
"mereka semua sudah pergi" balas Vano
"sudah pergi?" Shesa masih tidak percaya.
"iya sayang, mereka bertiga sudah pergi, sekarang kita bisa keluar dengan aman" jelas Vano sembari merangkul Shesa, dan segera beranjak pergi dari kamar mandi tersebut.
setelah beberapa saat Shesa dan Vano telah sampai diluar, mereka menutuskan untuk segera kembali ke hotel tempat mereka menginap.
Shesa dan Vano berjalan bersama menuju kamar mereka, namun saat berjalan di sepanjang koridor hotel, mendadak ponsel Vano berdering, sehingga ia menghentikan langkahnya.
"sebentar sayang, Mario menelepon" seru Vano pada istrinya, dan Shesapun berhenti mengikuti Vano, Vano nampaknya serius berbicara pada Mario, sehingga Shesa memutuskan untuk ke kamar mereka duluan.
"sayang, aku masuk ke kamar duluan ya, badanku udah capek banget" seru Shesa sembari membawa serta belanjaannya.
"hmm...iya nanti aku susul...muach" balas Vano sembari mencium kening Shesa, dan Shesapun dengan santainya berjalan menuju suite room yang mereka tempati.
Shesa tak menyadari bahwa Mita, Nabila dan Monic tanpa sengaja, mengetahui ia tinggal di hotel yang sama, cuma ketiga temannya berada pada kamar tamu biasa, bukan kamar VIP seperti yang ditempati Shesa dan Vano.
"eh...itu bukannya Shesa" Mita menunjuk ke arah Shesa yang berjalan sendiri dengan membawa tas belanjaannya.
"eh bener loh, itu memang Shesa" sambung Nabila, lantas mereka diam-diam mengikuti Shesa hingga sampai ke kamarnya.
"aduuhhh...gawat nih, bisa-bisa mereka mengacaukan bulan madu Shesa sama pak Vano nih" Monic meracau dalam hatinya.
"eh...guys ngapain sih kita ngikutin Shesa?" tanya Monic pada kedua temannya.
"ya ampun Monic, kita kan juga seneng kali kalau liburan bareng Shesa, kita pingin tahu ajah Shesa tinggal di kamar mana?" seru Nabila menyelidik.
"kita bikin kejutan sama dia" timpal Mita semangat.
"kejutan? kalian berdua jangan aneh-aneh ya!" sahut Monic mengingatkan.
"ya enggaklah Mon, kamu tuh ada-ada ajah deh" jawab Mita.
Shesa berjalan terus menuju kamar VIP miliknya dan Vano, Mita dan Nabila benar-benar terkejut saat Shesa mulai membuka pintu suite room mewah itu, Mita dan Nabila saling menatap, mereka berencana untuk mengagetkan Shesa.
dan benar saja, Mita dan Nabila mengendap-endap di belakang Shesa dan mulai bersiap mengejutkannya, disaat Shesa membuka kamar VIPnya, tiba-tiba.....
"doooorrrrr....Shesa"
"astaga...kalian, bikin aku spot jantung saja" sontak saja Shesa benar-benar sangat terkejut dengan suara Mita dan Nabila, ia mengelus dadanya dan mengambil nafas panjang, dalam hati Shesa kenapa mereka bisa menemukannya lagi di hotel ini.
"hahaha....Shesa, sorry kita udah ngagetin kamu" seru Mita kegirangan, Shesa menatap Monic penuh tanda tanya, dan Monic mengisyaratkan tidak mengerti apa-apa.
"Shesa! kamu tinggal di kamar mewah ini?" tanya Nabila penasaran, bagaimana bisa Shesa menyewa kamar hotel dengan kualitas yahud diantara kamar lainnya, perjamnya saja bisa mencapai jutaan rupiah, apalagi Shesa menginap jelas bukan sehari dua hari, dengan sedikit terbata-bata Shesa menjawab pertanyaan kedua temannya itu.
"i...iya ini kamarku" jawabnya gugup, Nabila semakin penasaran dengan isi kamar VIP milik Shesa.
"kita boleh masuk nggak Sha?" pinta Nabila memelas, karena sudah terlanjur terciduk, Shesa mengiyakan permintaan kedua temannya itu.
