Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
Bab bonus 4: Ngidam cilok


Hingga tiba waktunya Vano harus bertemu dengan kliennya di sebuah restoran mewah yang terletak di hotel bintang lima, Vano datang bersama dua orang kepercayaannya, Mario dan Sekretaris Jimmy. Terlihat seorang pria dengan perut sedikit buncit, tengah menyambut kedatangan Vano dkk.


Dan tentu saja masker dengan berbagai filter lengkap kini terpasang sempurna di wajah tampan Vano.


"Selamat siang pak Vano" seru pak Indra sembari menjabat tangan Vano.


"Siang juga pak" Jawab Vano


"Silahkan duduk pak" Seru Pak Indra kepada mereka.


"Sebentar ya pak, saya akan memesankan makanan untuk Anda" seru Pak Indra sembari memanggil pelayan untuk datang ke meja mereka, dan akhirnya pelayan tersebut tiba dengan membawa daftar menu.


Pelayan itu memberikan daftar menu kepada pak Indra dan Vano, sedangkan Mario dan Jimmy hanya mengikuti apa yang bosnya pesan.


Vano membaca daftar menu makanan yang akan disajikan, sejenak terlihat Vano seperti merasa mual dan pusing saat membaca menu Nasi bebek Peking, dan menu nasi-nasi yang lainnya, Mario yang tiba-tiba melihat bosnya terlihat matanya berair itu segera bertanya kepada Vano.


"Tuan Muda tidak apa-apa kan? Tuan Muda kenapa?" tanya Mario yang melihat Vano memijit pelipisnya.


"Kepalaku pusing, perutku mual melihat daftar menu ini, nih ambil saja baca sendiri, kalian pesan sendiri, terserah kalian, yang penting jauhkan gambar nasi itu dariku, aku tidak mau melihatnya, cepat-cepat" seru Vano sembari menyingkirkan daftar menu yang berisi berbagai macam nasi-nasian.


Kemudian Vano mengambil parfum aroma Jasmine yang ia letakkan pada saku jasnya, sejenak ia menghirup aroma melati itu penuh perasaan, seolah-olah aroma Jasmine memberikan kekuatan untuk dirinya melawan rasa mual dan ingin muntah.


Pak Indra yang melihat sikap Vano hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Pak Vano, kalau boleh saya tahu sejak kapan Anda kecanduan parfum aroma Jasmine? dan sejak kapan Anda merasa mual-mual?" tanya pak Indra dengan senyuman. Vano yang mendengar ucapan pak Indra tersebut merasa terkejut.


"Oh ..iya gini pak, saya sendiri juga tidak tahu, sejak tadi pagi saya merasa mencium aroma nasi itu kok hiii... rasanya mau muntah, padahal setiap hari saya makan nasi, sekarang kayaknya nasi itu seperti sesuatu yang bikin saya sakit, melihat gambarnya saja, kepala sudah pusing tak karuan, apalagi lihat nasinya secara langsung, hmm nggak bisa bayangin saya pak...mabok pasti" ungkap Vano sambil menghisap aroma parfum yang ada ditangannya.


Dan tentu saja aroma parfum Jasmine yang menyengat itu, meluas hingga seluruh isi restoran. Setiap pengunjung yang datang pasti mengendus-enduskan hidungnya saat memasuki area restoran.


"Ya ampun, parfum siapa sih ini, bikin pusing kepala aja" ucap seseorang yang baru masuk ke dalam restoran. Namun Vano masih santai menghirup aroma khas melati dari botol kaca itu.


Layaknya seseorang yang sedang nge_drug, Vano seolah memperoleh kekuatan untuk melakukan aktivitas lagi, meskipun dirinya tidak makan sebiji nasi pun. Vano hanya minum ramuan ginseng yang ia dapatkan dari neneknya, dan itu memberi kekuatan bagi Vano meskipun ia belum makan seharian.


Setelah beberapa saat Vano menghirup aroma Jasmin itu hingga puas, lantas Vano meminta maaf kepada pak Indra, karena telah menunggunya lama.


"Maafkan saya pak Indra, saya tadi sedikit pusing, jadi perut ikut mual-mual juga" ucap Vano sembari merapikan dasinya yang sempat mengendur.


Tiba-tiba saja pak Indra mengatakan sesuatu tentang istrinya.


