Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
panjat dinding


pagi itu Vano baru saja pulang dari Cafe 77, sementara Shesa masih menyiapkan dirinya untuk berangkat sekolah, Vano memasuki kamarnya dan melihat sang istri telah berganti baju seragam abu putih.


Shesa menyadari kehadiran sang suami, lantas ia memperhatikan Vano yang tengah berjalan menghampirinya, Vano memeluk Shesa penuh kerinduan.


"kamu dari mana sayang?" tanya Shesa yang masih dalam pelukan Vano.


"ssttt...diam dulu, aku masih ingin mencium harum tubuhmu, aku sangat merindukanmu!" ucap Vano sembari menghirup aroma wangi blossom yang selalu ia suka.


sesaat setelah Vano puas menciumi istrinya, kemudian ia memandang wajah sang istri, Shesa tampak sedikit cemberut, karena Vano meninggalkannya sendirian tadi malam.


"hei...ada apa dengan istriku? senyum dong sayang, aku ingin melihat lesung pipi itu hm" ucapnya menggoda Shesa.


"udah deh jangan banyak alasan, kamu dari mana semalam? kenapa nggak bangunin aku?" seru Shesa sembari menatap dalam-dalam wajah sang suami.


"maafkan aku, kamu tidur sangat pulas, aku tak tega jika membuatmu terbangun, tadi aku menemui Excel, dia memintaku untuk datang" seru Vano lembut.


"Excel? untuk apa malam-malam dia ingin bertemu denganmu sayang ?" tanya Shesa penasaran.


"ceritanya panjang, nanti aku beritahu, tapi sebelumnya berikan dulu ciuman untuk suamimu ini" seru Vano dengan berbisik


kening mereka saling bersentuhan, membuat nafas Vano terasa hangat di bibir Shesa, hingga akhirnya Shesa mencium bau rokok dari bibir Vano.


"sayang, kamu merokok?" seru Shesa sembari menjauhkan wajahnya dari Vano.


"hmm... cuma sedikit" ucapnya pelan sembari mendekatkan lagi wajah Shesa, Vano mulai mendaratkan ciumannya.


"sayang, aku kangen" bisiknya sembari mencium bibir Shesa, namun dengan cepat Shesa memalingkan wajahnya dari Vano.


"em...stop" ucapnya sembari menutup bibir Vano dengan satu jarinya.


Vano terdiam dan menatap Shesa penuh tanya.


"mulutmu bau rokok, aku tidak suka, mandi dulu sana, ucap Shesa pelan sembari mendorong tubuh suaminya untuk segera mandi.


Vano menghela nafasnya, kemudian ia segera pergi ke kamar mandi dengan malas, perlahan ia mulai masuk kedalam, namun ia tak jua menutup kamar mandinya kembali, justru ia masih berdiri ditengah pintu sembari memeluk daun pintu kamar mandi.


Shesa menoleh dan memperhatikan Vano yang masih menempel pada daun pintu kamar mandi.


"sayang kamu ngapain masih disitu?" tanya Shesa tersenyum geli melihat tingkah sang suami.


"sayang...muachh" seru Vano sembari mencium jauh untuk Shesa, lantas ia menutup pintu itu.


"astaga! ada-ada saja kamu sayang" seru Shesa sambil menepuk keningnya.


********


Di sebuah rumah minimalis yang terletak di sebuah hunian asri dekat dengan sekolah Shesa, tampak seorang gadis yang bersiap untuk berangkat sekolah, di rumah sederhana namun terlihat cantik itu ia tinggal bersama asisten rumah tangga yang disediakan Vano untuknya.


Laura, keponakan Siska yang mendapat pengampunan dari Vano, ia sengaja di jauhkan dari Siska agar Siska tidak menyakiti atau memperalat lagi keponakannya yang tidak tahu apa-apa tersebut.


"mbak Laura, ayo sarapan dulu mbak" seru bik Sri, asisten rumah tangga yang dipekerjakan Vano untuk melayani Laura selama tinggal disini hingga ia lulus sekolah nanti.


"iya bik" jawabnya singkat, lantas Laura pergi ke meja makan bersama bik Sri.


"mbak Laura, saya disuruh pak Vano untuk menemani mbak Laura tinggal disini, kalau mbak butuh apa-apa nanti bilang sama bibik" seru bil Sri.


bik Sri sebenarnya adalah salah satu anak buah Vano yang ia tugaskan untuk mengawasi Laura dari Siska, sehingga Vano bisa mengetahui keadaan Laura lewat anak buahnya tersebut.


