Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
ayah berhati malaikat


Vano terkejut saat tangan itu lembut mengusap rambutnya, perlahan ia melihat siapa yang mengusap rambutnya penuh kelembutan.


"sayang...kamu sudah sadar" ucap Vano sembari memegang tangan istrinya, perlahan ia mendekati wajah Shesa dan memandangnya penuh cinta.


"katakan padaku, apa yang kau rasakan, ada yang sakit, dimana, mana ...katakan, apa disini, disini atau disini" seru Vano sembari memeriksa setiap inci tubuh istrinya.


"sayang, aku nggak sakit, kepalaku cuma pusing aja...gimana keadaan mama Leona, apa dia baik -baik saja!" seru Shesa sembari menyandarkan tubuhnya.


"jangan khawatir, pelayan sedang melayani mama dengan baik, biar beliau istirahat, sekarang...kamu juga istirahat, aku tidak mau kamu dan bayi kita terjadi apa-apa, sekarang katakan kamu mau aku ambilkan apa? aku yang akan melayanimu!" seru Vano dengan senyum khasnya.


"aku tidak ingin apa-apa, aku hanya ingin kamu disini saja bersamaku" ucap Shesa manja.


"hmm...baiklah kalau itu maumu, biar aku menyuruh pelayan mengantarkan makanan kemari" seru Vano sembari memanggil pelayan untuk mengantarkan makanan ke kamar mereka.


setelah beberapa saat, pelayan datang dengan membawa berbagai macam menu, buah dan susu.


tiba-tiba sekretaris Jimmy sedang menghubungi Vano lewat ponselnya.


"iya ada apa?" seru Vano pada sekretaris Jimmy.


"maaf tuan muda, saya tidak ingin mengganggu waktu anda, ada klien yang ingin bertemu dengan anda sekarang juga, tapi saya bingung apakah pertemuan ini dilaksanakan atau dibatalkan, mengingat ada hal penting yang ingin mereka sampaikan, tentang kerja sama antara mereka dan perusahaan kita" ucap sekretaris Jimmy.


"aku tidak bisa kesana sekarang, ada hal yang lebih penting daripada menemui mereka, begini saja, aku percayakan semua ini padamu sekretaris Jimmy, aku yakin kamu pasti bisa, istriku lebih membutuhkanku" ucap Vano lewat ponselnya, yang tak sengaja didengar oleh Shesa.


kemudian Vano menutup ponselnya.


"sayang, sepertinya kamu ada urusan kantor, jika itu memang penting, lebih baik kamu kesana, aku akan baik-baik saja disini, pelayan pasti merawatku dengan baik" seru Shesa tersenyum, lantas Vano duduk disamping istrinya.


"dengarkan aku, ada hal yang lebih penting daripada sekedar datang ke kantor, yaitu bersamamu, aku ingin memastikan keadaanmu baik-baik saja, urusan kantor ada sekretaris Jimmy yang mewakili aku" ucap Vano menjelaskan, setelah itu ia mengambil piring yang berisi makanan sehat untuk bumil.


Vano mencoba menyuapi sang istri.


"ayo sayang makan dulu..." pinta Vano agar Shesa mau makan makanannya.


Shesa membuka mulutnya dan makan dari suapan sang suami, Shesa tersenyum pada suaminya, ia tak menyangka Vano begitu telaten merawat dirinya, meskipun kesibukannya di dunia bisnis sangat menyita waktunya, namun demi istri dia rela mengorbankan waktunya untuk menemani sang istri sepanjang hari


*******


malam hari, Vano mendapat kabar dari dokter Erick bahwa peluru yang menembus perut Helena telah berhasil diangkat, dan tentu saja itu membuat Vano sangat bahagia, keadaan Helena sudah membaik.


"terimakasih Tuhan, Engkau telah memberi keselamatan kepada Helena" ucap Vano lirih.


"apa Helena baik-baik saja?" tanya Shesa


"hm...dia sudah melewati masa kritis" jawab Vano


"syukurlah, mudah-mudahan tante Veronica sadar dengan apa yang sudah ia lakukan" ucap Shesa berharap Veronica sadar.


Vano hanya terdiam, ia masih belum bisa menerima perbuatan Veronica terhadap keluarganya, ia hanya berdiri di depan jendela, menatap arah luar, terlihat sang nenek dan Ibunya tengah bercengkrama.


lantas Shesa berjalan menghampiri suaminya yang tengah berdiri disana, Shesa memeluk sang suami dari belakang, ia menyandarkan kepalanya pada punggung suaminya, sedangkan kedua tangannya melingkar sempurna pada pinggang Vano yang kuat.


