Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
bertemu dengan Vera


Hari ini adalah hari pertama Vera bekerja di perusahaan Vano, dengan memakai rok selutut yg dipadu dengan blazer warna hitam, Vera terlihat anggun, masih terlihat di paras ayunya, ia masih berusia sangat muda, meski gurat kesedihan masih lekat pada senyum manisnya, sesekali ia melihat sebuah foto yg menghiasi kamar tidurnya.


Foto keluarga, ada ayah, ibu dan dua orang putri yang sama-sama cantiknya, ia nampak berkaca-kaca ketika memandang foto lawas itu, sejenak ia menghela nafas, dilihatnya jam tangan di tangan kirinya.


"Aku harus berangkat"


"Mama....Frisca nggak mau ditinggal" seru seorang gadis kecil yg masih berusia sekitar 2 tahunan itu sambil memeluk Vera.


"Sayang...mama kerja dulu, Frisca di rumah ajah sama bik Unah" ujar Vera sambil mengusap rambut putri semata wayangnya itu.


"Mama jangan lama-lama ya, Frisca takut" ucap Frisca polos.


"Nggak dong sayang...nanti juga mama pulang..ya...muach" balas Vera sembari mengecup kening Frisca.


Frisca berlari ke dalam kamar, ia mengintip dari balik pintu Vera yg bersiap-siap berangkat kerja, Vera mengambil tas kerjanya dan keluar dari apartemen, ia turun dan menghentikan sebuah taksi, sepasang mata nampak memperhatikan Vera sedari tadi.


"Ternyata kamu disini sayang"


Excel dengan senyum liciknya mencoba membuntuti kemana Vera pergi, akhirnya taksi Vera berhenti di depan PT Elang Perkasa Company, Vera turun dari taksi dan masuk ke dalam gedung yang sudah memberinya posisi.


"PT Elang Perkasa....I got you" dengan senyum liciknya, Exel mulai merencananakan sesuatu untuk menghancurkan Vano.


*


*


*


*


Vera memasuki ruang kerjanya dengan optimis, ia ingin menunjukkan pada keluarganya bahwa ia gadis yang mandiri, meskipun ia telah diusir dari rumah, tak lantas membuat Vera menjadi lemah, kejadian 2 tahun yg lalu, membuatnya sempat terpuruk, hampir saja ia bunuh diri mengakhiri hidupnya.


Ia telah membohongi keluarganya bahwa ia telah menggugurkan kandungannya, nyatanya Vera telah melahirkan seorang anak perempuan yang cantik, kepergiannya ke luar negeri ternyata untuk menyembunyikan kehamilannya, ia tinggal bersama sepupu papanya, selama di sana ia merawat dan membesarkan bayi yang tidak pernah diakui Excel sebagai anaknya.


Vera pulang ke Indonesia karena rasa rindunya pada kampung halaman, meskipun sudah di coret dari daftar keluarga, namun Vera tetap berharap bisa bertemu lagi dengan keluarganya, meskipun dari jauh sekalipun


*


*


*


*


Setelah beberapa menit Vano tiba di ruang kantornya, dengan senyum yang sumringah tak seperti biasanya, hari ini Vano nampak bahagia sekali, hampir seluruh karyawan heran dengan sikap Vano yang kini terlihat hangat.


"Eh...pak Vano kelihatan beda ya sekarang"


"He em.....dia nampak senang sekali"


"Seperti orang yg lagi jatuh cinta"


"iya ..bener"


Bisik-bisik karyawan yang bekerja di sini asik mengomentari bosnya yang sedang kasmaran itu.


Vano duduk di kursi kebesarannya, tak berapa lama Vera masuk ke ruangan Vano.


"Oermisi pak"


"Masuk"


Vera masuk dan memberikan sebuah laporan kepada Vano.


"Ini dokemen yang Bapak butuhkan, silakan di cek dulu pak" seru Vera sembari memberikan sebuah dokumen, Vano memeriksa dokumen-dokumen yg diberikan Vano kepadanya.


"Kerja bagus...saya salut dengan semangatmu, ini bukanlah pekerjaan mudah, hampir semua staf lamaku tidak sanggup melengkapi jurnal ini, tapi kamu bisa menyelesaikannya dengan baik, ternyata saya tidak salah memilih karyawan sepertimu" Vano berbangga hati memiliki karyawan yang cerdas seperti Vera.


"Terimakasih apresiasinya pak...saya akan mencoba mengabdikan diri saya untuk kemajuan perusahaan ini" seru Vera senang.


"Baiklah kalau begitu...aku punya satu permintaan kepadamu" ucap Vano sambil menunjukkan sebuah dokumen penting yang ia simpan di brankasnya.


