Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
kalung berlian


"Mario...tolong anterin aku ke rumah sakit sebentar, aku mau melihat keadaan papa" perintah Shesa pada Mario.


"Baik nona!" jawab Mario singkat


Setelah beberapa menit Shesa dan Mario tiba di Rumah sakit, lantas ia turun dari mobil dan langsung menuju ruang dimana Dewa dirawat.


Shesa membuka pintu, di sambut Anggi yang setia menemani suaminya itu.


"Shesa! Kamu baru pulang sekolah? Kamu sendiri datang kemari? Apa suamimu nanti nggak marah?" tanya Anggi


"Iya ma, aku kesini di antar Mario, suamiku nggak bakalan marah kok, kan ada Mario yang nemenin, jadi dia nggak akan khawatir" jawab Shesa sambil tersenyum.


Dewa yang melihat kedatangan putrinya langsung memanggil putri kesayangannya itu.


"Shesa!" panggil Dewa dengan suara beratnya. Shesa langsung datang dan memeluk sang papa.


"Papa, papa baik-baik saja kan? Aku kangen banget sama papa" seru Shesa sembari memeluk Dewa dengan sendu.


"Papa juga kangen sama kamu nak" ucap Dewa sembari mencium kening Shesa dengan lembut.


"Shesa kangen banget sama papa, em papa udah makan?" tanya Shesa sembari melepaskan pelukannya. Dewa hanya diam dan menatap sendu putrinya itu.


"Papa nggak mau makan Sha, mama udah bujuk tapi tetap nggak mau" sahut Anggi


"Loh...papa kok gitu sih, Shesa suapin ya!" seru Shesa sambil memegang piring makanan untuk Dewa.


"Papa nggak lapar" jawab Dewa sembari memalingkan mukanya.


"Papa nggak boleh gitu ah, papa harus makan, biar papa cepat sehat, papa nggak kasihan sama mama, mama kan juga ingin papa sehat kembali, dimakan ya pa! Ayo pa sedikiiiit ajah" seru Shesa sambil meyendok bubur yang dibuatkan khusus untuk Dewa.


Dewa tetap memalingkan wajahnya, Shesa menghela nafasnya lantas Shesa menaruh kembali piring itu.


"Papa kalau gini terus, Shesa jadi sedih loh, papa mikirin sesuatu?" tanya Shesa yang melihat Dewa seolah memikirkan sesuatu.


"Kemarin papa melihat kakakmu" tukas Dewa lirih.


"Kak Vera?" ucap Shesa tidak percaya


"Papa melihat Vera? Dimana pa?" tanya Anggi antusias, karena sudah hampir 2 tahun lebih Anggi tidak bertemu putri pertamanya itu.


"Papa tak sengaja lihat Vera pada acara peresmian restoran milik kolega papa kemarin" ungkap Dewa.


"*Bukannya kak Vera masih berada di inggris? atau jangan-jangan kakak sudah kembali*?" gumam Shesa sembari mengernyitkan dahinya.


"Apa kak Vera melihat papa juga?" sambung Shesa menyelidik. Dewa menggelengkan kepalanya lemas.


"Ah mungkin itu perasaan papa saja, nggak mungkin kak Vera ada disini, papa merindukan kak Vera ya?" tanya Shesa sendu.


Tak terasa Dewa meneteskan buliran bening dari sudut matanya.


"Papa, papa kangen sama kak Vera?" tanya Shesa sekali lagi


"Papa memang kecewa sama kakakmu, tapi papa tidak serta merta membencinya begitu saja, dia masih anak papa, kalaupun dia datang lagi, papa akan memaafkannya" ungkap Dewa dengan mata yang berkaca-kaca.


"Papa!" seru Anggi sembari memeluk Dewa dengan berlinang air mata. Shesa yang melihat kedua orang tuanya begitu bersedih, bertekad akan membawa kembali Vera pulang ke rumah.


"Pa...ma...aku akan bawa kak Vera pulang bersama kita, Shesa janji" seru Shesa dalam hati.


*


*


*


*


Sementara itu Mario mendapati telepon dari Vano.


"Halo Tuan muda..." kata Mario


"Apa istriku sudah pulang ke rumah?" tanya Vano


"Baiklah, aku nanti pulang agak terlambat, aku ingin memberi kejutan untuknya" seru Vano


"Siap Tuan muda, saya sangat senang melihat anda bahagia bersama Nona muda" ucap Mario senang.


