Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
Suami pengertian


Hari itu juga, mereka bertiga saling bercengkrama menuangkan rasa rindu, gurauan yang setiap kali sekolah mereka lakukan, kini suasana itu hadir kembali dalam ruangan itu, saling bercerita satu sama lain, sesekali Shesa ikut tertawa mendengar Monic bercerita tentang kejadian di sekolah, betapa hal itu membuat Shesa semakin terhibur.


Hari ini Vano berangkat ke kantor agak siang, karena ia harus menunggu kedatangan kliennya yang masih dalam perjalanan dari luar negeri, ia berhenti sejenak saat melihat Shesa tengah bercengkrama dengan teman-temannya.


Vano begitu bahagia melihat istrinya yang tampak senang dengan kedatangan teman-temannya.


Tiba-tiba Laura mengetahui keberadaan Vano yang tengah memperhatikan mereka, Laura melihat kearah Shesa dan mengisyaratkan padanya bahwa Vano tengah memperhatikannya.


"Shesa...sstt" seru Laura sembari melihat kearah belakang Shesa.


"Apa sih?" tanya Shesa sembari menengok kearah belakang.


Tampak Vano yang tengah berdiri dibalik tirai, ia bersiap untuk pergi ke kantor, namun ia tidak ingin mengganggu suasana hangat Shesa bersama teman-temannya.


"Sebentar ya, kalian tunggu disini" ucapnya sembari menghampiri suaminya yang sedang berdiri di tempatnya, Laura dan Monic mengangguk.


Shesa membuka tirai yang menutupi sebagian tubuh suaminya, terlihat Vano yang sedang berdiri didepan disana.


"Sayang kamu ngapain disini?" tanya Shesa


"Aku tidak mau mengganggu perbincangan kalian, aku melihat kamu begitu bahagia, jadi aku memutuskan untuk tidak mengganggu waktu kalian, aku akan pergi lewat pintu samping" seru Vano


"Ngapain juga kamu lewat pintu samping, ya sudah kamu berangkat gih, pasti klien-klienmu udah nungguin" ucap Shesa sembari merapikan dasi Vano.


"Baiklah aku pergi dulu, jika ada apa-apa cepat kamu hubungi aku, jaga dirimu dan bayi kita baik-baik" seru Vano sembari mencium kening dan perut istrinya.


Kemudian Vano melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, tampak Laura dan Monic yang sedang duduk di kursi tamu, Mereka berdua berdiri memberi hormat kepada Vano yang didampingi Shesa disampingnya.


"Selamat pagi pak Vano" seru keduanya.


"Pagi juga, loh kalian nggak sekolah?" tanya Vano kepada kedua gadis itu.


"Untuk tiga hari ke depan kami libur pak, persiapan untuk ujian Nasional Minggu depan" ucap Laura.


"Oh begitu...ya sudah aku tinggal dulu, kalian bisa berbincang-bincang dengan istriku, mari" seru Vano sembari beranjak keluar dari rumah.


"Iya pak silahkan" balas keduanya, tampak Vano sudah meninggalkan ruangan utama.


"Ya ampun, pak Vano memang pengertian banget ya, beruntung banget Shesa mendapatkan suami seperti pak Vano" seru Monic


"hem...kamu benar Mon, dia tuh masih memberi kebebasan loh buat Shesa ketemu sama kita, padahal biasanya suami tuh kalau udah merasa memiliki istrinya, kadang seenaknya saja, suka ngatur, tapi aku lihat pak Vano benar-benar bijak, ia tahu jika Shesa masih masa-masanya bermain bersama kita, benar-benar pak Vano memberikan Shesa kesempatan yang belum tentu semua gadis bisa mendapatkannya setelah menikah" tukas Laura mengagumi sosok Vano.


"Kamu benar, tapi aku juga salut dengan Shesa, ia sendiri juga tahu siapa dirinya, ia tahu batasan pergaulannya, karena sekarang ia berstatus sebagai seorang istri, tak lantas membuat Shesa seenaknya berbuat melampaui tugasnya sebagai seorang istri, setidaknya pernikahan ini membuat Shesa lebih dewasa, semoga pernikahan mereka bahagia sampai maut memisahkan" tandas Monic yang mengakui bahwa perjodohan itu membuat Shesa semakin dewasa.


Sementara itu Shesa terus mengikuti langkah suaminya untuk mengantarkan sampai di depan rumah.


"Aku berangkat dulu" ucap Vano


"Hati-hati sayang" balas Shesa sembari mencium tangan suaminya.