"Ambil ini...tolong kamu perbaiki kesalahan-kesalahan yang ada pada dokumen ini, karena dokumen ini telah disalahgunakan oleh orang yang tak bertangung jawab" ungkap Vano serius.


Vera menerima dokumen-dokumen itu dari Vano, ia buka dan ia mencoba menganalisa, matanya sempat membulat ketika tertera nama Dewa Dwi putra dalam dokumen itu.


"Bagaimana apa kamu sanggup?" tanya Vano.


"Maaf pak...darimana bapak mendapatkan file-file ini?" tanya Vera dengan nada serius.


"File-file itu aku dapat dari seseorang yang katanya sudah membeli perusahaan Dewa Dwi putra, nyatanya perusahaan itu tidak pernah dijual, ada seseorang yang sengaja ingin menjebak perusahaan Dewa Dwi putra dengan menjual aset perusahaan secara sepihak" jelas Vano


"Seseorang?" gumam Vera yang mencoba menerka-nerka siapa orang itu, setahu dia selama membantu Dewa menjalankan perusahaan hanya ada dua perusahaan besar yang bekerja sama, yaitu perusahaan Vano dan yang satu lagi perusahaan Excel.


"Tidak mungkin" seru Vera yg tiba-tiba membuat Vano tercengang


"Ada apa? Ada masalah?" tanya Vano penasaran.


"Tidak pak...tidak ada...baiklah saya akan membantu menyelesaikan tugas ini, permisi" pamit Vera, lantas ia keluar dari ruangan Vano.


*


*


*


*


Di rumah Vano


Shesa nampak jenuh, ia nampak kesepian, nenek sedang tidak berada dalam rumah.


"Bosen di rumah terus...mending aku ke kantor suamiku aja" Shesa mengambil tasnya dan segera pergi keluar rumah.


"Nona...mau kemana?" tanya seorang pelayan


"Aku mau ke kantor suamiku, bosen di rumah" jawab Shesa


"Tapi kata tuan muda...nona tidak boleh kemana-mana dulu" ucap pelayan.


"lah...ini aku mau nyusul dia di kantor nya, udah nggak papa aku bisa pergi sendiri" seru Shesa, lantas ia menghentikan sebuah taksi.


Tak butuh waktu lama, Shesa sudah berada di depan kantor Vano, ia sengaja datang ke sana untuk membawakan 'bakmi endes' untuk Vano.


"Permisi Nona, Anda sedang mencari siapa?" tanya seorang security.


"Ruangan pak Vano sebelah mana ya?" tanya Shesa sambil memperhatikan kantor Vano yang begitu besar


"Pak Vano tidak bisa menerima tamu sembarang orang Nona, lebih baik Anda beritahu dulu apa keperluan Anda" seru Security dengan wajah seriusnya.


"Gini pak...saya mau bertemu sama pak Vano, sebentaaar ajah" ucap Shesa memelas.


"Tidak bisa Nona...lebih baik Anda duduk dulu disini, Anda lihat mereka-mereka semua, mereka juga tamu pak Vano, berdoa saja semoga pak Vano mau menemui Anda" ucap security itu sambil menunjuk belasan orang yang duduk di sebelahnya.


"Hufffttt....aduh kalau nggak cepat dimakan, bakminya lekas dingin, nggak enak" gumam Shesa


Shesa berfikir untuk menerobos pintu masuk, disaat security sedang lengah, Shesa langsung masuk ke pintu utama menuju ruang direktur.


"Hai tunggu Nona...jangan masuk!" teriak security yang mendapati Shesa berlari menuju ruang direktur, security itu tidak bisa mengejar Shesa, ia berlari sekuat tenaga menghindari kejaran security.


Shesa bersembunyi di balik sebuah pintu, security itu pergi kembali karena tak mendapati keberadaan Shesa.


"Hufftt....amaannn" seru Shesa mengelus dada.


"Wao...gede banget ruangannya, ini pasti ruangannya, Shesa berjalan mengitari sekitar ruangan Vano yang mewah dan elegan, ia tak sengaja melihat foto mereka berdua saat prewedding yang diletakkan Vano di atas meja kerjanya, Shesa tersenyum simpul, lantas ia iseng duduk-duduk di kursi kebesaran Vano.


Shesa memutar balik kursi itu, tiba-tiba saja Vera datang.


"Maaf pak...ini berkas-berkas yang harus bapak tanda tangani" seru Vera yang masih mengira Vano yang duduk dikursi itu.


Shesa membulatkan matanya, telinganya tak sengaja mendengar suara yang sangat ia kenal, suara yang lama menghilang.


"Kak Vera!" seru Shesa sambil menoleh ke arah Vera.


"Shesa......." Vera benar-benar terkejut melihat adik satu-satunya berada di ruangan Vano.


BERSAMBUNG


🌷🌷🌷🌷🌷