggapai Mimpi, dijamin ceritanya juga seru 😊
...jangan lupa ya 😊❤️...