Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
selendang sutera


Di dalam kamar Veronica


"aku tidak boleh menyerah, aku harus melakukan sesuatu" sejenak Veronica melihat sebuah kain yang menjuntai di lemarinya, sebuah kain yang lembut terbuat dari sutera tampak terlihat mengintip dari lemari Veronica yang tertutup.


"astaga, kenapa pelayan -pelayan itu tidak hati-hati" seru Veronica sembari menyembunyikan selendang sutera berwarna biru itu.


"hm...lebih baik aku buang saja selendang ini, daripada nanti akan menjadi masalah" ucap Veronica sembari membawa selendang itu keluar dan menyuruh pelayan untuk membuangnya.


"pelayan!"


"iya...nyonya"


"cepat kau buang selendang ini jauh-jauh, aku tidak mau melihatnya" perintah Veronica kepada salah seorang pelayannya.


"baik nyonya" jawab pelayan itu.


Veronica lantas masuk kedalam kamarnya, sementara pelayan pergi untuk membuang selendang itu ketempat sampah.


namun Helena melihat pelayan itu berjalan terburu-buru, kemudian Helena memanggil sang pelayan wanita yang tengah membawa sebuah selendang sutera warna biru tersebut.


"tunggu!" seru Helena pada pelayan


sang pelayan menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Helena.


"nona...ada apa?" tanya pelayan yang terkejut saat Helena tiba-tiba memanggilnya.


"kau mau kemana? dan apa yang kau bawa itu?" tanya Helena penasaran.


"oh ini...ini selendang dari nyonya besar, katanya suruh di buang" jawab pelayan sembari menunjukkan selendang sutera berwarna biru muda itu.


Helena meraih selendang itu, lantas ia mengambilnya dari tangan pelayan.


"selendang ini masih bagus, kenapa Mommy ingin membuangnya, cantik..biar ku simpan saja" ucap Helena yang tertarik pada keindahan selendang sutera itu.


"tapi nona, kalau nyonya besar tanya, saya jawab apa?" seru pelayan khawatir


"bilang aja sudah kamu buang" ucap Helena tersenyum.


"sudah sekarang kamu pergi" seru Helena.


Helena sangat menyukai selendang itu, apalagi bahannya yang lembut dan halus.


*******


Hari itu juga Veronica menghubungi Siska.


Siska mendapati ponselnya berdering.


"bu Vero" seru Siska saat melihat layar ponselnya dan segera mengangkatnya.


"halo"


"kita gagal, Vano berhasil menggagalkan rencana kita, dia telah mengambil alih data-data perusahaanku" seru Veronica dengan nada kesal.


"tidak mungkin, bagaimana bisa? aku sudah menyisipkan file itu sangat rapi dan tersembunyi, bagaimana bisa mereka mengetahuinya?" seru Siska yang sangat terkejut saat usahanya untuk mengehack data-data perusahaan Vano telah gagal.


Veronica meminta tolong kepada Siska untuk membantunya mencuri data-data internal milik perusahaan Vano, karena Siska mengetahui informasi yang cukup dari perusahaan Vano.


"kita harus bagaimana sekarang? perusahaan ku sudah berada diujung tanduk" seru Veronica khawatir.


Siska berfikir sejenak untuk mencari cara lain untuk menyerang Vano kembali.


"Sekolah Harapan Bangsa" Siska berfikir untuk menyerang Vano lewat Sekolah yang dibawah naungannya itu.


"aku punya ide nyonya" ucap Siska yang telah menemukan ide cemerlang untuk mengalahkan Vano.


"apa?" tanya Veronica penasaran.


"kejuaraan panjat dinding" ucap Siska dengan senyum sinisnya.


"kejuaraan panjat dinding? bagaimana caranya?" Veronica semakin penasaran.


pengaruh Siska cukup kuat, ia mencoba mempengaruhi pengurus sekolah -sekolah yang lain untuk memandang negatif kepada sekolah Harapan Bangsa, sehingga mereka membuat keputusan bahwa jika sekolah Harapan Bangsa tidak memenangkan kejuaraan itu, maka reputasi sekolah akan dipertanyakan dan tentu saja itu akan membuat reputasi Vano juga menurun.


hasutan Siska tidak pernah meleset, beberapa sekolah telah menyetujui tentang keputusan itu, ada senyum kepuasan di wajah Siska.


