
Di sekolah
Shesa berjalan di sepanjang koridor, tampak Monic dan Laura menghampiri Shesa dari belakang.
"hai bumil cantik" sapa Monic sembari menepuk bahu Shesa.
Shesa menoleh kearah mereka berdua, tampak Laura dan Monic tersenyum padanya.
"kalian berdua, bikin kaget aja" seru Shesa sembari berjalan diiringi Monic dan Laura.
"wow btw any busway...kamu kelihatan berbeda loh Sha hari ini" celetuk Monic sembari memperhatikan penampilan Shesa yang dirasa berbeda dari biasanya.
"Nata juga bulang gitu, emangnya sekarang aku kelihatan jelek ya, emang sih berat badanku nambah sekilo bulan ini" ucap Shesa sembari duduk di bangkunya.
"siapa bilang kamu jelek, mungkin karena hamil mungkin ya, jadi wajah kamu kelihatan lebih cantik dan fresh" sahut Laura mengiyakan.
"waaah....bener kata Laura, aku juga pingin wajahku kelihatan cantik dan fresh kayak Shesa, gimana caranya ya" seru Monic sembari mengetuk jarinya pada meja.
Tiba-tiba Shesa berkata sesuatu yang membuat Monic tersipu malu.
"tunggu babang Mario menikahimu, pasti deh entar kamu dibuat cantik dan fresh" seloroh Shesa sembari tertawa kecil di barengi Laura yang ikut tersenyum.
"yeay...Shesa kamu ada-ada saja" jawab Monic malu-malu.
"eh tapi bener loh kata Shesa, yang kemarin baru jadian Sha, pasti lagi berbunga -bunga dan nggak sabar nunggu lulus sekolah" ucap Laura menggoda Monic.
"waaah...benarkah mereka berdua jadian? selamat ya Monic akhirnya kamu bisa menemukan pujaan hatimu" seru Shesa ikut senang.
tiba-tiba Mario datang di belakang Monic, lantas ia menyapa Monic dengan lembut.
"hai Mon, apa kabar?" seru Mario malu malu.
Monic sangat terkejut melihat Mario yang tiba-tiba berada di belakang nya.
"ba...baik" jawab nya gugup.
"ehem ehem...duh yang lagi berbunga-bunga cie cie" goda Shesa pada keduanya.
"yey...apaan sih" ucap Monic sembari menundukkan wajahnya.
"kita tunggu undangan dari kalian berdua" seru Shesa sembari menaikkan ujung bibirnya.
Hingga akhirnya bu Dewi masuk kedalam kelas.
*******
Di rumah sakit.
Tampak dokter Erick memeriksa kondisi Helena pasca operasi, ia melihat gadis cantik itu terbaring lemah, sejenak dokter Erick menatap dalam-dalam wajah gadis yang tengah dihadapan nya itu.
"cantik" gumam dr Erick dengan tersenyum manis
tiba-tiba Mata sang gadis mulai terbuka sedikit demi sedikit, tampak samar-samar ia melihat seseorang yang tengah berdiri disampingnya, Helena mengangkat tangannya dan menyentuh kepalanya yang masih sedikit pusing.
"aku...aku dimana" ucap Helena sembari memperhatikan ruangan di sekitarnya, terlihat dokter tampan tengah tersenyum padanya.
"jangan banyak gerak dulu, kamu sekarang berada di rumah sakit, kamu tertembak dan kami sudah mengeluarkan peluru itu dari tubuhmu, untung saja peluru itu tidak terlalu dalam menembus organ -organ penting dalam tubuhmu" seru dokter Erick menjelaskan.
"apa? tertembak?" ucap Helena yang terkejut sembari ia mengingat-ingat tentang kejadian yang menimpanya.
"oh ya Tuhan, bagaimana keadaan Vano, Shesa dan tante Leona, apa mereka baik-baik saja!" seru Helena saat ia ingat kejadian saat Veronica hendak menembak Vano, tapi justru Helena yang terkena tembakan Veronica.
"kamu jangan khawatir, mereka baik-baik saja" seru dokter Erick menjelaskan.
"syukurlah...Mommy, bagaimana dengan keadaan Mommy" ucap Helena lirih.
"yang aku dengar nyonya Veronica dibawa oleh polisi, maaf aku tidak bermaksud melukai hatimu, tapi kenyataannya seperti itu" ucap dr Erick sembari memeriksa tekanan darah Helena
"iya...tidak apa-apa" sahut Helena memahami.
