
"apa?" jawab Monic terkejut.
Shesa tertunduk, ia sangat gelisah, jangan-jangan ia memang benar-benar hamil, kemarin ia pingsan dan pagi ini ia merasa mual dan muntah, Shesa berkeringat dingin, apa yang harus ia lakukan jika memang benar ia hamil.
"Shesa, kamu...?" ucap Monic yang memperhatikan Shesa yang mulai cemas, Shesa menatap Monic dengan ekspresi wajah yang sudah pasti Monic memahaminya.
*******
jam istirahat
"Shesa ayo kita ke kantin!" ajak Monic
"nggak ah, aku males banget ke kantin" jawab Shesa singkat.
"kamu mau aku beliin makanan?" Seru Monic menawarkan sesuatu.
"nggak nggak, aku nggak lapar" jawab Shesa.
"ya udah, aku ke kantin dulu" ucap Monic sembari berlalu meninggalkan ruangan kelas.
tiba-tiba Mita dan Nabila masuk kedalam kelas dengan membawa makanan yang beraroma wangi, Shesa tanpa sengaja mencium aroma yang keluar dari makanan yang dibawa Mita ke dalam kelas, sontak saja perut Shesa terasa sangat mual saat mencium aroma makanan itu, kemudian ia berlari menuju kamar mandi, Mita yang terkejut dengan tingkah Shesa lantas mengikuti Shesa sampai ke kamar mandi.
di dalam kamar mandi, Shesa muntah-muntah, ia benar-benar tak bisa menahan rasa mualnya, sedangkan Mita yang berada diluar pintu kamar mandi, mendengarkan Shesa yang sedang muntah, ia mulai punya firasat bahwa Shesa sedang hamil.
"Shesa hamil? ya ampun!" seru Mita sembari menutup mulutnya, ia semakin percaya bahwa Shesa memang peliharaan om om, Mita kembali ke kelasnya dengan sedikit terburu-buru, tanpa ia sadari Mita menabrak bahu Siska yang sedang berjalan.
"bruukk"
"ah...maaf Bu Siska, saya tidak sengaja" seru Mita gugup, Siska yang melihat tingkah Mita yang nampak aneh lantas bertanya kepadanya.
"hati-hati kalau berjalan...kamu kenapa? kelihatan buru-buru sekali?" tanya Siska serius, Mita masih gugup dengan apa yang terjadi padanya.
"anu Bu...itu..." jawab Mita terbata-bata.
"anu apa maksudmu, yang jelas dong!" seru Siska kesal.
"Shesa Bu, disana!" ucap Mita sembari menunjuk arah kamar mandi, lantas Siska menoleh kearah kamar mandi.
"Shesa, memang ada apa dengannya?" tanya Siska yang tak sabar.
"Bu Siska kesana saja sendiri" seru Mita kepada Siska.
kemudian Siska, melangkahkan kakinya kekamar mandi dimana Shesa masih berada di dalam, perlahan Siska menempelkan telinganya di depan pintu kamar mandi, ia mendengar Shesa yang masih muntah-muntah.
senyum jahatnya mulai mengembang pada wajah Siska, kemudian ia pergi dari sana dan segera menemui kepala sekolah.
*****
dikamar mandi
Shesa melihat wajahnya yang masih pucat, perutnya belum terisi makanan sama sekali, apalagi ia mual muntah terus sehingga membuat tubuhnya semakin lemas.
"ya Tuhan, apa aku benar-benar hamil?" gumamnya dalam hati, ia bingung apa yang harus ia lakukan jika ia hamil sungguhan, semua teman-temannya pasti berfikiran negatif terhadapnya, apalagi sekarang ia sudah duduk di kelas 12, tidak genap satu tahun ia sudah lulus dari sekolah, kalau dia hamil terpaksa dia harus putus sekolah.
Shesa keluar dari kamar mandi dengan dengan wajah cemas, Monic yang sudah sampai di dalam kelas, memperhatikan Shesa yang terlihat memikirkan sesuatu.
"Shesa kamu darimana?" tanya Monic
"kamar mandi" jawab Shesa singkat.