"akhirnya, aku akan melihat sekolah yang memiliki reputasi terbaik di kota ini, akan jatuh begitu saja, dan tentu saja Vano pasti sangat terkejut melihat ketidakmampuan siswanya" gumam Siska senang.


******


Hari ini kejuaraan panjat dinding tingkat SMA akan segera dimulai, Laura tengah mempersiapkan semuanya, ia sangat bangga bisa mewakili sekolah Harapan Bangsa dalam kejuaraan yang diikuti oleh puluhan sekolah itu.


Ia sudah hadir di tempat lomba, namun ia belum melihat keberadaan Shesa, Shesa berjanji kepadanya untuk menyaksikan Laura mengalahkan rival-rivalnya, ia hanya melihat Monic yang juga menunggu kedatangan Shesa.


"Monic, Shesa belum datang?" tanya Laura


"belum tuh kayaknya, mungkin sebentar lagi, nah itu dia?" seru Monic sembari menunjuk kearah Shesa yang baru tiba.


"hai...sorry ...lama ya nungguin?" ucap Shesa


"nggak juga sih, kita tuh nyantai dan memahami situasi dan kondisi mu sekarang, ada pak Vano yang harus kamu dahulukan dan kamu prioritaskan, tuh lipstikmu berantakan, iya kan Ra?" seru Monic yang melihat lipstik warna pink milik Shesa sedikit belepotan di bibir mungilnya, dan Laura ikut tersenyum melihat bibir Shesa seolah habis dilahap oleh suaminya.


"apa-apaan sih kalian" ucap Shesa sembari mengelap bekas lipstik yang belepotan akibat ulah dipagi hari sang suami.


Monic dan Laura terkekeh melihat tingkah Shesa yang terlihat salah tingkah.


"aduh...aduh...pasti pak Vano sangat mencintaimu Sha, uuhh ya ampun kapan ya aku punya suami kayak pak Vano" ucap Monic sembari membayangkan.


dan tiba-tiba suara berat Mario membuat Monic sangat terkejut.


"aku siap menjadi suamimu" seru Mario tersenyum, Monic menoleh kearah Mario


"eh...main celetuk ajah, emangnya siapa juga yang mau jadi istrimu" ucap Monic salah tingkah.


"ya kamu lah" jawab Mario dengan mantap.


"diihhh...nggak mau" balas Monic cepat.


"dengar ya Monic, setelah lulus sekolah nanti, aku akan datang melamarmu untuk menjadi istriku" ucap Mario penuh keyakinan.


dan tiba-tiba Shesa dan Laura menyoraki mereka berdua.


"cie...cie..." ucap keduanya.


"apaan sih, nggak banget deh" seru Monic tampak tersipu malu.


mereka saling bercanda sebelum acara dimulai, tampak Shesa sedang gusar.


"eh...aku ke kamar mandi dulu ya"


akhirnya Shesa pergi ke kamar kecil yang lokasinya dekat dengan tempat mereka sekarang, sehingga Mario masih bisa memantau dari jauh.


setelah beberapa menit, Shesa keluar dari kamar mandi, kemudian ia berjalan menuju ke tempatnya tadi, namun perhatiannya terganggu saat tanpa sengaja Shesa mendengarkan kepala sekolah berbicara kepada bu Dewi.


"mudah-mudahan Laura bisa memenangkan kejuaraan ini ya bu" seru kepala sekolah


"iya pak semoga saja, kalau Laura sampai kalah, apa yang harus kita katakan kepada pak Vano" ucap bu Dewi khawatir.


"benar bu, reputasi sekolah ini hanya bergantung pada Laura, semoga dia berhasil, kalau tidak reputasi sekolah dan juga pak Vano akan jatuh" sambung kepala sekolah.


"apa, tidak mungkin" Shesa mendengarkan semua pembicaraan kepala sekolah dan bisa Dewi.


lantas Shesa dengan perasaan cemas menghampiri Laura yang bersiap-sisp untuk melakukan tugasnya.


"Laura...semoga kau berhasil, aku sangat berharap kepadamu, nama baik sekolah kita, ada ditanganmu" ucap Shesa penuh harap.


BERSAMBUNG


🌹🌹🌹🌹🌹


"