"terimakasih dokter" seru Helena dengan senyum manisnya, entah kenapa dokter Erick suka sekali menatap gadis yang tengah ia rawat.
"baiklah, aku tinggal dulu memeriksa pasien lain, kalau kamu butuh sesuatu, panggil saja aku" ucap dokter Erick dan Helena pun mengangguk mengerti, dokter Erick berjalan menuju pintu dan tiba-tiba ia berbalik lagi.
"oh iya...namaku Erick, kamu bisa panggil aku dokter Erick" ucapnya dengan senyum.
"i...iya dokter" jawab Helena tersenyum tipis.
*******
Hari ini Vano ngantor hanya setengah hari, ia berencana untuk mengunjungi Helena sekaligus membawa sang mama untuk pergi ke dokter.
Vano berharap ingatan Leona bisa segera pulih kembali, sehingga Leona bisa mengingat masa lalunya dengan baik.
Vano membawa Leona ke dokter Erick, sekaligus dokter yang menangani Helena, sepupunya.
Sesampainya di rumah sakit, Vano segera pergi menemui dokter Erick di ruangan nya.
dr. Erick melihat kedatangan Vano bersama seorang wanita yang wajahnya hampir mirip dengan sohibnya itu.
"hai bro, kenalin ini mama ku" seru Vano kepada teman seperjuangannya itu.
dr.Erick terkejut mendengar pengakuan Vano tentang wanita yang ada disebelahnya, ternyata adalah mama Vano, sementara yang ia tahu mama Vano telah meninggal dunia.
"mamamu bro...tapi bukannya mamamu sudah..." dokter Erick tidak melanjutkan kata-katanya .
"iya mamaku ternyata masih hidup, ceritanya panjang" seru Vano, lantas ia menceritakan semua kejadian yang menimpa mamanya selama ini, yang berakibat Helena yang menjadi korban ibunya sendiri.
"jadi seperti itu ceritanya, aku ikut senang mamamu pulang kembali, pasti kau sangat bahagia" seru dokter Erick senang
dokter Erick menghela nafasnya, sejenak ia berfikir tentang Helena.
"kasihan gadis itu, ia harus mengorbankan jiwanya untuk menebus kesalahan Mommy nya, dia gadis yang pemberani" gumam dokter Erick yang mulai kagum dengan Helena
"hai bro, bagaimana keadaan Helena sekarang? apa dia baik-baik saja?" tanya Vano tentang keadaan Helena kepada dokter Erick.
"dia baik-baik saja, kamu tidak usah khawatir, aku akan selalu menjaganya" ucap dr. Erick
"apa?" tanya Vano yang merasa dokter Erick mulai menaruh simpati pada Helena.
"e...maksudku selama dia dirawat, aku akan memberikan pelayanan terbaik agar lukanya cepat sembuh, kau tidak perlu khawatir" seru dokter Erick gugup.
Vano mulai merasa sang dokter menyukai Helena.
"oh...begitu baiklah aku sungguh senang dokter Erick mulai memiliki perhatian penuh kepada pasien nya, apa cuma Helena saja yang kamu perlakukan seperti ini...hm" seru Vano yang mulai menggoda sohibnya itu.
dokter Erick tampak malu dengan ucapan Vano, lantas ia mengalihkan topik pembicaraan.
"em...baiklah lupakan itu, bagaimana apa yang di keluhkan mamamu saat ini?" tanya dokter Erick
Vano terkekeh melihat temannya masih canggung mengakui perasaannya.
Lantas Vano segera menceritakan keluhan yang dirasakan ibunya, dokter Erick mencoba menganalisa tentang amnesia yang dialami Leona.
"aku akan melakukan CT scan, untuk mengetahui cidera otak yang sedang dialami tante Leona" ucap dokter Erick yang disetujui oleh Vano.
setelah hampir satu jam Leona melakukan CT scan, akhirnya Vano bisa bernapas lega, dokter Erick akan membantunya untuk mempercepat proses pemulihan ingatan sang mama.
"dua hari lagi kita akan lihat hasilnya" seru dokter Erick
BERSAMBUNG
💖💖💖💖
maaf ya semuanya, jika ada keterlambatan update, kemarin udah author siapin bab, tapi masih ditahan oleh sistem, jadi mohon bersabar ya...NT sekarang lebih selektif untuk menghindari adegan yang terlalu vulgar
terimakasih atas pengertiannya 😊💖