Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
digendong pak Dante


pak Dante tidak menghiraukan ucapan Shesa, ia hanya mengisyaratkan tangannya agar Shesa tidak mengganggunya.


"aduh, pak Dante ini nelpon apa rapat sih, lama banget, keburu anak-anak pergi nih" gumam Shesa sembari melihat kearah jendela.


setelah beberapa menit pak Dante menutup ponselnya, itu membuat Shesa sedikit senang, lantas ia berdiri dan beranjak pergi dari bus itu, namun pak Dante memprotes sikap Shesa.


"ngapain kamu!" seru pak Dante yang melihat Shesa hendak lewat didepannya.


"ya lewat lah pak" ucap Shesa.


"kamu tuh mau ya, nilaimu benar-benar saya kurangi!" ancam pak Dante.


"aduh pak Dante, keburu ditinggal anak-anak pak, tuh kan mereka udah mau jalan" seru Shesa sembari melihat teman-temannya yang hendak berangkat ke lokasi.


"iya bentar bawel amat sih kamu" seru pak Dante sambil membawa tasnya.


akhirnya Shesa dan pak Dante turun dari bus yang mereka tumpangi, Shesa terkejut melihat suasana sudah sepi, ia sudah ditinggal oleh rombongan teman-temannya.


"loh... mereka pada kemana? ini semua gara-gara pak Dante" ucap Shesa kesal.


"kok kamu nyalahin aku" seru pak Dante balik.


"bapak sih nelpon lama banget, udah tahu saya mau turun, ditahan mulu, nih ditinggal kan jadinya" umpat Shesa kesal.


*******


Monic terkejut melihat Shesa tidak berada didalam rombongan kelas.


"Shesa kemana ya? kok nggak kelihatan sih?" ucap Monic cemas.


"baik, anak- anak, sebelum kita memasuki kegiatan pembelajaran, kita masuk kedalam penginapan dulu, kalian taruh barang-barang kalian di kamar masing-masing, setelah itu kita berkumpul di pos satu, kalian faham?" seru Bu Dewi pada seluruh siswa.


"paham Bu!" jawab mereka serentak.


seluruh siswa mulai beranjak masuk kedalam kamar masing-masing, Monic masih belum juga menemukan Shesa, ia mencoba menghubungi Shesa lewat ponselnya.


"aduh... Shesa kok malah mati sih hpnya" Seru Monic khawatir.


setelah beberapa saat Bu Dewi mengumumkan kepada seluruh siswa untuk berkumpul di pos satu.


"came on, came on....ayo semuanya bersiap-siap, kita berkumpul di pos satu, kita mulai kegiatan pembelajaran hari ini" seru Bu Dewi.


tiba-tiba Bu Dewi kedatangan seorang siswanya yang nampak kebingungan mencari seorang temannya, yaitu Monic.


"Bu Dewi!"


"iya Monic, ada apa?" tanya Bu Dewi


"Shesa ilang Bu, dari tadi saya belum melihatnya" ungkap Monic khawatir.


"ilang gimana, tadi kan satu bus sama kamu" seru Bu Dewi.


"iya sih Bu, tapi saya tidak melihat dia turun dari bus" ucap Monic menjelaskan.


"oh... mungkin saja dia masih berada di sana, biar saya hubungi pak Dante, soalnya pak Dante satu bus sama kalian, nih pak Dante juga belum kelihatan" ucap Bu Dewi sembari menghubungi nomor pak Dante.


*****


ponsel Vano berdering, lantas ia segera mengangkat ponselnya, karena tertera dilayar ponsel, Bu Dewi sedang menghubunginya.


"iya Bu Dewi, ada apa?" ucap pak Dante


"maaf pak Dante, saya mau tanya, apa Shesa bersama bapak, soalnya dia tidak terlihat disekitar sini?" tanya Bu Dewi.


"oh...iya Bu Dewi, Shesa bersama saya, dia baik-baik saja, ini kami sedang menuju lokasi" jawab pak Dante.


"oh... baiklah kalau begitu pak, Kami sudah berada di pos satu, nanti bapak menuju ke penginapan, dan suruh Shesa untuk menyiapkan presentasinya" ucap Bu Dewi.


"tentu saja Bu Dewi" ucap Pak Dante, lantas ia menutup ponselnya.


akhirnya pak Dante menghampiri Shesa dan berjongkok disampingnya.


