
"bagaimana keadaanmu Laura sayang?" Siska menghampiri Laura yang sedang duduk diatas tempat tidurnya.
"tante...tante kok bisa ada disini?" tanya Laura gugup sambil meremas selimutnya.
"kamu heran kenapa tante bisa berada disini?" ucap Siska sembari duduk di sebuah kursi.
"apa maksud tante? bukankah tante ada di pen..." belum selesai Laura menyelesaikan kata-katanya, Siska menyela.
"di penjara maksudmu!" seru Siska sembari tersenyum.
Laura menatap tajam kearah Siska.
"kenapa kau melihatku seperti itu?" seru Siska yang memperhatikan Laura sedang menatapnya.
"ti...tidak tante, Laura cuma kaget ajah, kok tiba-tiba tante ada disini" jawab Laura gugup.
"dengarkan tante, tidak akan ada yang bisa memenjarakan tante, tante ini punya banyak teman yang bisa menolong tante, kau tahu Laura, siapa yang telah membebaskan tante dari penjara?" seru Siska
"si...siapa tan?" tanya Laura penasaran.
" nyonya Veronica, tantenya Vano sendiri" ucap Siska
"tantenya pak Vano? kenapa dia bisa membebaskan tante?" tanya Laura semakin penasaran.
" aku sendiri tidak tahu ada dendam apa nyonya Veronica dengan Vano, tapi yang aku tahu nyonya Veronica sangat membenci Vano dan keluarganya, dan itu tentu saja sangat menguntungkan untuk tante" ucapnya dengan tatapan sinis.
"oh iya Laura, bagaimana keadaanmu? perutmu sudah tidak sakit lagi?" tanya Siska.
"ti...tidak tante, perutku sudah tidak sakit lagi" jawab Laura.
Laura sengaja tidak bilang kepada Siska bahwa Vano yang telah membiayai operasinya, ia akan berpura-pura baik dan bersikap biasa kepada Siska, agar Siska tidak curiga bahwa Laura sekarang lebih percaya pada Vano dan Shesa .
"syukurlah, oh iya...kenapa Vano dan Shesa datang kemari? apa mereka menyakitimu?" tanya Siska sembari menaikkan satu alisnya
"mereka...mereka hanya menjenguk biasa tante!" jawab Laura
"apa mereka tidak mengatakan sesuatu kepadamu?" tanya Siska menyelidik.
"tidak ada, pak Vano cuma bilang, dia akan tetap mengizinkan Laura untuk bersekolah disana!" ucap Laura singkat.
"itu bagus, ingat Laura, jangan pernah kamu percaya kepada omongan mereka, kau tahukan mereka itu sangat licik, tante tidak mau kamu termakan omongan mereka!" seru Siska mencoba mempengaruhi Laura.
"bukannya tante yang licik, mereka berdua yang telah menyelamatkan nyawa Laura tante, aku bersumpah selama aku masih hidup, tante tidak akan bisa menyakiti Shesa ataupun bayinya!" janji Laura dalam hati.
"baiklah, kapan dokter mengizinkan kamu pulang!" tanya Siska
"belum tahu tante, dokter masih belum mengizinkan Laura pulang!" jawab Laura.
"baiklah, tante pulang dulu, masih banyak hal yang harus tante lakukan!" seru Siska sembari memakai tasnya dan mulai beranjak pergi.
"aku harus tahu apa yang akan tante lakukan kepada Shesa" Laura curiga kalau Siska akan merencanakan sesuatu lagi kepada Shesa.
"tante pulang dulu ya" seru Siska sambil memegang pipi Laura.
dan Laura membalasnya dengan senyum.
Akhirnya Siska keluar dari kamar Laura, Laura bisa bernafas dengan lega.
"maafkan aku tante, sekarang aku tidak bisa berpihak pada tante, ada nyawa yang harus aku lindungi, Shesa dan bayinya, aku tidak akan membiarkan tante menyakiti mereka berdua"
Laura mulai merebahkan tubuhnya, ia sangat bersyukur telah sadar dari kesalahannya, ia berjanji untuk menebus semua kesalahannya itu, dengan berusaha melindungi Shesa dan bayinya dari kejahatan Siska.
*******
Vano dan Shesa berjalan di sepanjang koridor rumah sakit, tanpa sengaja Vano membaca tulisan dokter ahli kandungan dan Ginekolog yang tertera di sebuah ruangan rumah sakit.
Vano menggandeng tangan Shesa dan berjalan menuju ruang praktek dokter ahli kandungan itu.
