
"Mario kamu lebih perketat penjagaan, aku tidak mau orang asing atau siapapun mendekati istriku, terlebih sekarang Siska masih berkeliaran"
"aku akan selalu melindungi nona Shesa, tuan muda jangan khawatir" seru Mario saat Vano memintanya lebih ketat mengawasi Shesa.
Di Sekolah
Laura masuk ke halaman sekolah dengan diiringi tatapan sinis beberapa temannya, namun ia tidak perduli, dalam fikirnya yang penting Shesa dan Vano sudah memaafkannya, Laura cuek tak memperdulikan pandangan negatif teman-temannya, apalagi mereka sudah tahu kalau Laura adalah keponakan Siska.
"eh...eh... lihat deh, kok nggak malu sih Laura datang ke sekolah, diakan udah coba-coba nyakitin Shesa"
"dasar cewek nggak tahu malu"
"untung saja pak Vano tidak memenjarakan dia sekalian bersama Bu Siska"
"masih beruntung dia sekolah di sini, memang pak Vano baik banget"
Laura mendengar ucapan teman-temannya yang sengaja menyindirnya, lantas ia menghampiri beberapa siswa yang telah membicarakannya tadi.
"kalian tidak punya pekerjaan lain, selain ngomongin orang, apa kalian memang suka ngerumpi kayak emak-emak di warung, kalian tuh murid terpelajar, apa yang kalian lakukan itu tidak pantas disandang sebagai murid berkelas di sekolah ini, pak Vano dan Shesa sudah memberiku kesempatan kedua, aku akan tunjukkan kepada mereka, bahwa aku akan selalu melindungi Shesa dan bayinya, jadi mulai saat ini tutup mulut kalian" seru Laura sembari menatap tajam kearah mereka, siswa-siswa yang membicarakannya tersebut akhirnya diam.
Laura lantas meninggalkan mereka semua, kemudian ia mulai masuk kedalam kelas 12, ia melihat Shesa dan Monic sedang duduk di bangku nya.
"hai Shesa" sapa Laura tersenyum
"hai Laura, gimana kabarmu?" seru Shesa sembari menghampiri Laura yang masih berdiri.
"aku baik-baik saja" jawab Laura.
Monic lantas ikut berdiri di samping Shesa, ia waspada jika Laura masih menyakiti Shesa.
"Laura! kamu jangan macam-macam sama Shesa, pak Vano tidak akan membiarkanmu selamat, jika kamu berani-berani menyentuh Shesa dan bayinya" ucap Monic.
Laura tersenyum, ia sadar bahwa kesalahannya pasti membuat orang tidak percaya lagi padanya, namun ia sekarang sadar, bahwa apa yang ia lakukan sangat salah, ia mempercayai omongan Siska yang sengaja memperdaya dirinya.
"Monic, aku bukanlah Laura yang dulu, aku telah menyesali perbuatanku, aku akan memperbaiki kesalahanku kepada Shesa, aku berjanji padanya, Shesa dan bayinya pasti baik-baik saja" ucap Laura sungguh-sungguh.
"sudahlah Mon, Laura sudah berubah, apa salahnya kita memberi kesempatan kepada Laura untuk memperbaiki kesalahannya" ucap Shesa menenangkan Monic.
Mario mulai datang ke kelas, ia mulai duduk di bangkunya, ia masih teringat perintah Vano semalam agar selalu mengawasi Shesa lebih intens lagi.
tiba-tiba seorang siswa masuk kedalam kelas
"eh...Bu Dewi datang"
semua siswa duduk di bangku masing-masing.
"hai Monic, kamu terlihat cantik hari ini" seru Mario yang sempat-sempatnya menggoda Monic.
"apaan sih" jawabnya cuek, Monic melihat Mario yang tampak senyum-senyum sendiri.
kemudian Bu Dewi mulai memasuki ruangan kelas 12 dan menyapa siswanya.
"selamat pagi anak-anak"
"selamat pagi Bu" jawab mereka serentak.