"Apa istri bapak sedang hamil muda?" tanya Pak Indra sembari mengerutkan dahinya.


Vano bengong dan terkejut saat pak Indra bertanya hal itu kepadanya.


"Itu prediksi saya pak, karena saya sendiri pernah mengalaminya, saat istri saya sedang hamil 1-3 bulan, saya selalu merasa pusing dan ingin muntah jika melihat makanan yang ada dimeja, alhasil selama 3 bulan saya tidak mau makan, minum ingin yang manis-manis, badan setiap hari selalu lemas, kadang air ludah ini rasanya ingin keluar sendiri, pokoknya ngeri-ngeri sedap pak' ungkap pak Indra yang membuat Vano mulai berpikir.


"Apa iya istriku hamil? tapi kenapa dia tidak bilang kalau sedang hamil? apa dia sengaja menyembunyikan rahasia kehamilannya?" ucap Vano menebak.


"Justru istri Anda juga tidak mengetahui bahwa dia sedang hamil Pak, istri Anda pasti nampak biasa-biasa saja, layak nya orang yang tidak sedang hamil, tapi...keadaan demikian berbalik pada diri Anda, justru Anda yang merasakan mual muntah seperti wanita hamil muda, dokter bilang itu namanya.....apa ya saya lupa....oh iya namanya Kehamilan Simpatik" ucap pak Indra sambil mengingat-ingat.


"Oohh begitu, berarti apa yang saya rasakan ini karena istri saya sedang hamil, begitu? Yesss... akhirnya!" seru Vano bahagia sekali, karena Shesa saat ini tengah mengandung anak kedua mereka.


"Iya itu cuma dugaan saya pak, karena apa yang bapak alami, persis dengan apa yang saya alami dulu, untuk lebih jelasnya, lebih baik istri Anda memeriksakan kandungannya" seru pak Indra.


"Tentu saja Pak, saya sangat berterima kasih sekali bapak mengerti apa yang terjadi pada saya, Mario... Jimmy, sebentar lagi aku akan memiliki bayi lagi, istriku pasti tidak menyangka nya" ucap Vano begitu senang.


"Selamat ya pak Vano, saya ikut senang mendengarnya" seru sekretaris Jimmy.


"Selamat Tuan Muda, akhirnya untuk kedua kali, Anda berhasil membuat perut Nona muda membesar" ucap Mario menggoda.


Dan tiba-tiba saja perasaan mual muntah itu timbul kembali saat pelayan membawa pesanan ke meja mereka.


Vano kembali menutup hidungnya dengan masker, berharap rasa mual itu bisa berkurang, belum lagi hidangan di depan matanya sangat membuat matanya terasa sepet dan tak ingin untuk menatap lama-lama makanan itu.


"Pak Vano, mari kita makan dulu." Ajak pak Indra kepada Vano yang terlihat enggan untuk mencicipi makanan yang sudah dihidangkan.


"Maaf Pak Indra, Saya benar-benar tidak bisa ikut bergabung dengan kalian, biar saya makan cilok di jalan depan saja, saya akan menyuruh Mario untuk membelinya." Ucap Vano menolak.


"Mario, tolong belikan Saya cilok di Jalan depan, aku mau makan disini, tadi aku sempet lihat ada yang berjualan di sana, cepat kamu pergi!" perintah Vano kepada Mario yang tampak terkejut dengan permintaan bosnya.


"Apa Tuan muda? membeli cilok? dan dibawa kesini? di hotel ini?" tanya Mario sembari membulatkan matanya.


"Iya...kamu pikir saya makan dimana? cepat kamu beli sana!"


"Ba_baik Tuan muda." Jawab Mario sembari beranjak pergi untuk mencari penjual cilok.


"Jangan lupa, kasih saos yang pedes, awas kalau nggak pedes!" ucap Vano dengan serius.


"I_iya baik." Mario bergegas pergi untuk membeli cilok permintaan bosnya itu. Dan tak butuh waktu lama, Mario tiba di penjual cilok yang mangkal di jalan depan.


"Tuan muda aneh-aneh saja, ngidam makan cilok, masa bos besar makan cilok, tapi kayaknya enak juga nih cilok...comot satu ah." Ucap Mario sembari mengambil satu biji cilok itu.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️