Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
Skandal


"Kenapa kamu tampak kesal, apa ada masalah?" tanya Vera penasaran


Excel tertunduk, lantas ia meraih tangan Vera dan menatap wajah wanita yang dicintainya itu.


"Apa kau percaya tentang badai sebelum pernikahan?" tanya Excel yang tiba-tiba bertanya itu kepada Vera.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" seru Vera sembari mengerutkan dahinya.


"Ada satu hal yang ingin aku ungkapkan kepadamu" ucap Excel mencoba memberanikan dirinya untuk bicara jujur.


Vera menatap dalam-dalam wajah calon suaminya itu, tampak ada suatu beban yang yang tersirat dalam tatapan matanya.


"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Vera semakin penasaran.


Excel menghela nafas, ia berusaha untuk tenang agar apa yang ia sampaikan bisa dimengerti oleh Vera.


"Kau tahu masa laluku seperti apa? aku bukanlah laki-laki yang bertahan dengan satu wanita, sebelum kita memutuskan untuk menikah, aku bukanlah pria yang setia, aku pria konyol yang selalu pindah ke lain wanita, dan akhirnya aku menemukan dirimu kembali, setelah aku tahu semuanya dari paman Danu, aku sadar apa yang aku lakukan padamu tidaklah manusiawi, kamu tidak pantas mendapatkan perlakuan buruk dariku, maka dari itu aku bertekad kembali padamu, dan meninggalkan masa kelam ku yang penuh dengan nafsu liar" sesal Excel


Vera tampak mendengar kan pengakuan Excel dengan seksama, ia menatap bola mata yang penuh penyesalan itu.


"Vera aku tahu aku tak patut untuk di maafkan, jika suatu hari nanti, kau mendapati bukti tentang kebejatan ku dimasa lalu, aku mohon kepadamu, tolong maafkan lah aku, itu semua diluar kendaliku, aku sangat menyesal" ucap Excel sembari bersimpuh di kaki Vera.


Vera hanya terdiam, tanpa sepatah kata ia ucapkan, bagaimana pun juga ini adalah keputusan nya untuk menikah dengan ayah dari putrinya, meskipun terasa sakit dan perih saat Excel berkata jujur padanya, setidaknya ia menghargai keberanian Excel untuk mengakui kesalahannya.


tiba-tiba Vera mengungkapkan perasaannya yang selama ini ia pendam.


"Kau tahu, banyak yang bilang kepada ku bahwa aku adalah perempuan bodoh, perempuan yang gampang saja menerima permintaan maaf dari seorang pria seperti mu, selama ini aku sudah melawan rasa egoku, satu hal yang mereka tidak tahu dariku, tak ada yang tahu sedalam apa perasaan seseorang, aku yakin bahwa kau akan berubah, bila kita memaafkan kesalahan seseorang, kita sama sekali tidak mengubah masa lalu, tapi kita yakin untuk mengubah masa depan" ucap Vera penuh makna.


"Semua sudah ku pertimbangkan, aku mengerti bahwa memaafkan itu proses yang menyakitkan, aku mengerti menyakitkan itu harus dilalui agar langkah kita jauh lebih ringan, karena sesungguhnya memaafkan orang lain lebih mudah dibandingkan memaafkan diri sendiri, kau adalah ayah dari putriku, jangan kecewakan kami lagi" Seru Vera sembari menatap dalam-dalam bola mata Excel.


Excel tampak berkaca-kaca, sungguh beruntung ia mendapatkan wanita yang begitu berbesar hati mau memaafkan kesalahannya yang tentu tidak semua orang mau menerima.


"Sekarang aku sadar, bahwa kebesaran hati seseorang, dapat dilihat dari kemampuannya dalam memaafkan kesalahan orang lain, aku tidak salah pilih, memang kamulah wanita yang menjadi pelabuhan terakhir ku, aku sangat mencintaimu" ungkap Excel sembari mencium tangan Vera.


