Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
dendam Exel


Di kediaman rumah Romi


"Eh muka lu kenapa mas? Kayak habis di hajar masa?" canda Romi pada Excel yang sedang mengompres wajahnya yang lebam seusai di hajar Vano kemarin malam.


"Diam lu bacot, gue nggak akan ampuni tuh orang, mentang-mentang dia CEO, seenaknya saja gampar orang sembarangan" gerutu Excel


"Elu yang salah kali, ngomongnya suka nggak diatur, elu kan suka gitu" seru Romi meledek


"Gue nggak ngomong apa-apa, gue cuma bercanda doang, tapi nggak apa-apa nggak masalah, suatu saat aku pasti akan membalasnya lebih sakit dari ini" Dendam Excel pada Vano.


"Dia teman bisnis lu mas?" tanya Romi mengernyitkan dahinya.


"Iya begitulah, tapi itu dulu, sekarang dia adalah musuhku" tukas Excel kesal


"Emangnya siapa dia mas, kayaknya lu benar-benar dendam sama dia?" tanya Romi sekali lagi.


"Elu mau tahu siapa dia? Dia pemilik yayasan Sekolah elu sekarang Rom!" jawab Excel pedas


"Pak Vano maksud mas?" seru Romi serius


"Iya siapa lagi?" jawab Excel sambil menekan-nekan handuk hangat ke wajahnya.


"Kok bisa mas berurusan sama dia?" sahut Romi.


"Dah lah...gue males ngomongin dia, karena tahun ini elu sudah lulus, mas biarin elu sekolah di sana, jika tidak mending elu nyusul Mami ke Jerman" tukas Excel


"Maleslah ke Jerman, mas saja yang kesana" sahut Romi cepat


"Elu masih mengharapkan gadis itu? Siapa itu namanya? Shesa?" tanya Excel menyelidik.


"Gue nggak akan pernah menyerah, gue akan nunggu dia lulus sekolah, baru gue bawa dia ke Jerman" seru Romi optimis.


"Jangan ke PD_an lu, emang dia juga suka sama lu?" tanya Exel


"Gue yakin dia juga pasti suka sama gue" tukas Romi tersenyum.


"Eh...dengerin mas ya! Yang namanya cewek tuh jangan terlalu di harapkan, nanti elu bakal kecewa" sambung Excel.


"Tapi Shesa gadis baik-baik mas, makanya aku yakin suatu hari nanti pasti dia mau menerima cintaku" seru Romi.


Excel menepuk pundak adiknya, Romi .


"Elu adek gue satu-satunya, mas akan lakuin apa saja untuk membuatmu senang, mas akan membantumu untuk mendapatkan gadis pujaan mu itu" janji Excel pada Romi.


"makasih mas" seru Romi


*


*


*


Di rumah sakit


Shesa melihat papanya masih tak sadarkan diri, ia melihat Vano yang ketiduran di kursi, ia merasa kasihan dengan Vano yang terlihat kelelahan, karena semalaman menemaninya menjaga Dewa, dan Shesa pun menghampiri suaminya yang sedang tertidur itu.


Vano menyadari kehadiran Shesa,


"Lebih baik kamu pulang duluan, sepertinya kamu terlihat lelah, maafkan aku jika telah merepotkanmu" seru Shesa, Vano menatap Shesa sendu.


"Lagipula aku menunggu papa siuman dulu, mama masih pulang mengambil keperluan papa, aku tidak akan kemana-mana" sambung Shesa meyakinkan.


"Apa kamu tidak apa-apa jika ku tinggal sendirian?" tanya Vano


Shesa menggeleng dan tersenyum manis, lesung pipi yang menghiasi senyumnya, membuat Vano tak bisa berkedip.


"Baiklah aku pulang dulu, ada rapat penting hari ini, nanti Mario akan datang menjemputmu, hubungi aku jika ada apa-apa....hm" seru Vano sambil menyentuh pipi Shesa.


Shesa mengangguk, Vano mencium kening Shesa dengan lembut.


Shesa merasa sangat beruntung mendapatkan laki-laki yg pengertian seperti Vano, awalnya ia membenci Vano karena sifat sombongnya itu, tapi ternyata kesombongannya bisa ditaklukan oleh seorang gadis SMA yang kini menjadi istrinya.


Shesa kembali duduk di samping Dewa, ia memandang wajah papanya yang sedang terbaring lemas, tiba-tiba ada gerakan sedikit dari tangan Dewa yang terpasang selang infus.


"Papa....papa sudah sadar" seru Shesa memanggil Dewa.


