
"Shesa kamu kenapa?" tanya Laura yang melihat Shesa tampak gelisah.
Setelah cukup lama mereka saling mengobrol tiba-tiba saja Shesa merasakan ada sesuatu yang hangat dari jalan Vano junior keluar, dan memaksa Shesa untuk segera melihatnya ke kamar mandi.
"Nggak, nggak papa....eh sebentar ya aku ke kamar mandi dulu" ujar Shesa untuk pergi ke kamar mandi sebentar, ia penasaran dengan apa yang ia rasa pada area intinya.
"Iya" Laura dan Monic mengangguk
Shesa berjalan menuju kamar mandi yang berada dilantai bawah, Leona melihat menantunya tengah sedikit terburu-buru untuk masuk ke dalam kamar mandi.
"Shesa! kenapa dia terburu-buru?" gumam Leona sembari menunggu Shesa di luar kamar mandi.
Shesa sudah berada di dalam kamar mandi, kemudian ia melepaskan underwear yang melekat pada dirinya, meskipun sedikit kesusahan namun ia berusaha melepaskan nya sendiri, biasanya sang suami yang selalu gercep dan paling semangat melepaskan underwear yang Shesa pakai.
Setelah underwear itu terlepas, Shesa melihat ada lendir bercampur darah yang keluar dari area intinya, Shesa benar-benar terkejut saat melihat itu, lantas ia berteriak karena ia takut itu berbahaya.
"Aaaaaaaaa...." teriakan Shesa membuat Leona sangat panik.
"Shesa...kamu kenapa sayang" seru Leona sembari membuka pintu kamar mandi, Leona melihat Shesa memegang sesuatu ditangannya.
"Mama" ucapnya dengan tubuh yang bergetar, Leona mendekati Shesa dan melihat apa yang sedang diperhatikan menantunya.
Leona tersenyum bahagia, karena sebentar lagi cucunya akan lahir ke dunia.
"Ini apa ma? kok Mama malah senyum sih? aku takut ma, apa ini tandanya aku akan melahirkan?" ucap Shesa ketakutan, wajar Shesa seperti itu, ini kali pertama ia menghadapi persalinan, meskipun ia sudah membaca tentang informasi tanda-tanda persalinan, namun tetap saja, ini adalah pengalaman pertama nya, sehingga membuat Shesa sedikit takut.
"Kamu benar sayang, ini tandanya Vano junior akan segera lahir, apa perutmu sakit atau mulas-mulas?" tanya Leona, Shesa menggelengkan kepalanya, Shesa tidak merasa sakit sama sekali, hanya saja ia merasakan sesuatu yang hangat dari jalan Vano junior keluar.
"Tidak ma, perutku tidak sakit sama sekali, cuma Shesa merasa ada yang keluar dari sini" ungkap Shesa.
"Ya sudah, ayo kita ke ke rumah sakit, sudah waktunya kamu melahirkan, mama akan memerintahkan kepada para pelayan untuk mempersiapkan segalanya untuk pergi ke rumah sakit" ucap Leona sembari membantu Shesa untuk mengganti underwear yang sudah terkena noda lendir dan darah tadi.
Leona memapah Shesa dan membantunya untuk berjalan ke ruangan utama, sembari menunggu mobil dipersiapkan, tampak Laura dan Monic terkejut melihat kedatangan Shesa yang didampingi oleh ibu mertuanya.
Laura dan Monic juga terkejut dengan para pelayan yang sibuk keluar masuk dengan membawa berbagai kelengkapan bayi.
"Shesa, kamu kenapa?" tanya Monic sembari membantu Shesa untuk duduk.
"Shesa akan melahirkan, Tante akan membawanya ke rumah sakit!" seru Leona yang juga tengah sibuk mengabari putranya bahwa istrinya akan melahirkan.
"Shesa kamu kok nggak ngerasa sakit sih? biasanya kan kalau ibu yang akan melahirkan, merasakan sakit sekali pada perutnya, kok kamu terlihat santai" seru Laura sembari mengelus pundak Shesa.
"Emang nggak sakit, cuma kayak ngilu, kayak ada yang pingin keluar aja" ungkap Shesa yang membuat kedua temannya saling menatap, mengingat mereka sebentar lagi akan menikah, pasti akan melewati masa-masa seperti Shesa.
Sementara itu Leona tengah menghubungi Vano yang berada di kantor, namun percuma ponsel Vano tertinggal diruang kerjanya, sedangkan ia tengah menemui kliennya di luar kantor.
"Aduh Vano, kok malah nggak dijawab sih!" ucap Leona sambil menekan kembali nomor Vano, setelah beberapa kali Leona melakukan panggilan, tapi tidak ada jawaban dari putranya, akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Hendrawan.
