
Dokter Erick telah pergi, dilihatnya sang mama yang terbaring diatas tempat tidur, Vano duduk disamping mamanya dan membelai lembut rambut sang mama.
"mama, besok Vano akan mempertemukan mama dan papa, kalian berdua akan berkumpul lagi seperti dulu, cepatlah sembuh ma, kami semua berdoa untuk kesembuhan mama, kami semua menyayangi mama" seru Vano penuh harap.
Shesa memeluk sang suami, memberikannya kekuatan untuk Vano agar selalu sabar menanti Leona untuk mengingat semuanya.
"kapan kamu jemput papa di bandara?" seru Shesa sembari mengelus rambut suaminya.
"besok pagi, sekarang papa tengah dalam perjalanan" jawab Vano.
"baiklah sayang, lebih baik kamu istirahat dulu, supaya besok kamu tidak terlambat menjemput papa, aku akan menemani mama disini" ucap Shesa sambil mengelus pundak suaminya.
"hm...kamu benar sayang, aku juga akan ikut menemani mama disini, aku masih sangat mengkhawatirkannya" balas Vano.
Akhirnya Vano dan Shesa memutuskan untuk menemani Leona, Shesa tidur di samping Leona, sedangkan Vano tidur di sofa.
Hingga tak terasa jam menunjukkan pukul 2 pagi, tiba-tiba Leona siuman, ia membuka matanya pelan-pelan, dilihatnya langit-langit kamar yang pernah ia lihat, perlahan Leona bangun dan duduk, ia memperhatikan pemandangan sekeliling, tempat ini tak asing baginya, tampak seorang gadis yang tertidur disampingnya, Leona tersenyum dan memandangi wajah Shesa penuh kasih.
Tak ingin membangunkan Shesa, Leona pelan-pelan beranjak turun dari tempat tidur, ia melihat Vano yang tertidur di atas sofa, perlahan Leona menghampiri putranya, ia dekati wajah sang anak yang telah lama berpisah darinya.
"Vano anakku, kamu sudah sebesar ini nak, akhirnya mama bisa melihatmu tumbuh dewasa, Vano pangeran mama"
Leona menangis dalam hati, betapa ia telah mengingat kembali masa lalunya, saat-saat bersama keluarga kecilnya, bayangan Hendra sang suami selalu melintasi alam bawah sadarnya.
Leona beranjak mengitari seluruh isi kamar, tampak foto dirinya dan Hendra yang masih terpasang di dinding, mungkin kemarin Leona tidak terlalu memperdulikan foto-foto yang terpajang di dinding itu, tapi sekarang Leona menangis saat tahu dirinya masih bisa melihat wajah sang suami.
"mas Hendra, bagaimana keadaanmu sekarang? aku sangat merindukanmu" isak Leona sembari memeluk foto sang suami.
tiba-tiba seseorang menghampiri Leona yang tengah bersimpuh sambil memeluk sebuah foto .
"mama...mama sedang apa disini, Shesa terbangun dan mama tidak ada, ternyata mama ada disini" seru Shesa yang ikut bersimpuh di samping Leona.
Shesa melihat Leona tengah menangis dengan sebuah foto di pelukannya.
"mama menangis? ada apa ma? apa mama masih sakit?" tanya Shesa khawatir.
"tidak nak, mama tidak sakit, mama sudah ingat semuanya, mama ingat siapa mama sebenarnya, setelah puluhan tahun akhirnya mama bisa mengingat kembali, foto ini adalah foto mas Hendra, sekarang bagaimana dengan keadaannya, apa dia baik-baik saja" ucap Leona dengan nada bergetar.
"mama...mama sudah ingat semuanya, Syukurlah terimakasih Tuhan, akhirnya Engkau mengabulkan doa kami, mama...Shesa sangat bahagia melihat mama sudah sembuh" seru Shesa sembari memeluk ibu mertuanya.
Tanpa mereka sadari Vano sudah berdiri di belakang mereka, Shesa memeluk Leona penuh haru, usahanya untuk menyatukan kembali keluarga Vano telah membuahkan hasil, Leona telah mengingat semuanya.
"mama...apa mama tidak memelukku juga" seru Vano yang tiba-tiba mengagetkan mereka berdua.
Shesa dan Leona terpaku menatap wajah Vano yang sendu, Leona berdiri dan menyambut kedatangan putranya dalam pelukannya.
