
"Shesa...kamu berhasil" seru Monic sembari memeluk Shesa dengan bangga.
kepala sekolah dan bu Dewi sangat bangga dengan apa yang dilakukan Shesa, skill yang dimiliki Shesa tidak bisa diragukan lagi, Shesa kembali mengharumkan nama sekolah, ia juga sudah membuat nama sekolah Harapan Bangsa menjadi sekolah unggulan dan mempunyai reputasi yang tidak bisa diragukan lagi.
"selamat Shesa, pak Vano pasti bangga padamu!" seru kepala sekolah senang.
"terimakasih pak" balas Shesa tersenyum.
"Shesa...ibu benar - benar bangga padamu, meskipun kau sedang hamil, tapi semangatmu untuk mengharumkan nama sekolah kita patut diacungi jempol, kau memang siswa yang luar biasa, kau sudah menyelamatkan sekolah kita" ucap bu Dewi bangga.
dengan pencapaian yang luar biasa Shesa dalam kejuaraan panjat dinding kali ini, telah mematahkan stigma negatif yang telah Siska tebarkan pada sekolah -sekolah lain, semua sekolah mengakui keunggulan dan kehebatan sekolah yang dibawah naungan Vano tersebut.
Mario mendekati Shesa untuk memastikan istri tuan mudanya ini baik-baik saja.
"nona nggak papa kan? apa ada yang sakit atau cidera?" tanya Mario khawatir.
"kamu nggak usah khawatir, aku baik-baik saja" jawab Shesa tersenyum.
"ya ampun non, apa yang non lakukan itu sangat membahayakan keselamatan non, apalagi kalau sampai tuan muda tahu, bisa-bisa saya yang dimarahi habis-habisan non" ucap Mario dengan wajah cemas.
"jadi benar, Mario adalah anak buah pak Vano" gumam Monic saat mendengar Mario berbicara pada Shesa.
"kamu tidak usah takut begitu, aku yang akan menjelaskan pada suamiku" ucap Shesa menenangkan Mario.
Sementara Monic terdiam saat tahu Mario adalah anak buah Vano yang ditugaskan untuk mengawal Shesa.
"jadi...Mario adalah anak buah pak Vano? apa itu benar Sha?" tanya Monic untuk memastikannya.
"iya Mon, Mario adalah asisten pribadi suamiku, ia ditugaskan untuk menjagaku selama aku hamil" tukas Shesa menjelaskan.
"ooh begitu" jawab Monic sembari malu-malu menatap Mario.
*******
Di Kantor
Vano sedang duduk di kursi kebesarannya, sejenak ia mendapati ponselnya berdering.
"halo "
"halo pak Vano, selamat atas kemenangan sekolah Harapan Bangsa dalam kejuaraan panjat dinding hari ini, saya tidak menyangka
istri anda sudah berhasil membawa nama sekolah anda menjadi sekolah unggulan" seru seorang kepala sekolah dari SMA Bakti Negara.
Vano sangat terkejut dengan apa yang dikatakan kepala sekolah itu.
"apa maksud anda pak ?" tanya Vano penasaran
"seorang siswi berbakat yang tak lain adalah istri anda sendiri sudah berhasil menciptakan rekor waktu tercepat dalam panjat dinding tingkat SMA , saya salut dengan keberanian istri anda" ucap kepala sekolah.
Vano terdiam, ia tak menyangka sang istri berani melawan perintahnya, Vano mengepalkan tangannya, apa yang dilakukan Shesa kali ini benar-benar membuatnya sangat marah.
"kenapa kau masih mengikuti kejuaraan itu , kau benar-benar ceroboh" gumam Vano kesal
bukan tanpa alasan Vano marah pada apa yang telah dilakukan Shesa, ia sangat menjaga betul Shesa dan bayinya, tapi sang istri dengan mudahnya seolah telah membahayakan keselamatan dirinya dan calon buah hati mereka.
"Mario kenapa dia tidak bilang padaku" gumam Vano, dengan cepat ia menghubungi Mario.
Mario melihat ponselnya menyala.
"tuan muda" ucap Mario yang sedikit ketakutan, perlahan Mario mengangkat telepon dari Vano.
"i...iya tuan muda" seru Mario terbata-bata.
"apa yang terjadi? kenapa kau tak bilang padaku bahwa istriku mengikuti lomba itu, katakan?" seru Vano dengan nada tinggi, sehingga membuat Mario sangat khawatir
"maafkan saya tuan muda, i ...itu..." belum selesai Mario menyelesaikan kata-katanya, Shesa meminta ponsel Mario untuk diberikan padanya agar ia bisa berbicara pada suaminya.
