
"Helena...." Vano berteriak saat tubuh Helena terjatuh saat berusaha melindunginya dari tembakan Veronica.
Vano menangkap tubuh Helena, tampak darah segar mengalir dari perut Helena, gadis berparas ayu itu langsung tak sadarkan diri.
sang ibu menatap tubuh anak gadisnya yang melemah tak berdaya, semua yang ada pada tempat itu seketika terhenyak dengan apa yang dilakukan Helena.
"Helena bangun, kenapa kau lakukan itu, bangunlah!" panggil Vano sembari menggoyang -goyangkan tubuh Helena.
"cepat panggil kan ambulan!" seru Vano kepada anak buahnya.
"Helena apa yang sudah kamu lakukan, kau akan baik-baik saja, kau harus bertahan" seru seru Vano sedih.
sementara tubuh Veronica lemas, senjata itu jatuh begitu saja dari tangannya, ia berusaha mendekati tubuh Helena yang berdarah akibat ulahnya.
"Helena..." suara lemah Veronica memanggil sang putri yang masih terpejam, perlahan Veronica semakin dekat dengan tubuh Helena, tangan Veronica ingin meraih tangan sang anak, namun Vano justru menjauhkan tubuh Helena dari sentuhan Veronica.
"jangan sentuh dia, wanita sepertimu tidak pantas menyentuh gadis setulus Helena, pergi kau....bawa wanita ini, aku tidak mau lagi melihatnya" perintah Vano kepada anak buahnya.
tiba-tiba anak buah Vano menangkap semua anak buah Veronica , sementara ambulan sedang menuju kemari.
Veronica pasrah, seketika perasaannya hancur melihat Helena terluka akibat ulahnya sendiri.
"Helena harusnya kau tidak melakukan itu, maafkan Mommy" sesal Veronica sembari melihat tubuh anak gadisnya yang tergolek tak berdaya.
setelah beberapa saat ambulan dan polisi tiba di lokasi kejadian, petugas kesehatan dengan cepat mengangkut tubuh gadis malang itu kedalam ambulans, sementara polisi membawa Veronica beserta anak buahnya.
Vano menghampiri Veronica yang sedang dibawa oleh polisi.
"dendam tidak akan menyelesaikan masalah tante, sekarang kau harus membayar sendiri perbuatanmu" ucap Vano menatap tajam mata Veronica.
********
Setelah kejadian itu, Vano berhasil membawa Leona kembali pulang, betapa ia sangat bahagia bisa berkumpul lagi dengan ibu kandungnya.
Hingga akhirnya Vano dan Shesa tiba di kediaman mereka, Vano membawa sang mama untuk masuk ke dalam rumah mereka, sejenak Leona memandang rumah mewah Vano, seolah ia pernah melihat rumah ini sebelumnya.
"mama, ini adalah rumah kita, mama akan tinggal bersama kami" seru Vano sembari menatap sendu sang ibunda.
Leona belum bisa mengingat masa lalunya dengan baik, sehingga butuh waktu untuk Leona mengingat kembali masa lalunya.
"mama, ayo kita masuk " seru Shesa yang selalu mendampingi ibu mertuanya, entah kenapa Leona sangat menurut kepada Shesa, Leona merasa senang bila bersama gadis itu.
Vano mulai masuk kedalam rumah, terlihat nenek yang sedang duduk di kursi goyang, sembari memegang selendang sutera milik menantunya, perlahan Vano mendekati neneknya dan memegang tangan sang nenek, menciumnya dengan kasih.
sang nenek terkejut melihat kedatangan Vano yang tiba-tiba.
"Vano sayang, kamu sudah pulang nak, mana istrimu?" tanya nenek kepada sang cucu.
"nenek, aku membawa kejutan untuk nenek" ucap Vano sembari tersenyum pada wanita yang sudah berumur senja itu.
"apa maksudmu? nenek tidak mengerti!" seru nenek
"Vano membawa seseorang yang sangat nenek sayang, nenek pasti akan sangat bahagia jika melihatnya" ucap Vano sembari tersenyum
Nenek menatap Vano dengan tatapan penuh makna, sedangkan Vano memegang selendang sutera yang sedang dibawa oleh sang nenek.
"selendang ini akan segera kembali pada pemiliknya nenek, dan nenek yang akan memakaikannya" tukas Vano meyakinkan
Nenek semakin tidak mengerti apa yang Vano bicarakan, Leona sudah meninggal kenapa Vano membicarakan Leona seolah-olah menantunya itu masih hidup.
tiba-tiba datang dari arah pintu utama rumah yang tampak seperti istana itu, dua wanita kesayangan Vano berjalan menghampiri sang nenek yang terpaku melihat kedatangan mereka berdua, betapa nenek sangat terkejut melihat sang menantu datang kembali setelah puluhan tahun tidak bertemu dengannya, berita kematian Leona membuat keluarga Perkasa sangat terpukul.
"Leona...benarkah itu Leona" seru nenek saat melihat sang menantu datang bersama Shesa.
