
Mendengar nama Zoya, jantung Aneeq seperti berhenti berdetak. Bahunya tiba-tiba merosot, dengan tulang yang terasa lemas semua. "Mommy? Jennie bertemu Mommy? Mommy tidak bicara macam-macam, 'kan?"
"Ck, sial!" umpat Aneeq karena panggilan teleponnya sama sekali tidak diangkat oleh Jennie.
Kini ia berganti mencari nomor ponsel Zoya, ia tidak akan lega, jika belum tahu kejadian yang sebenarnya bagaimana. Benarkah sang ibu bisa menerima Jennie sebagai calon menantunya, dengan status Jennie yang sebagai janda? Atau malah sebaliknya?
Aneeq sudah hampir menekan icon panggilan pada nomor Zoya. Namun, sebelum itu terjadi Caka datang dengan wajah tegang, membuat Aneeq urung untuk menelpon.
"Ada apa, Ca?"
Sebelum bicara, Caka menarik Aneeq untuk menjauh dari semua orang, ia menelan ludahnya, karena sudah dipastikan Aneeq akan marah mendengar penuturannya.
"Maaf, Tuan. Setelah saya melihat CCTV, ternyata Nona Jennie pergi setelah kedatangan Nyonya Zoya, Nyonya masuk ke dalam ruanganmu dan sepertinya mereka terlibat percakapan cukup panjang. Setelah itu Nona Jennie pergi lebih dulu, dia_"
Belum sempat menjelaskan sepenuhnya Aneeq langsung meminta kunci mobil pada Caka. "Cepat berikan padaku!" Ketus Aneeq dengan pikirannya yang semakin terasa kalut.
"Tuan, anda mau ke mana?"
"Cepat berikan padaku!!!" teriak Aneeq marah, hingga mengundang perhatian semua karyawan perusahaannya.
Dia tidak bisa membayangkan apa saja yang dibicarakan oleh Zoya pada Jennie. Mengingat bagaimana sikap sang ibu terhadap para sekretarisnya yang dulu. Semoga saja kali ini Zoya tidak bertindak keterlaluan sampai harus melontarkan kalimat yang menyakitkan.
Aneeq berlari ke arah basemen setelah mendapat kunci dari Caka. Dadanya bergemuruh hebat, entah kenapa perasaannya mulai tidak enak. Ia terus berpikir yang bukan-bukan, membuat konsentrasinya buyar.
"Mommy, please! Kali ini jangan, jangan, jangan," gumam Aneeq disela-sela langkahnya. Berharap apa yang ia takutkan tidak akan pernah terjadi, ini memang salahnya tidak memperkenalkan Jennie pada Zoya, tapi jangan sekarang, di saat hubungan mereka yang sedang renggang.
Ketika Aneeq sampai di basemen, ia langsung melandaskan mobil untuk keluar dari perusahaan. Tempat tujuannya kini adalah apartemen, karena Jennie tidak mungkin bersama ibunya, ada kemungkinan wanita itu pulang ke sana.
Dalam perjalanan itu, Aneeq mencoba menghubungi Elly. Namun, sialnya semua orang seolah tidak ada yang bisa ia andalkan, nomor Elly malah tidak aktif, membuat Aneeq kesulitan untuk mencari informasi tentang Jennie.
"Bangsattt!" umpat Aneeq dengan teriakan yang begitu keras, pria itu bahkan memukul stir menguapkan kekesalannya. "Jen, come on! Jangan buat aku takut." Suara Aneeq mulai memelan nyaris terdengar parau.
Mata Aneeq membeliak lebar, sambil fokus menyetir, ia berusaha membuka sebuah pesan yang dikirimkan dari nomor ponsel Jennie. Sebuah pesan singkat yang berhasil membuat dunianya runtuh seketika.
[An, aku baru sadar, ternyata aku memang mencintaimu. Tapi maaf, aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik yah.]
Aneeq langsung menelan salivanya susah payah. Seperti ada yang menyangkut di tengah tenggorokannya, hingga membuat ia kesulitan bicara. Aneeq tergagap. "Tidak, Jen. Kamu tidak boleh pergi, ini pasti mimpi. Ini pasti mimpi!" Pekik Aneeq tergugu. Ia semakin menaikan kecepatan, ingin segera sampai di apartemen.
Aneeq menggigit kepalan tangannya, tetapi rasanya sungguh mati rasa. Ia juga memikirkan Ziel, di mana pria kecil itu sekarang? Apa masih berada di sekolahnya, atau justru bersama dengan Jennie?
Rambu-rambu lalu lintas tidak dipedulikan lagi oleh pria yang sedang kalut itu. Beberapa kali ia menerobos lampu merah, tetapi bersyukurnya tidak terjadi apa-apa. Yang Aneeq pikirkan hanya bagaimana caranya ia bisa cepat sampai dan menghentikan kekonyolan Jennie.
"Kumohon jangan menyiksaku, Jen. Kamu bilang kamu mencintaiku, kalau kamu memang mencintaiku, kamu tidak akan mungkin pergi," lirih Aneeq dengan bibir yang bergetar.
Hingga tak berapa lama kemudian, akhirnya mobil itu sampai di tempat tujuan. Aneeq kembali berlari untuk sampai di lantai atas. Rasa tak sabar sudah memenuhi dadanya, tanpa ba bi bu ia langsung menekan password dan masuk begitu saja.
"Jen!" teriak Aneeq mencari keberadaan Jennie. Namun, bukannya sang pujaan yang datang, yang ia lihat justru pengasuh calon putranya.
Elly keluar dari dapur setelah menyiapkan makan siang. Melihat Aneeq datang, wanita muda itu langsung menghampiri dan bertanya. "Tuan, ada apa?"
Kedua mata Aneeq langsung menajam. "Di mana Jennie? Apa dia pulang ke mari? Dan apakah kamu menjemput Ziel?"
Ditatap seperti itu membuat Elly merasa takut, ia bisa melihat kecemasan sekaligus kemarahan di mata Aneeq, hingga membuat ia menunduk. "Maaf, Tuan. Nyonya sama sekali belum pulang. Dan untuk Tuan Kecil, Nyonya bilang akan menjemputnya, saya hanya disuruh memasak makan siang saja."
Kening Aneeq mengerut. "Jadi Jennie tidak pulang? Dia juga membawa Ziel bersamanya?"
Elly mengangguk karena memang begitu adanya, dan tepat pada saat itu Aneeq langsung memukul cermin yang menempel di dinding, tempat Jennie biasanya merapihkan penampilannya.
"Kamu jahat, Jen! Kamu jahat!"