
Vano dan Shesa telah tiba di rumah, Vano selalu menggandeng tangan istrinya, tak pernah ia melepaskan tangannya sedikitpun, sesampainya di kamar, Shesa merebahkan tubuhnya sejenak diatas tempat tidur, kejadian hari ini benar-benar mengurus tenaganya, Vano menghampiri dan duduk disebelah Shesa.
"kenapa? apa yang kau pikirkan sayang?" tanya Vano sembari mengelus rambut Shesa.
"aku lelah sayang, kenapa Bu Siska selalu saja ingin melihatku menderita, salah apa aku padanya?" ucap Shesa sembari meletakkan kepalanya pada pangkuan Vano.
"kamu tidak salah, akulah yang bersalah karena terlalu mencintaimu, sehingga membuat Siska tak bisa menerimanya, dari dulu dia selalu ingin dekat denganku, tapi aku hanya menganggapnya hanya sebagai seorang teman" jelas Vano sembari melepas ikatan dasinya, sementara Shesa masih tiduran dipangkuan sang suami.
"bagaimana dengan keadaan Laura? apa dia baik-baik saja, sayang kita kerumah sakit yuk, kasihan dia pasti sendiri saat ini, Bu Siska tidak mungkin menjenguknya ke rumah sakit, Laura tidak punya keluarga disini kecuali Bu Siska" seru Shesa sembari mendongakkan kepalanya.
"tapi dia sudah berbuat jahat kepadamu? aku tidak mau kesana!" ucap Vano merajuk.
"dia berbuat itu karena perintah Bu Siska, sebenarnya dia gadis yang baik, aku pernah mengenalnya meskipun cuma sebentar, dia gadis yang enerjik, sopan... ya mungkin dia melakukan itu karena hasutan dari Bu Siska" ucap Shesa meyakinkan, namun Vano tetap tak bergeming, ia lebih sibuk membuka kancing bajunya sendiri, sehingga membuat Shesa sedikit kesal.
"sayang, kamu dengar aku tidak?" seru Shesa yang terbangun dari pangkuan Vano.
"aku tidak mau kesana!" jawabnya singkat
"sayang pliss, sekaliiii saja, aku hanya khawatir sama dia, aku hanya ingin melihat keadaannya, itu saja, setelah itu kita pulang" seru Shesa sekali lagi meyakinkan suaminya.
"aku bilang tidak, tetap tidak!" jawab Vano sembari beranjak ke kamar mandi.
Shesa mulai kehilangan cara untuk merayu si pria dingin ini.
"aduh... gimana ya, gimana lagi caraku merayunya?" gumam Shesa dalam hati, kemudian terlintas dalam pikirannya sebuah ide cemerlang untuk merayu Vano kembali, kedalam pelukannya, karena hanya itulah satu-satunya cara agar Vano luluh dan menuruti permintaannya.
Shesa melihat Vano mulai membuka pintu kamar mandi, dengan gerak cepat Shesa menghadang langkah Vano untuk masuk ke dalam, dengan senyum yang sedikit nakal Shesa berdiri tepat dihadapan suaminya, Vano hanya menatap wajah istrinya yang terlihat sedang merayunya itu.
Shesa mengalungkan tangannya pada leher Vano, perlahan Shesa mulai menautkan bibir mungilnya pada bibir Vano, kecupan itu begitu manis dibibir Vano, apalah daya seorang Vano, lelaki sejati yang selalu haus dan tak pernah puas akan sentuhan istrinya, Shesa sudah mulai pintar memainkan lidahnya, sehingga ia berhasil membangkitkan hasrat sang suami untuk bercinta dengannya.
benteng pertahanan Vano pun akhirnya runtuh, saat Shesa mulai melepas pakaiannya sendiri, sehingga ia berdiri telan*ang bulat dihadapan sang suami, melihat Shesa yang sangat menggoda imannya, tentu saja tak ada kata buat Vano untuk menolak hal yang satu ini.
"kamu sengaja menggodaku kan?" ucap Vano mesra sembari menyambar tubuh Shesa yang masih terlihat ramping, Shesa telah masuk kedalam pelukan Vano, dengan intens mereka saling bertukar Saliva.
hingga akhirnya Shesa melepaskan pagutan itu dari bibirnya, nafasnya tampak memburu, dadanya naik turun begitupun dengan Vano yang sudah mengeras disana.
perlahan Vano menjatuhkan tubuh Shesa diatas ranjang, dengan cepat ia menindih tubuh sintal itu, tangan Vano masih menyangga tubuhnya, terlihat Shesa melingkarkan tangannya pada leher Vano, sementara yang disana siap untuk masuk.
perlahan Vano mulai mendorong tongkat itu kedalam, namun tiba-tiba Shesa mendorong tubuh Vano, tentu saja itu membuat Vano sedikit kesal.