"Leona....ya Tuhan, engkau maha kuasa, terimakasih engkau telah memberi keselamatan kepada Leona" ucap nenek penuh syukur bisa bertemu kembali dengan menantunya itu.
Leona menatap tajam kepada sang mertua, sekilas bayangan wajah perempuan tua itu ada dalam ingatannya.
"siapa wanita ini, aku seolah mengenal dia sangat dekat, oh ya Tuhan apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Leona
Nenek menatap wajah sang menantu, tidak banyak berubah, wajah cantik darah arab yang kental pada sosok Leona, membuat nenek semakin yakin bahwa itu memang Leona, sang menantu.
"Leona...." seru nenek sembari memeluk Leona penuh kerinduan, Leona pun membalas pelukan sang ibu mertua, meskipun ingatannya belum kembali total, namun bahasa tubuhnya tak bisa dipungkiri, bahwa Leona juga merindukan sang mertua yang sangat menyayanginya.
mereka berdua saling melepas rindu.
"Leona...ini benar-benar kamu nak, ibu sangat merindukanmu" seru nenek sembari menyentuh wajah sang menantu.
"kau memang Leona, menantu ibu, ibu tidak menyangka sama sekali, ibu sangat bahagia "
Vano dan Shesa sangat bahagia melihat kedekatan nenek dan Leona, Vano merangkul sang istri dan mengecup lembut keningnya.
"terimakasih sayang, kamu sudah memberi kebahagiaan pada keluarga besar Perkasa, tanpa dirimu mungkin aku tidak bisa menemukan mama yang ternyata masih hidup sampai sekarang" ucap Vano mesra.
"ini sudah tugasku sebagai sorang istri, aku tidak sanggup melihatmu menderita, aku ingin melihat senyum itu kembali, dan sekarang aku benar-benar bahagia, akhirnya kamu bisa berkumpul lagi dengan mama" seru Shesa tersenyum.
sementara itu Mario menginformasikan kepada bosnya bahwa Helena telah dibawa kerumah sakit, dokter Erick tengah menangani Helena, sedangkan Nata dan bu Lasmi juga dibawa Vano untuk tinggal bersama mereka.
"Nata dan Bu Lasmi, berikan fasilitas terbaik untuk mereka, aku tidak mau mereka kesusahan lagi, tanpa mereka aku tidak akan bisa melihat mama, aku berhutang budi pada Nata dan Ibunya" perintah Vano kepada Mario lewat ponselnya.
"siapa sayang?" tanya Shesa.
"Mario bilang, Helena sedang ditangani oleh dokter Erick, aku yakin dokter Erick pasti bisa menangani masalah ini, kita berdoa saja, mudah-mudahan Helena baik-baik saja" seru Vano.
"iya..." jawab Shesa singkat, tiba-tiba saja Shesa merasa pusing, kepalanya tampak berputar dan akhirnya ia pingsan, Vano dengan sigap menangkap tubuh sang istri.
"sayang, kamu kenapa? sayang..." Vano benar-benar khawatir, ia melihat wajah sang istri yang tampak pucat.
nenek dan Leona terkejut saat Shesa tengah pingsan.
"ada apa dengan cucuku? cepat bawa dia ke kamar Vano, istrimu pasti kelelahan, dia butuh istirahat" ucap nenek khawatir.
"iya nek"
Vano langsung menggendong istrinya ke dalam kamar, tampak kekhawatiran pada wajah tampan Vano saat menatap wajah sang istri.
setelah sampai di dalam kamar, Vano meletakkan tubuh Shesa dengan sangat hati-hati, lantas ia duduk disamping sang istri dan mengusap wajahnya dengan lembut.
"maafkan aku sayang, aku sudah membuatmu kelelahan, kau benar-benar istriku yang hebat, demi kebahagiaaku, kau rela mengorbankan dirimu, aku sangat mencintaimu" seru Vano mesra.
"Vano junior, kamu sama mama baik-baik saja ya, papa sangat mencintai kalian berdua, sehat-sehat ya di perut mama" bisik Vano pada perut Shesa.
tiba-tiba sebuah tangan mengusap lembut kepala Vano.
BERSAMBUNG
πππππ
HAI READERS TERSAYANG, TERIMAKASIH BANYAK ATAS DUKUNGAN KALIAN SELAMA INI, AUTHOR NGGAK NYANGKA NOVEL INI TELAH BANYAK DIREKOMENDASIKAN, TANPA DUKUNGAN KALIAN APALAH AUTHOR INI, TIDAK ADA APA-APANYA TANPA REWARD DARI KALIAN SEMUA, AUTHOR SANGAT TERHARU, BERAWAL DARI KEHALUAN, AUTHOR BISA MENGHIBUR KALIAN SEMUANYA.
SARAN DAN KRITIK TETAP AUTHOR TERIMA, JANGAN KHAWATIR AUTHOR TERSINGGUNG, AUTHOR MALAH SENANG MENDAPAT KRITIK YANG MEMBANGUN DARI PECINTA VANO DAN SHESA SEMUANYA πππππ
SALAM DARI AUTHOR ASLI SIDOARJOπ
Sidoarjo, 16 Maret 2022