Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
sejuta luka


Disaat bersamaan, tiba-tiba datang seorang laki-laki dengan membawa bungkusan kantong plastik berwarna hitam.


"maaf tuan besar, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda" seru seorang pelayan.


Hendra masih belum mampu menjawab, kesedihan hatinya membuat Hendra tak bisa mengendalikan emosinya, akhirnya nenek mengizinkan laki-laki itu masuk.


"suruh dia masuk" seru nenek


"baik nyonya" jawab pelayan.


Tampak seorang pria separuh baya datang dengan membawa bungkusan tas plastik warna hitam.


Dewa dan nenek memperhatikan pria itu seksama.


"permisi nyonya, tuan, saya kesini untuk menyampaikan sesuatu kepada anda" seru pria itu.


"apa yang ingin anda katakan!" tanya nenek penasaran.


"saya mau menyerahkan ini kepada tuan dan nyonya, saya menemukan ini di lereng gunung Arjuna" seru pria itu sembari memberikan bungkusan tas plastik itu.


"apa ini?" tanya Dewa yang penasaran dengan isi bungkusan itu


"saya menemukan itu tidak sengaja tuan, saya menemukan itu di dalam hutan kawasan gunung Arjuna, dimana tempat itu adalah tempat mobil nyonya Leona terjatuh" seru pria itu menjelaskan.


"saya hanya memastikan apakah baju itu milik nyonya Leona, karena sepertinya pemilik baju itu sudah tewas di mangsa binatang buas, saya menemukan baju itu di tengah hutan" sambung pria itu.


"apa maksud Anda istri saya sudah tewas, dia masih hidup, Leona akan kembali bersama kami, Anda jangan macam-macam ya, atau saya hajar kamu" seru Hendra sangat marah.


"ampun tuan, ampun....saya tidak bermaksud apa-apa, saya cuma menolong anda mencari keberadaan istri Anda, saya hanya memastikan bahwa baju ini milik nyonya Leona atau bukan, sebab saya menemukan ini di sekitar baju itu ditemukan" ucap pria itu sembari memberikan kalung liontin yang berisi foto mereka bertiga, Hendra, Leona dan Vano.


"ya Tuhan, apa benar ini baju milik Leona?" seru Dewa sangat terkejut saat ia melihat liontin foto itu.


"kamu jangan percaya sama pria ini Wa, dia itu pembohong" seru Hendra sangat tidak percaya


tiba-tiba nenek membuka bungkusan tas plastik warna hitam itu, perlahan nenek mengambil isi yang ada didalamnya.


betapa terkejutnya, nenek melihat baju Leona yang sudah terkoyak dan berlumuran darah.


"Leona...tidaaaaakkk" seru nenek histeris


Hendra dan Dewa terdiam melihat baju Leona sudah tercabik-cabik dan hancur, tampak darah segar mewarnai baju yang berwarna putih itu.


"tidak...itu tidak mungkin, sayang kamu tidak mungkin meninggalkanku, tidaaakkk" ucap Hendra yang tak kuasa menahan tangisnya, ia bersimpuh didepan baju istrinya, ia lihat darah sang istri yang masih tampak segar.


"ya Tuhan, tidak mungkin ini terjadi, Leona" gumam Dewa sedih.


tiba-tiba terdengar suara vas yang terjatuh.


"praanngggg"


semua terkejut dengan suara yang bersumber dari arah belakang mereka.


"Vano...." seru nenek yang melihat Vano tengah menyenggol vas itu hingga terjatuh, Vano telah melihat baju sang ibu yang berlumuran darah.


"mama ...." Vano berlari menuju kamarnya, ia kunci kamarnya dengan segera, Vano menangis histeris, mata polosnya terpaksa menyaksikan baju sang mama yang sudah terkoyak, perasaannya hancur, ia sangat sedih, hingga ia meringkuk di sudut kamarnya, meratapi kepergian sang mama yang tragis


"mama... kenapa mama tinggalin Vano sendiri? Vano sayang sama mama....hiks hiks" Vano menangis sesenggukan di sudut kamarnya.


********


"sampai saat ini Vano masih trauma dengan kejadian yang menimpa mamanya, Shesa sayang ... papa berharap setelah kamu mengetahui kejadian yang sebenarnya, kamu bisa menghibur suamimu, hatinya sudah patah hati karena ditinggal mamanya, jangan pernah tinggalkan dia nak, Vano sangat membutuhkan mu" seru Dewa diakhir ceritanya.


Shesa menangis mendengar Dewa menceritakan semuanya, ia tak menyangka seorang pria yang pernah ia anggap sombong itu ternyata menyimpan sejuta luka dihatinya.


