
dengan dress ungu selutut dengan model rok setengah lingkar, membuat penampilan Shesa sore itu kian menawan, aura bumil yang mulai terpancar dari wajah Shesa yang cantik, menambah kesan betapa anggunnya istri dari Seorang Direktur tertinggi Vano Adiputra Perkasa.
Shesa berdiri di depan cermin hias, ia melihat tubuhnya tampak mulai gendut, apalagi di bagian dada, dan pipinya semakin berisi, karena perubahan hormonal yang terjadi pada Shesa yang sedang hamil, meskipun usia kehamilan Shesa yang masih dalam hitungan Minggu, namun perubahan hormonal itu mulai membuat postur tubuhnya kelihatan lebih berisi dari sebelumnya, apalagi Shesa yang awalnya memiliki tubuh sintal dan seksi.
Vano mendekati istrinya yang masih berdiri didepan cermin, tangan kuatnya melingkar pada perut Shesa yang masih terlihat rata, dengan lembut Vano mengelus perut Shesa sembari menyesap keharuman blossom dari tubuh istrinya, Shesa mengelus kepala Vano dengan lembut.
"kenapa? apa yang kamu pikirkan?" ucap Vano sembari berbisik dan menciumi tengkuk Shesa yang sangat ia sukai.
"sayang, katakan padaku, apakah cintamu akan tetap menjadi milikku, meskipun aku nanti menjadi gendut!" seru Shesa sembari melihat bayangan tubuhnya di pantulan cermin.
"hm... apa yang kamu bicarakan?" tanya Vano sembari membalikkan tubuh istrinya.
"wanita yang sedang hamil itu, akan banyak perubahan pada tubuh mereka, semuanya akan berbeda dari semula, jika suatu hari nanti badanku ngga sebagus dulu setelah melahirkan baby kita, apa kamu masih mau bersamaku sayang!" seru Shesa sembari memainkan dasi Vano.
Vano tersenyum mendengar ucapan Shesa yang membuatnya sangat gemas ingin memeluknya terus.
"kemari...." Vano membawa tubuh Shesa kedalam pelukannya.
"apapun dan bagaimanapun nanti dirimu, aku akan tetap mencintaimu, bagaimanapun juga anak-anakku akan lahir dari rahim wanita yang sangat aku cintai, jangan pernah berfikir aku akan meninggalkanmu, aku akan selalu melindungimu sekarang dan selamanya!" ucap Vano sembari memejamkan matanya.
Shesa tersenyum dalam pelukan sang suami, ia sangat terharu mendengar ucapan Vano yang terdengar sangat istimewa itu.
"kita akan membesarkan anak-anak kita bersama, selamanya!" sambung Vano sembari mencium kening istrinya.
Shesa melepaskan pelukannya dari Vano, sejenak ia terhenyak saat Vano bilang anak-anak kita.
"sayang, emangnya nanti kamu ingin punya anak berapa?" tanya Shesa sembari mengerutkan keningnya.
"sepuluh" jawab Vano menggoda.
"sepuluh? emangnya aku mesin pencetak anak!" jawab Shesa sembari memutar bola matanya.
Vano terkekeh melihat tingkah lucu istrinya.
"kenapa?. ada yang lucu!" tanya Shesa yang melihat Vano sedang tertawa kecil.
"jangan cemberut dong, aku bukan pria yang memaksakan istriku untuk melahirkan banyak anak, aku akan menunggu kesiapan dirimu untuk melahirkan buah hati kita lagi" ucap Vano sembari menapuk kedua pipi Shesa yang terlihat chubby itu.
Shesa tersenyum, tanpa sengaja ia melihat kearah jam dinding.
"sayang, ayo kita pergi, ini sudah sangat sore" ucap Shesa sembari merapikan dasi Vano.
"baiklah sayang, tapi aku minta jangan lama-lama, aku masih sangat mengkhawatirkanmu dekat dengan gadis itu" pinta Vano.
"iya... kamu jangan khawatir" jawab Shesa.
akhirnya mereka berdua pergi kerumah sakit.
********
Dirumah sakit
Vano dan Shesa mulai menuju resepsionis, mereka menanyakan dimana pasien atas nama Laura Anastasia dirawat.
"permisi suster, saya mau tanya, pasien atas nama Laura Anastasia yang masuk tadi siang, dirawat di kamar mana ya?" tanya Shesa
"Laura Anastasia, pasien dengan keluhan pendarahan itu!" seru suster.
