Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
garis dua


"Bu Siska, apa Bu Siska yakin dengan apa yang ibu katakan" ucap kepala sekolah.


"tentu saja pak, saya akan membuktikan kepada bapak bahwa Shesa memang sedang hamil, untuk itu bapak harus mengeluarkan Shesa dari sekolah ini secepatnya, karena dia telah mencoreng nama baik sekolah kita" seru Siska yakin.


"baiklah, kita akan panggil Shesa ke kantor, supaya urusan ini menjadi jelas, setelah kita tahu kebenarannya, hanya pak Vano lah yang berhak memutuskan nya" ucap kepala sekolah.


"tentu saja pak" ucap Siska dengan senyum liciknya.


"aku yakin Vano pasti akan mengeluarkan Shesa dari sekolah ini" gumamnya dengan sangat percaya diri.


hari itu Siska benar-benar sudah menyiapkan segalanya untuk membuktikan bahwa Shesa memang sedang hamil, ia telah menyediakan taspack untuk Shesa.


******


sementara itu Monic berencana memberi tahukan kepada Vano tentang apa yang akan terjadi pada Shesa hari ini, namun kepergiannya sempat dihadang oleh satpam yang menjaga gerbang sekolahnya.


"kamu mau kemana? ini belum waktunya pulang!" satpam sekolah sedang menghadangnya untuk keluar dari sekolah.


Monic berusaha mencari cara untuk meyakinkan satpam sekolah agar mau membukakan pintu gerbang.


"gini pak, saya di suruh kepala sekolah untuk mengantarkan berkas ini kepada pak Vano, iya gitu..hehe" seru Monic mencoba meyakinkan satpam dengan menunjukkan jurnal yang sedang ia pegang.


"ohh... kalau begitu cepat pergi, tapi ingat jangan lama-lama" seru satpam mengingatkan.


"oh ... baik pak, saya pasti segera kembali" ucap Monic sembari berlalu meninggalkan satpam tersebut, kemudian ia menghentikan sebuah taksi dan menuju kantor PT Elang Perkasa Company.


******


di perpustakaan


seorang siswa memanggil Shesa yang sedang membaca sebuah buku di sudut ruangan.


"Shesa, kamu dipanggil kepala sekolah tuh, disuruh ke ruangannya sekarang juga" seru siswa tersebut, dan Shesapun mengangguk.


"ada apa ya, kenapa tiba-tiba kepala sekolah memanggilku" gumamnya dalam hati, perlahan Shesa melangkahkan kakinya menuju ruang kepala sekolah, Mita dan Nabila tanpa sengaja memperhatikan Shesa yang sedang berjalan menuju ruang kepala sekolah.


"eh...lihat deh Shesa dipanggil kepala sekolah tuh" ucap Nabila.


"mampus tuh anak, kita lihat yuk" ajak Mita kepada teman-temannya.


******


sesampainya di ruang kepsek


"tok tok tok"


"masuk" ucap kepala sekolah


Shesa membuka pintu ruangan kepala sekolah, ia sangat terkejut sekali melihat beberapa dewan guru sudah berada di ruangan kepala sekolah, tak terkecuali Siska yang sangat menantikan momen ini, momen dimana dirinya berkesempatan mempermalukan Shesa.


"kali ini aku akan mempermalukanmu Shesa, kau harus menerima kenyataan ini, karena kau sudah berani sekali merebut perhatian Vano dariku" gumam Siska sembari menatap tajam kearah Shesa.


"maaf pak, ada apa ya?" tanya Shesa yang sangat penasaran.


*****


sementara Monic sudah sampai di kantor Vano, dengan memakai seragam sekolah, ia memberanikan diri untuk masuk ke kantor yang sangat besar itu.


"ya ampun, kantornya gede banget, mana sih pak Vano, aduh ...aku harus cepat nih, sebelum terjadi apa-apa pada Shesa" seru Monic yang sangat cemas, tiba-tiba secara tak sengaja Vera melihat Monic sedang berada di lobi kantor, ia seperti mencari keberadaan seseorang, kemudian Vera menghampirinya.


"Monic, sedang apa kau disini?" tanya Vera sembari menepuk pundak Monic.


Monic sangat kaget dengan kehadiran Vera yang tiba-tiba berada di depannya, karena setahu Monic, Vera berada di Inggris.


"kak Vera? kak Vera ada disini?" tanya Monic balik.


"iya...aku bekerja disini, katakan ada apa, sepertinya Kamu sedang tergesa-gesa" tanya Vera penasaran.


"iya kak, aku sedang mencari pak Vano, ada hal yang sangat penting yang harus aku katakan pada pak Vano" ucap Monic gugup.


"aduh, gimana dong kak, aku harus ketemu sekarang juga" rengek Monic yang semakin khawatir tentang keadaan Shesa.