Vano tersenyum bahagia mendengar ucapan Mario, Vano berencana membelikan Shesa kalung berlian, hari ini ia pergi ke toko berlian ternama di kotanya.


Di dalam toko Berlian.


"Selamat malam Tuan muda Vano, senang sekali anda meluangkan waktu membeli di toko kami, silakan dipilih koleksi-koleksi terbaru dari toko kami" sapa kepala pelayan.


Vano lantas melihat-lihat koleksi kalung berlian dari toko itu, Vano benar-benar bingung karena ia tidak tahu model yang cocok untuk gadis muda seperti Shesa. Tampaknya seorang wanita tergoda untuk berjalan menghampiri Vano.


"Vano...hei kebetulan sekali kita bertemu disini, kamu mau beli kalung?" sapa Siska yang baru saja datang ke toko itu.


Vano menoleh tanpa kata, melihat Siska sedang berdiri disampingnya, Vano tak bergeming meskipun Siska berpenampilan seksi waktu itu, Vano hanya fokus pada kalung yang akan ia hadiahkan untuk Shesa malam ini.


"Vano! Sepertinya kamu nampak bingung, ada yang bisa aku bantu?" seru Siska menawarkan bantuan. Sejenak Vano terdiam dan ia menunjuk salah satu model kalung.


"Coba lihat yang itu!" seru Vano pada pelayan toko.


Pelayan mengambilkan satu kalung berlian yang dipilih oleh Vano.


"Ini tuan muda" seru pelayan sembari memberikan kalung berlian itu. Vano mengamatinya dengan seksama, Siska yang melihat itu nampak tergoda dengan kalung berlian yang Vano pegang.


"Itu indah sekali, sangat elegan dan mewah" seru Siska memuji kalung berlian yang berada di tangan Vano.


"Benarkah? Kau yakin!" sahut Vano yang tiba-tiba menanggapi ucapan Siska. Siska sangat senang bukan main, Vano sedikit merespon dirinya, biasanya Vano bersikap sangat dingin dan acuh kepadanya.


"Iya, tentu saja wanita yang memakai kalung berlian itu akan terlihat seperti ratu dan sangat cantik" seru Siska dengan senyum yang mengembang.


Vano tersenyum dengan ucapan Siska yang secara tak langsung memuji istrinya, karena Shesa lah wanita yang akan memakai kalung berlian itu, meskipun Vano masih sedikit kesal atas perbuatannya waktu di cafe itu, yang membuatnya lupa diri, tapi ia juga berterima kasih pada Siska, karena dari ulah Siska, Vano berhasil memiliki Shesa seutuhnya.


"Kalau boleh tahu, siapa wanita yang beruntung memiliki kalung itu?" tanya Siska penasaran. Vano terdiam lantas ia menjawab


"Wanita itu adalah wanita yang paling istimewa bagiku, dan aku akan memberikan kalung ini untuk wanita yang telah berhasil merebut hatiku" jawab Vano penuh makna, sambil memegang kalung berlian kualitas no 1 tersebut.


"Okeyy...Vano aku masih punya kesempatan untuk merebut hatimu" gumam Siska dalam hati, Siska menganggap Vano masih sendiri dan belum punya pasangan, mengingat Vano telah meninggalkan Naina.


"Aku ambil yang ini" seru Vano pada pelayan.


"Baik tuan muda!" jawab pelayan.


"Ini..." Vano memberikan black card kepada pelayan.


Setelah beberapa saat proses adminstrasi itu telah selesai, akhirnya Vano menerima barang yang sudah dibelinya, lantas ia segera pergi meninggalkan Siska yang masih berdiri disana.


Siska memperhatikan Vano keluar dari toko, lantas ia bertanya pada pelayan yang melayani Vano tadi.


"Mbak, sini sebentar!" seru Siska


" Iya nona! Ada yang dapat saya bantu?" jawab pelayan.


"Jalau boleh tahu, berapa harga kalung yang dibeli oleh Tuan muda Vano?" tanya Siska menyelidik.


"Oh...kalung yang itu, harganya satu milyar nona, itu kalung berlian kwalitas terbaik, dan hanya ada 2 produk kalung berlian seperti itu di dunia ini" jawab pelayan.


Siska membulatkan matanya sempurna, satu milyar hanya untuk sebuah kalung berlian.


"Akulah wanita yang akan memakai kalung itu" gumam Siska dengan percaya diri.


*


*


BERSAMBUNG


🌷🌷🌷🌷🌷


...Jangan lupa DUKUNGANnya ya, dengan cara like komen beri hadiah dan vote...🥰🥰...