
"Aku...aku...aku hanya "seru Shesa terbata-bata, Shesa menatap mata Vano yang penuh dengan gairah, Shesa mencoba menarik selimut itu dari pegangan Vano, tapi Vano malah menariknya dengan kuat, sehingga membuat Shesa ikut terbawa selimut yang ditarik oleh Vano.
Shesa telah masuk kedalam pelukan Vano, ia terlihat malu sekali saat Vano melihat dirinya seperti itu, ia menundukkan wajah cantiknya agar ia tak melihat tatapan mata Vano yang tajam, Vano meraih dagu Shesa dan mencoba mengangkat wajahnya.
Vano membelai pipi Shesa yang putih bersih dengan sangat mesra, mata Shesa terpejam, Vano lantas memeluk Shesa dengan erat, suara berat Vano terdengar begitu seksi di telinga Shesa.
"Kamu sengaja menggodaku kan!" bisik Vano dengan mesra, Shesa tersipu malu dengan apa yang dikatakan suaminya, Shesa membalikkan tubuhnya membelakangi Vano.
Vano menyeringai dan mulai mencium tengkuk Shesa dengan lembut, tangan kekarnya melingkar di perut Shesa yang ramping, entah kenapa Shesa tak bisa menolaknya, deru nafas Vano yang hangat memberikan booster gairah cinta yang sesungguhnya.
Sementara tangan Vano mulai piknik diantara bukit yang tinggi menjulang, dengan sekali tarikan Vano merobek lingerie yang Shesa kenakan, Shesa makin menggigit bibirnya, gelora itu semakin tak terkendali, ada yang menegang disana, dan ingin segera meledak,tapi entah itu apa.
Perlahan namun pasti Vano mengangkat tubuh Shesa ke atas ranjang mewahnya, diantara cahaya lampu yg temaram, wajah Vano nampak sangat tampan, meski rambutnya masih terlihat acak-acakan, untuk pertama kalinya Shesa memberanikan diri untuk menyentuh wajah suaminya.
Bahasa mata tak bisa berbohong, bahwa keduanya sama-sama ingin mencapai puncak asmara.
Sesekali Vano menjelajah dan membenamkan kepalanya di pelukan Shesa, semakin panas dan semakin menggebu-nggebu.
"Kamu sudah siap untuk menerimaku sebagai suamimu?" bisik Vano dengan suara seraknya yang terdengar seksi.
Shesa mengangguk pelan dan tersenyum, disaat penyatuan itu akan segera dimulai tiba-tiba ponsel Shesa berdering berkali-kali, membuat Shesa menjadi penasaran.
Seketika Shesa melepas pelukan Vano darinya, dan Vano pun mengusap wajahnya kasar.
"Maafkan aku, aku angkat teleponnya dulu" Shesa beranjak mengambil ponsel yg ia letakkan diatas nakas.
Dengan menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut, Shesa mengangkat telepon yang sedari tadi telah mengganggu ritual sucinya.
"Halo....iya...ada apa? Papa masuk rumah sakit?" Shesa tidak percaya Dewa masuk rumah sakit, Vano yang melihat itu menghampiri Shesa.
"Ada apa?" tanya Vano menyelidik
"Papa masuk rumah sakit, bolehkah aku ke rumah sakit sekarang" pinta Shesa memelas sambil menatap Vano yang sedikit kecewa, karena perjuangannya untuk menjebol gol gawang istrinya harus ia tunda dulu.
"Tidak boleh!" jawab Vano singkat
"Apa?...apa maksudmu?" tanya Shesa serius.
Dengan memalingkan badannya, Vano berkata pada Shesa
"Kamu tidak boleh kemana-mana, kecuali dengan aku" tukas Vano.
Shesa mendengar ucapan Vano menjadi sangat senang, ia lantas memeluk Vano dari belakang.
"Terima kasih suamiku...terima kasih, maafkan aku, aku belum bisa menjadi istri yang sempurna untukmu" seru Shesa sambil menyandarkan kepalanya pada punggung Vano yang bidang.
Vano tersenyum dan membalikkan badannya menghadap Shesa.
"Aku akan tetap sabar menanti waktu itu tiba" seru Vano sembari mencium kening Shesa.
Shesa tersenyum dan memeluk Vano dengan manja.
"Cepat ganti baju, setelah ini kita ke rumah sakit" seru Vano dengan sendu
Shesa mengangguk dan beranjak menuju ruang ganti.
Vano hanya bisa menarik napas panjang, tapi ia bahagia akhirnya Shesa sudah bisa menerima kehadirannya sebagai suaminya.