******


Vano telah menyelesaikan ritual mandinya, lantas ia segera berganti baju yang telah disediakan Shesa untuknya.


Vano mendekati Shesa, lantas ia mengambil jas yang diberikan Shesa untuknya.


"terimakasih sayang" ucapnya sembari memegang pipi sang istri.


saat Vano sedang mengganti bajunya di ruang ganti, Shesa mendapati ponselnya berdering, ia melihat layar ponselnya.


"Laura"


Shesa lantas menerima teleponnya.


"hai Laura, gimana kabarmu? maaf kemarin aku belum sempat anterin kamu ke rumah" seru Shesa.


"nggak papa kok Sha, aku berterima kasih banget pada pak Vano yang udah mengizinkan aku untuk tetap tinggal dan bersekolah di sini, sungguh aku sangat bersyukur bisa bertemu kalian berdua, hari ini aku mau masuk sekolah, aku udah kangen kalian semua" ucap Laura senang.


"iya...eh ngomong-ngomong jangan dipaksa sekolah dulu kalau kamu masih sakit" seru Shesa khawatir.


"nggak papa, aku udah sehat kok, kalau dirumah terus aku tambah bosan, lagipula minggu depan ada lomba panjat dinding tingkah SMA, rencananya aku mau ikut mewakili sekolah , karena lomba ini diikuti oleh seluruh sekolah di kota ini" ucapnya senang.


"hm...sayang aku nggak bisa ikut, pasti bakal seru nih" ucap Shesa sembari mengingat saat dirinya pernah mengikuti kejuaraan panjat dinding, namun sayang sekarang ia sudah tidak bisa mengikutinya lagi, karena tidak mungkin Shesa ikut dalam kondisinya yang tengah berbadan dua.


sebelum Shesa menikah dengan Vano, ia selalu mengikuti kejuaraan panjat dinding tingkat SMA, dan Shesa selalu keluar menjadi juara, dan tentu saja itu menorehkan prestasi untuk Shesa, nama baik sekolah Harapan Bangsa menjadi unggul dengan kehadiran siswa berprestasi seperti dia.


"ya udah Sha, aku berangkat dulu, sampai jumpa di sekolah bye " seru Laura


"bye Laura" jawab Shesa singkat.


tanpa Shesa sadari, Vano sedari tadi telah memperhatikannya, Shesa hendak beranjak berdiri, tiba-tiba ia dikejutkan dengan kehadiran Vano di belakangnya.


"sayang...ngagetin aja" seru Shesa sembari menghela nafasnya.


Vano menatap wajah istrinya, ia melihat ada sesuatu yang ia pikirkan.


"ada apa sayang? apa yang kamu pikirkan hm" tanya Vano sembari menarik pinggang Shesa.


"tidak ada, tadi Laura telepon, hari ini ia akan masuk sekolah" ucap Shesa tersenyum


"hm...bagus itu, berarti keadaannya sudah membaik, aku sengaja menempatkan Laura di rumah yang dekat dengan sekolah, agar dia tidak jauh-jauh untuk pergi ke sekolah, mengingat kondisinya dia habis operasi" seru Vano.


"makasih ya sayang, Laura sangat berterimakasih kepadamu" ucap Shesa


"terus kenapa wajahmu masih terlihat sedih? aku tahu kau masih memikirkan sesuatu" tanya Vano yang mengenal betul ekspresi Shesa.


"nggak ada sih, cuma...tadi Laura bilang, ada kejuaraan panjat dinding tingkat SMA, dan dia mewakili sekolah kita, aku jadi ingat saat dulu aku mengikuti kejuaraan itu, dua kali aku menang berturut-turut, tapi sayang sekarang cuma kenangan, aku nggak bisa mengikutinya lagi, hanya bisa jadi penonton" seru Shesa mengingat masa lalunya.


"benarkah? emang kamu bisa manjat dinding?" seru Vano mulai menggoda Shesa.


"bisa dong, itu hobi dari dulu" ucap Shesa singkat.


"wah...spiderman punya rival dong sekarang" goda Vano yang membuat Shesa mencubit pinggangnya.


"iihhh....apaan sih kamu sayang" ucap Shesa sembari memgerucutkan bibirnya.


"iya...iya...aku bercanda, tapi ingat kamu jangan sampai mengikuti panjat dinding itu lagi, apa pun alasannya" seru Vano serius.


"siap pak Vano " jawabnya sembari memberi hormat kepada Vano


BERSAMBUNG


💖💖💖💖💖💖