Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
kumis rungsep


semua siswa kelas 12 berkumpul di halaman sekolah, menunggu pembinaan materi yang akan mereka pelajari nanti di tempat tujuan.


setelah beberapa saat, mereka memasuki bus masing-masing, Shesa dan Monic ada di bus nomor 2, namun sebelum mereka naik, bu Dewi membagikan nomor kursi untuk masing-masing siswa.


keduanya sekarang sudah berada di dalam bus, Monic duduk dikursi nomor 8 sedangkan Shesa duduk di urutan ke 10, Shesa duduk tepat di belakang Monic.


"ayo anak-anak kalian masuk kedalam bus dan duduk dibangku sesuai dengan nomor yang kalian pegang" seru bu Dewi.


semua siswa mulai menempati kursi mereka masing-masing.


"ah...akhirnya, kita berangkat juga" seru Monic sambil meletakkan tasnya, Monic duduk dengan teman sekelasnya juga, sedangkan Shesa masih terlihat duduk sendiri dikursi nomor 10, sedangkan kursi " no 9 masih kosong.


Monic menolah ke arah Shesa, ia melihat Shesa masih duduk sendiri.


"kamu kok masih sendiri aja Sha?" seru Monic sambil melihat seluruh kursi penumpang sudah full kecuali kursi di sebelah Shesa yang masih kosong.


"nggak tahu!" ucap Shesa sembari mengangkat bahunya.


tiba-tiba seorang pria berkacamata datang dan duduk disamping Shesa, spontan Shesa terkejut ternyata pria itu adalah pak Dante, guru bahasa Inggrisnya.


"pak Dante, kok pak Dante duduk disini?" tanya Shesa penasaran.


"lah memang ini nomor kursi saya kok, nih nomor 9" seru pak Dante sambil menunjukkan nomor kursinya.


Shesa memutar bola matanya,hatinya bertanya kenapa dia harus duduk sama guru nyebelin kayak pak Dante.


"kok sama pak Dante sih!" gumamnya sembari menatap ke arah jendela.


Vano tersenyum melihat tingkah istrinya saat dia tahu pak Dante duduk bersebelahan dengannya, Vano sengaja mengambil nomor kursi di sebelah Shesa, agar ia dengan leluasa mengawasi Shesa dan calon buah hatinya.


"kenapa kamu cemberut? kamu nggak suka duduk sama pria ganteng seperti saya?" ucap pak Dante dengan PDnya, perkataan pak Dante memaksa Shesa menoleh dan memperhatikan wajah pak Dante yang berkumis tebal itu.


"pak Dante nggak punya kaca ya dirumah?" seru Shesa sambil mengerutkan dahinya.


"memangnya kenapa?" jawab pak Dante dengan eskpresi terkejut.


"kalau bapak nggak punya kaca, besok saya beliin kaca yang guedee banget, biar bapak bisa berkaca, seperti apakah wajah bapak yang sebenarnya!" seru Shesa sambil memijit keningnya pelan.


"jangan...sebaiknya jangan lihat wajah bapak sebenarnya, nanti kamu naksir beneran loh" seru pak Dante dengan santainya.


"ah..tau ah...terserah pak Dante mau ngomong apa" ucap Shesa kesal.


"nih orang PDnya kebangetan, kumis rungsep gitu dipelihara, dikiranya keren apa, keren juga kucing dirumah" umpat Shesa dengan bibir komat kamit, tanpa sengaja pak Dante melihat Shesa ngedumel.


"kamu bilang apa tadi? kumis rungsep?" tanya pak Dante penasaran, Shesa menoleh paksa lagi, namun kali ini dengan menyengir.


"hehe...kumis rungsep? nggak kok saya nggak bilang gituh, bapak salah dengar kali" ucap Shesa salah tingkah.


"hufftt...." Shesa menghela nafas panjang.


"asal kamu tahu ya, kumis ini adalah kebanggaanku, bukankah aku terlihat tampan dengan kumis ini, istriku saja sangat suka aku cium" seru pak Dante bangga.


"waaahh...salut sama istrinya pak Dante, dia wanita yang hebat, kuat dicium sama bapak yg kumisnya segede itu" ucap Shesa menyengir, sehingga membuat pak Dante tersenyum dan memintir-mintir kumisnya.


