Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
ada tikus


"makanlah...nanti kamu sakit" seru Vano sambil menyuapkan sesendok pada Shesa.


Shesa terus menggelengkan kepalanya, ia masih kesal dengan Vano, padahal perutnya sangat lapar, sesekali ia melirik isi piring yg di bawa Vano untuknya,


"hm...sepertinya enak tuh, perutku laper banget" gumam Shesa


"cepatlah...buka mulutmu"


"aku tidak lapar..." balas Shesa dingin.


Vano menghela nafas panjang, ia meletakkan piring itu kembali, lantas ia berdiri dan beranjak pergi keluar, Shesa melihat Vano keluar dari kamar mereka , setelah ia rasa aman tidak ada orang, Shesa mulai mengambil makanan yg sudah di sediakan untuknya.


"hm...." Shesa mulai melahapnya dengan cepat sebelum Vano kembali.


Setelah beberapa menit, Shesa sudah menghabiskan sebagian makanannya, ia sudah merasa kenyang, kemudian ia menyandarkan tubuhnya di atas tempat tidur, tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka.


"cekleekkk"


Shesa membulatkan matanya dan segera ia masuk kedalam selimut, ia pura-pura sudah tidur agar tak berhadapan lagi dengan Vano.


Vano masuk ke dalam kamar, ia terkejut mendapati isi piring yg telah kosong, dan makanan yg hampir habis semua, Vano menaikkan ujung bibirnya, ia melihat Shesa yg berada dibalik selimut, Shesa menggerakan bola matanya kekanan dan kekiri, ia berjaga-jaga jika Vano membuka selimutnya secara tiba-tiba.


"ooo...siapakah yg menghabiskan semua makanan ini? tidak mungkin istriku yg memakannya, hmm...mungkinkah ada tikus di kamar ini?" suara Vano sengaja ia keraskan, agar Shesa bisa mendengarnya dengan jelas


mata Shesa membulat sempurna, ia merasa Vano sudah menyindirnya, lantas ia membuka selimutnya dengan cepat.


"apa...? kamu pikir saya ini tikus!" seru Shesa yg tiba-tiba membuat Vano tertawa renyah.


"e...e...kenapa ketawa?" sambung Shesa yg merasa kesal Vano menertawakannya.


Vano mendekati istrinya dan langsung memeluk Shesa penuh manja, Shesa sangat terkejut dengan sikap Vano yg mendadak seperti itu.


"maafkan aku...aku tahu aku salah, sudah membuatmu merasa kesal di sekolah" Vano mengungkapkan rasa bersalahnya dengan memeluk Shesa sambil mengelus rambutnya dengan lembut.


Shesa mendengar irama detak jantung Vano yg begitu beralun, telinganya menempel tepat pada dada Vano yg bidang, entah kenapa Shesa merasakan nyaman saat Vano memeluknya, sejenak ia memejamkan matanya, ia membenamkan wajahnya begitu dalam, Shesa membalas pelukan Vano dengan erat, tiba-tiba ia membuka matanya dan melepas pelukan Vano....


"suamiku....sebenarnya kamu punya masalah apa sih dengan Romi? kenapa kalian berdua sampai berkelahi?" tanya Shesa penasaran, Vano menatap dalam-dalam wajah Shesa yg imut.


"suatu saat kau akan mengetahuinya, jika kau tidak ingin aku marah, jauhi Romi...jangan pernah menghubunginya lagi" jawab Vano.


"mengetahui apa?? rahasia apa yg kamu sembunyikan?" sambung Shesa yg masih penasaran, Vano tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala Shesa.


"biarkan aku yg menangani semua ini, tugasmu hanya fokus pada belajarmu dan mimpi-mimpimu, dan satu hal lagi...tentu saja kau harus fokus pada suamimu ini, jangan coba-coba kau lari dariku, jika kau lari aku akan mengejarmu sampai kemanapun, bahkan sampai di lubang semut sekalipun" seru Vano dengan senyum khasnya.


Shesa tersipu malu mendengar ucapan Vano yg merayunya, namun dalam hatinya tetap saja ia masih bertanya-tanya, apa yg sebenarnya terjadi.


" hei...apa yg kau pikirkan" Vano melihat Shesa yg masih terpaku, Shesa mencoba memasang senyumnya dengan paksa.


"tidak...tidak ada" balas Shesa singkat


"baiklah ....sekarang tidur, aku akan tidur di sofa, supaya kakimu lekas membaik" pinta Vano sembari mencium kening Shesa.