Vano merasakan pelukan sang istri yang begitu hangat, tampak Vano menaikkan ujung bibirnya, betapa ia merindukan pelukan ini setelah beberapa saat mereka mengalami situasi yang mendebarkan.


"sayang" panggil Shesa mesra.


"kamu masih dendam dengan tante Veronica?" tanya Shesa yang masih bersandar pada punggung sang suami.


"jujur, aku masih sangat trauma mengingat berita kematian mama, tidak mudah untuk melupakannya, aku butuh waktu" seru Vano


mendengar itu Shesa lantas melepaskan pelukannya dan memutar tubuhnya menghadap sang suami, di lihat nya sorot mata Vano yang masih terlihat sedih, ia mengusap lembut wajah sang suami, bukanlah seorang Shesa jika ia tidak berhasil meluluhkan hati suaminya.


"sayang...aku tahu kamu masih menyimpan dendam pada tante Veronica, tapi...itu tidak pantas disandang oleh seorang Vano Perkasa, sebentar lagi kau akan menjadi ayah, aku ingin bayi kita memiliki sosok ayah yang pemaaf bukan pendendam, kamu hapus semua dendam itu, dengan begitu bayi kita akan bangga denganmu sayang, ia pasti bangga memiliki seorang ayah yang berhati malaikat" seru Shesa mencoba membuat hati sang suami mencair untuk memaafkan Veronica.


sejenak Vano terdiam dan mulai mencerna apa yang dikatakan istrinya, perlahan Vano memegang kedua tangan Shesa dan meletakkannya pada dadanya yang bidang.


"aku tidak tahu sihir apa yang kau berikan padaku, ucapanmu benar adanya, maafkan aku sayang, untuk sejenak aku mementingkan egoku, terimakasih kau telah membuatku sadar bahwa menyimpan dendam tidak akan membuat kita bahagia, aku telah khilaf" ucap Vano penuh sesal.


Shesa tersenyum melihat sang suami yang sudah bisa memaafkan Veronica.


"ya sudah, sekarang aku mau turun sebentar menemui nenek dan mama Leona" pinta Shesa meminta izin untuk menemui nenek dan ibu mertuanya.


"nggak nggak besok saja, kamu butuh istirahat cukup, kamu temani saja aku disini, lagipula ini sudah malam, sebentar lagi mama dan nenek pasti segera masuk ke kamar mereka" ucap Vano untuk meminta Shesa untuk tinggal bersamanya.


Tak berapa lama, nenek dan Leona masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat, Vano dan Shesa melihat mereka dari arah jendela kamar mereka.


"tuh lihat, nenek dan mama sudah masuk ke kamar" seru Vano sambil menyandarkan dagunya pada pundak sang istri, sembari menunjukkan nenek dan mamanya yang mulai masuk ke dalam kamar mereka.


Shesa menghela nafasnya, ia sudah merasa malam ini adalah malam panjang untuknya bersama Vano, bagaimana tidak tangan besar sang suami sudah bergerak kesana kemari.


"sayang...kita bermain yuk" ajak Vano semangat, dan tentu saja itu membuat Shesa membulatkan matanya.


"bermain? memangnya bermain apa malam-malam gini? kayak nggak punya kerjaan saja!" seru Shesa.


Vano menyunggingkan senyumnya, dan berbisik lembut di telinga Shesa.


"aku mau kamu" ucap Vano dengan suara seraknya, Shesa mencubit pinggang sang suami, Vano berdesis seolah kesaktian.


"aawwww...sssss..." suara Vano seolah -olah ia nampak kesakitan, Vano berguling di ranjangnya, ia memegang perut yang telah di cubit olah Shesa tadi.


"sayang kamu kenapa, sakit ya? aduh ...maaf aku nggak sengaja, aku pikir itu hanya cubitan kecil" seru Shesa yang gelisah melihat Vano yang tampak kesakitan.


Akhirnya Shesa turut naik keatas tempat tidur dan melihat keadaan suaminya.


"sayang...kamu nggak papa kan, coba lihat!" seru Shesa sambil memegang perut Vano yang tadi ia cubit.


tiba-tiba dengan senyum smirknya, Vano berhasil membawa sang istri kedalam perangkapnya, Vano dengan cepat meraih pinggang Shesa dan membawa nya kedalam pelukannya.


"astaga...sayang, tadi katanya sakit" ucap Shesa yang terkejut tiba-tiba Vano mendekap tubuh nya.


Vano tersenyum penuh kemenangan dan berbisik di telinga sang istri.


"yang sakit bukan yang ini, tapi disini..." seru Vano dengan senyum nakalnya.


"aisss .... modus sekali pak Vano ini" ucap Shesa sembari memutar bola matanya yang indah.


BERSAMBUNG


🌷🌷🌷🌷🌷