
Beberapa orang suruhab Vano mulai bergerak menuju Villa Bougenville, Mario mengomando anak buahnya untuk mengepung Villa itu, nampak Exel sedang menunggu kedatangan seseorang.
"kenapa dia lama sekali" Exel melihat ke arah jam, sudah hampir satu jam ia menunggu kedatangan Vera, namun Vera belum juga datang.
tiba-tiba sebuah taksi berhenti di depan Villa, Vera turun dari taksi itu dan ia mulai masuk ke dalam Villa, Exel telah menyadari kedatangan Vera disana, Vera memberanikan dirinya untuk menemui Exel, ia tak punya pilihan lain, kecuali ia harus menemui mantan kekasihnya itu.
Exel berdiri di depan pintu, ia menatap ke arah datangnya Vera, dengan tatapan sinis, Exel menghampiri perempuan 24 tahun itu.
"dimana Frisca?" Vera langsung menanyakan hal itu pada Exel, namun Exel justru menatapnya dalam-dalam.
"apa kamu tidak merindukan aku?" tanya Exel sembari memegang tangan Vera, dengan spontan Vera melepaskan tangan Exel darinya.
"apa yang kamu mau dariku, sehingga kau melibatkan anak yang tak berdosa itu?" tanya Vera serius, Exel terkekeh, ia berharap Vera mau membantunya untuk melancarkan rencananya untuk menghancurkan Vano.
"katakan dulu padaku, Frisca anak siapa?" tanya Exel menyelidik, Vera menatap tajam ke arah Exel.
"untuk apa kau ingin tahu siapa dia, tidak penting siapa Frisca bagimu" seru Shesa menahan rasa amarahnya pada pria yang masih ia cintai itu.
Exel berbalik menghadap Vera, ia terus berusaha mendesak Vera agar mau mengatakan hal yang sebenarnya.
"apa dia anakku?" pertanyan Exel sontak membuat Vera membulatkan kedua matanya, tiba-tiba Frisca keluar dari sebuah kamar.
"mama..." dengan lugu gadis itu memanggil Vera, lantas Vera menghampiri Frisca dan ia memeluknya penuh keharuan.
"Frisca sayang, mama kangen sama kamu nak" seru Vera sembari mencium kening Frisca, lantas Exel mendekati mereka berdua dan ia memerintahkan anak buahnya untuk mengambil Frisca dari pelukan Vera.
"Frisca...apa yang kau lakukan, lepaskan dia" Vera berteriak saat salah seorang anak buah Exel mengambil paksa darinya.
"mama...mama...." Frisca menangis berteriak memanggil-manggil Vera.
"Exel aku mohon lepaskan Frisca, aku akan melakukan apa saja yang kau mau, tapi kumohon lepaskan Frisca" Vera berlutut di depan Exel agar dia mau melepaskan Frisca.
"bangunlah sayang" seru Exel sembari menarik tubuh Vera agar ia berdiri, lalu Exel mencoba memaksa Vera untuk mengatakan tentang rahasia perusahaan Vano, ia ingin file-file itu berada ditangannya kembali.
"katakan padaku, dimana file-file itu kau simpan?" Exel memaksa Vera sembari mencengkeram pipi Vera.
Vera tetap menggelengkan kepalanya, ia tidak akan menyerahkan dokumen-dokumen itu pada Exel, karena Vera tahu Exel akan berusaha menghancurkan perusahaan papanya sekaligus perusahaan Vano.
********
sementara itu Mario beserta anak buahnya bersiap masuk ke dalam Villa, Mario melihat Exel mengancam Vera, ada beberapa anak buah Exel berdiri disana.
"kita harus bergerak hati-hati, jangan sampai Exel curiga" perintah Mario pada anak buahnya, mereka mulai mengendap-endap mendekati Exel dan anak buahnya, kini Exelpun mulai mengancam Vera lewat Frisca.
"kalau kau tidak mau bicara, bagaimana dengan gadis kecil ini, apa kau akan membiarkan dia mati sia-sia?" Exel tanpa belas kasih mengancam menyakiti Frisca bila Vera tidak mau menurutinya.
"jangan...jangan sentuh anakku" ujar Vera sambil menangis.
"cepat katakan...dimana kau menyimpan file-file itu, atau nyawa anak ini akan melayang" Exel menodongkan senjata ke arah Frisca yang malang.
