Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
kurang manis


"kenapa?" Shesa terkejut melihat sikap sang suami yang tiba-tiba menepis jus itu.


Vano berdiri dan berjalan menghampiri Shesa yang sedang duduk, Vano menyandarkan tubuhnya pada meja didepan Shesa, Vano mengambil jus sirsak itu dari tangan Shesa, dan meletakkan jus itu jauh dari jangkauan Shesa.


Shesa mendongak menatap Vano lekat-lekat.


"ada apa sayang! kenapa kamu ambil jusnya?" tanya Shesa penasaran.


"nanti aku berikan jus yang baru untukmu" ucap Vano sembari mengelus puncak kepala Shesa.


"tapi ke....." belum sempat Shesa merampungkan kata-katanya, Vano sudah menyela


"sssttt.... ikuti saja kataku hmm!" imbuhnya sembari tersenyum.


Vano punya rencana untuk mengembalikan jus itu kembali pada Laura, ia penasaran apa lagi yang direncanakan gadis itu lewat jus sirsak yang diberikan kepada Shesa, setelah kemarin ia hampir saja memberi Shesa obat perangsang lewat sebuah minuman saat Out Dor Learning kemarin.


"sayang kamu tunggu disini, aku segera kembali, jangan kemana-mana hmm" ucap Vano sembari menapuk pipi Shesa dengan kedua tangannya, dan Shesapun mengangguk.


Vano keluar dari ruangan nya sembari membawa jus sirsak yang diberikan Laura kepada istrinya, mata elangnya mencari keberadaan gadis yang ingin mencelakai Shesa.


tak butuh waktu lama untuk Vano menemukan kebenaran Laura, dilihatnya gadis itu sedang bercanda dengan temannya didepan kelas.


perlahan Vano mendekati Laura, kemudian ia mendekatinya dan tersenyum pada gadis itu.


"ehem ehem" sapa Vano dengan berdehem.


Laura menoleh, ia sangat terkejut dengan kedatangan pak Dante yang sedang menghampirinya.


"pak Dante" sapa Laura dengan tersipu malu.


"hai Laura... apa aku mengganggumu!" seru Pak Dante dengan senyum khasnya.


"ti... tidak pak, Pak Dante darimana?" tanya Laura penasaran.


"tadi bapak beli ini, jus sirsak didepan sekolah, bapak kok tiba-tiba pingin minum jus ini, tapi setelah bapak coba, kok rasanya kurang manis ya? apa mungkin lidah bapak yang sakit atau apa ya?" ucap Vano sembari menunjukan jus yang ia pegang.


"masa sih pak! tadi aku beli rasanya manis kok!" seru Laura mulai terpancing bujukan Vano.


"gitu ya, hmm mungkin memang lidah bapak yang bermasalah, tapi kalau memang tidak manis, bapak akan buat perhitungan pada penjualnya, bisa-bisanya dia bohongi bapak, katanya manis eh nyatanya nggak ada rasanya!" ucap Vano berakting.


tiba-tiba Vano seolah-olah hendak datang melabrak penjual jus itu, dengan memasang wajah marah, Vano seperti orang yang telah kecewa telah dibohongi oleh penjual jus sirsak itu.


"pak Dante mau kemana?" tanya Laura penasaran.


"saya mau melabrak penjual itu, awas kamu ya, bisa-bisanya bohongi saya!" seru Vano dengan aktingnya yang meyakinkan


"tunggu pak, biar saya coba jus sirsak itu, kalau memang benar nggak manis, memang penjualnya bohong, tapi kalau memang rasanya manis, bapak yang perlu ke dokter!" seru Laura.


"oh... Kamu nyoba jus ini, baik...ini cobalah" ucap Vano sembari memberikan jus itu pada Laura.


Laura menerima jus itu, kemudian ia meminumnya untuk membuktikan kepada pak Dante.


"bagus... minum terus Laura, aku ingin tahu apa lagi yang kau campurkan pada minuman itu!"


Vano menyunggingkan sudut bibirnya, ia memperhatikan Laura yang sedang meminum jusnya sendiri.


setelah beberapa saat, Laura sudah menghabiskan separuh dari jus sirsak itu.


"em... enak kok pak, manis!" seru Laura yang sudah meminum sebagian jus itu.


