
"aku berjanji, akan mengembalikan semua citra baik perusahaan om Dewa, dan aku berjanji akan mengembalikan semua data yang telah aku salah gunakan" ucap Excel dengan wajah seriusnya.
"apa jaminanmu jika kamu tidak berhasil melakukan itu semua?" tanya Vano
"semua aset dan harta kekayaanku akan jatuh ke tangan om Dewa" ucap Excel benar-benar menunjukkan sikap tanggung jawabnya.
Vera tersenyum, Excel akhirnya menunjukkan sikap tanggung jawabnya, entah ini kekonyolan sikap Vera yang telah memaafkan Excel, ataukah perasaan cinta itu masih ada, namun Vera yakin Excel akan memenuhi janjinya.
Hari itu juga Excel menandatangani surat perjanjian tentang upayanya untuk membangun kembali perusahaan calon mertuanya, dengan jaminan seluruh harta kekayaan dan aset perusahaan milik Excel sebagai taruhannya.
"deal"
"aku berharap, kau tidak mengecewakan kami, aku memberimu kesempatan untuk menebus semua kesalahanmu, karena aku melihat kesungguhan dalam dirimu, dengar Excel, aku tidak akan segan-segan menghancurkanmu, jika kamu masih berani melukai keluarga istriku, camkan itu" ucap Vano menatap tajam kearah Excel.
"kau bisa pegang ucapanku, Excel yang dulu sudah mati, sekarang Excel sudah merubah dirinya" jawab Excel yakin.
kemudian Excel dengan wajah seriusnya menghadap Dewa penuh keyakinan.
"om Dewa, aku berjanji pada Anda, perusahaan Anda akan kembali seperti sedia kala, namun saya minta satu syarat" ucap Excel memotong pembicaraannya.
"apa?" tanya Dewa.
"setelah saya berhasil mengembalikan kondisi perusahaan seperti sedia kala, saya mohon kepada om, untuk mengizinkan kami berdua menikah, saya sangat mencintai Vera" ucap Excel sembari menatap wajah Vera, sehingga membuat Vera tersipu malu.
"baiklah, aku izinkan, jangan pernah tinggalkan dia lagi" seru Dewa kepada Excel.
"tidak akan pernah" jawab Excel serius.
*******
akhirnya hari itu diakhiri dengan kebahagiaan.
Shesa melihat keponakan nya itu begitu mengemaskan, karena baru kali ini ia bertemu dengan Frisca, ia berusaha mendekati Frisca.
"hai Frisca sayang, sini sama Tante" panggil Shesa kepada Frisca.
Frisca mulai mendekati Shesa dan mencium pipi Shesa.
"Tante cantik" ucap Frisca begitu menggemaskan.
"emm...masa sih! Frisca juga cantik kok" seru Shesa menggoda Frisca.
tiba-tiba Vano berbisik dari belakang.
"kata siapa Tante cantik, yang ada Tante gendut" goda Vano sembari mencubit pipi Shesa yang terlihat chubby itu.
"aww... sakit sayang, kebiasaan banget deh, ngata-ngatain orang chubby, aku gendut juga gara-gara kamu" umpat Shesa kesal.
"emang aku ngapain kamu? perasaan aku nggak pernah melakukan apa-apa" seru Vano sembari bersiul melihat keatas.
"oh gitu ya, pak Vano Perkasa yang setiap hari bangunin istrinya, nggak pernah melihat istrinya tidur nyenyak, selalu gangguin Mulu" ucap Shesa lirih.
"tapi kamu suka kan?" jawab Vano menyeringai.
Shresa melirik malu, suaminya itu selalu saja membuatnya salah tingkah.
"kita pulang yuk sayang, aku sudah ingin bermain bersamamu" bisik mesra Vano pada telinga sang istri.
******
"pa..ma.., Shesa pulang dulu" pamit Shesa pada keduanya.
"hati-hati sayang, jaga kandunganmu, jangan terlalu capek" ucap Anggi kepada Shesa.
Shesa mengangguk dan tersenyum, kemudian ia berjalan menuju Vera dan Excel.
"kak Vera, aku pulang dulu" ucap Shesa
"terimakasih adikku, kau sudah membantu kakak, kakak tidak tahu harus membalasnya dengan apa" seru Vera sembari mengelus wajah adiknya itu.
"tidak perlu kak, cukup kakak disini saja temani Mama dan papa, mereka masih sangat merindukanmu" ujar Shesa tersenyum.
Vano menatap serius kearah Excel yang berdiri disamping Vera, perlahan Vano mendekatkan tubuh besarnya kearah Excel.