"eh...sayang kita mau kemana? ini bukan jalan keluar, jalan keluar nya disebelah sana sayang!" seru Shesa yang terkejut saat Vano mengajaknya berbelok arah.
"sudah kamu jangan banyak bicara, bawel!" seru Vano yang terus menuntun Shesa untuk mengikutinya.
Akhirnya mereka sampai didepan kamar praktek dokter ahli kebidanan dan kandungan.
"ayo kita masuk!" seru Vano mengajak Shesa untuk memeriksa kandungannya.
Shesa dan Vano masuk kedalam ruangan itu, nampak seorang suster menyambut kedatangan mereka.
"ada yang bisa kami bantu tuan!" seru perawat itu.
"saya mau memeriksakan kandungan istri saya" ucap Vano senang
"silahkan tuan dan nyonya duduk sebentar, dengan nyonya siapa?" tanya perawat.
"nyonya Vano" Vano menjawab pertanyaan perawat itu dengan semangat.
"oh...baiklah, silahkan menunggu sebentar" ucap suster itu dengan ramah
"sayang kenapa kau bawa aku kesini, aku tidak sakit, kandunganku baik -baik saja" seru Shesa
"aku ingin melihat perkembangannya, sudah sebesar apa dia?" ucap Vano senang.
"ya ampun sayang, dia masih sangat kecil, perutku aja masih rata, nanti kalau sudah 4 bulan keatas, dia sudah terlihat" ucap Shesa sembari tersenyum.
"tapi aku sudah tidak sabar melihatnya" ungkap Vano sembari mengelus perut sang istri.
tak berselang lama, perawat memanggil.
"nyonya Vano" seru perawat
Shesa dan Vano berdiri
"silahkan, dokter sudah menunggu " ucap perawat.
Shesa dan Vano mulai memasuki ruangan dokter kandungan, seorang dokter perempuan bernama dr. Feby sudah menunggu kedatangan mereka berdua.
Vano dan Shesa dipersilahkan duduk, keduanya sangat antusias untuk melihat perkembangan janin yang dikandung Shesa saat ini.
dokter menyuruh Shesa berbaring di tempat tidur, kemudian dokter mengambil sebuah alat USG untuk mengetahui keadaan janin dalam perut Shesa.
tiba-tiba Vano menghentikan dr.Feby untuk menyentuh perut Shesa.
"tunggu dokter, itu alat untuk apa, apa tidak berbahaya untuk istri saya, apa istri saya tidak akan kesakitan?" tanya Vano yang baru pertama melihat alat USG.
"pak Vano tidak perlu khawatir, ini tidak akan berbahaya, alat ini digunakan untuk mendeteksi keberadaan janin dalam kandungan si ibu, bapak tidak perlu takut, ini tidak akan menyakitkan" seru dr.Feby menjelaskan.
"oh begitu" balas Vano sembari garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.
kemudian dokter mulai mengoleskan gel di perut Shesa, setelah itu dokter mulai mendeteksi keberadaan janin dalam kandungan Shesa dengan alat tersebut.
"pak Vano bisa melihat pada layar...nah itu dia, lihat detak jantungnya mulai terlihat" seru dokter menunjukkan janin Shesa yang begitu sehat, itu membuat Vano dan Shesa terharu melihat layar monitor yang menunjukkan keadaan bayi mereka berdua.
tak terasa Vano menitikan air matanya saat ia melihat anaknya tumbuh sehat dalam kandungan sang istri.
"dia sangat sehat sekali pak, tidak ada kendala apapun" ucap sang dokter yang membuat Vano semakin bahagia.
"terimakasih Tuhan, Engkau telah memberi kebahagiaan kepada kami" ucap rasa syukur Vano dalam hati.
Vano memegang tangan istrinya, ia kecup hangat kening sang istri sembari berbisik
"terima kasih sayang, terima kasih kau sudah memberikan sesuatu yang terindah kepadaku " seru Vano dengan airmata yang menetes pada wajah tampannya.
Shesa melihat gurat kebahagiaan pada wajah sang suami, ia mengusap air mata Vano yang tampak membasahi wajah maskulinnya.
"dibalik sikap tegasmu, ada kelembutan hati yang tersimpan, kau sangat menyayangi kami berdua, aku akan menjaga kandunganku dengan baik, aku akan menjaga buah cinta kita hingga akhirnya ia lahir ke dunia"
Shesa sangat bahagia Vano begitu mencintai dia dan bayinya.
BERSAMBUNG
💖💖💖💖💖