Mario memberikan ponselnya kepada Shesa
"tut...tut...tut"
Shesa menghela nafas panjang, kali ini ia harus menghadapi kemarahan Vano, Shesa memberikan ponsel itu lagi kepada Mario, Mario melihat ekspresi Shesa yang tampak gelisah.
"tuan muda marah ya non?" tanya Mario
"enggak...nggak papa" jawabnya menutupi dengan senyuman, ia berusaha menguatkan hatinya yang sedang bersedih dengan sikap Vano.
Monic melihat kesedihan dimata Shesa, ia tak tega melihat Shesa yang tampak bersedih, baru saja ia menyelamatkan reputasi sekolah dengan mengorbankan dirinya dan juga janin yang masih berusia dua bulan itu, dan juga menjaga nama baik Vano, namun ia tidak mendapati applaus dari sang suami.
"Shesa...kau baik-baik saja" ucap Monic mencoba menenangkan Shesa.
"aku baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, aku mau melihat Laura dulu" seru Shesa sembari berjalan menuju tenda dimana Laura berada.
Mario dan Monic saling menatap, keduanya sangat khawatir tentang keadaan Shesa nanti, bagaimana jadinya saat Shesa bertemu dengan suaminya.
Laura melihat Shesa yang tengah berjalan menghampirinya.
"bagaimana keadaanmu? masih sakitkah?" seru Shesa kepada Laura yang masih terbaring.
"sudah agak mendingan, petugas kesehatan memberiku obat untuk menghilangkan rasa nyeri" ucap Laura yang masih tampak lemas.
Shesa tersenyum, Laura benar - benar menyesal sudah membuat Shesa menggantikan dirinya, Laura sangat cemas dengan keadaan Shesa yang tengah hamil.
"Shesa, maafin aku sudah membuatmu menggantikanku dalam kejuaraan tadi!" ucap Laura menyesal.
"ssstt...jangan bicara begitu, kamu pikir aku tega melihatmu sangat kesakitan seperti itu, semuanya sudah terlewati dengan lancar, kita memenangkannya lagi, reputasi sekolah kita akan tetap berada diatas." seru Shesa bangga.
"kamu benar - benar hebat Sha, aku yakin pak Vano pasti bangga padamu, kau wanita yang kuat" ucap Laura dengan bangga.
"tapi sayang tidak seperti itu Laura, suamiku pasti tidak mau mendengarkanku" gumam Shesa.
*******
Hari ini Vano banyak menerima ucapan selamat dari kolega-kolega bisnisnya, karena Vano telah berhasil memimpin sekolah dengan reputasi yang terbaik, namun semua itu belum juga ia mengerti, Siska memang sengaja merencanakan itu semua untuk membuat reputasi Vano jatuh, namun sayang sang istri sudah menggagalkan rencana Siska.
Shesa telah kembali ke rumah, ia langsung naik ke kamarnya, perasaannya masih bercampur aduk, rasa cemas, takut, bahagia, sedih ia rasakan menjadi satu.
disisi lain Shesa sangat bahagia karena telah berhasil menjaga nama baik sang suami dan sekolah Harapan Bangsa.
namun disisi lain, ia sangat bersedih karena Vano masih dingin kepadanya, Shesa menunggu kedatangan sang suami pulang dengan perasaan cemas.
tiba-tiba pintu kamar dibuka oleh seseorang, Shesa membulatkan matanya.
"dia sudah pulang" gumam Shesa, kemudian ia mendengar langkah kaki Vano, Shesa membiarkan Vano mendekati nya, namun sayang, hal yang biasa Vano lakukan saat pulang kerja, memeluk Shesa dari belakang, ternyata hari ini Vano terus berlalu masuk ke kamar mandi.
Shesa yang terkejut dengan perubahan sikap sang suami lantas ia segera menghampiri Vano yang hendak masuk kedalam kamar mandi.
"sayang tunggu" seru Shesa sembari meraih tangan Vano.
Vano hanya melihat tangannya yang diraih sang istri, tanpa menatap wajah sang istri sama sekali, Vano hanya singkat berbicara.
"aku mau mandi, lepaskan tanganku"
Vano masih sangat kecewa dengan sikap sang istri yang tengah membiarkan dirinya dan bayinya dalam bahaya.
Shesa menatap pintu kamar mandi yang tertutup.
"maafkan aku sayang, aku tahu kamu kecewa, tapi aku melakukan itu semua demi kamu" gumam Shesa sembari duduk lemas diatas tempat tidur.
BERSAMBUNG
π·π·π·π·π·π·
Bantu Shesa yuk supaya Vano nggak marah padanya...dengan cara dukung terus karya ini dengan like, komen, beri hadiah dan vote
Dukungan kalian adalah booster semangat untuk authorπππ