"dan setelah kejadian besar itu, Hendrawan dan putranya memutuskan untuk pindah keluar negeri, agar bayangan tentang Leona, tidak membuat mereka sedih berlarut-larut, hanya nenek Triana saja yang masih tinggal di Indonesia" ungkap Dewa.


"Shesa mengerti sekarang pa, terimakasih banyak papa telah mengungkapkan semua ini kepada Shesa" ucap Shesa sembari memeluk Dewa.


Shesa menyeka air matanya, lantas ia berpamitan untuk pulang.


"Shesa pulang dulu pa"


"iya hati-hati sayang"


selama perjalanan Shesa masih teringat cerita papanya, ia tak menyangka dibalik tegasnya seorang Vano, tersimpan luka yang teramat dalam, Shesa tak bisa bayangkan seandainya dia dalam posisi seperti Vano.


"kau benar-benar hebat sayang, kau menyembunyikan kesedihanmu dihadapan semua orang, aku tidak akan membiarkanmu terluka semakin dalam, aku akan membuatmu tersenyum kembali, aku akan mengobati luka itu, aku janji padamu" gumam Shesa


Tanpa sengaja Nata melihat Shesa yang tengah bersedih.


"nona kenapa? nona kelihatan sedih?" tanya Nata


"oh...aku tidak apa-apa" ucap Shesa tersenyum.


tiba-tiba terlintas di benak Shesa tentang asal desa Nata tinggal.


"oh iya Nata, aku boleh tanya sesuatu?" tanya Shesa serius.


"tentu saja non, dengan senang hati!" Jawab Nata


"pernah nggak sih ada kejadian besar di desamu, seperti kecelakaan gitu, soalnya di sana kan lokasi nya sangat terjal dan banyak jurang" ucap Shesa memancing.


"emm... kalau sekarang sih udah nggak ada kejadian yang besar, cuma pernah sih, tapi sudah lama kejadiannya, sekitar 15 tahun yang lalu, waktu itu saya masih berusia 9 tahun, ada kecelakaan yang menghebohkan!" ungkap Nata mengingat kejadian itu.


"oh ya, kejadian apa itu?" tanya Shesa penasaran


"ada mobil seorang wanita kaya yang terjatuh ke lembah jurang, mobilnya hancur berantakan, tapi sayang jasadnya belum ditemukan non, saya dengar-dengar sih jasadnya sudah dimakan binatang buas, ihh ngeri non" ungkap Nata.


"masa sih, menurutmu apa benar wanita itu dimangsa binatang buas?" tanya Shesa menyelidik.


"kalau aku sih non, jujur ya...nggak mungkin wanita itu dimangsa binatang buas, soalnya di desa saya, tidak ada binatang buas, ya memang sih hutannya masih banyak, tapi untuk binatang buas aku rasa tidak ada" seru Nata berpendapat.


"jadi menurutmu wanita itu masih hidup?" seru Shesa.


"bisa jadi sih non, tapi ya nggak tahu juga sih, soalnya waktu itu saya belum ngerti apa-apa" ucap Nata.


Shesa mulai berfikir untuk mencari tahu tentang keberadaan Leona, karena Shesa yakin ibu mertuanya itu masih hidup.


******


sesampainya di rumah.


Shesa masuk kedalam rumah, ia mendapati Helena dan nenek berada di ruang tamu.


"Helena, Nenek" sapa Shesa.


"hai Shesa, baru pulang!" seru Helena tersenyum.


"iya...aku dari rumah papa" jawab Shesa


Shesa melihat wajah sang nenek yang tampak bersedih.


"loh...nenek kenapa? kok sedih gitu!" ucap Shesa sembari memeluk sang nenek yang masih membawa selendang sutera itu.


"wah.... selendangnya cantik sekali, ini punya Nenek?" tanya Shesa yang belum mengetahui tentang kisah selendang itu.


"bukan sayang... selendang ini milik Leona, mamanya Vano" jawab Nenek yang sontak membuat Shesa terkejut.


"benarkah? pasti selendang itu mempunyai kenangan yang indah" seru Shesa tersenyum.


"sebelum Leona kecelakaan, selendang ini ia pakai untuk yang terakhir kali" ucap nenek sedih.


"itu berarti saat Mama Leona kecelakaan, beliau masih mengenakan selendang ini? tapi kenapa selendang ini masih bagus dan bersih, padahal baju mama Leona sudah terkoyak dan tercabik-cabik, ada yang aneh" seru Shesa mulai curiga.


"nenek! darimana nenek mendapatkan selendang ini?" tanya Shesa serius


"Helena, tadi dia memakai selendang ini?" Jawab nenek.


"Helena" seru Shesa sembari melihat Helena yang tampak gelisah.


BERSAMBUNG


🔥🔥🔥🔥🔥