"memangnya ada apa sih? kok kamu pingin banget ketemu sama pak Vano?" tanya Vera menyelidik.


"anu...Shesa kak, Shesa butuh bantuan pak Vano" ucap Monic semakin khawatir.


"Shesa? memangnya apa yang terjadi padanya?" seru Vera semakin penasaran.


"ceritanya panjang kak, cepat kak hubungi pak Vano sekarang juga, kalau tidak Shesa akan dikeluarkan dari sekolah" sambung Monic.


"apa? dikeluakan dari sekolah! baiklah, aku akan segera menghubungi pak Vano" ujar Vera lantas ia menghubungi nomor Vano.


******


disebuah restoran mewah, Vano sedang berbincang dengan kliennya, membicarakan tentang bisnis mereka, tiba-tiba ponsel Vano berdering, lantas ia segera mengangkat ponselnya.


"iya ada apa" seru Vano dengan wajah coolnya, dengan seksama Vano mendengarkan seseorang yang berbicara padanya lewat telepon yang tak lain adalah Vera, dengan cepat Vano menutup ponsel itu, tanpa pikir panjang ia segera meninggalkan tempat ia makan siang bersama kliennya.


"maaf pak, saya harus segera pergi, lain kali kita lanjutkan obrolan kita hari ini" pamit Vano pada kliennya itu.


sekretaris Jimmy sangat terkejut melihat Vano yang tiba-tiba pergi meninggalkan obrolan bisnis mereka.


"pak Vano, bapak mau kemana?" tanya sekretaris Jimmy.


"aku akan pergi ke sekolah Harapan Bangsa sekarang, ada hal yang sangat penting yang harus aku selesaikan" ucap Vano serius, kemudian dengan segera ia masuk ke mobilnya, Mario juga terkejut saat Vano tiba-tiba memintanya mengantarkan ke sekolah Shesa.


"ada apa tuan muda, apa ada masalah?" tanya Mario.


"sepertinya ada yang ingin menganggu istriku" jawab Vano.


Mario langsung tancap gas saat Vano mengatakan hal itu, dengan cepat mobil Lamborghini itu melesat di jalan raya.


*****


di kantor kepala sekolah


"Shesa apa kamu tahu, kenapa saya memanggilmu kemari!" ucap kepala sekolah


"maaf pak, saya tidak tahu" ucap Shesa pelan.


"kami mendapat laporan tentang kamu, bahwa kamu sedang hamil, apa itu benar?" tanya kepala sekolah.


Shesa sangat terkejut, darimana kepala sekolah mengetahui hal itu, tiba-tiba Siska menyela pembicaraan.


"dan lebih parah lagi pak, Shesa telah menjual dirinya kepada lelaki hidung belang, bukankah itu sangat memalukan, apa pantas seorang siswa berprestasi, kebanggan sekolah ini, ternyata terjerumus kedalam pergaulan bebas, dia sangat tidak pantas sekolah disini, Shesa harus dikeluarkan " sambung Siska dengan tatapan sinisnya.


"tidak, itu tidak benar sama sekali, pak guru dan ibu guru sekalian, apa yang dikatakan oleh Bu Siska itu sama sekali tidak benar, saya tidak pernah menjual diri" Shesa menyangkal tuduhan yang ditimpakan kepadanya.


"oke... jika kamu menyangkal hal itu, aku akan membuktikan bahwa tuduhanku kali ini tidak akan meleset, ambil ini, dan pergilah ke kamar mandi" ucap Siska sembari memberikan taspack pada Shesa.


"apa ia ini Bu Siska, kenapa saya harus menerima ini" tanya Shesa terkejut Siska memberikan taspack kepadanya.


"tidak usah banyak tanya, tentunya kamu sudah paham alat itu untuk apa, bukankah kau siswa yang cerdas" tandas Bu Siska semakin bersemangat untuk menguak rahasia besar Shesa.


dengan terpaksa Shesa masuk kedalam kamar mandi diruang kepala sekolah, Shesa mengikuti petunjuk yang ada dalam taspack itu, ia harap-harap cemas menanti hasil dari tes kehamilan itu.


perlahan namun pasti Shesa melihat garis satu yang mulai nampak, fikirnya mulai tenang,


"ah... garis satu" gumamnya dalam hati sedikit tenang, namun tidak ia sangka sama sekali, ia melihat garis keduanya bertambah jelas, sehingga membuat Shesa membulatkan matanya sempurna.


"ya Tuhan, garis dua, aku memang hamil... tidak, apa yang harus aku lakukan?" ucap Shesa sembari menyandarkan tubuh lemasnya pada dinding kamar mandi.


BERSAMBUNG


🔥🔥🔥🔥