Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
semut lelaki


Mita dan Nabila telah selesai mandi, mereka berdua keluar dari kamar mandi bersama, setelah itu berganti Monic meminta izin pada Shesa untuk mandi duluan.


"Shesa, aku mandi dulu ya" seru Monic, dan Shesa menjawabnya dengan anggukan, kemudian Monic mulai masuk ke kamar mandi, sementara Mita dan Nabila sibuk mengeringkan rambut mereka.


Shesa mulai mengambil koper besarnya, sambil menunggu Monic selesai mandi, ia mengemasi baju- bajunya ke dalam koper, Nabila yang melihat Shesa merasa terkejut.


"Shesa, apa yang kamu lakukan? kamu mau kemana?" tanya Nabila penasaran.


"Shesa akan pulang hari ini" sahut Mita.


"pulang? yaahhh...kok nggak bareng kita ajah sih pulangnya? liburan sekolah masih seminggu lagi loh Sha, kan masih panjang waktunya" seru Nabila sedikit kecewa.


"iya...maunya sih gitu, nunggu beberapa hari lagi baru pulang, tapi mama nyuruh aku pulang cepet, soalnya kalian tahu sendiri kan, papa masih dalam masa pemulihan, jadi aku harus nemenin mama jagain papa" seru Shesa beralasan sembari membuka lemari yang berisikan baju-baju gantinya.


"ohh...gitu" jawab Nabila mengangguk pelan, tanpa sengaja Nabila melihat pakaian cowok di dalam lemari besar Shesa.


"Shesa, itu baju siapa? kayak baju cowok" tanya Nabila sembari menunjuk setelan kemeja dan jas kerja milik Vano, mendengar itu Mita ikut melihat baju yang dimaksud Nabila, Mita seolah mengenali setelan jas berwarna abu-abu itu.


"oh...baju ini, inikan baju rancangan aku sendiri" jawab Shesa tenang.


"tunggu-tunggu, kayak pernah lihat baju ini, tapi dimana ya?" sahut Mita sembari mengingat-ingat, setelah sepersekian detik Mita teringat bahwa jas itu pernah di pakai Vano saat acara ulang tahun sekolah mereka waktu itu.


"aku ingat sekarang, aku pernah melihat pak Vano memakainya saat ulang tahun sekolah, iya...betul ini adalah baju yang sama persisi yang dipakai pak Vano" seru Mita


"ya ampun kalian ini, emangnya desain baju ini cuma pak Vano doang yang punya, helllooo...aku juga bisa kali bikin yang sama persis seperti model baju pak Vano, kalian tuh jangan aneh-aneh ya" seru Shesa seolah-olah kesal dengan sikap kedua temannya, karena sudah mengira baju itu milik Vano, padahal sebenarnya memang benar, baju itu memang Shesa buatkan khusus untuk Vano, dan modelnya memang cuma satu.


"iya deh sorry, kita kan nggak tahu Sha" ucap Nabila memelas sembari menatap wajah Shesa yang terlihat sedang memanyunkan bibirnya, sontak Nabila memandangi bibir Shesa yang terlihat terluka dan sedikit bengkak, matanya terbelalak dan ia mendekatkan pandangannya pada bibir Shesa, sehingga membuat Shesa terkejut.


"Nabila kamu lihatin apa?" ucap Shesa sambil meraba bibirnya, karena tatapan mata Nabila mengarah pada bibirnya yang hari ini terlihat berbeda.


"Shesa! bibirmu kenapa? kok kayak tergigit gitu, terus kok agak bengkak ya? kamu sedang sariawan?" tanya Nabila penasaran.


"ada apa sih?" sahut Mita sembari menghampiri Shesa yang tengah di interogasi oleh Nabila, dan sontak saja Mita juga melihat bibir Shesa sedikit terluka, sebenarnya luka itu tidak terlalu parah, karena warna pink alami dari bibir Shesa, membuat bekas gigitan karena ulah Vano itu jadi kelihatan sangat jelas.


"eh...bibirmu kenapa tuh?" tanya Mita yang ikut bertanya, Shesa harus mencari alasan lagi untuk menutupi hasil dari karya Vano yang luar biasa itu, entah sedahsyat apa ciuman Vano, hingga membuat bibir Shesa menjadi terluka, meski Shesa tak merasakan kesakitan, tapi bekas itu nampak sangat jelas dibibir Shesa yang masih ranum.


