
keesokan harinya...
Vano berangkat ke kantor lebih pagi hari ini, karena ia harus menyelesaikan beberapa urusan yang masih tertunda.
"aku berangkat dulu sayang, apa kamu masih pusing...hm" tanya Vano sembari melingkarkan tangannya pada pinggang Shesa, ia menatap wajah Shesa yang hari itu masih nampak pucat.
Shesa menggelengkan kepalanya pelan.
"kau yakin?, sayang...sebaiknya kamu tidak usah kesekolah dulu, aku masih sangat mengkhawatirkan keadaanmu" pinta Vano agar Shesa tidak masuk kesekolah dulu.
"kamu jangan berlebihan gitu dong, ini hanya capek biasa, aku tidak mau terlalu dimanjakan, nanti keterusan, aku tahu kau sangat mengkhawatirkanku, tapi aku bisa jaga diri kok, nyonya Vano bukanlah seorang wanita yang lemah" seru Shesa sembari tersenyum pada Vano yang selalu membuatnya terpesona.
" sayang, kamu memang benar-benar gadis yang kuat, aku semakin mencintaimu" ucap Vano dengan tatapan mesranya, Vano mencium bibir Shesa dengan lembut, keduanya terpejam menikmati sentuhan mesra yang membuat mereka terlupa bahwa hari ini, Vano harus segera berangkat.
sentuhan itu mulai turun di leher Shesa, sehingga membuat Shesa menyentuh wajah Vano dan mengacak rambutnya yang sudah tertata rapi, karena gerakan tangan Shesa yang memegang wajah Vano, ia tak sengaja melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 6 tepat, ia mencoba melepaskan pagutan Vano dari tubuhnya.
"mmppphh... sayang sudah dong, ayo berangkat...ah..ah..." seru Shesa dengan suara berat dan mend*sah, Vano tidak menghiraukan ucapan Shesa, karena ia terlalu dalam menikmati aktivitasnya hari ini.
karena Vano tak juga melepaskannya, akhirnya Shesa terpaksa melepaskan pagutan mereka dengan cepat, meskipun sebenarnya ia juga menginginkan hal itu.
"sayang, lepasin" ucap Shesa sembari mendorong tubuh Vano untuk menjauhi dirinya, Vano terkejut dengan apa yang dilakukan Shesa.
"ada apa sayang!" tanya Vano sangat penasaran sembari memperhatikan Shesa merapikan bajunya yang hampir terkoyak akibat ulahnya.
setelah Shesa selesai merapikan bajunya yang tersingkap, ia mendekati Vano, lantas mengencangkan kembali ikatan dasi yang sudah mengendur.
"jangan sekarang, kau harus berangkat, lihat jamnya sekarang" seru Shesa sembari tersenyum manis, dan Vanopun melihat apa yang dikatakan istrinya.
"hm... baiklah istriku sayang, aku ke kantor dulu, kalau terjadi apa-apa, cepat hubungi aku" ucap Vano sembari mencium pipi Shesa.
"kau tidak sarapan dulu?" tanya Shesa pada Vano.
"nanti saja di kantor, ini masih terlalu pagi untuk menikmati makanan, aku lebih suka menikmati bibirmu yang indah, lebih manis dan nikmat" jawab Vano sembari memegang bibir Shesa yang mungil.
"ah... sudah ayo berangkat, jangan menggodaku terus" seru Shesa sembari mendorong tubuh Vano untuk keluar dari kamar mereka.
"iya ...iya... bawel, awas saja nanti aku hukum kamu" ucap Vano sembari mencubit hidung Shesa yang mancung, kemudian Vano keluar dari kamar mereka dengan senyum renyahnya, dan ia langsung berangkat ke kantor.
Shesa juga bersiap untuk berangkat ke sekolah, setelah ia mengambil tasnya, lantas ia mulai turun untuk sarapan bersama nenek.
"pagi nenek" sapa Shesa sembari mencium pipi nenek.
"pagi sayang, bagaimana keadaanmu?" tanya nenek sembari menatap Shesa.
"baik nek" jawab Shesa tersenyum.
kemudian Shesa mulai melahap makanan yang sudah disediakan, nenek pun juga ikut menikmati makanan bersama, namun tiba-tiba ditengah-tengah Shesa makan ia merasa sangat mual dan ingin muntah.
"menantu, ada apa? apa yang terjadi padamu?" tanya nenek sembari melihat Shesa yang sedang ingin muntah, tanpa pikir panjang Shesa langsung pergi ke kamar mandi, dan ia memuntahkan makanan yang sudah masuk kedalam perutnya.
