Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
Hecting


Tangisan itu terdengar hingga di luar kamar persalinan, Hendrawan dan Leona tampak terkejut dan bahagia mendengarkan tangisan cucu mereka.


"Mas, cucu kita sudah lahir" seru Leona sembari memeluk suaminya.


"Kamu benar sayang, itu adalah tangisan Vano kecil, selamat akhirnya kamu akan dipanggil Oma" ucap Hendrawan senang.


"Kamu juga akan dipanggil Opa" balas Leona bahagia.


"Aku sudah tidak sabar ingin menggendongnya" seru Leona.


Kedua teman Shesa pun turut bahagia mendengar tangisan bayi Shesa, tampak mereka berdua saling merangkul, dan ikut merasakan kebahagiaan Vano dan Shesa.


Tak berselang lama, seorang suster keluar dari ruang persalinan, tampak Hendra dan Leona menyambut kedatangan suster tersebut.


"Suster bagaimana keadaan menantu saya dan bayinya?" tanya Leona yang sudah tidak sabar ingin bertemu mereka.


"Selamat ya Bapak, Ibu...bayinya laki-laki, dia bayi yang sehat dan tampan, ibunya juga sehat, sekarang Nyonya Shesa masih dalam tahap pemulihan, Anda bisa menemuinya setelah proses Hecting selesai, dokter sedang menanganinya" ucap Suster tersebut


"Terimakasih banyak suster" seru Leona


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi" ucap suster tersebut.


*******


Di ruang persalinan.


Shesa masih melakukan prosedur IMD (Inisiasi Menyusui Dini) dimana sang baby menyusu pada PD ibu, untuk memancing hormon menyusui dan mendekatkan hubungan batin antara ibu dan bayinya.


Tampak kulit sang baby masih merah dan masih suci, bayi yang begitu mungil, ia mencari put*ng ibunya dan langsung menyesap areola Shesa, benar-benar bayi yang lincah, ia menyesap begitu kuat, sehingga membuat Vano sangat gemas melihatnya.


"Lihat deh sayang, dia kuat banget nyusunya" seru Vano sembari mengelus rambut sang putra yang masih sangat lembut.


"Hm ... papanya juga gitu, kalau nyusu malah berjam-jam" sindir Shesa sembari melirik suaminya.


"Habisnya manis banget sih" jawab Vano sembari mengulum senyumnya, Shesa benar-benar tersipu malu.


Baby mereka begitu senang berada dalam dekapan Shesa, sesekali tubuh mungilnya menggeliat membuat Vano semakin gemas ingin memeluknya.


Sementara itu suster menghampiri mereka dan memberi tahukan bahwa waktunya Shesa untuk proses Hecting.


"Maaf Nyonya, kami harus segera melakukan tindakan Hecting pada luka anda" seru suster itu.


"Ah...iya tentu saja" jawab Shesa


"Sementara Nyonya Shesa dijahit, silahkan tuan menggendong bayi anda" seru Suster tersebut.


Dengan senang hati Vano sangat siap untuk menggendong putra kecilnya itu.


"Tapi sayang, bukannya kamu tadi merasa mulas-mulas dan sakit pinggang, apa tidak bahaya jika kamu menggendong putra kita" ucap Shesa sembari melihat kondisi suaminya yang tampak sehat bugar.


"Nggak tuh, udah nggak sakit sama sekali, tuh lihat aku baik-baik saja" jawab Vano sembari menunjukan keadaannya yang baik-baik saja,


Vano merasa sudah tidak mulas-mulas lagi, dan pinggangnya juga sudah tidak nyeri lagi.


"Ini benar-benar aneh, kok bisa ya" ucap Vano lirih.


Kemudian dokter Feby datang.


"Rasa sakit itu pasti hilang, karena babynya udah keluar" ungkap dokter Feby sembari memegang sebuah jarum khusus untuk proses Hecting.


Vano dan Shesa tersenyum, ternyata mereka berdua mengalami rasa sakit yang sama, bukan hanya proses pembuatan nya saja yang bersama-sama, tapi proses melahirkannya pun ikut dirasakan bersama-sama.


Vano tampak terkejut saat dokter Feby membawa sebuah jarum yang bentuknya aneh.



"Dokter itu untuk apa?" tanya Vano sembari mengerutkan dahinya.