Vano berjalan perlahan mendekati Leona yang tengah menyambut kehadiran nya, ini adalah momen terindah untuk Vano, disaat Leona sudah mengingat putra satu-satunya itu.
Vano kini telah dihadapan sang ibunda, Leona mengangkat tangannya yang bergetar, ia usap wajah sang putra penuh kerinduan, menyapu lembut wajah Vano yang tampak sendu.
"mama sangat bahagia akhirnya anak mama akan memberi mama seorang cucu" ucap Leona sembari melepaskan pelukannya dan meraih tangan Shesa untuk mendekat.
"kalian berdua sangat serasi, mama bahagia sekali, andaikan papamu ada disini, pasti kebahagiaan mama semakin lengkap, dimana papa Vano? papamu baik-baik saja kan?" seru Leona
"mama tidak usah khawatir, papa baik-baik saja, papa sedang ada diluar negeri ma, papa mengurusi bisnis kita yang ada di London, papa pasti pulang" ucap Vano
Vano sengaja tidak memberitahukan kepada Leona bahwa besok Hendra akan pulang, Vano memberi kejutan untuk keduanya.
malam itu juga Leona menceritakan tentang apa yang terjadi pada dirinya di hari yang naas itu, mobil Leona sengaja di tabrak oleh mobil yang tak dikenal, sehingga menyebabkan mobilnya jatuh ke dalam jurang, namun beruntung Leona masih selamat dalam kecelakaan maut itu, namun tiba-tiba ada beberapa orang yang membawa tubuh Leona yang dalam keadaan setengah sadar.
Leona mendengar percakapan Veronica dengan anak buahnya, mereka berencana menghilangkan jejak Leona dengan membuang Leona di tengah hutan, lantas Leona berontak karena menyadari Veronica akan mencelakainya, namun sia-sia kondisi Leona yang terluka parah membuat Leona tak mampu menghindarinya, anak buah Veronica lantas membekap Leona hingga tak sadarkan diri.
"setelah itu, mama sudah tidak ingat apa-apa lagi, mama ingat waktu itu mama berada di dalam rumah sederhana, tampak seorang pria dan wanita, serta gadis kecil seusia kamu waktu itu, tengah duduk disamping mama, tapi mama tidak ingat apapun" ungkap Leona mengingat saat bu Lasmi dan Nata menolongnya.
"mereka merawat mama dengan baik, hingga akhirnya suami wanita itu meninggal dunia, kami tinggal bertiga, waktu itu mama selalu bertanya-tanya siapa diri mama, setiap kali mama ingin mengingatnya, kepala mama sungguh sakit dan tak tertahankan, hingga akhirnya kalian datang, disitu mama mulai merasa ada sesuatu yang membuat mama sedikit bahagia, entahlah mama benar-benar bahagia melihat kalian berdua....dan ternyata kebahagiaan itu nyata, mama sudah menemukan keluarga mama" ungkap Leona menangis bahagia.
"kami juga sangat bahagia bisa menemukan mama kembali" ucap Shesa tersenyum.
*******
Hingga akhirnya pagi datang, Vano bersiap menjemput Hendra di bandara, Shesa sibuk merapikan baju sang suami.
"kau tahu sayang, hari ini aku benar-benar bahagia, akhirnya mama dan papa akan saling bertemu setelah sekian tahun berpisah, aku tidak bisa bayangkan bagaimana perasaan papa saat melihat mama masih hidup" ucap Vano senang, tampak matanya yang indah berkaca-kaca.
"ini semua tak lepas dari usahamu sayang, kamu adalah kebahagian ku, aku sangat mencintaimu" seru Vano sembari mengangkat tubuh Shesa.
"aww...sayang sudah turunin" pinta Shesa sembari memukul-mukul pundak suaminya.
Vano menurunkan tubuh istrinya.
"tuh kan jadi berantakan lagi bajunya, kamu sih" ucap Shesa sembari merapikan kembali dasi Vano.
"udah selesai, cepat berangkat gih, papa udah nungguin loh" seru Shesa
"kiss dulu dong" pinta Vano sambil mendekatkan wajahnya pada istrinya.
Shesa tersenyum lantas ia mencium pipi sang suami.
"kok pipi, sini dong" protes Vano yang ingin Shesa mencium bibirnya.
Shesa mengulum senyumnya, kemudian ia mulai mendekatkan bibirnya.
BERSAMBUNG
💖💖💖💖💖