PENDEKAR AWAN MERAH

PENDEKAR AWAN MERAH
Bab 168. Kehilangan Kultivasi


Mendengar perkataan Xue Yunlei, akhirnya pria tua itu segera berdiri.


"Terima kasih atas kebaikan ketua Xue." Ucap Ye Tian dan diikuti juga oleh anggota sektenya.


"Sudahlah, aku tidak ingin berbasa-basi lagi, sebab saat ini aku ingin secepatnya bisa menghukum putra Li Xin yang telah menjadi otak dari tindakan yang dilakukan oleh kelompok perampok ini."


"Dan jika ada satu orang pun yang ingin menghalangi niatku, aku juga tidak akan memberikan waktu sedikit pun untuk bisa menyesali tindakannya."


"Ketua Xue, tolong ampuni putraku, dia tidak tahu apa yang telah dia lakukan." Ucap Li Xin sambil bersujud didepan Xue Yunlei.


"Sebelumnya aku sudah pernah mengampuni dirinya, sehingga kali ini, aku tidak akan memberikan pengampunan lagi kepadanya."


"Ketua Xue, ambil saja nyawaku sebagai gantinya, tetapi aku mohon untuk jangan membunuh putraku." Ucap Li Xin lagi memohon.


"Nyawamu itu tidak pantas menjadi pengganti nyawa putramu itu, sebab meskipun kau memiliki seratus nyawa sekalipun, semuanya itu akan habis untuk menjadi pengganti nyawa putramu itu." Balas Xue Yunlei.


"Ketua Xue, seburuk-buruknya sifat Yan'er, dia itu tetap adalah putraku, sehingga sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang ayah untuk melindunginya."


"Apakah kau hanya memiliki seorang anak?." Tanya Xue Yunlei.


"Aku memiliki dua orang anak dan yang satunya lagi adalah putriku Zhao'er." Jawab Li Xin.


"Apakah sifatnya sama seperti kakaknya?." Tanya Xue Yunlei lagi.


"Tidak, sifatnya berbanding terbalik dengan kakaknya." Jawab Li Xin.


"Jika demikian, kau tidak perlu menyesali jika aku menghukum putra mu itu." Ujar Xue Yunlei.


"Ketua Xue, hukum saja diriku, sebab semua itu karena aku yang telah salah mendidiknya." Li Xin kembali memohon.


"Baiklah, jika kau memintaku untuk menghukum dirimu, aku akan menuruti keinginanmu. Tetapi hukuman yang akan aku berikan ialah kau harus melepaskan jabatanmu sebagai penguasa kota Chang'an ini dan diberikan kepada orang lain."


"Bagaimana? Apakah kau mau menerima hukuman itu?." Tanya Xue Yunlei.


Li Xin kembali terdiam setelah mendengar hukuman yang diinginkan oleh pemuda didepannya itu.


Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya sang penguasa kota angkat bicara.


"Ketua Xue, jabatanku ini diberikan oleh Yang Mulia Li Jie, sehingga hanya dia yang bisa memutuskan untuk memberhentikan diriku sebagai penguasa kota Chang'an ini." Li Xin menjelaskan.


"Oh...jadi seperti itu yah!? Jika demikian, menurutmu apa hukuman yang pantas untuk aku jatuhkan kepadamu?." Tanya Xue Yunlei lagi.


"Ketua Xue, aku tidak bisa menentukan hukuman yang pantas bagi untuk ku terima sehingga bisa membuat hati anda merasa setimpal dengan perbuatan putraku." Balas Li Xin.


Semua yang ada ditempat itu hanya bisa menatap sikap Li Xin yang terus memohon pengampunan dari Xue Yunlei atas tindakan putranya.


Kini tidak ada yang berani untuk menghentikan tindakan Xue Yunlei itu, sebab mereka sudah mengetahui kekuatannya.


"Jika kau tidak bisa mengatakan, baiklah aku sendiri akan menentukan hukuman yang akan aku berikan kepadamu." Ucap Xue Yunlei sambil menempelkan telapak tangannya diatas kepala Li Xin.


Dalam beberapa detik pemuda itu telah menyerap kultivasi yang dimiliki oleh sang penguasa kota.


Sehingga kini pria tua itu sudah tidak lagi memiliki energi qi sedikitpun didalam ruang dantiannya.


Tindakan Xue Yunlei itu membuat semua orang yang melihatnya langsung terkejut karena teknik tersebut sangat dilarang di dunia persilatan.


Dan teknik itu telah dimiliki oleh Xue Yunlei dari penguasa kota Yungho yaitu Ju Yuanpei.


Setelah selesai menyerap kultivasi yang dimiliki oleh Li Xin, Xue Yunlei pun berkata.


"Apakah kau merasa keberatan dengan apa yang aku lakukan?."


"Tidak, aku tidak merasa keberatan dengan apa yang Ketua Xue lakukan terhadap diriku." Jawab Li Xin.


"Apa yang aku lakukan ini sebagai peringatan bagimu agar kau bisa mendidik putra mu itu lebih baik lagi untuk kedepannya." Tutur Xue Yunlei.


