PENDEKAR AWAN MERAH

PENDEKAR AWAN MERAH
Bab 208. Kematian Dua Pendekar Dewa


Xue Yunlei tidak ingin menggunakan naga logam api untuk menghadapi Dui Buqi, sebab teknik tersebut sangat menguras energi qi miliknya, sehingga pemuda itu hanya menggunakan naga kayu untuk menyerang Dui Buqi.


Dui Buqi menjadi kelabakan menghadapi naga kayu, sebab empat cakar, kibasan ekornya hingga semburan pasak yang besar dan tajam dari mulutnya secara bergantian terus menerjang kearah tubuhnya.


"Sial...makhluk ini benar-benar membuatku tidak memiliki kesempatan untuk bisa membalas serangannya...apa yang harus aku lakukan?." Dui Buqi menggerutu sambil menghindari serangan naga kayu.


Xue Yunlei tetap santai mengendalikan pergerakan naga kayu itu sambil mempersiapkan trik lainnya untuk membunuh Dui Buqi jika peluang itu sudah tiba.


Dan benar saja, saat posisi tubuh Dui Buqi membelakangi Xue Yunlei karena menghindari serangan naga kayu, tubuh Xue Yunlei langsung menghilang dari tempatnya semula dan muncul dibelakang tubuh pendekar dewa surgawi awal itu.


Dengan cepat Xue Yunlei segera menarik pedang pusaka miliknya dan langsung menebas tubuh Dui Buqi dari belakang.


Dui Buqi tidak sempat menyadari akan apa yang dilakukan oleh Xue Yunlei karena terlalu sibuk menghindari serangan naga kayu.


Slaaassshhh


Suara pedang pusaka milik Xue Yunlei melewati tubuh Dui Buqi dan membuatnya terpisah menjadi dua bagian.


Dengan cepat Xue Yunlei segera menggunakan teknik terlarang yang dia kuasai untuk menyerap energi qi yang dimiliki oleh Dui Buqi sebelum menghilang dari tubuh pendekar dewa surgawi awal itu.


Tie Xiao yang melihat keadaan rekannya yang sudah berada didalam genggaman tangan Xue Yunlei hanya bisa menatapnya tanpa bisa melakukan apapun selain berteriak.


"Saudara Dui Buqi...!"


Saat perhatiannya terpecah kearah rekannya, Huaxianzi, Gai Bian dan juga Zhuan Zhu segera memanfaatkan situasi itu untuk menyerang titik lemah pendekar dewa langit puncak itu.


Booommm


Bunyi ledakan langsung terdengar saat serangan tiga lawannya mengenai tubuh Tie Xiao.


Tubuh pria sepuh itu langsung terhempas sejauh seratus meter akubat dorongan serangan Huaxianzi, Zhuan Zhu dan juga Gai Bian.


Tie Xiao yang sudah terluka segera menghilang dari tempatnya terbaring karena melarikan diri dari ketiga lawannya.


Huaxianzi dan dua sosok yang lain segera pergi untuk melihat keadaan Tie Xiao. Namun sesampainya mereka ditempat pria sepuh itu, mereka tidak menemukan tubuhnya.


"Dimana pria busuk itu? Apakah dia telah melarikan diri?" Ucap Huaxianzi.


"Aku akan mengejarnya..." Sambung Gai Bian.


"Tunggu! Jangan bertindak gegabah..." Huaxianzi segera mencegah keinginan Gai Bian.


"Iya, setiap tindakan yang akan kita lakukan harus bertanya terlebih dahulu kepada pendekar Xue." Sambung Zhuan Zhu.


Xue Yunlei pun segera muncul disamping mereka dengan basis kultivasi sebagai seorang pendekar dewa bumi puncak meskipun pedang pusaka miliknya sudah kembali menyatu dengan tubuhnya.


Xue Yunlei telah selesai dengan apa yang dia lakukan terhadap Dui Buqi.


"Dimana lawan kalian?." Tanya Xue Yunlei penasaran.


"Penguasa, sepertinya dia telah melarikan diri...apakah kami harus mengejarnya?." Tanya Gai Bian bersemangat.


"Tidak perlu...ayo kita cepat selesaikan pertarungan ini." Jawab Xue Yunlei dan segera melesat kearah dimana Yao Laohu dan Langren berada.


Tubuh Zhi Yi kini sudah terlihat penuh dengan luka akibat terkena cakar milik kedua raja siluman yang mengeroyoknya.


Kedua raja siluman itu belum bisa mencengkeram leher pria sepuh itu dengan gigitan mereka berdua, sehingga pria sepuh itu masih bisa melakukan perlawanan meski hanya sesekali karena terus menghindari serangan kedua makhluk itu.


Saat Xue Yunlei dan yang lainnya tiba, dengan cepat pemuda itu kembali meminjam kekuatan pedang pusaka miliknya untuk meningkatkan basis kultivasinya dan segera melesat melepaskan tinju miliknya yang telah dibaluti petir dan api berwarna hitam.


Duuuaaarrr


Tinju Xue Yunlei langsung mendarat di punggung Zhi Yi dan membuat tubuh pria sepuh itu terlempar hingga menabrak sebuah batu besar dan menghancurkannya.