"Vera...Vera...." kata Dewa mengigau


"*Kak Vera?...papa memanggil kak Vera*" gumam Shesa dalam hati.


"Mungkin saja papa merindukan kak Vera" seru Shesa memeluk Dewa.


*


*


*


Shesa membuka pesan itu, dan itu adalah pesan dari Monic.


"Hai Sha....aku sudah ada di cafe Virgin, cepat datang ya" pesan Monic


Shesa berjalan menghampiri Anggi dan berpamitan pada Anggi


"Ma...Shesa pulang dulu, Shesa mau membersihkan badan, bau acem, dari semalam belum ganti baju" seru Shesa pada Anggi.


"Kamu nggak nunggu dijemput suamimu?" tanya Anggi


"Nggak usah ma, Shesa bisa pulang sendiri, Shesa nggak mau terlalu ngerepotin dia lagi" tukas Shesa.


"Ya sudah terserah kamu saja, hati-hati ya sayang" seru Anggi.


"Iya ma...muach muach"


Shesa mencium tangan Anggi dan Dewa.


*


*


*


Di Cafe Virgin


Shesa memasuki Cafe Virgin, Cafe yang didominasi cewek-cewek ABG ini selalu ramai setiap hari.


"Shesa....hai aku disini" sapa Monic yang nampak melambaikan tangannya pada Shesa, kemudian ia menghampiri Monic yang duduk di sebelah guci besar.


"Hai...muach muach" Shesa mencium pipi Monic.


"Ada apa sih kamu panggil aku kemari" tanya Shesa serius


"Sorry jika aku ganggu waktumu" seru Monic


"Katakan ada apa?" tanya Shesa menyelidik


"Tapi kamu janji nggak bakalan marah sama aku kan? Jikka aku omongin ini sama kamu" seru


Monic


"Iya janji....sekarang katakan ada apa?" tanya Shesa


"Sha? kamu sama pak Vano ada hubungan apa sih kamu sebenarnya?" tanya Monic serius


"Maksudmu apa Mon?" seru Shesa terkejut.


"Banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu Sha?" seru Monic sembari menatap wajah sahabatnya itu.


"aaku tidak mengerti maksudmu Mon?" sahut Shesa mulai curiga


"Shesa...katakan yang sebenarnya bahwa kamu sudah menikah dengan pak Vano, itu benar kan?" ucap Monic membuat mata Shesa membulat sempurna.


"Aku pernah melihatmu memakai gaun pengantin waktu kita video call, aku udah curiga sih sebenarnya, tapi aku nggak langsung percaya gitu aja" seru Monic menyelidik


"Nggak ...nggak ....kamu salah, ya nggak mungkinlah aku nikah sama orang sombong kayak dia, kamu tahu sendiri aku benci banget sama dia, dan gaun pengantin itu, emang beneran punya tante Mayra" seru Shesa menjelaskan.


"Bohong...aku tidak percaya, kamu bisa menyembunyikan ini dari semua orang, tapi kamu tidak akan bisa menyembunyikan rahasia sebesar ini pada sahabatmu sendiri Sha!" seru Monic sambil memegang tangan Shesa.


Shesa mulai kehilangan alibi, dia menggigit jarinya dan mencoba berpikir mencari alasan untuk menghindari pertanyaan Monic.


"Sudahlah Mon, masa kamu nggak percaya sama aku, kalau aku nikah beneran nggak mungkin aku masih sekolah, pastinya aku bakal ikut sama suami aku" lanjut Shesa beralibi.


"Kamu pikir aku nggak tahu, pak Vano itu pemilik yayasan di Sekolah kita, dan dia bakal ngizinin kamu tetap sekolah, secara sekolah kita 80 % dia yang menanganinya.


"Ya ampun Monic! Kamu terlalu jauh menduga, Mana mungkin pernikahan itu terjadi, jangan ngaco kamu" seru Shesa.


"Bisa kok pernikahan itu terjadi... ya dengan PERJODOHAN, kalian berdua sudah dijodohkan sebelumnya" sahut Monic menebak


"Dan kemarin aku nggak sengaja lihat kalian berbicara di halte bus, dari situlah aku yakin 100 persen bahwa pak Vano adalah suamimu" tukas Monic.


"Ah...ya...satu hal lagi, tanda merah itu? Aku tahu itu tanda dari pak Vano kan?" seru Monic


"Monic....ssttt jangan keras-keras" seru Shesa sambil menutupkan satu jari ke mulut Monic.


"Jadi, benar kan kalian berdua sudah menikah?" cecar Monic membuat Shesa tak bisa berbuat apa-apa.


BERSAMBUNG


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