"kamu mau coba...!" seru Pak Dante menggoda Shesa.


"idiiihhh...ogah!" ucap Shesa sembari memalingkan wajahnya kearah jendela bus, dan Vanopun tersenyum renyah telah berhasil menggoda istrinya.


Bus sudah sampai di tengah perjalanan, Shesa yang sedari tadi melihat ke arah jendela terasa mengantuk, akhirnya matanya terpejam tak kuat menahan rasa kantuknya.


perjalanan menuju puncak masih sekitar setengah jam, tiba-tiba Shesa terbangun dari tidurnya, pelan-pelan ia mengerjapkan mata dan mengangkat kepalanya dari posisi bersandar di pundak pak Dante.


alangkah terkejutnya saat ia terbangun dan mendapati dirinya telah tidur bersandar pada pundak pak Dante yang dianggapnya aneh itu.


"kok saya bisa tidur di pundak bapak sih, bapak sengaja ya, curi-curi kesempatan" ucap Shesa sambil membenarkan posisi duduknya.


"kamu itu kenapa sih! bukannya terima kasih, malah marah-marah nggak jelas, memangnya aku nafsu sama gadis macam kamu...ya kalau digoda sih saya pasti mau" seru pak Dante dengan nada melemah.


Monic yang merasa terganggu dengan keributan Shesa dan pak Dante menjadi sedikit kesal.


"aduh berisik banget sih kalian berdua, ada apa sih!" seru Monic penasaran,


"dia nih....!" ucap keduanya bebarengan saling menunjuk satu sama lain.


"aduuhhh..." seru Monic sambil menepok jidatnya.


keributan pak Dante dan Shesa menyita perhatian siswa lainnya, sehingga mereka saling berbisik, pak Dante yang menyadari itu lantas berdiri dan menghalau para siswa agar diam.


"apa yang kalian bicarakan, jangan bicara macam-macam ya, nanti saya kurangi nilai kalian, faham...!" seru pak Dante dengan sedikit melotot.


"iya pak...maaf, tapi jangan pake melotot juga kali pak, kita kan jadi takut" jawab seorang siswa.


"eh...emangnya aktingku kliatan serem banget ya" gumam Vano dalam hati, Shesapun tertawa geli melihat ekspresi pak Dante yang diprotes temannya tadi.


pak Dante pun duduk kembali di kursinya, ia melirik Shesa yang sedari tadi menertawakannya.


"apa kamu ketawa-ketawa, mau nih nilainya saya kurangin" seru pak Dante


dan Shesapun terpaksa menghentikan tawanya karena ancaman pak Dante tadi.


"yah...jangan dong pak, masa gitu ajah nilainya dikurangin sih" ucap Shesa memelas, melihat Shesa yang memohon kepadanya, membuat Vano semakin semangat untuk mengerjai istrinya.


"hm...kalau kamu ingin nilaimu tidak dikurangi, maka kamu harus menuruti perintah saya" ucap pak Dante serius, sejenak Shesa terdiam, ia tak punya pilihan lagi, daripada nilai bahasa Inggrisnya jeblok, lebih baik ia menuruti perintah guru yang menurutnya nyebelin itu.


"i...iya deh, saya akan menuruti perintah bapak!" ucap Shesa terpaksa.


terlihat senyum mengembang di bibir Vano, ia berhasil mengerjai istrinya, sekarang ia bebas memerintah apapun kepada Shesa.


Bus sudah sampai di tempat tujuan, seluruh siswa tanpa terkecuali mulai turun dari bus masing-masing.


Shesa juga bersiap untuk turun dari bus, namun pak Dante masih sibuk dengan ponselnya.


"pak Dante nggak turun!" seru Shesa.


"sebentar, ada telepon penting" seru pak Dante sambil terus menelepon seseorang.


Akhirnya Shesa duduk kembali dan menunggu pak Dante.


Shesa melihat seluruh teman-temannya sudah turun dibawah, ia harus segera bergabung dengan mereka, kalau tidak ia akan tertinggal.


"pak Dante, sudah belum...saya mau lewat pak" seru Shesa yang tak sabari ingin segera turun dari bus, dilihatnya bus sudah kosong, tinggal mereka berdua saja didalam.


BERSAMBUNG


💖💖💖