
Hari demi hari waktu telah berganti, kini usia baby Ray sudah menginjak 3 bulan, ia tumbuh sehat dan semakin menggemaskan, lengkap sudah kebahagiaan Vano dan Shesa, mereka begitu senang melihat perkembangan baby mereka yang semakin hari semakin membuat siapa saja yang melihatnya pasti gemas dan ingin menggendongnya.
Hari ini adalah hari kelulusan yang dinanti oleh siswa kelas 12 SMA Harapan Bangsa, Shesa mengikuti ujian susulan mengingat dirinya waktu itu tengah melahirkan, namun siapa sangka Shesa masih menunjukkan dirinya siswi yang berprestasi, nilai akademiknya sangat tinggi dan sangat memuaskan, hari itu juga Vano pun turut mengikuti acara wisuda kelulusan istrinya, ia didapuk sebagai tamu istimewa yang akan memberi sambutan untuk acara nanti.
Sebelum berangkat ke gedung pertemuan, Shesa berdiri di depan cermin, ia melihat dirinya yang kini telah sempurna menjadi seorang ibu, Shesa terlihat anggun dengan kebaya modern yang membuatnya semakin terlihat mempesona, bentuk tubuhnya sudah mulai kembali seperti semula, tubuhnya sudah terlihat langsing dan seksi, sementara Vano datang menghampiri Shesa yang kini terlihat sangat menawan.
"Kamu terlihat sangat cantik sekali sayang, kamu tidak berubah, masih sama seperti dulu, masih sangat menggoda" ucapnya sembari meneruskan kebiasaan lamanya, yaitu mencium tengkuk sang istri begitu mesra, dengan tangan yang melingkar sempurna di pinggang Shesa yang masih ramping.
Meskipun sudah melahirkan, perubahan tubuh Shesa tidak terlalu signifikan, ia selalu menerapkan pola hidup sehat, meskipun ia sedang menyusui baby Ray, Shesa selalu menjaga pola makan dan istirahat yang cukup, dan tentu saja ia rajin berolahraga, apalagi dukungan dari Vano yang selalu membuat istrinya bahagia, sebagai timbal baliknya Shesa juga akan memberikan kebahagiaan untuk suaminya.
Sebagai seorang ibu, Shesa selalu memberikan yang terbaik untuk baby Ray yaitu kasih sayang dan ASI yang mencukupi, sedangkan untuk menjaga keharmonisan hubungan nya dengan suaminya, Shesa selalu menjaga bentuk tubuhnya agar tetap ideal, meskipun tidak bisa dipungkiri sisa-sisa bekas strecmark pada perut indahnya masih tampak jelas.
Vano begitu dalam menghirup wangi blossom yang selalu ia suka, hingga Shesa merasa kegelian saat ciuman itu semakin membuat bulu kuduknya merinding.
"Emm...ayo kita berangkat sayang, aku tidak mau kita terlambat, mama dan papa pasti sudah menunggu" seru Shesa sambil membalikkan badannya dan menatap suaminya yang kini berada di hadapannya.
Vano hanya terdiam dan memandangi istrinya yang sangat ia rindukan, sebagai laki-laki normal ia tak sabar untuk bersama kembali dengan istrinya yang selama 3 bulan ini tidak pernah ia sentuh.
"Kenapa memandangku seperti itu, apa penampilanku terlihat buruk?" tanya Shesa sambil memeriksa penampilannya.
"Tidak ada yang buruk, kamu sempurna dimataku, sesempurna aku menahan selama 3 bulan rasa inginku untuk bercumbu denganmu" jawab Vano yang sontak membuat Shesa membulatkan matanya.
Shesa salah tingkah, dan ia membuang wajah nya ke segala arah, ia tampak tersipu malu, dirinya masih takut untuk melakukan hal itu, meskipun menurut dokter Feby, sudah tidak apa-apa dan sudah diperbolehkan.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Vano yang mendapati wajah istrinya yang tampak cemas. Vano memegang dagu istri nya dan mendekatkan wajah Shesa pada dirinya.
"Aku takut!" jawab Shesa singkat.
"Takut? apa yang kamu takutkan sayang, kenapa kamu harus takut padaku, bukankah kita sering melakukannya" ucap Vano yang begitu dekat dengan wajah istrinya, sehingga deru nafas Vano terasa begitu hangat pada kulit Shesa.