Pria itu merasa terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Xue Yunlei terhadap dirinya.


"Ketua Xue, apa yang telah kau masukkan kedalam tubuh ku? Mengapa seperti ada sesuatu yang melilit jantungku?." Tanya Li Xin.


"Itu agar kau akan selalu mengingat diriku sehingga tidak akan menyinggung ku lagi." Jawab Xue Yunlei.


"Dan jika kau atau putramu kembali menyinggung diriku, aku tidak sulit untuk membunuhmu." Lanjut Xue Yunlei.


"Ketua Xue, mulai saat ini aku memastikan putraku dan diriku sendiri tidak akan menyinggung lagi dirimu ataupun orang-orang terdekat mu. Dan mereka akan menjadi tamu kehormatan di kota Chang'an ini."


"Tetapi biarlah apa yang telah ketua Xue Yunlei lakukan kepadaku, aku sudah mengikhlaskan hal itu." Lanjut Li Xin.


"Tetapi mohon ketua Xue melepaskan pelindung kota kami." Tutup Li Xin memohon.


"Baiklah, aku akan melepaskan senior ini." Ucap Xue Yunlei yang langsung melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukannya kepada Li Xin, yaitu melilit jantung pendekar spiritual itu dengan benang sutra emas miliknya.


Setelah melakukan hal itu, Xue Yunlei segera melepaskan totokannya.


Dia tidak mengambil kultivasi milik sang pelindung kota karena keamanan penduduk kota Chang'an berada ditangan mereka.


"Terima kasih atas kebaikan hati ketua Xue, aku pasti akan mengingat kebaikanmu hari ini." Ucap sang pelindung kota.


"Sudahlah, aku yakin hal ini pasti akan selalu diingat oleh senior sampai kapan pun, jadi tidak perlu senior berkata seperti itu kepadaku." Balas Xue Yunlei.


"Dan kalian bertiga, cepat bersihkan kekacauan yang telah terjadi di dalam restoran ini, serta bawa tubuh rekan kalian itu." Ucap Xue Yunlei sambil menunjuk kearah tubuh salah satu rekan mereka yang sudah tidak bernyawa lagi.


Setelah mengatakan hal itu, Xue Yunlei segera pergi keluar kota untuk melepaskan totokannya dan memasukkan benang sutra emas untuk melilit jantung pendekar spiritual yang awalnya dia introgasi.


"Terima kasih tuan atas kebaikannya." Ucap pria itu.


"Apakah kau masih mau melakukan untuk menyinggung anggota organisasi Awan Merah?." Tanya Xue Yunlei.


"Tidak tuan! Aku tidak akan menyinggung anggota organisasi Awan Merah atau pun orang-orang terdekatmu." Jawab pria itu.


"Bagaimana seorang perampok bisa mengetahui jika itu adalah orang terdekatku?." Balas Xue Yunlei.


"Aku pasti akan menanyakan siapa yang mengenal tuan, jika mereka mengenal tuan, kami pasti akan melepaskannya." Jawab pria itu.


"Ha...ha...ha...ha...ha...berarti kau tidak akan berhenti dari pekerjaanmu sebagai seorang perampok?." Xue Yunlei tertawa setelah mendengar jawaban pria itu dan balik bertanya.


"Tuan, hanya itu pekerjaanku, apa lagi yang bisa aku kerjakan." Balas pria itu lagi.


"Kau itu adalah seorang pendekar spiritual, mana mungkin tidak akan mendapatkan pekerjaan? Bagaimana jika kalian bergabung saja di organisasi Awan Merah untuk melakukan pengawalan?." Tutur Xue Yunlei memberikan tawaran.


"Apakah tuan mau menerima kami untuk menjadi bawahanmu?." Tanya pria itu menatap Xue Yunlei tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Iya, aku akan menerima kalian jika kalian benar-benar ingin berubah dan mau menjadi bawahanku." Balas Xue Yunlei untuk meyakinkan pria itu.


"Iya tuan, aku siap menjadi bawahanmu dan akan selalu setia kepadamu serta siap untuk mengorbankan nyawaku demi dirimu." Tutur pria itu sambil bersujud dihadapan Xue Yunlei.


"Silahkan berdiri. Cepat beri hormat kepada tetua Zhao Ning dan juga tetua Wen Liu sebagai senior di organisasi Awan Merah." Perintah Xue Yunlei.


Pria itu pun segera masuk ke dalam restoran Wenchang dan menghadap Zhao Ning serta Wen Liu.


"Peng Reihai memberi hormat kepada senior." Ucapnya sambil menangkupkan kedua kepalan tangannya.


Zhao Ning yang melihat sikap pria itu langsung merasa terkejut karena tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Xue Yunlei sehingga pria itu memberi hormat kepada mereka.


"Senior, saat ini aku sudah menjadi bagian dari organisasi Awan Merah, sebab tuan Xue Yunlei telah menerimaku sebagai anggota baru." Peng Reihai memberikan penjelasan karena melihat Zhao Ning dan yang lainnya merasa bingung dengan tindakannya.


~Bersambung~