"ini aku bawakan sandwich kesukaanmu" seru Monic sambil memberi sandwich yang biasa Shesa beli di kantin
"nggak ah, makan aja...em aku mau yang itu saja" ucap Shesa sembari menunjuk permen asam yang dibawa Monic, Monic dari dulu memang suka sekali dengan permen yang bercita rasa asam.
"Shesa kan lagi hamil, ya pastilah di doyan yang asam-asam" celetuk Mita yang membuat siswa yang berada di dalam kelas tercengang.
"Shesa hamil"
"hamil anaknya om om pastinya"
"ya ampun menjijikkan sekali"
bisik-bisik siswa yang berada di dalam kelas.
"Mita, tutup mulutmu, jangan ngomong sembarangan kamu" seru Monic yang sudah sangat geram dengan perlakuannya terhadap Shesa.
"Monic, sudahlah biarin aja, jangan hiraukan dia" pinta Shesa agar Monic tidak ikut tersulut emosi.
"dengar ya Mita dan kamu Nabila, kalau bukan karena Shesa yang memintaku untuk bersabar, kalian berdua sudah aku remas-remas dari kemarin, kalian berdua akan menyesal, ingat itu" seru Monic yang melampiaskan kekesalannya pada kedua temannya itu.
"emang gue pikirin, tanya sendiri sama temanmu itu, kenapa dia muntah-muntah di kamar mandi, belum lagi kejadian kemarin yang tiba-tiba ia pingsan, kamu itu bodoh atau apa sih Monic, Shesa itu sedang hamil" seru Mita dengan sungguh-sungguh.
Monic mulai menatap serius wajah Shesa yang sedang tertunduk.
"itu tidak benar, kalian sudah salah faham, aku muntah-muntah bukan berarti aku hamil, asam lambungku sedang kambuh, jadi perutku terasa sangat mual" ucap Shesa menutupi.
"Halah ..itu alasanmu saja, kamu pikir aku tidak tahu, Shesa kau tidak bisa mengelak lagi" seru Mita semakin berani.
"Shesa, kami benar-benar kecewa sama kamu, sebaiknya kamu keluar saja dari sekolah ini, kamu sudah menjadi contoh yang tidak baik di sekolah kita ini" sambung Nabila.
"Nabila, Jangan sembarangan kamu, kamu belum tahu siapa dia, Shesa itu is.......!" belum sempat Monic merampungkan kata-katanya, Shesa menarik tangan Monic.
"Monic, Jangan... sudahlah ayo kita pergi saja" ucap Shesa sembari menggandeng Monic untuk keluar kelas.
"huuuuuuuuu"
seru siswa yang berada di dalam kelas meledek Shesa dan Monic.
*******
Shesa membawa Monic ke ruang perpustakaan, tempat favoritnya.
"Monic, kamu jangan kepancing emosi gitu dong, bagaimana pun juga Mita dan Nabila tetap akan menjadi sahabat, suatu hari nanti kita pasti bisa bersama-bersama lagi" hibu Shesa agar Monic tetap tenang.
"tapi Sha, emang bener ya kamu hamil?" tanya Monic yang juga penasaran.
"aku nggak tahu Mon, aku belum memastikannya" jawab Shesa pelan.
tiba-tiba seorang siswa memanggil Monic untuk datang ke ruang guru mengambil jurnal kelas, dan Monicpun segera pergi ke ruang guru.
"Shesa aku tinggal sebentar ya, nanti aku balik lagi" ucap Monic yang dibalas Shesa dengan anggukan.
Monic sudah sampai di ruang guru, ia masuk dan mengambil jurnal kelas yang dibutuhkan, tiba-tiba ia mendengar Bu Siska yang sedang berbicara dengan kepala sekolah, ruangan kepala sekolah hanya dibatasi sekat dinding yang tipis, sehingga Monic dengan mudah mendengar percakapan Bu Siska dan kepala sekolah.
"pak, hari ini kita harus mengeluarkan Shesa dari sekolah ini, ia sudah membuat nama baik sekolah ini menjadi tercoreng karena perbuatannya" seru Siska kepada kepala sekolah.
"aduh...ini gawat, aku harus melakukan sesuatu" seru Monic sembari berlalu meninggalkan ruangan guru.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥
SEMAKIN DEG DEGAN AUTHOR NULISNYA 🤭
DUKUNG TERUS YA READERS TERSAYANG ❤️❤️❤️😘😘😘