Setelah beberapa saat Shesa telah mengganti pakaiannya, dengan memakai dress panjang berwarna merah jambu, membuat Shesa nampak anggun dengan detail bunga kecil-kecil disekitar lingkar pinggang.
Vano menghampiri Shesa yg telah siap untuk pergi ke rumah sakit.
"Kamu memang cantik sayang, aku sangat berterimakasih pada papa, karena telah memilihkan gadis secantik dan sebaik dirimu" tukas Vano merayu sambil mencium pipi Shesa dengan lembut
"Sudahlah, jangan merayuku terus, cepat ganti baju, aku sudah mempersiapkan baju untukmu di dalam" sahut Shesa tersenyum.
Vano tersenyum lantas ia masuk ke ruang ganti.
Sambil menunggu Vano selesai ganti baju, Shesa duduk sejenak di sofa dekat ranjang tidur, ia mendapati notif pesan dari Monic.
"Monic kenapa ya? nggak biasanya dia ingin bicara berdua sama aku" gumam Shesa dalam hati.
*******
Vano telah selesai berganti baju, ia nampak stylish dengan kaus hitam berbahan katun yang berkualitas nomor wahid, celana warna abu yg membuat penampilannya terlihat casual dan modis.
Vano berjalan menghampiri Shesa yg duduk di sofa sembari menunggunya, lantas Shesa berdiri.
"Ayo kita berangkat" ajak Vano sambil menggandeng tangan Shesa.
Vano dan Shesa kemudian berangkat ke rumah sakit, Mario dengan setia mengantar tuan dan nona mudanya, meskipun waktu telah menunjukkan pukul 2 pagi.
Setelah beberapa menit, mobil mewah Vano telah sampai di depan rumah sakit, Vano turun dan membukakan pintu untuk Shesa, beberapa orang yg mengenali Vano nampak tertegun dengan kehadiran Vano.
"awh bukannya itu CEO perusahaan terkenal itu ya?"
"*Benar sekali...hei lihat siapa gadis itu? apa mungkin istrinya? setahuku pak Vano belum mempunyai istri*"
"Gadis itu cantik sekali, mungkin saja itu pacarnya"
"Bukan...bukan itu pacar pak Vano, pak Vano kan pacaran sama model dan aktris terkenal itu...Naina namanya"
"Terus siapa dia ya"
"Nampaknya dia gadis biasa-biasa saja"
Bisik-bisik orang sekeliling yang melihat Vano bersama Shesa, ada beberapa orang yang mengabadikan momen itu dengan ponselnya.
Vano tidak mempedulikan orang-orang sekitar, kesan sombong dan arogan telah melekat pada diri Vano, ia dan Shesa lantas masuk ke dalam rumah sakit dimana Dewa dirawat.
Shesa dan Vano telah sampai di lobi dan bertanya pada resepsionis, lantas ia mencari informasi dimana papanya dirawat, setelah mereka mendapat informasi itu, segera mereka menuju kamar dimana Dewa dirawat.
Shesa telah sampai didepan kamar tempat Dewa dirawat, ia melihat Anggi yg duduk didepan kamar.
"Mama....!
" sapa Shesa sambil memeluk Anggi.
"Shesa sayang...papa" seru Anggi menangis.
"Papa kenapa ma?" tanya Shesa
"Mama juga tidak tahu, papa tiba-tiba saja pingsan saat mengunjungi sebuah peresmian di Surabaya" seru Anggi menjelaskan.
"Leresmian? Peresmian apa?" tanya Shesa
"Kata sekretaris papa ada peresmian sebuah restoran baru di Surabaya"
Shesa menghela napas panjang
"Terus bagaimana keadaan papa sekarang?" tanya Shesa serius.
"Jantung papa kambuh lagi sayang, papa sepertinya sangat shok, menurut dokter papa mengalami shok berat akibat kejadian yang tiba-tiba datang mengejutkan" tukas Anggi.
"Mama yang sabar ya, ada Shesa dan suami disini, mama nggak usah takut" seru Shesa .
"Vano...maafin mama sudah merepotkan kalian berdua" seru Anggi
"Mama jangan ngomong begitu, ini sudah tanggung jawab saya untuk menemani Shesa kemanapun dia pergi" tukas Vano sembari menatap bola mata Shesa yang teduh.
BERSAMBUNG
...HABIS ADEGAN PANAS-PANAS, KITA ADEMIN DULU YA....BIAR NGGAK OLENG...
...😉😉😉😉😉...