My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
Cacing Alaska #2


El melenguh tak habis-habis saat Caka bermain di kedua buah dadanya. Dia semakin mencengkram kepala suaminya, hingga salah satu bulatan itu tenggelam dalam mulut Caka.


Permainan lidah Caka di pucuk merah jambu itu membuat El menggelegak. "Kakak, aku sudah tak tahan." Keluhnya dengan sengatan yang terus menerus menjalar seperti mempermainkan gairahnya.


Caka mengangkat kepala dan melihat wajah El dengan nafas memburu. Dia menangkup kedua sisi wajah istrinya dan beberapa kali memberi kecupan. "Sekarang giliranmu."


El baru paham ucapan Caka, saat pria itu meraih satu tangannya. Dengan mata yang saling tatap El membuka sabuk pinggang suaminya, tangan langsing itu seperti sudah sangat lihai, hingga tanpa perlu melihat El sudah mampu melepaskan sesuatu yang menutupi benda kesukaannya.


"Kita bermain di sini?" tanya El setelah berhasil membuat tubuh suaminya polos.


Caka tersenyum tipis dan mengangguk. "Iya, buka kakimu!" Titah pria itu dengan menggerakkan jari, El langsung patuh pada perintah Caka, dia membukanya lebar-lebar hingga Caka bisa melihat sesuatu yang begitu menggairahkan.


"Cepat lakukan, aku pegal," ucap El, yang membuat Caka mengalihkan pandangannya. Pria itu menatap mata El dengan senyum yang sama sekali belum memudar, dia menarik dagu istrinya dan kembali melabuhkan sebuah ciuman.


Kini tubuh Caka berada di antara kaki El, wanita itu bisa merasakan benda yang semula gondal-gandul itu berubah menegang. Karena benda itu beberapa kali mengenai pangkal pahanya.


Tangan Caka tak bisa diam saja, dia meremaat sana sini hingga memainkan buah strawberry yang begitu manis rasanya.


"Kakak jangan diputar-putar!" El menggeliat semakin kuat, wanita itu sudah gusar dengan semua perlakuan Caka di atas tubuhnya.


Tak ingin hanya Caka yang berkontribusi di dalam kegiatan panas ini, El pun mengambil alih kendali, dengan memegang cacing Alaska sang suami dan menggeseknya.


"Ah, El." Ingin rasanya Caka mendorongnya, dan segera menenggelamkan benda panjang itu. Namun, dia masih suka dengan pemanasan ini, dia ingin membuat El meleleh dengan permainannya.


Namun, tak disangka, El malah mendorongnya. Mereka saling tatap, El turun dan melangkah ke arah Caka, wanita itu semakin mendorong tubuh suaminya hingga Caka jatuh di atas ranjang.


"Kamu terhebat, Sayang. Ini sangat nikmat." Caka menekan kepala El, hingga wanita itu hampir tersedak karena milik Caka yang menyentuh ujung tenggorokannya.


Sudah tak tahan dengan semua lelehan kenikmatan ini, Caka menarik kepala El, dia bangkit dan mendorong tubuh El hingga mereka kembali di depan meja rias.


Caka segera membuka akses, hingga suara jeritan El memenuhi kamar mereka. Caka sudah berhasil menyatukan tubuh mereka, tak ingin membuang waktu dia segera bergerak menghentak tubuh El dengan sangat mantap.


"Ini makanan yang selalu membuatku lapar," ucap Caka di antara desaah yang keluar dari mulutnya. Dia menekan semakin dalam, sementara senjatanya serasa mendapatkan pijatan yang sangat enak.


"Kamu menyukainya, Sayang?" tanya Caka, sambil menatap wajah sensual El, wanita itu menggigit bibir bawah dan mengangguk untuk menjawab pertanyaan suaminya.


"Aku sangat menyukainya, ini terlalu nikmat dan mendebarkan. Aku ingin yang lebih keras."


Mendengar itu, Caka semakin menyeringai senang, dia mengangkat tubuh El dengan tubuhnya yang masih menyatu. El melingkarkan tangan di sepanjang leher Caka, hingga mereka berganti bermain di sofa.


"As you wish, Hunny. Kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan sekarang juga."


Caka bergerak semakin keras, mengerahkan seluruh tenaganya, El sampai tidak dapat melihat bahwa yang di atas tubuhnya ini adalah sang suami, dia seperti melihat orang lain. Tapi sungguh tak dipungkiri dia sangat suka permainan ini.


Ah!