"Hoek...Hoek... Hoek" suara Shesa dari dalam kamar mandi, entah kenapa perutnya seperti di aduk-aduk, setelah beberapa saat ia keluar dari kamar mandi, nenek yang sudah menunggunya di luar sangat cemas dengan keadaan Shesa.
"sayang, kau tidak apa-apa, nenek senang sekali akhirnya keinginan nenek akan terwujud"
"ya ampun nenek, aku sakit kok malah senang sih" gumamnya dalam hati,
"maksud nenek apa?" tanya Shesa yang belum faham maksud nenek.
"terimakasih sayang kamu sudah memenuhi keinginan nenek, nenek akan mendapatkan seorang cicit, ah... nenek senang sekali, nenek akan mengabarkan kabar bahagia ini pada Hendra dan teman-teman nenek" seru Nenek kegirangan, tanpa memberitahukan Shesa apa yang dimaksudnya, nenek langsung pergi meninggalkan Shesa yang masih tanda tanya.
"maksud nenek apa sih? cicit? oh my God" Shesa membulatkan matanya sempurna saat nenek mengingatkannya tentang seorang cicit, lantas ia menyandarkan tubuhnya pada dinding, ia baru menyadari bahwa apa yang terjadi pada dirinya belakangan ini, mungkin saja itu tanda-tanda kehamilan.
******
disekolah
seperti biasa Shesa masuk kedalam kelas yang disambut dengan wajah sinis Mita dan Nabila, namun Shesa tak menghiraukan keduanya, daripada dia harus berurusan lagi sama mereka berdua.
"Shesa gimana keadaanmu?" tanya Monic yang duduk disampingnya.
"baik, seperti yang kamu lihat sekarang Mon?" ucap Shesa tersenyum.
"syukurlah, aku ikut senang" seru Monic tersenyum juga.
pagi ini Bu Vania yang mengajar pada jam pelajaran biologi
"baik semuanya, sekarang buka buku kalian pada halaman sepuluh bab tentang sistem reproduksi manusia" seru Bu Vania kepada seluruh siswa, dan semua siswa mengikuti perintah Bu Vania.
"baiklah ibu akan menjelaskan tentang apa itu sistem reproduksi pada manusia" seru Bu Vania.
seluruh siswa mengikuti pelajaran biologi dengan hikmat, tak terkecuali Shesa yang memperlihatkan lebih detail tentang apa yang disampaikan oleh Bu Vania.
"baiklah anak-anak, perlu kalian ketahui jika sel telur yang sudah matang berhasil dibuahi oleh sel ****** laki-laki, maka besar kemungkinan akan terjadi kehamilan, namun jika tidak berhasil dibuahi maka tidak akan bisa terjadi proses kehamilan, dan setiap bulannya akan meluruh yang biasa disebut haid, apa kalian paham?" seru Bu Vania menjelaskan, kemudian salah seorang siswa bertanya.
"bagaimana ciri-ciri orang hamil itu Bu?"
"oke... saya suka pertanyaan itu, ciri-ciri wanita yang sedang hamil adalah, pertama ia tidak akan mendapati haid pada bulan selanjutnya setelah proses pembuahan, kemudian akan terjadi perubahan hormonal pada tubuh wanita itu, kadang disertai mual dan muntah, badan terasa capek dan lemah, mood yang kadang berubah-ubah, dan masih banyak lagi tanda-tandanya, karena setiap wanita itu berbeda-beda" ucap Bu Vania dengan lugas.
Shesa benar-benar memperhatikan apa yang dikatakan guru biologi nya itu, namun tiba-tiba ia teringat kapan terakhir ia mendapati haid, kemudian ia teringat saat haid terakhir adalah seminggu sebelum ia menikah dengan Vano, sehingga saat Shesa melakukan hubungan dengan Vano, ia sudah dalam masa subur.
"oh...tidak" seru Shesa lirih, sehingga membuat Monic menoleh pada sahabatnya yang terlihat memikirkan sesuatu itu.
"Shesa kamu kenapa?" tanya Monic penasaran
"aku belum mendapat haid bulan ini" jawab Shesa lirih
BERSAMBUNG
,π₯π₯π₯π₯
MAAF UNTUK READERS SETIAKU, KEMARIN AUTHOR AGAK LAMBAT UPDATE NYA, DIKARENAKAN SI DEDE MINTA DITEMENIN MAMANYA JALAN-JALAN, JADI KEMARIN AUTHOR MOMONG DULU YA SAYANG βΊοΈ
NAMUN AUTHOR AKAN BERUSAHA UPDATE TERUS SETIAP HARI, JANGAN KHAWATIR AUTHOR AKAN SELALU BERUSAHA MEMENUHI KEINGINAN READERS TERSAYANG β€οΈβ€οΈ
TERIMAKASIH KASIH ππ