"mama....mama...." Frisca terus berteriak ketakutan.
"aku tidak akan mengatakannya" Vera bersikeras untuk menolak permintaan Exel.
"hoo...begitu, baiklah ternyata kamu tetap keras kepala seperti dulu" Exel dengan senyum liciknya, Mario dan anak buahnya bersiap-siap menyerang Exel.
"Frisca sayang, ucapkan selamat tinggal pada mamamu..." Exel mulai menarik pelatuknya, tiba-tiba Vera berteriak.
"apa? dia anakku?" Exel seakan tak percaya, Frisca adalah anak kandungnya.
begitupun Mario yang sedang bersembunyi, ia sangat terkejut saat Vera mengatakan bahwa Frisca adalah anak Exel.
"Frisca darah dagingmu sendiri, kalau kamu mau menembaknya, tembak saja aku sekalian, bunuh kami berdua, dari dulu kamu tidak pernah menginginkan kehadirannya bukan, jadi untuk apa kamu tahan, bunuh kami saja sekarang" Vera begitu emsional, ia sudah tak bisa membendung kemarahannya pada Exel.
Exel tertunduk, ia tak pernah menyangka Vera masih mempertahankan kandungannya, kini ia telah bertemu dengan putri kandungnya, tapi malah dia ingin membunuh darah dagingnya sendiri.
disaat Exel lengah, Mario dan anak buahnya mulai beraksi, semua anak buah Mario menyerang anak buah Exel, dan Exelpun tidak bisa berbuat apa-apa, ia masih shok setelah ia mengetahui kebenaran tentang putri kandungnya.
Vera terkejut dengan kedatangan anak buah Vano yang tiba-tiba, lantas ia segera mengambil Frisca dan membawanya keluar dari Villa itu, Mario mengawal Vera dan Frisca, sementara yang lainnya memberesakan Exel dan anak buahnya.
"masukah kedalam mobil nona, saya akan mengantarkan anda pulang" seru Mario.
"terima kasih banyak, tapi siapa kalian?" tanya Vera penasaran.
"saya Mario, asisten pribadi tuan muda Vano" jawab Mario, lantas Vera bisa bernafas lega, dia aman bersama orang-orang kepercayaan Vano.
"darimana kalian tahu aku berada disini?" Vera masih sangat penasaran.
"itu hal yang mudah bagi kami untuk menemukan keberadaan nona, tuan muda sudah memberi kami alamat Villa ini" seru Mario, Vera terheran darimana Vano tahu ia berada di Villa Bougenville, padahal saat ini Vano sedang berada diluar kota.
setelah beberapa saat, Mario telah sampai di apartemen milik Vera, dan ia berpamitan untuk segera kembali ke kantor Vano.
"saya permisi dulu, nona Vera tidak perlu cenas, beberapa orang-orang kami akan berjaga-jaga di sekitar apartemen ini, untuk mengantisipasi Exel kembali kesini lagi" jelas Mario.
"terima kasih" seru Vera sembari tersenyum.
akhirnya misi kali ini berhasil, Exel tidak bisa menyentuh Vera dan Frisca begitu saja, lantas Mario segera menghubungi Vano yang masih tengah berbulan madu.
******
dikamar hotel
"sayang...ada telepon untukmu" seru Shesa sambil memberikan ponsel pada Vano.
"Mario"
"iya...bagaimana? sudah beres?" tanya Vano.
"semuanya sudah beres tuan muda, non Vera dan anaknya selamat, tidak terluka sedikitpun" ungkap Mario.
"bagus....bagaimana dengan Exel? apa yang kalian lakukan padanya?" tanya Vano sekali lagi.
"Exel tidak melawan sama sekali tuan muda, dia terlihat shok sekali" ujar Mario yang membuat Vano tak mengerti.
"shok? kenapa?" sambung Vano.
"Exel baru mengetahui bahwa Frisca adalah anak kandungnya sendiri, non Vera sendiri yang mengatakannya" sontak apa yang dikatakan Mario lewat telepon membuat Vano sangat terkejut bukan main, Shesa yang berada disamping Vano merasa ada yang aneh dengan suaminya.
"ada apa sayang? katakan apa yang terjadi?" Shesa sangat penasaran dengan yang Vano sembunyikan.
BERSAMBUNG
❤❤❤❤❤