"Aku masih takut, itu pasti akan terasa sakit, entah kenapa aku belum siap untuk melakukannya lagi, aku mohon kamu bisa mengerti" ucapan Shesa membuat Vano menghela nafasnya dalam-dalam, sejenak Vano berfikir untuk tidak memaksa istrinya untuk melakukan itu, sebelum istrinya benar-benar siap.
"Baiklah, aku mengerti, aku akan menunggu sampai waktunya kamu siap untuk itu, aku tidak akan memaksamu" seru Vano yang disambut hangat oleh Shesa.
"Benarkah? kamu tidak akan marah padaku sayang?" tanya Shesa yang melihat sedikit kekecewaan pada wajah suaminya.
"Iya..." jawab Vano singkat.
"Terima kasih sayang, kamu sangat pengertian sekali" ucap Shesa sembari mengecup bibir Suaminya.
Terasa gelora itu bangkit kembali, seperti aliran listrik yang merambat dengan cepat, membuat rasa ingin itu muncul, dan semakin mendesak ingin yang lebih dari sekedar ciuman.
Begitupun dengan Shesa, ia tak bisa memungkiri bahwa dirinya juga sangat merindukan belaian itu, namun ia masih terganjal rasa bimbang, bayangan rasa nyeri dan sakit membuat dia harus mempersiapkan dirinya secara sempurna.
Cukup lama mereka berdua saling menikmati ciuman itu, hingga tiba-tiba baby Ray menangis dan mengeluarkan suara ocehannya, dan itu membuat keduanya terpaksa melepaskan pagutan itu secara tiba-tiba.
"Baby kita" ucap Shesa sembari menghampiri putranya yang tampak mengoceh dan ingin mengatakan sesuatu, Vano justru merapikan dasinya yang sempat mengendur karena aktivitas singkat tadi, setelah itu ia menghampiri Shesa dan putranya.
Shesa mengangkat putranya dan menggendong baby Ray ke atas dadanya, Shesa menepuk punggung nya dengan lembut, tampak tangan baby Ray yang meraih wajah Vano yang berada di belak ibunya, Vano mendekatkan wajahnya pada baby Ray dan tiba-tiba saja secara reflek tangan baby Ray memukul wajah Vano.
"Plekk"
"Aww kamu nakal ya , sengaja memukul wajah tampan papa" ucap Vano sembari mengelus pipinya, sementara Shesa hanya tertawa kecil melihat tingkah putranya.
"Ohh...ternyata Baby kita tidak mau mamanya di dekati papanya, benarkan sayang" seru Shesa sembari tersenyum pada suaminya.
Vano hanya bisa mengusap wajahnya, ia harus menahan rasa itu lagi dan memandang dalam-dalam wajah istrinya seolah berkata, aku tidak akan melepaskanmu, saat hari itu tiba kamu tidak akan bisa lepas dari pelukanku.
Shesa mengerti arti tatapan mata suaminya, ia berusaha mempersiapkan dirinya hingga waktunya ia siap untuk kembali datang ke pelukan suaminya.
Sementara baby Ray semakin senang mengoceh dan menghentak-hentakkan kakinya, seolah ia tengah mengejek Vano yang berada di depannya.
"Kamu seneng ya papa di sapih mama lagi, hmmm senang iya...." seru Vano sambil meraih kedua tangan baby Ray dan meletakkannya pada wajahnya.
Dan yang lebih menggemaskan lagi Baby Ray seolah ingin menggoda papanya, tiba-tiba mulutnya menyembur-nyemburkan dan memainkan ludahnya hingga wajah Vano terkena semprotan baby Ray.
"Emm...apa ini, hmm...anak papa mulai pinter jailin papa ya sekarang" ucap Vano sambil mengusap wajahnya yang terkena semprotan dari mulut babynya.
Shesa tertawa, ia tak menyangka baby Ray mengetahui isi batin ibunya, sehingga ia tidak mengizinkan sang papa untuk mendekati ibunya.
BERSAMBUNG
❤❤❤❤❤❤
...Jangan diprotes untuk foto kebaya Shesa, loh Thor kok wajahnya nggak sama, perlu dicatat othor cuma menampilkan contoh kebayanya ya, bukan wajahnya 😁...
...Yang terlintas di benak othor ya itu, terserah kalian bisa membayangkan visual lain nggak papa, bebas kok😁...
... ...