"oohhh..ini...iya...ini bukan sariawan kok, tadi nggak tahu kenapa ada semut yang gigit bibir aku, dan mungkin aku menggosoknya terlalu kuat, gatal banget soalnya, terus kayak gini jadinya, gitu..." ucap Shesa harap-harap cemas, semoga saja teman-temannya itu tidak curiga, kalau itu adalah bekas gigitan dari sebuah ciuman yang ganas.


tiba-tiba Monic keluar dari kamar mandi, dan menyahuti ucapan Shesa.


"itu adalah gigitan dari semut lelaki, yang suka banget gigit di tempat-tempat yang sensitif, iya kan Sha...!" goda Monic sehingga membuat Shesa salah tingkah.


"semut lelaki!" sahut Mita dan Nabila bebarengan.


"aaahhh...udah deh, aku mau mandi dulu" sahur Shesa sembari berlalu menuju kamar mandi, Monic terkekeh melihat tingkah Shesa yang lucu.


di dalam kamar mandi, Shesa melepas seluruh kain yang menempel di tubuhnya, kali ini ia mandi dengan Shower, dibawah guyuran air shower Shesa membersihkan sisa peluh dan keringat dari aktivitas semalam bersama sang suami, sesekali ia melihat tubuhnya dicermin.


Ia melihat sekujur tubuhnya di penuhi tanda cinta milik Vano, dari area dada turun ke perut punggung atas Shesa, penuh dengan kissmark berwarna merah merona, tanda yang kemarin belum hilang, ditambah lagi dengan yang baru, entah kenapa Vano suka sekali berkarya pada kulit istrinya yang putih bersih itu, hanya area leher yang tidak Vano beri stempel kepemilikan, karena ia tahu daerah itu tempat orang dengan mudahnya untuk melihat.


sesekali Shesa mendesis, ia merasakan sedikit perih pada area intinya, saat ia sedang membersihkan daerah yang dibawah sana.


"issshhhh...kok perih sih" rintih Shesa saat membersihkan area intinya karena ulah Vano yang membuatnya sangat tidak berdaya.


Shesa memejamkan matanya di bawah guyuran air shower, ia memandang tubuh sintalnya yang kini sudah dimiliki Vano seutuhnya, namun ia sedikit terkejut saat melihat PD nya yang terlihat sedikit membesar dari ukuran semula, serta warna lingkaran areola p*tin*g PDnya juga nampak lebih gelap dari sebelumnya yang berwarna coklat terang.


"eh...kok beda sih sekarang" seru Shesa menatap dalam-dalam perubahan bentuk tubuhnya.


setelah selesai membersihkan tubuhnya, Shesa lalu keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk piyama dengan handuk yang ia lilitkan di kepalanya. Mita, Nabila dan Monic sudah bersiap untuk pergi dari kamar hotel Shesa yang mewah, hari ini mereka berencana untuk pergi ke Sanur Beach, sedangkan Shesa terpaksa harus pulang hari ini.


"kalian mau kemana?" tanya Shesa melihat teman-temannya yang sudah rapi.


"kita mau ke pantai Sanur" seru Mit senang.


"ohhh...sorry ya, aku nggak bisa ikut kalian" ucap Shesa sedih.


"nggak papa Sha, mamamu lebih membutuhkanmu, jadi kita bisa maklumin kok" sahut Nabila, dan Shesapun tersenyum pada keduanya.


mereka bertiga mulai meninggalkan kamar Shesa, setelah keluar dari kamar Shesa, mereka dikejutkan dengan seorang lelaki tampan dan beraroma maskulin, yang tak lain adalah Vano yang baru saja keluar dari kamar yang bersebelahan dengan kamar Shesa.


"pak Vano..." seru Mita yang membuat Vano menoleh ke sumber suara tersebut.


"kalian?" balas Vano


"pak Vano menginap disini juga?" tanya Mita


"iya..." jawab Vano singkat.


"hei...ayo kita pergi dari sini, sebelum istri pak Vano datang, dan kita bakal dimarahin habis-habisan" bisik Monic pada Mita.


"kamu benar Mon, kita pergi aja" balas Mita ketakutan.


"pak Vano, permisi kita pergi saja, maaf sudah ganggu waktu bapak" pamit Mita sembari berlalu meninggalkan Vano yang masih berdiri didepan pintu dengan senyumnya yang khas.


"permisi pak...maaf" sahut Nabila dan Monic mengangguk pada Vano, lantas mereka bertiga berlalu meninggalkan Vano yang hendak masuk ke kamar istri tercintanya.


BERSAMBUNG


💋💋💋💋