
jam pulang telah tiba, seluruh siswa bubar untuk pulang, tak terkecuali Shesa, ia berjalan menuju mobil yang sudah datang menjemputnya, Vano terus memperhatikan kemanapun langkah istrinya, untuk memastikan Shesa dan calon bayinya baik-baik saja.
"mari nona, silahkan masuk" ucap Nata pada Shesa, dan Shesapun tersenyum kemudian masuk ke dalam mobilnya, Vano merasa lega istrinya sudah aman dan sekarang sedang menuju ke rumah mereka.
setelah semua siswa pulang, Vano berinisiatif untuk mencari tahu biodata dari Laura, siswa baru yang telah sengaja ingin mencelakai Shesa.
Vano masuk ke ruang kepala sekolah dan meminta biodata Laura kepada kepala sekolah.
"maaf pak Vano, ada yang dapat saya bantu?" ucap Kepala sekolah.
"saya ingin tahu biodata dari siswa baru yang bernama Laura Anastasia!" seru Vano.
"oh...baik pak, akan saya berikan" jawab kepala sekolah.
kemudian kepala sekolah menyerahkan data diri Laura kepada Vano, setelah mendapat data-data itu, lantas Vano membuka dan mulai membacanya dengan seksama, dahinya berkerut, seolah ada kejanggalan tentang siswa tersebut.
"siapa yang membawa gadis ini untuk sekolah disini pak kepala sekolah?" tanya Vano serius.
"waktu itu ada seorang wanita yang datang, ia mengaku sebagai tante dari Laura, dan dia juga yang mendaftarkan Laura untuk sekolah disini pak" tandas kepala sekolah.
"seorang wanita? seperti apa dia?" tanya Vano serius.
"dia berkerudung dan memakai cadar pak, kami tidak terlalu faham dengan wajahnya, karena ia menutupinya dengan kain, cuma kalau saya gambarkan, wanita itu mirip sekali dengan bu Siska, cara berjalannya, cara bicaranya, meskipun saya tidak bisa pasti melihat wajahnya, tapi tingkah dan caranya itu sangat mirip dengan bu Siska" ungkap kepala sekolah.
"Siska...apa mungkin Siska yang melakukan ini" ucap Vano lirih.
"oh...damn it, kenapa aku baru sadar" sambung Vano sembari meremas biodata Laura yang masih ada ditangannya.
"ada apa pak? ada masalah?" tanya kepala sekolah terkejut.
"ya...ada yang ingin mengganggu istri saya, dan semua ini tak luput dari rencana Siska, aku akan mencari bukti untuk menangkap basah mereka berdua, Siska harus diberi pelajaran" ucap Vano dengan tatapan yang tajam.
"baiklah pak kepala, kalau begitu saya permisi, terima kasih atas waktunya" ucap Vano
"iya sama-sama" jawab kepala sekolah.
Vano berjalan menuju mobil yang sudah menunggunya diluar sekolah, Mario sudah menunggu Vano untuk mengantarnya ke kantor.
Vano mulai masuk ke dalam mobilnya, lantas ia segera membuka kulit sintetis yang menutupi wajah tampannya, ia meletakkan kembali alat-alat penyamarannya itu didalam koper yang sudah disedikan Mario untuknya.
sekarang pak Dante telah berubah ke wajah aslinya, Mario melihat Vano dari arah spion.
"tuan muda, apakah nona muda mengenali anda? wah pasti seru melihat nona muda tidak mengenali anda, dia pasti selalu jaga jarak kepada anda!" seru Mario.
"kau benar, ia selalu ingin menjauhiku" ucap Vano mengingat-ingat kejadian saat di sekolah tadi.
"sudah saya duga, karena nona muda itu tidak mudah untuk akrab dengan orang yang baru dikenalnya, tuan muda masih ingat, saat pertama kali nona muda bertemu dengan anda, kalian berdua seperti Tom and Jerry, ribut dan bertengkar melulu" ucap Mario tersenyum saat mengingat pertemuan Vano dan Shesa.
Vano yang mendengar itu, tersenyum tipis, ia yang dulu sangat sombong dan arogan, mendadak menjadi kucing yang lucu, dan selalu ingin bermanja kepada Shesa.
"aku ingin sekali memeluknya tadi, tapi aku harus menahannya, ini sangatlah menyiksa" ungkap Vano sembari mengendurkan ikatan dasinya.
"tuan muda harus sabar dong, tuan muda mau penyamaran Anda terbongkar" seru Mario mengingatkan.
