
Setelah tiba di kota Sungai Perak, Chi Jingzi yang adalah kakak kedua dari Qingsu Daode dan Huanglong segera pergi untuk menemui penguasa kota tersebut.
Saat memasuki aula utama balai kota Sungai Perak, pria sepuh itu langsung di sambut oleh prajurit yang berjaga dan segera melontarkan pertanyaan.
"Siapa anda? Apakah ada yang bisa kami bantu?" Dengan sikap yang ramah.
Sikap mereka itu berubah drastis karena baru saja menghadapi hal yang buruk akibat perbuatan kelompok Xue Zhao.
"Aku ingin bertemu dengan penguasa kalian, karena ada hal penting yang ingin aku tanyakan kepadanya." Jawab Chi Jingzi.
"Apakah penguasa kami mengenal senior?" Tanya prajurit itu lagi.
"Katakan saja padanya bahwa saudara seperguruan leluhur agung kalian ingin menemuinya." Jawab Chi Jingzi lagi.
"Mohon maaf atas kelancangan kami yang tidak menyambut dengan baik kedatangan leluhur!" Tutur kedua prajurit yang berjaga sambil memberikan sikap hormat.
"Silahkan masuk!" Lanjut salah satu prajurit.
"Terima kasih karena telah mempersilahkan ku untuk masuk." Ucap Chi Jingzi dan segera melangkahkan kakinya untuk memasuki aula utama kota Sungai Perak.
Seorang prajurit segera mengantarkan Chi Jingzi dan langsung berkata saat sudah berada di hadapan penguasa kota.
"Penguasa, saudara seperguruan leluhur agung Qingsu Daode ingin menemui anda."
Sang penguasa kota Sungai Perak langsung berdiri dari kursi kebesarannya dan segera menyambut kedatangan Chi Jingzi.
"Hamba memberi hormat kepada leluhur." Ucap penguasa kota dan diikuti juga oleh petinggi yang hadir di dalam aula tersebut.
"Leluhur, ada hal penting apa sehingga datang menemui hamba?" Lanjut penguasa kota.
"Kedatangan ku ini hanya untuk menanyakan tentang berita yang baru saja aku dengar dari dua orang pendekar yang berasal dari markas suku Hushi bagian timur...apakah kalian mengetahuinya juga?"
"Iya leluhur, kami memang mengetahuinya serta kami juga telah melihat bahwa leluhur Huanglong sedang dalam keadaan terluka."
"Mereka telah pergi ke gunung Kongtong untuk menemui guru leluhur agar bisa menyembuhkan luka yang dialami oleh leluhur Huanglong."
"Selebihnya kami tidak mengetahui apa yang telah terjadi." Tutup penguasa kota Sungai Perak.
"Hmmmphh, sepertinya apa yang kedua pendekar itu katakan, memang benar adanya, aku harus kembali ke gunung Kongtong untuk mencari jejak keberadaan mereka." Pikir Chi Jingzi.
"Terima kasih atas informasinya...aku pergi dulu." Ucap Chi Jingzi dan segera menghilang dari pandangan semua orang yang berada di dalam ruangan itu.
Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi dirinya untuk bisa tiba lagi digunung Kongtong dan bertemu dengan Ming Chuan dan Hong Ye.
Kedua sosok yang berasal dari kota Lo Buan itu masih tetap berada digunung Kongtong untuk menunggu kedatangan Chi Jingzi.
"Ternyata, apa yang kalian katakan itu benar adanya, untuk itu saat ini aku akan mencoba untuk mencari jejak keberadaan mereka digunung ini." Tutur Chi Jingzi setelah bertemu lagi dengan kedua sosok tersebut.
"Senior, apakah mereka telah datang ke gunung Kongtong ini?" Tanya Ming Chuan.
Chi Jingzi hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Ming Chuan.
Setelah itu ia segera bermeditasi untuk mencari jejak keberadaan yang telah ditinggalkan oleh Qingsu Daode dan Huanglong.
Beberapa saat kemudian, akhirnya Chi Jingzi bisa menemukan jejak keberadaan dari kedua saudara seperguruannya itu.
Chi Jingzi segera menyelesaikan tindakannya dan langsung berdiri untuk menuju ke tempat dimana jejak keberadaan mereka berada.
Melihat gerakan Chi Jingzi, Ming Chuan dan Hong Ye segera melesat mengikuti kearah perginya pria sepuh itu.
Saat tiba ditempat dimana Chi Jingzi berada, Ming Chuan dan Hong Ye hanya bisa melihat pria sepuh itu sedang menatap sebuah gundukan tanah dengan papan yang bertuliskan nama Huanglong.
Sedangkan disebelah gundukan tanah itu, terlihat ada gundukan tanah yang lain dengan sebuah nisan yang bertuliskan nama Cui Zhiyu.
"Leluhur Huanglong! Mengapa kalian berdua bisa seperti ini?" Lanjut Ming Chuan menatap papan yang bertuliskan nama Huanglong.
Sedangkan Chi Jingzi hanya bisa terdiam sambil menatap papan yang bertuliskan nama Huanglong namun dengan raut wajah yang terlihat penuh dengan kemarahan.