Vano berdiri dan mulai beranjak pergi, tiba-tiba tangan Shesa menahan tangan Vano, lantas Vano menoleh dan menatap istrinya lekat.


"jangan pergi...temani aku" pinta Shesa dengan sendu, Vano tersenyum indah mendengar permintaan Shesa, Vano mendekati Shesa dan membisikkan sesuatu di telinga mungil Shesa.


"apa kamu kangen padaku...." bisik Vano yg membuat Shesa merasa geli, lantas ia menjauhkan wajahnya dari bibir Vano, Shesa benar-benar tersipu malu, pipinya nampak memerah seperti udang rebus.


Vano memanggil pelayan untuk mengambil piring dan gelas yg masih tertinggal di dalam kamar.


"pelayan"


"bawa piring-piring ini, dan ambilkan aku segelas kopi"


"baik tuan muda"


pelayan pergi dengan membawa piring bekas Shesa tadi, tak berapa lama pelayan itu datang membawa segelas kopi untuk Vano.


Shesa terheran melihat Vano minta dibuatkan kopi, apa Vano mau begadang?.


"suamiku...untuk apa kopi itu? apa kau mau begadang?" tanya Shesa sembari mengernyitkan dahinya.


Vano menyunggingkan senyum smirknya, sesekali ia menyeruput kopi yg masih panas itu, kemudian ia meletakkan gelas kopi di atas nakas, ia mulai berbaring di sebelah Shesa.


"aku akan menemanimu sepanjang malam" bisik Vano dengan suara seraknya, Shesa malu dan memalingkan wajahnya, Vano melihat Shesa benar-benar tersipu malu, perlahan Vano meraba kaki Shesa.


"eh kamu mau apa?" tanya Shesa yg terkejut saat tangan Vano menyentuh kakinya.


"biar aku pijit kakimu, sekarang tidurlah" perintah Vano agar Shesa tidur.


Shesa mulai merebahkan tubuhnya, sesekali ia mencoba memejamkan mata, Vano masih tampak sibuk memijit lembut kaki Shesa yg terkilir.


setelah beberapa menit, pijatan itu berubah menjadi sentuhan yg lembut, entah berapa lama tangan Vano mulai rekreasi di paha Shesa yg mulus, Shesa merasa gerakan tangan Vano yang tidak biasa.


"eh tunggu dulu...yg sakit bukan disitu, tapi disini" seru Shesa protes sambil menunjuk ke tempat kakinya yg terkilir, Vano terkejut melihat Shesa yg tiba-tiba terbangun.


"eh...iya...maaf..." sahut Vano sambil melepaskan tangannya pada paha Shesa.


"ah...sudah sudah, kakiku sudah tidak sakit lagi, lebih baik kita tidur saja" seru Shesa sambil membenamkan tubuhnya ke dalam selimut, nampak ia tidur membelakangi Vano.


Vano mencoba lagi merayu Shesa, ia mendekati Shesa dan menyentuh pundaknya.


"oohh...plis...plis..plis...jangan mendekat"


gumam Shesa yg merasa Vano mulai mendekatinya.


"deg..."


tangan besar itu menyentuh pundak Shesa dan mulai membuka selimut yg menutupi tubuhnya, matanya membulat sempurna saat Vano mencium pipinya dan berbisik


"tapi....adikku tidak bisa tidur"


Shesa hanya terpejam, ia tak bisa menolak pemintaan Vano, bagaimanapun juga ia adalah suaminya, Vano memulai permainan ini dengan lembut, Shesa hanya pasrah dengan apa yg dilakukan Vano terhadapnya.


suasana dingin malam itu menjadi saksi penyatuan cinta mereka, hanya ada suara-suara indah yg menghiasi setiap sudut ruangan, Shesa menatap Vano begitu sendu, rambut Vano acak-acakan yang menutupi sebagian wajah tampannya.


Shesa mengusap lembut wajah Vano yg berkeringat, nampak senyum bahagia dari keduanya.


semakin cepat ritme gerakan, semakin cepat mereka mencapai puncak bahagia, dan setelah sepersekian detik jutaan benih-benih telah bertaburan mendominasi tanah yg masih rawan.


keduanya terkulai dan saling memeluk, hingga mereka tertidur pulas sepanjang malam.


BERSAMBUNG


hufffftttttt.....ambil nafas dulu 😉


TERIMA KASIH READERS YG SUDAH SETIA MEMANTAU KARYA AUTHOR


DUKUNG TERUS YA😊