
"Yeayyyy"
Hari itu tampak seluruh siswa kelas 12 sangat berbahagia, akhirnya hari ini mereka mendapati kelulusan mereka, begitu juga dengan Shesa, Monic dan Laura. Mereka tampak begitu gembira karena akhirnya masa-masa sekolah sudah mereka lalui dengan berbagai cerita dan petualangan.
Shesa menghampiri suaminya yang berdiri menunggu kedatangannya, Vano turut bahagia melihat kebahagiaan istrinya.
"Selamat sayang, happy Graduation...semoga apa yang kamu citakan akan segera terwujud, aku akan selalu mendukungmu" ucap Vano sembari mengecup mesra kening istrinya.
"Terimakasih sayang, terima kasih kamu sudah mendukungku selama ini, hingga aku menyelesaikan pendidikan ini, terima kasih banyak untuk perhatian dan kasih sayangmu selama ini, menjagaku selama kehamilan, selalu memberiku kepercayaan, terima kasih" ucap Shesa sembari memeluk suaminya.
"Itu sudah tugasku sebagai seorang suami, menjagamu dan melindungimu adalah tanggung jawabku, aku pastikan kamu dan baby kita akan selalu bahagia" balas Vano penuh kelembutan.
*******
Hingga tiba waktunya acara itu pun berakhir, terlihat sebagian besar tamu sudah mulai kembali ke rumah, tampak Laura dan ibunya sedang berjalan menghampiri Vano dan Shesa untuk mengucapkan terima kasih, karena selama ini telah melindungi Laura dan memberikan Laura fasilitas untuk tempat tinggal.
Wanita paruh baya itu berjalan dengan sedikit tertatih, mengingat ia masih dalam proses pengobatan penyakit leukemia yang dideritanya.
"Selamat siang pak Vano, nak Shesa!" sapa ibu Laura sembari mengulurkan tangannya, yang diikuti Laura di belakangnya.
"Selamat siang ibu" balas keduanya.
"Saya ibunya Laura, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada pak Vano dan keluarga yang sudah baik hati memberikan Laura tempat tinggal, maafkan putri saya jika selama ini dia sudah merepotkan bapak sekeluarga, mulai hari ini, saya akan membawa Laura pulang ke Semarang" ucap ibunya Laura
"Laura pulang ke Semarang? apa itu benar Laura?" tanya Shesa terkejut.
Laura hanya mengangguk pelan, ia harus kembali ke Semarang untuk menemani ibunya.
"Iya Sha, aku akan pulang ke Semarang, kasihan ibu sendirian, ibu membutuhkan aku, maafkan aku...pak Vano, saya sangat berterimakasih sekali kepada bapak yang sudah sangat baik memberikan saya kesempatan dan memberi saya fasilitas sebuah rumah, kebaikan bapak tidak akan pernah saya lupakan" ucap Laura.
"Laura, kamu gadis yang baik, sudah sewajarnya aku menolongmu, aku dan istriku akan selalu memberikan pertolongan untukmu, karena kami yakin sebenarnya kamu adalah gadis yang tulus, kamu sangat menyayangi ibumu, namun sebelum kamu kembali ke Semarang, kamu harus memenuhi satu syarat dariku, dan kamu tidak boleh menolaknya" seru Vano serius.
Shesa melihat wajah suaminya yang tampak serius.
"Syarat? syarat apa pak?" tanya Laura penasaran.
Terlihat Vano mengambil sesuatu dari kantong bajunya, sebuah cek bernilai 100 juta rupiah.
"Ambil ini, aku tidak mau kamu menolaknya" ucap Vano sembari memberikan cek itu kepada Laura.
Laura menerima cek itu dengan tangan yang bergetar.
"Apa ini pak?"
"Ini hadiah dari kami untuk kelulusan sekolahmu, terimalah aku harap ini bisa membantu mengobati penyakit ibumu" seru Vano
"Ta...tapi Pak, saya tidak pantas mendapatkan semua ini, bapak sudah membiayai operasi saya, sekarang bapak ingin membiayai pengobatan ibu saya!...sungguh saya tidak bisa menerimanya, bapak terlalu baik kepada saya, bagaimana saya bisa membalas kebaikan bapak kepada saya" ucap Laura sedih.
"Laura, kamu sudah membuat istriku tersenyum saja, itu sudah cukup untuk membayar semuanya, tetaplah menjadi orang baik, bermanfaat lah untuk orang lain, dan bapak yakin kamu akan mendapatkan kebahagiaan bersama orang-orang terkasihmu...lihatlah dia sudah datang menjemputmu!" ucapan Vano sontak membuat Laura terkejut.
Laura menatap Shesa yang tampak tersenyum kepadanya.
"Laura, aku sudah bilang dia pasti akan datang, sambutlah calon suamimu" seru Shesa sembari menunjuk kearah Romi yang sudah berada di belakang Laura dan tampak merangkul ibu Laura.
Perlahan Laura menoleh ke belakang, dilihatnya sang pujaan hati yang selama ini jauh darinya.
"Romi, kamu sudah datang" seru Laura tidak percaya
Romi menghampiri Laura dan tersenyum kepada gadis yang telah membuatnya mengerti akan cinta yang sesungguhnya.