"ibu mempunyai informasi untuk kalian, Minggu depan sekolah kita akan mengikuti kejuaraan panjat dinding tingkat SMA, untuk itu mohon partisipasinya ya, siapa diantara kalian yang mau ikut mewakili sekolah kita, silahkan mendaftarkan diri kepada saya, karena ini adalah kejujuran tingkat nasional, maka ibu berharap kalian bisa mengikuti nya" seru Bu Dewi.
"kamu ajah Mon yang ikut, seru loh" ucap Shesa menggoda.
"nggak nggak, aku phobia ketinggian, bisa-bisa mati lemas aku diatas" ucapnya ketakutan dan Shesa tertawa kecil mendengar penuturan Monic.
tiba-tiba suara lantang Laura memecah suasana.
"saya Bu, saya akan mewakili sekolah kita" seru Laura optimis.
semua mata tertuju pada Laura yang sungguh-sungguh mengikuti lomba tersebut, ini kesempatan untuknya memperbaiki citra sekolah yang sempat ia bikin malu dengan kejadian waktu itu.
"Laura, apa kamu yakin ingin melakukan itu!" seru Bu Dewi yang salut dengan keberanian Laura.
"tentu saja Bu, saya akan menggantikan Shesa, dia sedang hamil, maka dari itu saya yang akan mewakili sekolah" ucap Laura tersenyum
"Bu Dewi jangan khawatir, Laura pasti bisa diandalkan, dia pemanjat yang ulung" sahut Shesa sembari melempar senyum kepada Laura.
"baiklah ibu menyetujui bahwa Laura yang akan mewakili sekolah" ucap Bu Dewi tersenyum.
semua siswa terkejut dengan apa yang mereka lihat dan dengar, seorang anak baru Laura Anastasia dengan beraninya ia mewakili sekolah dalam kejuaraan itu.
"selamat ya Laura, mudah-mudahan kamu bisa membawa harum nama sekolah kita" ucap Shesa berharap Laura memenangkan lomba tersebut.
"terimakasih Shesa, itu semua tak luput dari kebaikan kalian berdua, aku akan meneruskan jejak mu untuk membawa harum nama sekolah kita" ucap Laura tersenyum.
******
di sebuah apartemen elit di Surabaya, terlihat seorang wanita sedang bersiap-siap untuk pergi.
"Laura, tante akan menjemputmu pulang hari ini!" ucap Siska pelan, kemudian ia bergegas mengambil tasnya dan segera keluar dari apartemen.
setelah beberapa menit Siska telah sampai di rumah sakit, ia langsung menuju kedalam kamar bekas Laura dirawat itu, namun ia tak mendapati keberadaan sang keponakan.
"Laura, dimana kamu?" gumam Siska penuh tanda tanya, kemudian ia menanyakan kepada resepsionis tentang keberadaan Laura sekarang.
"permisi suster, pasien atas nama Laura Anastasia, apa dia sudah pulang?" tanya Siska penasaran.
"maaf nyonya, pasien atas nama Laura Anastasia sudah dijemput oleh beberapa orang kemarin" ucap suster itu, dan tentu saja perkataan suster itu membuat Siska curiga.
"dijemput seseorang? tapi siapa yang sudah menjemputnya!" tanya Siska mulai panik
"kami tidak tahu nyonya" jawab suster.
Siska menghela nafasnya, lantas ia segera pergi dari rumah sakit, ia masih bertanya-tanya siapa yang sudah menjemputnya.
"Laura pergi dengan siapa? kenapa dia tidak bilang padaku, atau jangan-jangan Vano yang melakukan semua ini, tapi itu tidak mungkin, Vano tidak mungkin melakukan itu pada Laura" gumam Siska penuh tanda tanya.
Siska tidak menyadari bahwa ada anak buah Excel yang terus memperhatikan gerak gerik Siska kemanapun dia pergi, Excel menyuruh beberapa anak buahnya untuk mengawasi Siska, kemanapun Siska bergerak, Excel sudah mengintainya, karena Excel tahu Siska sedang merencanakan sesuatu untuk mencelakai Shesa dan Vano.
"bos, wanita itu sedang berada di rumah sakit" seru anak buah Excel lewat telepon
"kau terus awasi dia, jika ada yang mencurigakan, cepat hubungi aku" jawab Excel yang terus waspada dengan gerak langkah Siska.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