"iya kamu benar, aku harus terus menyamar untuk memastikan istriku tetap aman, apalagi tadi aku mendapati seorang siswi yang ingin mencelakai istriku" ucap Vano.
"mencelakai nona muda?" tanya Mario terkejut.
"iya...aku harus menghentikan niat gadis ini untuk mencelakai istriku, aku tidak akan membiarkan siapapun melukai mereka berdua." seru Vano dengan tatapan seriusnya.
setelah beberapa saat Vano telah sampai di kantornya, kehadirannya sudah disambut seketaris Jimmy dan Vera.
"iya...bagaimana keadaan kantor hari ini?" ucap Vano sembari menyelipkan satu tangannya di kantung celana.
"semua baik-baik saja pak, tapi kenapa bapak baru datang!" seru sekretaris Jimmy.
"ada urusan yang lebih penting daripada urusan kantor, mulai saat ini, aku akan datang ke kantor siang hari, jika ada rapat kau dan Vera yang akan mewakili" ucap Vano sembari berjalan menuju ruang kantornya.
sekretaris Jimmy dan Vera mengekor di belakang Vano, sesampainya diruangan Vano, Vera sudah tak sabar ingin mengetahui keadaan adiknya.
"bagaimana keadaan Shesa? apa ia baik-baik saja?" tanya Vera.
"kau jangan khawatir, dia akan baik-baik saja bersamaku, datanglah ke rumah, dia pasti sangat senang dengan kehadiranmu disana" seru Vano kepada kakak iparnya.
"tapi..." Vera ragu untuk memenui adiknya, bagaimana reaksinya jika Shesa mengetahui Vera memiliki seorang anak.
"kenapa?" tanya Vano tiba-tiba.
"kau jangan khawatir, istriku sudah tahu tentang putrimu" sambung Vano.
"benarkah? Shesa sudah tahu tentang Frisca?" tanya Vera penasaran.
"hm...datanglah ke rumah, istriku ingin sekali bertemu keponakannya" ucap Vano tersenyum.
"iya, saat libur kerja aku akan ajak Frisca untuk menemui tantenya" ucap Vera senang.
*********
di rumah mewah Vano.
Shesa menunggu suaminya pulang sembari duduk di taman, ia suka sekali mencium harum bunga-bunga yang tumbuh di taman, seperti aroma terapi, ia merasa rileks saat mencium harum bunga yang tumbuh di taman sebelah rumah yang megah itu.
Setelah beberapa saat mobil Vano tiba di halaman rumah yang luas itu, Shesa nampak masih sibuk bermain dengan bunga-bunga yang indah itu, ia tak melihat Vano tengah memperhatikannya, melihat Shesa yang sedang memetik beberapa bunga, lantas Vano perlahan mulai mendekati istrinya.
tiba-tiba saja dari belakang, ada tangan yang melingkar di perut Shesa, Shesa terkejut dan dengan cepat ia menyadari bahwa tangan kuat itu adalah tangan milik suaminya.
"sayang...kau bikin aku kaget saja" ucap Shesa sembari memegang tangan Vano yang masih melingkar kuat dipinggang Shesa yang masih nampak ramping.
"aku sangat merindukanmu" ucap Vano sembari mencium pipi Shesa, lantas Shesa membalikkan badannya, kemudian ia mengalungkan tangannya di leher Vano yang kuat.
"hm...benarkah" seru Shesa manja
"bagaimana keadaan baby kita" ucap Vano sembari merundukkan tubuh besarnya di depan Shesa, dengan lembut Vano mencium dan mengelus mesra perut istrinya.
"hai sayang, kamu sedang apa nak? kamu baik-baik saja ya di perut mama, jangan nakal..." seru Vano berbisik pada calon buah hati mereka.
Shesa mengusap dengan lembut rambut Vano saat Vano menempelkan kepalanya pada perutnya.
"ia akan baik-baik saja sayang, aku yakin anak kita pasti kuat seperti dirimu" seru Shesa tersenyum bahagia.
Vano yang mendengar itu, lantas mendongakkan kepalanya ke atas, ia menatap Shesa penuh mesra, kemudian ia berdiri dan langsung menggendong Shesa untuk masuk ke dalam rumah
"ah...sayang" ucap Shesa terkejut saat tiba-tiba Vano menggendong tubuhnya.
dengan mesra Shesa melingkarkan tangan dan menyandarkan kepalanya pada dada Vano yang bidang.
BERSAMBUNG
💖💖💖💖