"Aku datang hanya untukmu, membawamu pulang bersama ibumu, aku akan menikahimu, secepatnya" ucapan Romi seolah seperti air yang berada di padang oase, ditengah terik siang, Romi datang untuk memberikan kesejukan untuk Laura, memberinya kehidupan baru, bersama untuk selamanya.
Vano dan Shesa terlihat ikut senang melihat kebahagiaan mereka berdua.
"Mereka berdua terlihat bahagia sekali, iya kan sayang!" ucap Shesa sembari menyandarkan kepalanya pada pundak Vano.
"Maksudmu?" tanya Shesa sembari menatap wajah sedih suaminya.
"Ah...tidak lupakan, ayo kita pulang" seru Vano sembari menggandeng tangan Shesa, terlihat Shesa yang memperhatikan suaminya, ia merasa bersalah sudah menolak permintaan suaminya.
Sepanjang jalan Shesa memperhatikan Vano terlihat lebih pendiam, sesekali Vano menatap istrinya dan tersenyum, namun senyum itu terlihat berbeda, ada sesuatu yang terpendam di balik senyum sang suami, seperti sedikit kekecewaan.
Shesa menghela nafasnya, ia mencoba mengalahkan egonya, bagaimanapun juga Vano adalah suaminya, ia harus tetap melaksanakan tanggung jawabnya sebagai seorang istri.
"Aku tahu kamu sedih karena apa, baiklah... aku harus berani melakukannya, besok adalah Anniversary kita, aku akan datang kepadamu sayang"
gumam Shesa meyakinkan dirinya.
*******
Sementara itu Romi mengantarkan pulang Laura dan ibunya.
"Terimakasih Rom, kamu sudah mengantarkan kami pulang, em...ngomong-ngomong Kamu habis dari bandara langsung kesini?" tanya Laura, karena Laura melihat Romi masih membawa tas besar.
"Iya...aku tahu kamu pasti sudah menungguku, tadi aku datang ke rumah mu, kata bik Sri hari ini kamu wisuda, jadi aku langsung datang kemari, aku tidak akan membohongi mu, sekarang kamu lihat aku sudah ada di hadapanmu, aku akan memenuhi janjiku padamu, kita akan menikah, setelah menikah aku akan membawamu ke Jerman" ucap Romi sungguh -sungguh.
Laura menatap Romi penuh cinta, ia tidak menyangka akan menikah secepat ini. Kemudian Romi meminta ibunya Laura untuk mengizinkan Romi menikahi putrinya.
"Ibu, izinkan saya menikahi putri ibu, saya berjanji akan membahagiakannya, Laura akan hidup bahagia bersama saya" pinta Romi kepada ibunya Laura, dan dengan senang hati sang ibu menerima lamaran Romi.
Romi sangat bahagia lamarannya di terima dengan baik, sesekali ia ingin sekali memeluk Laura, namun ia harus menahannya hingga ijab kabul telah tiba.
"Em...kalau begitu aku akan bilang kepada bang Excel, dia pasti ikut senang" ucap Romi sembari berpamitan kepada Laura dan ibunya.
*******
Di rumah Excel.
"Sayang ayo dong makan, aku mau kamu makan ini untukku, aku ingin sekali kamu makan buah asem ini, masa kamu tega sih, nanti anak kamu ngiler loh" seru Vera sembari memberikan buah asam jawa kepada suaminya.
Vera tiba-tiba saja ingin melihat suaminya memakan buah asam, dan terpaksa Excel mau tidak mau harus menuruti ngidam sang istri.
"Haduuhhh...kenapa harus buah asam sih Yank, buah yang lain aja deh, ngeces nih" jawab Excel sembari menahan air ludahnya yang memaksa ingin keluar saat melihat buah asam yang di bawa oleh istrinya.
"Nggak mau, pokok nya kamu harus makan asem, ini tuh baby kamu yang minta loh" ujar Vera sambil memegang perutnya.
"Iya...iya..." Excel terpaksa mengikuti permintaan istrinya, dengan mata yang mulai berair ia mencoba mengunyah buah asam tersebut.
"hmmmmm.....asemmm...haaa" ( bisa dibayangin gimana ekspresi nya saat makan buah asem)😁
Vera tersenyum geli melihat ekspresi lucu sang suami, Excel yang melihat sang istri tertawa senang justru mendadak memeluk nya, dan itu membuat Vera reflek menjerit karena terkejut.
"Aarrrrgggghhhh"
Dengan cepat Vera menutup hidungnya, karena sejak ia dinyatakan hamil, perubahan moodnya sangat tinggi, ia cenderung tidak menyukai bau badan suaminya sendiri.
"Hmmm....pergi, lepasin sayang, aku nggak suka bau kamu" seru Vera yang membuat Excel terpaksa melepaskan pelukannya.
"Ya ampun sayang apa bauku kurang wangi, ini aku udah semprotin minyak wangi satu kaleng, masa iya sih masih bau" ucap Excel sambil mencium bau badannya sendiri.
"Iya...maaf, tapi aku nggak suka kamu deket-deket" jawab Vera lirih.
"Kalau nggak suka deket-deket, gimana dengan nasibku yank" ucap Excel sembari duduk lemas.
BERSAMBUNG
❤❤❤❤❤