"ohh ...tentu saja masuklah!" seru Shesa dengan senyum paksa, kemudian Mita dan Nabila masuk ke dalam kamar Shesa yang sangat mewah, mereka berdua sangat terkesima dengan kemewahan kamar yang di tinggali Shesa saat ini, sejenak Mita mendekati Shesa dan berbisik padanya.
"awww....sakit tahu" pekik Mita
"enak ajah peliharaan om om...enggaklah" jawab Shesa serius.
"trus yang bayarin kamu tinggal disini siapa hayo?" sambung Mita yang masih penasaran.
"gini, om aku yang tinggal di bali, mempunyai kamar VIP yang mau ia tempati bersama istri barunya, karena istrinya nggak mau, dan om aku udah terlanjur pesen di awal, jadinya aku disuruh nempatin kamar ini, gitu ceritanya" alibi Shesa mencoba meyakinkan kedua temannya itu.
" sudahlah Mita, Nabila kita keluar yuk, Shesa pasti capek, iya kan Sha?" seru Monic mengajak Mita dan Nabila agar lekas keluar dari kamar Shesa dan Vano.
"hmm...iya..betul apa yang dikatakan Monic, aku ngantuk banget...hoaammm" seru Shesa yang pura-pura mengantuk.
"baiklah Sha, kita kembali ke kamar dulu, tapi... besok kita boleh ya tidur bersama kamu disini? kita kan juga pingin tahu rasanya tidur di suite room, lagian kamu juga sendirian" pinta Mita sembari tersenyum sumringah.
"hah...tidur disini, i...i...ya ya besok kalian bisa tidur disini" seru Shesa yang terpaksa menuruti permintaan kedua temannya yang tidak tahu apa-apa tersebut.
"wah...makasih banyak Sha, kamu bener-bener sahabat yang paling baik" sahut Nabila kegirangan, lantas Monic mendekati Shesa, ia berbisik pada Shesa.
"Sha! kamu gimana sih, kok kamu ijinin mereka tidur disini, kalau pak Vano marah gimana?" tanya Monic dengan suara lirih.
"ya...mau gimana lagi, terlanjur ketahuan" balas Shesa.
tiba-tiba Mita mengetahui tingkah aneh Monic yang berbisik di telinga Shesa, lantas ia penasaran apa yang diomongin Monic pada Shsesa.
"apa yang kalian berdua sedang bicarakan?" tanya Mita sembari mengernyitkan dahinya, Monic tersadar bahwa Mita memperhatikan mereka.
"ah...tidak ada...iya kan Sha?" jawab Monic gugup.
"bohong, kalian pasti nyembunyiin sesuatu, ayo ngaku saja" desak Mita.
"eh...nggak ada apa-apa kok, bener" jawab Shesa.
"trus kenapa pake bisik-bisik segala?" Mita semakin penasaran, tiba- tiba Shesa mempunyai ide untuk mengelabui Mita.
"oohhh...itu tadi, Monic bilang kudu ati-ati tidur bareng sama kamu, soalnya kamu suka kentut kalau lagi tidur, iya kan Mon?" seru Shesa yang membuat Mita tersipu malu, karena itu memang benar adanya, Mita sering sekali buang angin sembarangan.
"iya...iya...itu bener banget, memang kebiasaanmu kan suka kentut sembarangan, takut aja sih nanti kamar mewah ini jadi nggak wangi lagi...hehehe" goda Monic yang membuat Mita semakin malu.
"ihhh....Monic, tega banget sih" seru Mita sambil memanyunkan bibirnya.
"iya ..iya...sorry" sahut Monic sembari memeluk Mita.
semua gadis dalam kamar itu nampak tertawa bahagia, Vano yang sedari tadi memperhatikan mereka dari luar, memutuskan untuk menyewa kamar VIP yang bersebelahan dengan kamar mereka sebelumnya, meskipun ia sudah berhak atas diri Shesa seutuhnya, namun Vano menyadari istrinya juga masih membutuhkan masa-masa remaja yang indah, mengingat pernikahan mereka yang sangat mendadak, pasti tak mudah untuk Shesa berpisah dengan teman-teman bermainnya.
"bermainlah bersama teman-temanmu dulu, setelah kau puas bermain bersama mereka, baru kita berdua yang akan bermain bersama" gumam Vano dengan senyum smirknya.
BERSAMBUNG
❤❤❤❤