
di pagi hari...
Shesa terbangun dari tidurnya, ia mengerjakan matanya sembari melihat kearah jam, ia melihat Vano masih tertidur pulas disampingnya, ia menatap wajah Vano yg terlihat polos saat tertidur, tangannya mulai membelai pipi Vano yang ditumbuhi oleh bulu-bulu halus.
"tidurmu seperti seorang bayi sayang" gumam Shesa sembari tersenyum, tanpa ia sadari Vano membuka matanya cepat, sehingga membuat Shesa sangat tersipu, ternyata Vano mendengarkan ucapan Shesa.
"sayang...kamu sudah bangun ternyata" seru Shesa yang begitu malu.
"kamu bilang, aku seperti seorang bayi...hm" sahut Vano.
"hmm...iya tadi pas tidur, tapi...kalau udah melek gini, ya...bukan kayak bayi lagi, tapi kayak singa yang suka menerkam mangsanya" ucap Shesa menggoda, sontak apa yang Shesa katakan membuat Vano ingin menggelitik Shesa, tangan Vano mulai menggelitik perut Shesa yang masih polos.
"ah... jangan, hentikan sayang... jangan... ampun... ampun" pekik Shesa kegelian, lantas Vano mulai melepaskan keusilannya pada Shesa, tiba-tiba Shesa beranjak duduk dan menutupi tubuhnya dengan selimut, Vano ikut duduk disebelah Shesa, sambil melingkarkan tangan besarnya dipundak Shesa.
"ada apa? apa yang kamu pikirkan...hmm?" tanya Vano yang melihat Shesa nampak memikirkan sesuatu.
"tidak ada...aku hanya memikirkan kak Vera" seru Shesa sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Vano.
"sepulang dari Bali, kita akan mencari alamat dimana Vera tinggal, kau sudah puas" Vano mencoba menghibur istrinya.
"benarkah?... terimakasih sayang" Shesa begitu bahagia mendengar itu, lantas Shesa teringat jika ada pesan dari kakaknya semalam.
"sayang... semalam kak Vera menyampaikan sesuatu untukmu" ucap Shesa sembari bermain bulu-bulu halus yg tumbuh di dada Vano.
"dia bilang apa?" jawab Vano, sesekali ia menghirup aroma wangi rambut Shesa.
"kak Vera bilang, dokumen-dokumen itu sudah selesai direvisi, dan perusahaan papa akan membaik lagi, em... maksudnya apa ?... perusahaan papa memangnya kenapa sayang?" tanya Shesa penasaran.
Vano menegakkan kepalanya, ia mencoba bersikap santai pada istrinya, Shesa terus menatap Vano penuh tanda tanya.
"katakan sayang, apa yang terjadi pada perusahaan papa?" Shesa terus mendesak agar Vano mau mengatakan hal yang sebenarnya, Vano menatap wajah istrinya dengan sendu, sesekali ia mengusap pipi Shesa yang putih.
"kau benar-benar ingin tahu?" Vano berusaha meyakinkan Shesa.
"iya... katakan padaku, jangan sembunyikan rahasia dariku, aku tidak suka itu" ucap Shesa, Vano menghela nafas panjang.
"baiklah, kalau kau memaksa" balas Vano.
Vano mulai bercerita tentang perusahaan papanya yang mengalami inflasi dan hampir saja semua aset perusahaan itu hilang dicuri orang, ia juga menguak siapa dalang dibalik semua itu, yang tak lain adalah Exel.
Shesa benar-benar terkejut saat Vano menyebut nama Exel.
"apa Exel...mas Exel kakak nya Romi?" tanya Shesa yang sangat tidak percaya, bahwa Exel tega melakukan itu pada perusahaan papanya.
"tapi kenapa dia lakukan hal itu?" Shesa terus mendesak Vano agar menceritakan semuanya.
"balas dendam, Exel ingin membalaskan dendamnya atas kematian ayahnya" jawab Vano
"balas dendam, aku tambah nggak ngerti deh, balas dendam pada siapa?" tanya Shesa yang selalu penasaran.
"pada papa Dewa" tukas Vano.
"papa?" Shesa terkejut.
"Exel menganggap penyebab kematian ayahnya adalah papa Dewa, karena waktu itu papa Dewa sudah menabrak mobil ayah Exel, hingga menyebabkan ayah Exel meninggal dunia" jelas Vano dengan gamblang.