"akan aku buktikan kepadamu bahwa aku memang sungguh-sungguh telah menyesali perbuatanku" tukas Excel meyakinkan
*****
akhirnya Vano dan Shesa berada dalam satu mobil bersama Vano, Vano menyuruh Renata pulang duluan, karena hari itu Shesa akan pulang bersama suaminya.
Vano menyetir mobil sembari memegang tangan sang istri, sesekali ia mencium tangan Shesa dengan lembut.
tiba-tiba teringat dengan keadaan Laura yang masih berada di rumah sakit.
"ngomong-ngomong keadaan Laura gimana ya sayang? aku ingin melihatnya!" ucap Shesa sembari melihat wajah tampan suaminya saat sedang menyetir.
"besok saja kita kesana, hari ini sudah cukup membuatmu lelah, aku tidak mau terjadi apa-apa pada kalian berdua" tukas Vano sembari terus menggenggam tangan Shesa.
hingga akhirnya Vano dan Shesa tiba di istana mereka, nenek menyambut kedatangan mereka berdua dengan senang.
"kalian berdua sudah pulang!" sapa nenek
"iya nek, nenek baik-baik saja kan?" tanya Vano.
"tentu saja Vano, oh ya a bagaimana keadaan cicit nenek, nenek sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengannya" ucap nenek
"nenek sayang, kehamilan Shesa masih satu bulan, dia masih sangat kecil, nanti kalau sudah waktunya, nenek bisa menggendongnya" ucapnya senang.
"jaga kandunganmu baik-baik sayang, Vano... jaga istrimu baik-baik, wanita hamil biasanya moodnya gampang berubah, kamu harus sabar" nasihat nenek kepada cucu kesayangannya itu.
"siap nenek" jawab Vano
******
mereka berdua telah tiba dikamar mereka, Shesa masih tidak percaya bahwa Excel dan Vera akhirnya bisa bersatu kembali.
"sayang, kira-kira Excel akan menepati janjinya atau tidak? apa dia mau melakukan semua itu demi kak Vera?" ucap Shesa sembari melepaskan ikatan dasi Vano.
"aku lihat dia mulai berubah, kesalahpahaman itu yang membuatnya liar, tapi aku yakin dia pasti bisa menebus semua kesalahannya kepada papa Dewa" ucap Vano sembari menatap wajah sang istri.
Shesa sudah melepas ikatan dasi Vano, kemudian ia membuka kancing kemeja Vano, Shesa melihat Vano yang sedang memandanginya, membuat Shesa tersipu malu.
"kenapa lihatnya gitu sih?" ucap Shesa sembari menundukkan wajahnya.
"benar kata Frisca, kamu sangat cantik sayang" ucap Vano mulai menggoda.
"Halah gombal, tadi katanya aku gendut" balas Shesa sembari membalikkan badannya.
"siapa bilang kamu gendut, kamu tuh seksi sekali, menggairahkan" ucapnya berbisik mesra di telinga Shesa sambil membuka kancing baju sekolah Shesa satu persatu, hingga akhirnya baju Shesa terbuka seluruhnya.
"ayo kita mandi" bisik mesra Vano kepada Shesa dengan tangan mendekap sempurna tubuh Shesa.
"kalau aku tidak mau" seru Shesa menggoda
"kamu tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini, aku pastikan Vano Perkasa akan selalu mengganggu malam panjangmu " ucap Vano menyeringai.
tanpa pikir panjang Vano menggendong Shesa kedalam kamar mandi, kemudian ia meletakkan tubuh sang istri didalam bak yang sudah terisi air penuh bunga, menjadikan suasana semakin romantis.
keduanya menenggelamkan diri dalam bathtub, Vano mendekati istrinya, tatapan nakalnya mulai berbicara, seolah ingin mendapat persetujuan dari Shesa bahwa ia sedang menginginkan hal itu.
keduanya saling memadu kasih kembali, saling mencurahkan segala hasrat yang mulai menggoda keduanya, momen itu semakin mempererat hubungan mereka berdua.
Vano selalu bisa membuat Shesa terpejam merasakan keni*ma*an sorga dunia, deru nafas yang saling berlomba membuat suasana dalam kamar mandi itu terasa sangat syahdu, rintihan kecil dari bibir Shesa membuat Vano semakin menikmati penyatuan mereka, hingga akhirnya kedua insan itu saling melepaskan hasrat secara bersamaan.
keduanya saling tersenyum bahagia, Vano mencium perut Shesa dan berbisik disana.
"Vano junior, kamu jangan nakal ya diperut mama, baik-baik didalam sana, biar papa saja yang nakal, kamu jangan" ucapnya berbisik lirih
"apa sih sayang" seru Shesa mencubit perut sang suami saat mendengar ucapan Vano yang membuatnya malu itu.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