"benarkah? oh ya Tuhan, rupanya lidahku butuh dibawa ke bengkel!" ucap Vano sembari bercanda.


"ya ampun pak Dante, ke dokter kali pak, bukan ke bengkel!" seru Laura sambil mengelap bibirnya dengan tisu.


"saya mau ke kantor dulu ya" pamit Vano sembari menepuk pundak Laura, dan itu membuat Laura sangat senang.


"pak Dante orangnya baik banget" Laura berbisik pada dirinya sendiri.


Vano berlalu meninggalkan Laura yang masih memperhatikan gerak langkahnya, senyum manisnya mulai mengembang di bibirnya, ia bisa bernafas dengan lega, Shesa tidak sampai meminum jus sirsak pemberian Laura.


Shesa masih duduk di dalam ruangan pak Dante, sesekali ia bermain ballpoint yang ada dimeja pak Dante, tiba-tiba pundaknya disentuh oleh sebuah tangan yang kuat.


Shesa mendongak ke atas, dilihatnya sang suami tengah berdiri dibelakangnya.


"sayang, kamu darimana sih?" tanya Shesa menyelidik.


"nanti juga kau akan tahu!" ucap Vano penuh makna.


"terus kamu bawa kemana jus itu? kamu buang?" tanya Shesa sembari mengerutkan keningnya.


"jus itu aku kembalikan kepada empunya!" ucap Vano santai.


"Laura? kamu berikan jus itu padanya?" tanya Shesa semakin penasaran.


"sebentar lagi kau akan tahu siapa Laura yang sebenarnya!" bisik Vano di telinga Shesa, Shesa terhenyak mendengar Vano berbicara dekat sekali dengan telinganya, sehingga kumis pak Dante menyentuh pipi mulus Shesa.


"aaaa... minggir!" seru Shesa sambil mendorong wajah Vano menjauhi wajahnya.


Vano terkejut Shesa mendorong wajahnya, ia sedikit merajuk atas apa yang dilakukan Shesa tadi, Vano langsung duduk di kursinya tanpa satu katapun, Shesa yang menyadari bahwa suaminya tengah marah kepadanya, lantas ia segera mendekati Vano dan meminta maaf padanya.


"maaf sayang, aku nggak sengaja, tadi refleks gitu aja, kamu jangan marah dong!" ucap Shesa sembari memohon, namun Vano tetap tak bergeming, ia pura-pura marah kepada Shesa, hanya untuk mengerjai istrinya.


"sayang, pliss bicara dong, kamu kok diem aja sih" seru Shesa memelas.


karena Shesa tak jua mendapat balasan dari Vano, akhirnya ia duduk bersimpuh di kaki Vano yang sedang duduk di kursinya, dengan kedua tangan yang saling menempel, Shesa meminta maaf.


"maafin aku, pliss" ucapnya dengan tatapan sendu, tentu saja itu membuat Vano semakin gemas terhadap wajah Shesa yang terlihat cemas sekali.


perlahan Vano meraih tangan Shesa dan melingkarkannya dipinggangnya yang kuat.


"kau ingin aku maafkan?" ucap Vano menggoda.


"hmm..." jawabnya pelan.


"cium dulu dong" ucap Vano tersenyum renyah.


Shesa menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


"ya sudah kalau nggak mau, aku tidak akan memaafkanmu!" ucap Vano santai


"iya ...iya... baiklah...hmm" seru Shesa yang terpaksa mengabulkan permintaan suaminya, perlahan ia memejamkan matanya, pelan namun pasti, bibir Vano sudah tak sabar untuk mengecup bibir Shesa yang mungil, dan setelah sepersekian detik, Vano mulai melu*at bibir Shesa dengan mesra, sementara Shesa hanya bisa pasrah, karena mau tidak mau kumis pak Dante ikut berkecimpung dalam lum*tan itu.


tiba-tiba saja bel masuk berbunyi, Shesa dengan cepat melepaskan ciuman Vano dari bibirnya, kemudian ia segera beranjak keluar dari ruangan Vano dengan senyum nakalnya.


"daaahhh... sayang, aku masuk kelas dulu" ucapnya sembari mengelus 'junior' Vano sebelum dia pergi.


Vano terkekeh melihat tingkah nakal istrinya.


"sudah mulai nakal kamu ya"


gumamnya senang.


BERSAMBUNG


🔥🔥🔥🔥🔥