"iya betul suster!" jawab Shesa cepat
"oh... dia dirawat di kamar Anggrek nomor 2" ucap suster sembari menunjukkan arah yang dimaksud.
Vano dan Shesa mengikuti arah telunjuk sang suster, dan merekapun mengerti.
Vano dan Shesa berjalan disepanjang koridor rumah sakit, sambil mencari kamar Anggrek nomor 2 tempat Laura dirawat.
tak berselang lama Vano dan Shesa menemukan kamar tersebut.
"sayang, itu kamarnya" ucap Shesa sedikit lega, akhirnya ia bisa mengetahui keadaan Laura sekarang.
Mereka berdua tiba didepan kamar dimana Laura sedang dirawat, Shesa melihat Laura dari jendela, ada perasaan sedih saat ia melihat gadis itu terbaring lemah tanpa ada seorangpun yang mendampinginya.
seorang dokter baru saja keluar dari kamar Laura, dan tak lain adalah dokter Erick, teman Vano juga.
"dokter Erick" panggil Shesa saat tahu dokter Erick yang menangani Laura, dokter Erick menoleh, ia sangat terkejut kenapa Vano dan istrinya datang kerumah sakit.
"hei kalian, ada apa kalian datang kerumah sakit, apa semua baik-baik saja, hei bro semua baik-baik saja kan?" tanya dokter Erick sembari menghampiri Vano.
"iya...kami baik-baik saja" jawab Vano santai.
"lantas?" tanya dokter Erick
"kau menangani gadis itu?" tanya Vano sembari menunjuk ke arah Laura yang sedang terbaring.
"iya...dia pasien dengan keluhan pendarahan yang cukup serius, apa kalian mengenal gadis itu?" tanya dokter Erick.
"dia teman saya dok" sahut Shesa
"ooh... benarkah?" jawabnya
"bagaimana keadaannya dok, apa dia baik-baik saja?" tanya Shesa penasaran.
dokter Erick menghela nafasnya, ia sedikit berat menyampaikan berita kepada Shesa.
"dokter, apa yang terjadi, kenapa dokter diam saja?" tanya Shesa semakin penasaran.
"kondisi gadis itu cukup serius, dia harus segera dioperasi, karena rahimnya mulai terjadi infeksi akibat obat peluruh kandungan yang diminumnya melibihi dosis, jika tidak segera dioperasi, nyawanya akan terancam" ucap dokter Erick menyesal.
Shesa mendengarkan dokter Erick penuh seksama, keningnya berkerut, hatinya mulai luluh, Laura memang sudah mencoba berbuat jahat kepadanya, namun hati nuraninya berkata, ia harus menolong gadis itu.
Shesa menatap Vano, ia ingin meminta izin untuk menemui Laura didalam kamar.
"sayang, aku ingin menemui Laura, apa boleh aku masuk kedalam?" ucap Shesa penuh harapan.
Vano sejenak terdiam mendengar permintaan istrinya itu, ia masih sangat khawatir jika gadis itu masih mencoba untuk mencelakainya lagi.
"sayang, kok malah diem, kamu jangan khawatir, Laura tidak akan bisa berbuat apa-apa, kamu lihat sendiri keadaannya, dia sangat lemah" ucap Shesa berusaha menenangkan suaminya.
"baiklah, tapi aku ikut masuk kedalam" ucap Vano memandang wajah Shesa.
"makasih sayang" bibir Shesa tersenyum manis, nampak lesung pipi itu menghiasi wajahnya yang ayu.
Vano dan Shesa mulai masuk kedalam ruangan dimana Laura sedang terbaring disana, Vano merangkul tubuh Shesa, dilihatnya seorang gadis yang tengah terbaring lemah dengan selang yang tersambung lewat hidungnya, dan cairan darah yang ditransfusikan lewat selang yang mengalir ke tubuh gadis berparas manis itu.
Shesa mulai mendekati Laura, Vano terus bersiaga di belakang Shesa, hingga akhirnya Shesa menyebut nama Laura pelan.
"Laura"
perlahan mata itu mulai terbuka sedikit demi sedikit, tampak masih samar-samar pandangannya, Laura mendengar seseorang menyebut namanya, kemudian ia menoleh kearah sumber suara.
"Shesa"
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