
Vano menatap putranya yang tampak menggeliat, kemudian Vano melihat tangannya yang terlihat basah dan menciumnya.
"Hm...pecing, anak papa pipis nggak bilang-bilang ya" ucap Vano sembari meletakkan Baby Ray kemudian mengganti popoknya, sementara Shesa masih tampak terlelap, Vano berusaha mengganti popok baby Ray tanpa membangunkan istrinya, selagi ia bisa melakukannya sendiri.
"Sini sini papa gantiin popok nya ya sayang"
Vano dengan senang menggantikan popok anaknya yang sudah basah, dengan telatennya ia melepas satu persatu kain yang membalut tubuh mungil Baby Ray.
Tanpa ia sadari Shesa terbangun dari tidurnya, ia melihat suaminya begitu telaten menggantikan popok baby mereka, Shesa terdiam ditempatnya dan terus memperhatikan Vano.
Disela-sela Vano membersihkan pipis baby Ray, tiba-tiba saja air mancur menyembur ke arah wajah tampan Vano, dan itu membuat Vano memejamkan matanya sambil menghirup aroma khas dari pipis baby Ray. Tampak Shesa tertawa dan langsung menghampiri kedua pangerannya.
Vano tampak berdiri dan mencoba mencari sesuatu untuk mengelap wajah nya yang terkena cipratan air mancur dari burung Baby Ray.
Dengan cepat Shesa mengelapkan tisu basah kepada suaminya, Vano memejamkan matanya rapat-rapat.
Terdengar Shesa tertawa kecil saat melihat wajah suaminya yang terkena pipis baby Ray.
"Aduh bisa-bisa ketampananku luntur kalau seperti ini, kamu kok malah tertawa sih sayang" ucap Vano saat wajahnya disapu lembut oleh istrinya.
"Iya iya maaf, udah.. sekarang udah bersih, masih cakep kok" seru Shesa sembari menyentuh wajah suaminya.
Kemudian Shesa melihat babynya yang masih tampak menghentakkan kakinya, dengan telaten Shesa membersihkan sisa pipis yang masih menempel di kaki baby Ray.
Vano memperhatikan istrinya begitu luwes menggantikan popok baby Ray, Vano tersenyum dan memandangi wajah istrinya.
"Nah...udah selesai, jangan lakukan itu lagi ya sama papa" seru Shesa sembari mengangkat tubuh mungil Baby Ray.
Vano melihat sikap keibuan yang ditunjukkan oleh istrinya, tak ada perubahan pada suasana hatinya, Shesa masih menunjukkan sikap cerianya meskipun telah hadir baby Ray diantara mereka.
Karena Vano telah mendengarkan penjelasan dari dokter Feby agar membuat suasana hati Shesa terus bahagia, agar sang istri tidak mengalami tekanan seusai melahirkan yang biasa disebut sebagai baby blues syndrome.
Baby blues syndrome adalah perubahan suasana hati seorang wanita seusai ia melahirkan buah hatinya. Seperti rasa gundah dan sedih yang berlebihan, kondisi ini menyebabkan Ibu menjadi mudah marah, sedih dan menangis, dan kelelahan tanpa sebab.
Vano berusaha untuk membuat sang istri rileks dan tidak tertekan dengan kehadiran Baby mereka, Vano rela tengah malam begadang demi menjaga atau sekedar mengganti popok baby Ray, dan membiarkan istrinya istirahat sejenak untuk mengembalikan staminanya dan tetap menjaga agar ASI nya lancar.
Terlihat baby Ray ingin menyusu pada ibunya, dengan sigap Vano membantu Shesa untuk membuat dirinya nyaman saat menyusui putra mereka, sembari menyusui baby Ray, terlihat Shesa juga tengah menikmati pijatan lembut di punggungnya, Vano berusaha membuat istrinya benar-benar rileks, agar baby Ray bisa menyusu dengan sepuasnya.
Setelah beberapa menit, terlihat baby Ray sudah tertidur pulas dalam dekapan Shesa, Vano mencoba mengambil bayinya dan meletakkannya pada tempat tidur baby Ray.
Per lahan Vano meletakkan tubuh mungil Baby Ray dengan sangat hati-hati, setelah baby Ray tertidur, kemudian Vano menghampiri Shesa yang masih duduk diatas tempat tidur.
"Sekarang ayo kita tidur, baby kita sudah terlelap" ajak Vano sembari menutupkan selimut pada tubuh istrinya, Shesa mengangguk dan ia mulai memejamkan matanya, begitupun Vano yang tampak mengecup kening istrinya sebelum ia tidur.
Dan keduanya mulai memejamkan matanya, namun setelah beberapa saat, terdengar suara ocehan baby Ray dengan diselingi tangis kecil.