Tidak memberikan kesempatan bagi Zhi Yi untuk bisa bangkit berdiri, Xue Yunlei kini sudah berdiri disamping pria sepuh itu dan segera menggunakan teknik terlarang untuk menyerap energi qi milik pria sepuh itu.


Setelah selesai menyerap energi qi milik Zhi Yi, Xue Yunlei dengan cepat bermeditasi untuk mengolah kedua energi qi milik kedua pendekar sekte Gunung Kepala Putih untuk menjadi energi qi miliknya.


Sedangkan tubuh Zhi Yi kini hanya terkulai lemas ditanah karena kehilangan seluruh kekuatannya.


"Bunuh saja aku! Bunuh saja aku!." Teriak Zhi Yi.


Hal itu karena bagi seorang pendekar yang sudah berusia ratusan tahun tidak ada gunanya lagi untuk hidup, sebab dia telah kehilangan kultivasinya selama ratusan tahun. Dan memang tidak lama lagi dirinya akan kehilangan nyawa dengan sendirinya.


Namun Zhi Yi tidak ingin merasakan penderitaan sebelum dia kehilangan nyawanya.


Untuk itu dia meminta mereka untuk segera mengakhiri hidupnya agar tidak merasakan penderitaan.


"Baiklah, jika itu yang kau inginkan, aku akan mengabulkannya." Ucap Zhuan Zhu sambil mengayunkan tombak ditangannyaditangannya dan menusuk dada kiri Zhi Yi.


Tubuh pria sepuh itu langsung terjatuh ke tanah dan sudah tidak bernyawa lagi.


Mereka berlima kini sedang menunggu Xue Yunlei selesai mengolah energi qi dari inti jiwa kedua pendekar dari sekte Gunung Kepala Putih.


Setelah tiga jam berlalu, akhirnya ledakan pun terjadi yang menandakan jika basis kultivasi Xue Yunlei kini telah meningkat menjadi pendekar dewa langit awal.


"Penguasa, selamat! Karena basis kultivasi anda telah meningkat." Ucap Yao Laohu.


Empat sosok yang lain juga memberikan selamat kepada Xue Yunlei karena telah meningkatkan basis kultivasinya.


Pemuda itu hanya tersenyum menanggapi setiap ucapan selamat yang diberikan oleh para bawahannya.


"Sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini agar Raja Iblis tidak menemukan kita disini." Ucap Xue Yunlei.


"Baik penguasa!." Balas kelima bawahannya.


Xue Yunlei segera naik ke punggung Yao Laohu diikuti oleh Huaxianzi dan Zhuan Zhu ke punggung Gai Bian dan Langren.


Mereka pun segera bergegas pergi meninggalkan pegunungan tersebut dan berlari menuju ke arah barat.


Setelah beberapa waktu berlari kembali ke kota Rehe, Tie Xiao akhirnya bisa tiba di kota itu dan segera menuju ke balai kota untuk melaporkan kepada Raja Iblis mengenai apa yang mereka alami.


Pria sepuh itu segera dasambut oleh para petinggi sekte Gunung Kepala Putih dengan tatapan yang penuh pertanyaan.


Tie Xiao langsung bersujud dan memberi hormat kepada sang raja Iblis "Tie Xiao memberi hormat kepada leluhur agung." Dengan perasaan yang takut.


"Apakah kalian telah membunuh pemuda itu?." Pertanyaan yang keluar dari mulut sang leluhur agung dengan tatapan yang tajam.


"Mohon ampun...kami tidak bisa membunuh pemuda itu, sebab dirinya sudah bersama dengan lima sosok lainnya." Jawab Tie Xiao dengan gemetar.


"Saat aku melarikan diri, saudara Dui Buqi telah kehilangan nyawanya..." Lanjut Tie Xiao.


"Apa katamu? Dui Buqi telah terbunuh? Apakah pemuda itu yang telah membunuhnya?." Raja Iblis memotong penyampaian Tie Xiao dan langsung melontarkan pertanyaan.


"Iya leluhur, pemuda itu yang membunuh saudara Dui Buqi." Jawab Tie Xiao.


"Terus bagaimana dengan Zhi Yi?." Tanya Raja Iblis lagi.


"Menurut yang aku tahu, saudara Zhi Yi sudah terluka karena terkena serangan Naga kayu milik pemuda itu...dan aku melihat siluman harimau serta siluman serigala sedang bertarung dengannya." Jawab Tie Xiao dengan gemetar.


"Jika sudah seperti itu, menurutku Zhi Yi tidak akan bertahan lebih lama lagi saat pemuda itu membantu kedua siluman tersebut." Gumam Raja Iblis.


"Ternyata aku telah salah memperhitungkan situasi yang akan kalian hadapi...aku pikir lima sosok yang lain tidak akan bersama dengan pemuda itu, sehingga kalian bertiga bisa dengan mudah untuk membunuhnya." Ucap Raja Iblis dengan hati yang sedih.


"Ayo kita pergi untuk membunuh mereka...kita akan mencari mereka di seluruh wilayah negara Xin, pasti mereka berasal dari sana." Ucap sang Raja Iblis sambil berdiri dan berjalan keluar dari aula utama balai kota Rehe dan diikuti oleh para bawahannya.


~Bersambung~