
Di kantor.
Hari ini Vano dan sekretaris Jimmy menghadiri sebuah rapat di hotel berbintang, ada banyak kolega bisnisnya yang hadir dalam pertemuan itu.
"pak Vano mari kita berangkat, mereka sudah menunggu kehadiran bapak disana" seru Sekretaris Jimmy.
"kau duluan, nanti aku menyusul, aku mau menelepon istriku dulu" seru Vano
kemudian sekretaris Jimmy meninggalkan ruangan, sementara Vano tengah menghubungi Shesa.
saat jam istirahat Shesa sedang berada di perpustakaan bersama Monic dan Laura, ia melihat ponselnya menyala, ia sengaja tidak mengeraskan nada deringnya atau menggunakan mode senyap, karena Shesa sadar ia sedang berada di dalam perpustakaan.
"suamiku sayang"
Shesa tersenyum melihat layar ponselnya yang tertera nama sang suami, dengan cepat ia mengangkat ponselnya.
"iya sayang" ucap Shesa manja.
"hm... sayang sedang apa kamu, kalian berdua baik-baik saja kan?" tanya Vano
"iya...aku baik-baik saja, kamu nggak usah khawatir gitu dong" seru Shesa
"aku cuma mau bilang sesuatu sama kamu sayang, nanti malam aku akan mengajakmu menghadiri acara peresmian sebuah kantor cabang milik klienku, saat aku pulang, aku ingin melihat istriku secantik mungkin" ucap Vano merayu.
"iya sayang, aku mengerti" jawab Shesa
"baiklah aku rapat dulu, eh tunggu apa Mario berada disitu?" tanya Vano
Shesa melihat Mario sedang berada dibelakangnya, pura-pura ikut membaca buku demi mengawasi nona mudanya.
"iya sayang, Mario ada dibelakang ku, lagi baca buku" ucap Shesa.
"baca buku, mana mungkin Mario baca buku, biasanya ia melihat majalah dewasa" seru Vano terkekeh.
"ya sudah sayang, aku rapat dulu ya, jaga dirimu baik-baik, muach" seru Vano sembari mencium jauh
Shesa menutup ponselnya, lantas ia melihat Mario yang tiba-tiba Rajin membaca buku, tampak kejauhan Shesa melihat sampul buku yang di baca oleh Mario, Shesa tiba-tiba tertawa lirih saat tahu buku yang dibaca Mario terbalik, namun dengan percaya diri Mario tetap serius dan seolah-olah membacanya.
"ya ampun Mario, bukunya terbalik lantas yang dia baca apa coba" gumam Shesa lirih dengan senyum kecilnya.
ternyata Monic memperhatikan Shesa yang sedang tertawa kecil.
"eh...kamu kenapa Sha, ngapain senyum senyum sendiri" seru Monic yang terheran melihat Shesa .
"eh Monic, nggak kok, cuma lucu saja ngelihat Mario" ucap Shesa sembari menunjuk Vano dengan matanya, dan Monicpun mengerti, lantas ia segera menoleh ke arah Mario
Monic melihat Mario membaca buku dengan buku yg terbalik, tampak senyum kecil mulai terlihat pada bibir nya.
Monic berinisiatif untuk menghampiri Mario, perlahan ia mendekati Mario yang sedang serius membaca buku dengan terbaik.
"hai Mario, kamu sedang apa? tanya Monic yang mengejutkan Mario dari aktivitas nya membaca buku
.
"Monic, eh ini, aku sedang membaca buku sastra" Jawab Mario mengarang, sebenarnya ia juga tidak tahu buku apa yang sedang ia baca, Mario menatap foto Monic yang ia masukkan ke dalam lembaran buku itu.
"buku sastra, coba lihat" seru Monic sembari mengambil buku itu dari tangan Mario.
"loh ini sih bukan buku sastra, tapi ini adalah buku dongeng anak-anak, ya ampun Mario kamu masih suka dongeng anak-anak" seru Monic tertawa kecil
"eh...eh...eh...jangan dong, kembalikan bukuku" seru Mario sambil meraih buku itu dari tangan Monic, namun Monic justru menyembunyikan buku itu dibalik badannya.