"itu tidak mungkin, tidak mungkin" Shesa tidak percaya bila Dewa adalah penyebab dari kematian ayah Exel, Vano memeluk Shesa, ia mencoba menenangkan istrinya.
"terimakasih sayang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi bila tak ada kamu disampingku, terimakasih atas semuanya, aku tak akan bisa membayar semua kebaikanmu kepada ku, sungguh" seru Shesa dengan sendu.
"itu sudah kewajibanku sayang, semenjak aku mulai menikahimu, maka akupun harus bersiap menikahi keluargamu juga, karena mereka sudah memberikan kepadaku seorang putrinya yang cantik, yang sangat mempesona dan tentunya yang sangat aku cintai, yaitu... kamu, Deandra Rashesa" ucap Vano pada Shesa.
Shesa tersenyum pada suaminya, dan ia memeluk Vano dengan mesra.
******
di kantor Exel
"bagaimana, sudah kau ketahui siapa yang sudah berani merubah dokumen itu?" Exel berbicara pada seorang stafnya.
"Vera Anggraeni pak, dia yang sudah merevisi semuanya atas perintah direktur PT. Elang Perkasa Company" jawab staf itu pada Exel.
"apa???...Vera, ini tidak bisa dibiarkan, aku harus bergerak cepat" Exel mulai memikirkan rencana jahatnya untuk menjatuhkan Vano, ia mulai dari memperalat Vera, mantan kekasihnya yang sekarang bekerja di perusahaan Vano.
hari itu juga Exel datang ke apartemen Vera, ia tahu bahwa jam segini, Vera masih berada di kantor, ia ke apartemen Vera adalah untuk menculik Frisca, putri semata wayang mereka.
terdengar suara bel berbunyi, bik Unah segera membukakan pintu, bik Unah sangat terkejut dengan kedatangan Exel yang tiba-tiba, Exel melihat kedalam ruangan dan mencari keberadaan Frisca.
"tuan mencari siapa? nyonya belum pulang, tuan" seru bik Unah.
"aku tidak mencari Vera, tapi aku mencari gadis kecil itu" jawab Exel dengan senyuman sinisnya, Exel langsung masuk ke kamar Frisca, dan ia mendapati Frisca sedang tidur.
"jangan tuan, kasihan neng Frisca, jangan apa-apain dia" pinta bik Unah agar Exel tidak mendekati Frisca.
"sayang.... Frisca, ayo bangun sayang, ini om Exel, teman mama Frisca" Exel berusaha merayu gadis kecil itu.
Frisca mulai bangun dari tidurnya, lantas ia menyuruh Exel untuk mengantarnya jalan-jalan ditaman.
"om ...aku ingin bermain di taman, boleh ya?? " ucap gadis itu dengan polosnya.
",tentu saja sayang, kamu boleh pergi kemana saja yg kamu suka" jawab Exel, yang membuat Frisca begitu bersemangat.
"benarkah itu om? Frisca ikut om saja" timpal Frisca yang senang saat Exel mengajaknya.
"sekarang Frisca, mandi dan ganti bajunya, ya...?' ungkap Exel pada gadis chubby itu.
"maaf pak, tolong Jangan bawa non Frisca pergi pak, nanti saya harus bilang apa pada nyonya" bik Unah merasa ketakutan jika Vera akan memarahinya.
",kau jangan takut, Vera tidak akan berani memarahimu" tukas Exel optimis.
setelah beberapa saat Vano dan Frisca telah sampai di sebuah wahana permainan.
Exel terus menggandeng tangan Frisca, sesekali ia menggendong Frisca, dan itu membuat Exel ingin bertanya soal ibunya, yaitu Vera.
"Frisca dirumah tinggal sama siapa sayang?" tanya Exel penasaran.
"sama mama dan bik Unah" jawab gadis itu dengan polos.
"hanya mereka berdua? trus papamu kemana?" Exel kembali menyelidik.
"aku nggak punya papa, kata mama papa Frisca udah meninggal" jawaban Frisca membuat Exel tersadar bahwa Vera masih sendiri, lantas anak siapa Frisca itu?, Exel berusaha mencari tahunya.
BERSAMBUNG