"kamu kenapa?" tanya pak Dante


"capek pak" jawab Shesa singkat, sambil mengelap keringat yang membasahi dahinya.


Vano tak tega melihat istrinya kelelahan, akhirnya ia menawarkan punggungnya untuk menggendong Shesa.


"bapak ngapain?" tanya Shesa yang terkejut melihat pak Dante jongkok membelakanginya.


"cepat naik ke punggungku, kamu mau presentasinya terlambat, kita sudah ditunggu di pos satu" ucap pak Dante.


Shesa terpaksa menuruti permintaan pak Dante, akhirnya ia naik ke punggung suaminya itu, Vano menggendong Shesa agar Shesa tidak terlalu kecapekan dan tetap menjaga bayi mereka agar tetap aman.


"kok aku deg-degan sih!" seru Shesa dalam hati, ia merasa nyaman saat berada di punggung pak Dante, seperti ia merasa begitu dekat dengan sosok pak Dante.


Vano dengan tenaganya yang kuat, menggendong Shesa tanpa kesulitan sama sekali, apalagi yang ia gendong adalah istrinya sendiri, semakin menambah semangatnya untuk sampai ditempat tujuan.


"aku tidak akan membiarkan terjadi sesuatu padamu sayang" seru Vano dalam hati.


setelah beberapa saat, keduanya sudah sampai disebuah penginapan, Vano sengaja membawa Shesa ke sebuah penginapan yang lebih besar ketimbang yang ditempati oleh siswa lainnya, dan jaraknya tidak terlalu jauh dari penginapan teman-temannya yang lain.


Pak Dante menurunkan tubuh Shesa pelan-pelan.


"terimakasih banyak, pak Dante sudah bantuin saya" ucap Shesa tersenyum.


"iya... kamu tahu kan kalau aku ini orangnya baik hati, sekarang kita masuk kedalam" seru pak Dante.


"ya ampun nih orang, lebaynya minta ampun" gumam Shesa sembari memutar bola matanya


"nih bocah malah bengong, ayo masuk, kamu mau ketinggalan presentasi mu" ucap pak Dante yang melihat Shesa berdiri diam mematung.


"iya...iya..." jawab Shesa sembari mengekor di belakang pak Dante.


pak Dante menunjukkan kamar Shesa, yang bersebelahan dengan kamarnya.


"itu kamarmu!" seru pak Dante sambil menunjuk kamar mewah yang luas itu.


"nggak salah nih pak!" ucap Shesa terkejut


"apanya yang salah?" ucap pak Dante sambil menyentuh kumisnya.


"kamar ini punya saya? terus anak-anak nginep dimana pak?" tanya Shesa penasaran karena kamar penginapan nya terlihat mewah, yang seharusnya kamar itu ditempati oleh pasangan yang sedang berbulan madu.


"karena tadi kamu terlambat, jadi kamu tidak kebagian kamar, ya sudah kamu pakai penginapan yang ini saja, nanti saya ada dikamar sebelah" ucap Pak Dante menjelaskan.


"bapak dikamar sebelah? ta...tapi..pak" ucap Shesa khawatir.


"Jangan takut saya tidak akan macam-macam, meskipun kita dalam satu penginapan, kamu pikir saya itu tertarik sama kamu, masih cantikan istriku ketimbang kamu" ucap pak Dante santai.


"baguslah kalau begitu, bapak memang benar-benar lelaki sejati, setia pada istrinya" ucap Shesa sembari mengacungkan jempolnya.


Vano tersenyum " tentu saja aku akan selalu setia kepadamu sayang, andai kau tahu ini adalah aku, aku sangat ingin memelukmu saat ini juga" gumamnya menahan rasa ingin memeluk Shesa.


Vano memperhatikan Shesa masuk ke dalam kamar, ada keinginan ingin sekali ia mengatakan bahwa "aku adalah suamimu, pak Dante adalah suamimu"


BERSAMBUNG


❤️❤️❤️❤️


HAI HAI... JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA


LIKE, KOMENTAR, BERI HADIAH DAN VOTE, DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERARTI BUAT AUTHOR, AGAR AUTHOR TETAP SEMANGAT MENULIS 💪💪💪


❤️❤️❤️❤️😘😘😘