"Aku akan pergi ke kota Yin...kalian berdua harus ikut bersamaku untuk bisa menunjukkan sosok pemuda itu." Ucap Chi Jingzi pelan.
"Senior, aku bersedia untuk kau bawa ke kota Yin, akan tetapi menurutku, senior harus mempersiapkan terlebih dahulu suatu rencana yang sangat matang, sebab pemuda itu tidak sendiri."
"Pemuda itu dibantu oleh seorang wanita yang berasal dari bangsa peri dengan kemampuan yang bisa mengimbangi kekuatan seorang pendekar diranah Xian."
"Tidak itu saja, akan tetapi ada juga beberapa siluman yang membantunya serta memiliki kekuatan yang tidak kalah hebatnya dengan wanita yang berasal dari bangsa peri tersebut."
Ming Chuan terus memberitahukan kepada Chi Jingzi tentang kekuatan yang kelompok Xue Yunlei miliki.
"Sepertinya itu tidak sesederhana yang aku pikirkan...jika dengan kemampuanku sendiri, itu sama seperti hanya mengantarkan nyawaku saja kepada mereka." Pikir Chi Jingzi.
"Masalah ini harus aku beritahukan kepada saudara yang lain, agar mereka juga bisa membantuku untuk membalaskan dendam saudara Huanglong." Lanjutnya.
"Tetapi bagaimana dengan kabar saudara Qingsu Daode? Apakah saat ini dia dalam keadaan baik-baik saja?"
Chi Jingzi kini mulai memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi dan yang dialami oleh Qingsu Daode setelah mengetahui kekuatan kelompok Xue Yunlei.
"Kalian berdua ayo ikut aku untuk bisa menjelaskan kronologi dari awal tentang kehancuran markas suku Hushi bagian timur kepada saudara seperguruan ku yang lain." Tutur Chi Jingzi dan segera membuka sedikit celah dinding formasi pelindung di gunung Kongtong itu.
Ming Chuan dan Hong Ye segera mengikuti pria sepuh itu dari belakang.
Untuk bisa bertemu dengan saudara seperguruannya yang lain, Chi Jingzi membutuhkan waktu yang tidak singkat, sebab sembilan saudara seperguruannya saat itu sedang berkultivasi untuk bisa meningkatkan basis kultivasi mereka untuk bisa menjadi seorang dewa sejati.
Sedangkan gurunya kini sudah menjadi seorang dewa sejati yang tidak bisa turun tangan terhadap masalah bangsa manusia.
Sehingga untuk bisa menghadapi kelompok Xue Yunlei, Chi Jingzi berharap bisa mendapatkan bantuan dari saudara seperguruannya yang lain.
***
Di wilayah hutan ilusi, kini Xue Yunlei masih terus mengolah energi milik Roh Dewa yang dia serap untuk menjadi energi qi miliknya.
Bao Meng Ling terus menerus memanggil Huaxianzi agar bisa melepaskannya dari penjara yang diciptakan oleh bangsa peri dan bangsa siluman.
"Huaxianzi, kau mengenal siapa aku sebenarnya, untuk itu aku memintamu untuk melepaskanku dari tempat ini, jika tidak, kau pasti akan menyesalinya." Tutur Bao Meng Ling sedikit mengancam.
"Nona Bao Meng Ling, sebelum aku mendapatkan perintah dari penguasa, aku tidak akan bisa untuk melepaskanmu dari tempat itu." Balas Huaxianzi.
"Huaxianzi, setidaknya kau harus mengingat tentang kedekatan kita sebelumnya agar supaya kau bisa melepaskan diriku dari sini." Lanjut Bao Meng Ling.
"Nona Bao, aku tidak pernah melupakan tentang kedekatan kita sebelumnya, namun situasi saat ini bukan dibawah kendali ku, sehingga kau harus menunggu sampai penguasa selesai berkultivasi." Terang Huaxianzi.
Bao Meng Ling hanya bisa menggerutu setelah mendengar perkataan Huaxianzi.
Dia tidak menyangka jika jenderal peri itu sangat memegang teguh kepercayaan yang Xue Yunlei berikan kepadanya.
Di tempat yang tidak jauh dari tempat dimana Bao Meng Ling ditahan, dua sosok yang adalah Du Tiansang dan Raja Iblis sedang membahas nasib mereka berdua.
Meskipun jarak keduanya saling berdekatan, namun keduanya dikurung di tempat yang berbeda, sehingga hanya bisa saling berkomunikasi saat tidak ada penjaga didekat keduanya.
"Saudara Du, sepertinya nasib kita akan berakhir dengan buruk, karena pasti pemuda itu akan menyerap kultivasi kita berdua." Tutur Raja Iblis.
"Aku juga hanya bisa pasrah dengan apa yang kita alami saat ini...aku tidak menyangka kekuatan yang kita miliki, masih bisa dikalahkan oleh mereka." Balas Du Tiansang.
Hal yang sama juga dilakukan oleh para pendekar yang saat itu sedang ditawan oleh pasukan bangsa peri dan pasukan bangsa siluman.
~Bersambung~