"Baiklah aku segera datang" ucap Hendrawan
******
Sekretaris Jimmy yang tampak sedang memperhatikan Vano, melihat Vano yang sedang menahan rasa sakitnya, keringat mulai membasahi wajah tampan Vano, dan sesekali ia mengusap wajahnya yang terlihat tegang.
"Pak Vano kenapa? pak Vano sakit?" tanya sekretaris Jimmy yang khawatir dengan keadaan bosnya.
"Aku nggak tahu, tiba-tiba saja perutku mulas-mulas, dan pinggangku rasanya mau patah" ungkap Vano sembari memegang pinggangnya.
"Apa pak Vano sudah makan sesuatu, atau makan apa gitu, kok tiba-tiba pak Vano sakit perut?" tanya sekretaris Jimmy lirih.
"Aku makan seperti biasa, nggak ada makan yang aneh-aneh, tapi entah kenapa tiba-tiba saja perutku mulas-mulas" jawab Vano
"Kita ke dokter sekarang" seru sekretaris Jimmy, namun tiba-tiba saja rasa mulas-mulas tadi hilang dari perut Vano.
"Ah tidak usah, sekarang sudah tidak mulas-mulas lagi, tapi pinggangku masih sakit, tidak apa aku masih bisa menahannya " balas Vano tenang.
Setelah itu Vano melanjutkan kembali obrolannya bersama klien, dan tiba-tiba saja mulas-mulas itu muncul kembali, sehingga membuat ekspresi Vano sangat gelisah dan tampak tidak nyaman.
"Pak Vano istrinya sedang hamil kah?" tiba-tiba klien Vano menanyakan hal itu kepadanya, dan sontak membuat Vano terkejut, bagaimana kliennya bisa tahu bahwa istrinya sedang hamil.
"Iya bener pak, darimana bapak tahu?" tanya Vano penasaran.
"Selamat ya pak, sebentar lagi istri Anda akan melahirkan?" seru klien itu mengucapkan selamat kepada Vano, dan tentu ucapan dari kliennya itu membuat Vano tidak percaya, bagaimana mungkin dia bisa mengetahui kalau Shesa akan melahirkan, padahal masih dalam hitungan jam ia masih memeluk istrinya.
"Bapak kok tahu kalau istri saya akan melahirkan, jangan-jangan bapak dukun ya!" seru Vano yang membuat sekretaris Jimmy menepuk jidatnya.
"Ya ampun pak Vano, mulas-mulas saja sudah membuatnya oleng" gumam sekretaris Jimmy
Kliennya tersenyum, kemudian ia menjelaskan bahwa apa yang dialami Vano itu adalah Couvade Syndrome, dimana sang suami ikut merasakan sakit yang dialami oleh ibu hamil, karena kontak batin yang begitu dekat.
"Dulu saya juga seperti itu pak, ketika istri saya hendak melahirkan, saya juga ikut merasakan gelisah dan mulas-mulas, namun itu semua terbayarkan dengan kehadiran seorang bayi lucu yang melengkapi kebahagiaan kami" ungkap klien Vano menjelaskan, Vano pun ikut tersenyum bahagia.
Dan tiba-tiba saja Vano teringat ponselnya yang tertinggal di ruangannya, ia harus menelepon Shesa untuk mengetahui keadaannya, mungkin saja apa yang dikatakan kliennya itu benar adanya, Shesa akan melahirkan.
"Kalau begitu kita akhiri pertemuan ini, kita lanjut besok, hari ini saya mau memastikan keadaan bahwa istri saya baik-baik saja, saya khawatir apa yang bapak ucapkan itu benar!" seru Vano sembari menjabat tangan kliennya.
"Tidak mengapa pak Vano, kita bisa lanjutkan obrolan kita lain hari, semoga istri bapak melahirkan dengan selamat" ucap klien itu.
"Terimakasih pak!" seru Vano.
Akhirnya dengan cepat ia menuju ruang kantornya, sementara sekretaris Jimmy terus mendampingi bosnya.
Sesampainya di ruangannya, Vano langsung mencari keberadaan ponselnya, tak menunggu lama, akhirnya ia bisa menemukan ponselnya yang ia letakkan di atas tumpukan dokumen yang berada di atas meja kerjanya.
Vano membuka layar ponselnya, sungguh ia terkejut saat melihat Leona melakukan panggilan beberapa kali, perasaannya sudah tidak menentu, ia yakin pasti terjadi sesuatu di rumah, dengan cepat Vano memerintahkan kepada sekretaris Jimmy untuk menghandle rapat hari ini, Vano menyuruh semua kepala staf bagian untuk mewakili Vano pada rapat-rapat yang sudah terjadwal, hari ini Vano fokus pada Panggilan darurat Leona.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥
...TAHAN NAFAS DULU YA BEB🥰🥰...