"Saat kita memutuskan untuk memaafkan orang lain, bukan semata-mata orang tersebut layak untuk dimaafkan, melainkan kita selalu layak untuk memiliki kedamaian dan ketenangan di dalam hati, memaafkan itu dekat sekali" sambung Vera tersenyum


"Kita tidak perlu lagi menoleh ke belakang, karena semua itu sudah menjadi masa lalu, saatnya kita menata kehidupan baru kita, bersama putri kecil kita, merajuk asa bersama, menjalin komitmen untuk saling sehidup semati" seru Vera penuh keyakinan


Tampak Vano dan Shesa melihat kebersamaan Excel dan Vera.


"Bukan hal yang mudah untuk kak Vera memaafkan mas Excel, semoga mas Excel mampu menepati janjinya dan membahagiakan kak Vera" seru Shesa


"Setiap orang mempunyai kesalahan, tak ada manusia yang sempurna di dunia ini, Excel menunjukkan kesungguhan nya, apa salahnya kita memberi dia kesempatan, dan ternyata dia mampu membangun kembali kepercayaan orang-orang sekitarnya, perusahaan papa sudah berubah total, berkat Excel perusahaan papa kini berkembang sangat pesat, aku tidak menyangka Excel bisa merubah secepat itu, dia memang sungguh-sungguh ingin memperbaiki dirinya" ucap Vano sembari merangkul Shesa.


Excel dan Vera menyadari kedatangan Vano dan Shesa, lantas mereka berdua menghampiri keduanya.


"Sorry bro, kami tidak tahu kalian berdua disini" seru Excel kepada Vano yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua.


Sementara Excel dan Vano masih berada diluar ruangan, tampak Excel yang masih gelisah atas ancaman Siska, membuat Vano tampak curiga.


"Kamu kenapa? mukamu seperti kertas kusut" tanya Vano sembari memperhatikan wajah Excel yang terlihat cemas.


"Iya... sebenarnya aku ada sedikit masalah" jawab Excel


Vano mengerutkan dahinya, ia melihat ekspresi Excel kali ini sangat terlihat begitu cemas.


"Ada apa? ada masalah serius?" tanya Vano penasaran.


Excel menghela nafasnya, sejenak ia mencoba menenangkan dirinya, agar ia bisa menghadapi masalah ini dengan mudah.


"Siska...dia mengancam ku" ujar Excel


"mengancam mu, untuk apa? apa kalian pernah terlibat skandal?" seru Vano mencoba menebak, mengingat Excel dan Siska pernah bekerja sama.


Excel tertunduk, apa yang diucapkan Vano benar adanya.


"Iya..." jawab Excel lemas


"Dia mengancamku untuk memberi tahukan kepada Vera, tentang hubungan kami" sambung Excel dengan wajah seriusnya.


"Penjarakan Siska, itu akan lebih baik dan hidupmu akan tenang" seru Vano memberi saran.


Sontak penuturan Vano membuat Excel terkejut, bagaimana caranya ia bisa membuat Siska masuk ke dalam bui.


"Apa maksudmu bro? aku belum mengerti!" ucap Excel


"Laura, dia yang akan membantumu!" ucap Vano


"Laura, keponakannya Siska!" jawab Excel


"Kau masih ingat saat Laura terjatuh saat kejuaraan panjat dinding waktu itu, bukankah semua itu karena ulah Siska sendiri, yang sengaja membuat keponakan nya celaka, aku yakin Laura akan membantumu" seru Vano mengingatkan saat Siska sengaja membuat siswa Sekolah Harapan Bangsa celaka, yang ternyata Laura sendiri yang telah dibuat celaka oleh tantenya.


"Kamu benar, ternyata kita melupakan kasus itu, kenapa aku tidak terpikirkan akan hal ini" jawab Excel yang mulai melihat titik terang untuk menjebloskan kembali wanita pembuat onar itu.


"Dengarkan aku, semuanya akan baik-baik saja, Siska tidak akan berani mengganggu Vera lagi, percaya lah" ucap Vano menenangkan


"Thanks bro, aku lega akhirnya aku menemukan cara untuk membungkam mulut wanita itu, kini aku bisa sedikit tenang" ujar Excel


"Aku akan membantumu" seru Vano sembari menepuk pundak Excel.


BERSAMBUNG


🔥🔥🔥🔥🔥