Shesa dan Laura tampak menyaksikan kehebohan mereka berdua, keduanya tersenyum melihat tingkah lucu Monic dan Mario.
"eh apa itu?" seru Monic terkejut saat mendapati sebuah foto yang terjatuh dilantai.
"aduh gawat njir" gumam Mario, ia sangat malu jika Monic sampai melihat foto dirinya yang tengah Mario pandangi sedari tadi.
Monic mengambil foto yang terjatuh dari buku yang dibaca Mario tadi, alangkah terkejutnya saat ia membalikkan foto tersebut, ia melihat foto dirinya sendiri, pipinya mulai memerah, ia sangat malu sekali, ternyata sedari tadi Mario menatap wajah Monic yang ia letakkan di dalam lembaran buku itu.
Shesa dan Laura saling menatap, kemudian Mario mengambil kembali dengan cepat foto yang dibawa Monic.
"ma...maaf, aku simpan foto kamu" ucap Mario gugup.
"jadi selama ini Mario menyimpan foto-fotoku, apa dia benar-benar serius" gumam Monic menatap Mario serius.
tiba-tiba Shesa berdehem dan mengejutkan lamunan mereka
"ehem...ehem"
Monic segera pergi dan menghampiri Shesa, dengan wajah yang tertunduk malu.
"aduh aduh yang lagi jatuh cinta, aih diam-diam Mario menyimpan foto Monic ya ternyata" seru Shesa menggoda mereka berdua.
"ah Shesa apa-apan sih, malu tahu" ucap Monic
"malu tapi mau kan" ucap Shesa.
****
di kantor
Vano mulai memasuki ruangan rapat, sudah ada beberapa klien yang menunggunya, kemudian ia mulai duduk di kursi kepemimpinannya, Tampak ada satu kursi yang masih kosong, kemudian Vano menanyakan siapa pemilik kursi itu.
"Sekretaris Jimmy apa semuanya sudah hadir, aku lihat ada kursi yang masih kosong" seru Vano
"oh ... itu punya seorang direktur wanita dari Singapura tuan muda, namanya Veronica Thamrin" lugas Sekretaris Jimmy menjelaskan.
"Tante Veronica" gumam Vano yang terkejut dengan kehadiran Veronica nanti pada rapat tersebut.
tak berselang lama, seorang wanita dengan penampilan rapi dan mewah, sedang memasuki ruangan dimana Vano berada, wanita itu mulai mendekati meja rapat dan mulai duduk di kursi yang disediakan.
pandangan Vano tak pernah luput dari gerak gerik Veronica.
"hai Vano, apa kabar kamu, sudah lama kita tidak bertemu" seru Veronica yang pura-pura akrab.
"oh... rupanya kau ingin bermain denganku Tante, tidak masalah aku juga akan mengikuti permainanmu" gumam Vano dengan tatapan serius.
Veronica sengaja masuk kedalam bisnis Vano, tentu saja dengan tujuan untuk menghancurkan bisnis Vano dari dalam, namun sayang sekali usahanya telah tercium oleh Vano, apalagi niat Veronica juga ingin memisahkan Vano dan Shesa.
"Vano...kau tunggu pembalasanku, ini akan lebih menyakitkan daripada luka yang telah aku rasakan"
gumam Veronica dengan tatapan sinisnya.
dan akhirnya rapat itu segera dimulai, Veronica menyatakan ingin bekerja sama dengan perusahan Vano, dengan alasan Vano adalah keponakannya sendiri lagipula perusahaan Vano sangat terkenal seantero negeri ini.
Vano menyetujui permintaan Veronica, mereka menandatangani kontrak perjanjian.
"Hendrawan, lihatlah sebentar lagi perusahaan beserta keluargamu akan hancur berantakan, aku pastikan kau akan lebih menderita daripada aku" ucap Veronica penuh dendam.
"Tante...aku pastikan, kau tidak akan bisa mengambil data-data perusahaan ini, justru aku yang akan mengambil alih perusahaanmu, lakukanlah sesuka hatimu, jika saja kau menyentuh istriku walaupun seujung kuku, aku akan membawa hidupmu seperti di neraka" sumpah Vano sungguh-sungguh.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