
Hatchi!
Deg!
Ken dan Zoya saling tatap. "Suara siapa itu?" Kompak keduanya sambil mengedarkan pandangan ke sudut-sudut ruangan.
Begitu mereka menyadari ada Ziel dan Jennie di belakang pintu, Zoya langsung melebarkan kelopak matanya, ia mendorong dada Ken dan menaikan dress rumahannya yang sudah turun hingga ke lengan.
Ken membuang wajah dengan mulut yang hampir saja mengumpat, bagaimana bisa mereka melupakan dua orang yang bersembunyi di dalam sana?
Jennie tersenyum kikuk ke arah calon ibu mertuanya. Membuat suasana berubah sangat canggung. Zoya merasa malu sendiri, sementara suaminya dengan santai melipir ke arah kamar mandi.
"Jen!" panggil Zoya dengan ragu.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Kami tidak melihat semuanya kok, hanya sedikit," potong Jennie dengan rona merah di pipinya. Sekarang ia tahu, sifat mesuum Aneeq turun dari mana. Ternyata memang ada biangnya.
Zoya tidak dapat berkata-kata, ia hanya bisa menelan ludah. Sedangkan Jennie menarik tangannya dari mata Ziel, pria kecil itu sontak berkedip-kedip lalu menatap sang ibu dan seseorang yang mengaku akan menjadi neneknya secara bergantian.
"Grandma, apa di lehermu ada semut yang menggigit?" tanya bocah tampan itu tiba-tiba, membuat Zoya menatap ke bawah. Wanita beranak lima itu tersenyum sambil mengangkat alis, tak paham dengan pertanyaan yang diajukan oleh Ziel.
"Semut?" Zoya mengulang satu kata yang Ziel sebutkan, ia juga memegang leher, memastikan bahwa tidak ada semut yang menggigitnya. "Tidak ada, tidak ada semut yang menggigit Grandma, Boy."
"Terus kenapa tadi Grandpa memeriksa lehermu?"
Glek! "Aaa itu?"
"Daddy bilang kalau seperti itu artinya sedang mengambil semut, semut nakal yang menggigit Mommy. Iya, 'kan, Mom?" tanya Ziel sambil mendongak, meminta pembenaran pada Jennie.
Krik
Krik
Krik
Kini Jennie yang terlihat gelagapan, mulut Ziel benar-benar berbahaya, kalau tidak disudahi bisa panjang urusannya. Semua kegiatan yang Aneeq dan Jennie kerjakan bisa dibeberkan dengan transparan.
Jennie berjongkok di depan Ziel, dan meminta pria kecil itu untuk diam. "Boy, jangan bicara macam-macam di depan Grandma. Itu semua urusan orang dewasa, Ziel tidak boleh ikut-ikutan."
"Termasuk saat Mommy dan Daddy berciuman?"
Eh!
Di bawah sana.
Bee mencoba memapah tubuh Aneeq. Pria itu terlihat cukup memprihatinkan, karena Ken tidak main-main dengan pukulannya. Apalagi Aneeq sama sekali tak melawan, alhasil wajah pria tampan itu babak belur dengan beberapa luka lebam.
"An, kita ke rumah sakit saja, kamu harus dirawat di sana," ucap Bee sambil melangkah menuju mobil, tidak ada yang berani membantunya, karena semua orang telah mendapat larangan dari Tuan mereka.
"Tapi aku mau bertemu Jennie, Bee. Anak dan calon istriku pergi, aku tidak boleh diam saja," jawab Aneeq dengan terbata, sudut bibirnya terasa sakit dan perih, karena robek akibat pukulan keras sang ayah.
"Kamu boleh mencarinya setelah sembuh, sekarang pikirkan saja dulu tubuhmu. Kita ke rumah sakit De, biar kamu ditangani olehnya."
Langkah Aneeq terseok-seok, bahkan setengah kancing kemejanya sudah terlepas, membuat dada bidang nan berbulu itu terekspos bebas. Bee membuka pintu mobil, dan memasukan tubuh lunglai Aneeq ke dalam sana, setelah itu ia berlari dan langsung duduk di belakang kemudi.
Bee melajukan kendaraan roda empat itu keluar dari mansion menuju rumah sakit saudara kembarnya. Yakni rumah sakit Puri Medika.
Nafas Aneeq sedikit tersendat, karena ia merasakan nyeri pada dadanya. "Untung Daddy tidak membunuhku." Lirihnya dengan rasa bersalah, karena mengingat wajah Zoya yang sedang menangis tersedu-sedu di depan matanya.
"Ya, kamu harus bersyukur An. Lagi pula bagaimana ceritanya, kamu sampai dipukuli seperti itu lagi?"
"Mommy mengusir Jennie, Bee. Jennie meninggalkanku dan membawa Ziel bersamanya. Aku takut terjadi apa-apa dengan mereka."
Mendengar itu, Bee langsung menoleh ke samping menatap Aneeq yang menyandarkan kepalanya di punggung kursi. "Are you kidding? Mommy benar-benar melakukan itu?"
"No, aku serius. Aku tidak sengaja membentak Mommy karena aku menganggap Mommy sudah keterlaluan. Mommy menangis dan aku malah dipukuli seperti ini, aku tidak bisa meragukan cinta Daddy pada istrinya, dia sudah seperti ingin membunuhku tadi," jelas Aneeq dengan tatapan sendu, dia benar-benar dilema. Antara keluarga dan wanita yang dicintainya. Dia tidak bisa memilih di antara salah satunya.
Bee menghela nafas panjang. "Kamu juga salah, An. Kamu harusnya bisa mengontrol emosi saat berhadapan dengan Mommy. Bagaimana pun dia ibu kita, dia yang sudah melahirkan dan membesarkan kita. Kamu kan dari kecil sering menyusahkannya."
Aneeq menunduk, dia benar-benar merasa bersalah. Semua kenangannya bersama Zoya tiba-tiba melintas begitu saja, membuat matanya berkaca-kaca. "Ya, setelah aku ini aku harus bersujud di kakinya. I am sorry, Mom. Aneeq menyesal melakukan itu semua."
Bee menepuk-nepuk bahu Aneeq dengan pelan. "Good, Brother! Setelah itu kita cari Jennie dan Ziel sama-sama."
*
*
*
Cari sana di tukang buah😂😂😂