"Papa berangkat dulu ya sayang, jangan nendang- nendang perut mama lagi" ucap Vano sembari mencium jabang bayi yang masih berada didalam kandungan Shesa.


"Daaa papa..." seru Shesa sembari melambaikan tangannya, ia merasa baby-nya ikut melambaikan tangannya, terasa perutnya bergerak begitu halus mengiringi kepergian Vano menuju kantornya.


Shesa mengelus perutnya sembari beranjak masuk kedalam ruangan, tampak Monic dan Laura yang sudah menunggu dari tadi.


"Eh sorry ya, kalian jadi lama menunggu!" serunya sembari duduk di kursi mewah didalam ruangan yang besar itu.


"Nggak papa kok, santai saja" jawab Monic


"Halah sebentar lagi juga babang Mario akan segera menghalalkan mu" ucap Laura sembari menyenggol pundak Monic, sehingga membuat Shesa tampak tertawa kecil.


"Benarkah? wah selamat ya Monic, aku ikut bahagia, tapi apa kamu nggak kuliah?" tanya Shesa


"Tetap kuliah dong, Mario sudah mengizinkan aku untuk melanjutkan kuliah setelah kami menikah" ujar Monic senang.


"Syukurlah aku ikut senang, dan kamu Laura, apa rencanamu setelah lulus dari sekolah nanti" tanya Shesa penasaran


"A...aku..." belum selesai Laura bicara Monic sudah menyelanya.


"Dia juga bakal nikah!" sahut Monic cepat.


Apa yang dikatakan Monic membuat Laura tampak malu.


"Apa sih Monic, pasti deh suka banget ganggu aku" ucap Laura sembari menyenggol lengan Monic.


"Apasih, emang bener kan, kamu dan Romi bakal nikah, emangnya aku nggak tahu!" sahut Monic tersenyum senang.


Ucapan Monic membuat Shesa ikut senang, ia bahagia akhirnya Romi dan Laura aku meresmikan hubungan mereka.


"Benarkah itu, selamat ya Laura, sumpah hari ini aku benar-benar bahagia, kedua sahabatku akan segera menikah" ucap Shesa penuh kegembiraan.


"Tapi....aku harus menunggu Sha" seru Laura yang tiba-tiba.


Shesa mengerutkan dahinya, ia memandang wajah Laura yang tampak sedih.


"Loh kok kamu sedih? harusnya kamu bahagia dong!" tandas Shesa tersenyum


"Setelah acara pernikahan kak Vera dan kak Excel selesai, Romi terbang kembali ke Jerman, ia menuntaskan dulu semester awal kuliahnya, setelah itu ia akan kembali kesini" seru Laura sembari menundukkan wajahnya.


"Romi pasti kembali, dia akan datang untuk membawamu sebagai pengantinnya, aku yakin itu" seru Shesa meyakinkan Laura.


"Itu pasti, Romi bukan tipe cowok pembohong, dia pasti datang untuk menjemputmu Laura, percayalah" sambung Monic yang ikut meyakinkan Laura.


Laura tampak senang sekaligus pasrah, meskipun Romi sudah menyatakan cintanya, namun ia juga tidak mau terlalu berharap, karena jarak yang jauh tengah memisahkan mereka, bisa saja Romi sudah mendapatkan gadis di Jerman.


Shesa melihat Laura yang masih bersedih, kemudian Shesa duduk disamping Laura.


"Laura, percayalah padaku, Romi akan datang, dia akan datang untukmu, membawamu sebagai pasangan halalnya, jarak bukanlah alasan, dengarkan aku, Romi akan datang setelah kelulusan sekolah kita, aku yakin itu" seru Shesa sembari menatap dalam-dalam wajah Laura.


Laura tersenyum dan memeluk Shesa penuh kehangatan.


Tiba-tiba Shesa merasa ada yang keluar dari area intinya, membuat ekspresi Shesa seperti tidak nyaman.


"Kok sepertinya kayak ada yang keluar ya" gumam Shesa yang merasa hangat di bawah sana.


BERSAMBUNG


🔥🔥🔥🔥


...Huffttt author harus menyiapkan segalanya untuk kelahiran baby Vano dan Shesa, ayo beb tunjukkan sajen kalian agar author bisa fresh untuk menuangkan ide-ide imajinasi author 🤭🤭...


...Dukungan kalian adalah kebahagiaan author...


...❤️❤️❤️❤️❤️...