"Ini adalah jarum yang digunakan untuk menjahit luka robek akibat proses persalinan Nyonya Shesa tadi, saya melihat ada sedikit robekan disana, jadi kami akan menjahitnya agar luka itu menutup kembali" ucapan dokter Feby membuat Vano tidak percaya.


"Robek dokter? apanya yang robek? istri saya tidak terluka sedikitpun, dia baik-baik saja, iya kan sayang" tanya Vano penasaran, dan membuat Shesa menepuk dahinya.


Dokter Feby tersenyum, kemudian ia menjelaskan kepada Vano kenapa luka robek itu bisa terjadi.


"Apa saya boleh melihatnya dokter?" tanya Vano penuh harap.


"Karena Anda adalah suaminya, tentu saja... silahkan" seru Dokter Feby sembari membuka selimut yang menutupi kaki Shesa yang masih terbuka.


"Haaahh....Omaigad, tutup dokter, tutup kembali, saya tidak kuat melihatnya" seru Vano sembari menutup sebelah matanya.


Dokter menutup kembali selimut yang menutupi sebagian tubuh Shesa.


Vano mengambil nafas dalam-dalam setelah melihat pemandangan yang baru saja ia lihat, kemudian ia menghampiri Shesa dan memeluknya dengan erat.


"Sayang maafkan aku, aku sudah membuatnya berubah" ucap Vano yang tidak dimengerti oleh Shesa.


"Apa maksudmu sayang, apanya yang berubah?" tanya Shesa penasaran.


"Sudahlah pokoknya berubah" Jawab Vano menggelengkan kepalanya.


"Ini hanya sementara Tuan, setelah beberapa Minggu akan berubah normal kembali dan tidak akan seperti ini, Tuan tidak usah khawatir, rasanya akan tetap sama tidak akan berubah" seru dokter Feby yang membuat Vano menggaruk tengkuknya.


"Baiklah dokter, silahkan Anda lakukan, saya minta tolong berhati-hati" seru Vano sembari menerima bayinya kedalam pelukannya.


Setelah babynya dalam gendongan, tampak Vano begitu hangat memeluknya, terlihat Shesa yang sedang dalam proses Hecting oleh dokter.


"Dokter apakah ini akan terasa sakit?" tanya Shesa sedikit takut.


"Tidak akan terasa sakit nyonya, hanya sedikit saja seperti digigit semut" ungkap dokter Feby tersenyum.


Shesa harus melewati dulu masa Hecting atau proses jahit luka robek, suster sudah mempersiapkan alat-alat untuk menjahit luka robek akibat proses persalinan tadi.


Sementara itu Vano menggendong bayinya sembari menyaksikan istrinya dijahit.



"Tahan ya Nyonya"


Tusukan pertama


"Aww" Shesa terkejut dan ia meringis, terlihat Vano juga ikut menahan sakit.


Tusukan kedua


"Awww...hufff.... sayang kemari" seru Shesa memanggil suaminya, dan Vano pun menghampiri Shesa yang sedang dijahit.


Shesa memegang lengan Vano yang tengah duduk disamping nya sembari menggendong bayi mereka.


Tusukan ketiga.


"Awww...sakit sayang" kali ini bukan Shesa yang berteriak kesakitan tapi Vano, karena refleks Shesa mencoba meraih apa saja yang ada disampingnya karena tusukan itu terasa ngilu.


Shesa mencengkeram rambut Vano, sehingga membuat Vano berteriak kecil.


Tusukan ke empat.


"Awww ...hufftt" pekik Vano karena rambut kerennya sudah diacak-acak oleh sang istri.


Meskipun sudah disuntikkan bius, namun tetap saja rasa ngilu itu masih terasa saat jarum bulan sabit itu menusuk daging.


Setelah beberapa saat dokter Feby selesai melakukan proses Hecting.


"Sudah selesai, sekarang Nyonya Shesa akan dibersihkan oleh perawat, dan setelah itu Nyonya Shesa akan kami pindahkan ke ruang pemulihan" seru dokter Feby.


"Selamat ya untuk kelahiran putra kalian yang tampan ini, kalau begitu saya permisi dulu" pamit dokter Feby.


"Terimakasih banyak dokter" ucap Vano.


BERSAMBUNG


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


...Hayo...jangan ketawa-ketawa sendiri, othor nulisnya jungkir balik, ngakak sendiri 🀭🀭...


...Maafkanlah othor yang oleng iniπŸ™πŸ€­...