"Sayang baby kita" tampak Shesa terbangun dan beranjak menghampiri baby Ray.
"Sssttt....kamu tetap disini, biar aku yang melihatnya" seru Vano, kemudian ia mulai beranjak menghampiri putranya.
Vano menghela nafasnya, ia melihat Baby Ray tampak membuka matanya dan mengeluarkan suara-suara kecilnya yang menggemaskan.
"Ada apa sayang?" tanya Shesa yang melihat suaminya tampak menghela nafas panjang.
"Lihatlah, dia tidak mau kita tinggal tidur" seru Vano sembari memandang istrinya.
Shesa melihat baby Ray tampak tenang saat berada di dekapan papanya, Vano begitu pintar membuat baby Ray tenang, dengan meletakkan Baby Ray pada dada bidangnya dan menepuk lembut punggung baby Ray, sang bayi terlihat nyaman dan tampak memejamkan matanya.
"Tidurlah, biar dia bersamaku" seru Vano kepada istrinya.
"Tapi sayang, nanti kalau dia nangis gimana?" tanya Shesa yang sedikit khawatir.
"Jangan khawatir, dia tidak akan menangis, sepertinya baby kita ingin tidur bersama papanya, iya kan sayang" ucap Vano sembari mengecup lembut puncak kepala baby Ray.
Shesa tersenyum dan ia mulai membaringkan tubuhnya.
Terlihat Vano menggendong bayi mereka dan merebahkan tubuh nya pada sebuah sofa di sudut ruangan, tampak baby Ray sangat anteng saat bersama Vano, sesekali mulut mungilnya seperti mengemut sesuatu, membuat Vano semakin betah memandang wajah Baby Ray yang menggemaskan itu.
Shesa terlihat belum memejamkan matanya, kemudian ia mulai turun dan menghampiri Vano dan putranya.
Shesa tersenyum melihat pemandangan yang ada didepan matanya, pemandangan yang menyejukkan mata, dua laki-laki belahan jiwanya terlihat begitu damai dalam satu dekapan.
Ia melihat Vano tertidur, begitupun juga baby mereka, Shesa merasa kasihan kepada suaminya, sedari tadi Vano belum memejamkan mata sedetikpun, ia berinisiatif untuk mengambil baby Ray dari pangkuan Vano.
Dengan sangat pelan, Shesa mengambil baby mereka dan menggendongnya, sementara Vano masih terlelap di atas sofa itu, dan Shesa membiarkan suaminya tidur. Shesa menutupkan selimut ke seluruh tubuh suaminya, ia melihat wajah sang suami yang tampak kelelahan, dengan lembut ia mencium pipi Vano, dan setelah itu ia kembali ke tempat tidur nya dan mendampingi baby Ray tidur.
******
Sinar mentari telah memasuki ruangan yang berdesain gaya eropa itu, tampak Vano mulai mengerjapkan matanya, ia melihat sekeliling dan betapa terkejutnya saat ia mendapati baby Ray sudah tidak ada dipangkuannya.
"Loh, kamu kemana sayang, baby Ray kamu dimana?" seru Vano sembari mencari keberadaan baby nya yang tiba-tiba menghilang.
Vano mencarinya kesana kemari, di tempat tidur baby Ray, bahkan sampai di bawah meja, namun tetap saja Baby mereka tidak ditemukan.
"Oh tidak kemana dia!" Vano terlihat sedih karena tidak mendapati baby Ray berada disampingnya.
Tiba-tiba Shesa ke luar dari kamar mandi dan mendapati Vano yang tampak kebingungan.
"Sayang, kamu mencari apa? ngapain jongkok-jongkok disitu?" tanya Shesa yang melihat Vano tengah mencari sesuatu.
Vano menghampiri istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Sayang, baby kita ilang, aku sudah mencarinya kemana-mana, tapi dia tidak ada, oh ya Tuhan dimana dia" sesal Vano sambil duduk lemas.
Shesa tersenyum dan menghampiri suaminya yang terlihat cemas itu.
"Ayo ikut aku" ajak Shesa sambil meraih tangan suaminya, Vano terlihat terkejut saat Shesa menarik tangannya dan menunjukkan sesuatu padanya.
Shesa membuka tirai jendela kamar mereka, dan menunjukkan kepada suaminya bahwa baby Ray tengah bersama Leona untuk berjemur di pagi hari, yang bagus untuk kesehatan si kecil.Tampak Vano bisa bernafas lega.
"Syukurlah, ternyata dia nggak ilang" seru Vano lirih
BERSAMBUNG
🌷🌷🌷🌷🌷
...Yang mau berteman dengan othor oleng ini, hayuk monggo IG @lichamanizz Fb Princess Cindy (Harap baca profil Fb, othor alumni MAN Sidoarjo 🙏) ...