"ada apa?" tanyanya dengan suara seraknya.
"turuti dulu permintaanku!" jawab Shesa sembari menyentuh wajah Vano dengan jarinya.
"jangan bilang kamu memintaku untuk menemanimu datang kerumah sakit!" ucap Vano menebak.
Shesa tersenyum melihat Vano bisa menebak keinginannya.
"aku rasa Direktur Vano tidak akan keberatan untuk menemani istrinya" jawab Shesa
"kalau aku tidak mau!" seru Vano menggoda
Vano menyeringai, istrinya sudah berani menjahilinya, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, tanpa ba bi bu be bo , Vano langsung mendorong 'miliknya' kedalam sana.
"aahhh..." Shesa terkejut saat Vano tiba-tiba sudah melesatkan senjata itu kedalam.
"sayang...ka..u... su..dah.... curang, ka..u... belum.. men...gabulkan... permohonanku!' seru Shesa dengan nafas yang sudah tidak beraturan.
Vano tersenyum puas melihat Shesa, perlahan ia membisikkan sesuatu ditelinga Shesa.
"aku akan mengantarmu ke sana sore nanti, tapi aku tidak mau lama-lama" ucap Vano sembari tetap menjaga gerakan pinggul nya tetap stabil.
Shesa tersenyum mendengar ucapan suaminya, akhirnya usahanya merayu Vano berhasil, sekarang dia harus menuntaskan kegiatan mereka sebelum pergi kerumah sakit.
🔥🔥🔥🔥
*******
setelah kegiatan itu selesai, mereka tertidur sejenak, Shesa mulai membuka matanya, ia melihat jam menunjukkan pukul 4 sore, kemudian ia segera membangunkan Vano untuk segera membersihkan dirinya dan setelah itu Shesa akan menagih janji Vano untuk mengantarnya kerumah sakit.
"sayang... sayang, bangun dong" ucap Shesa sembari mengoyang-goyangkan badan Vano.
Vano mulai membuka matanya, ia melihat sang istri sedang berada diatasnya, dengan, cepat ia membawa kembali Shesa kedalam selimut, namun Shesa berontak, ia membuka selimut itu dengan paksa.
"emm... sayang, aku tidak mau, lepasin...aku mau mandi, setelah itu kita kerumah sakit, kau janji sore ini akan mengantarku kesana" seru Shesa sembari membuka selimut yang menutupi tubuh mereka.
"iya... iya...nona bawelllll" ucap Vano sembari mencubit kedua pipi Shesa karena Vano terlalu gemas dengan tingkah sang istri.
"aww ... sakit tahu, dasar bos kasar" umpat Shesa sembari mengacak-acak rambut suaminya.
"hei sayang... Jangan acak-acak rambutku dong, atau ketampananku akan berkurang jadinya" sahut Vano sembari merapikan rambutnya kembali.
"hello ...pak Direktur Vano, rupanya Anda terlalu percaya diri sekali!" ucap Shesa sembari memutar bola matanya.
"hm... kenapa? kamu malu mengakui ketampanan suamimu ini?" goda Vano sembari memainkan ujung jarinya pada kedua gunung yang terbuka itu.
"astaga, udah deh sayang, jangan mulai lagi, ayo mandi" ucap Shesa sembari menepis tangan Vano yang mulai menggodanya lagi.
Vano terkekeh melihat wajah sang istri.
"sayang... kamu jangan marah dong, jelek tahu!" ucap Vano menyindir Shesa.
"diih... siapa juga yang marah!" jawab Shesa singkat sembari berdiri dari tempat tidur.
"kamu tadi kelihatan marah sekali saat menampar Siska, aku jadi takut sama nyonya Vano, orangnya galak ternyata" ucap Vano menggoda istrinya.
"galak...galak... enak aja dibilang galak, nggak lihat apa gadis semanis dan seseksi ini, masa dibilang galak!" ucap Shesa sembari menggeliatkan tubuhnya dihadapan suaminya, tanpa pikir panjang Vano langsung menyergap dan menguasai kembali tubuh seksi itu.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥🔥