My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
MSS 65


Aneeq menemui Andreas, seorang klien yang memiliki sifat tak jauh dari dirinya. Penikmat semangka, tanpa adanya cinta. Saat Aneeq tiba di klub tempat mereka janjian, Andreas yang kala itu sudah datang duluan langsung menghentikan ciumannya bersama seorang wanita cantik yang ditariknya secara sembarangan.


Pria dengan jambang lebat itu mengusap bibir dengan ibu jari, lalu tersenyum ke arah Aneeq dan Caka. Setelah itu dia mengambil satu batang rokok, sikapnya yang santai tak jadi masalah bagi Aneeq, yang penting saat membicarakan pekerjaan, mereka masih nyambung dan Aneeq tidak perlu mengulang penjelasan.


"Bersantailah dulu, An. Kamu baru datang," ucapnya seraya menghembuskan asap bernikotin yang dia hisap.


Aneeq mengangguk, dia juga ikut mengambil satu batang dan menyalakannya. Tak lupa juga sebotol minuman beralkohol menjadi salah satu teman mereka.


Hingga tak berapa lama kemudian mereka mulai membahas mengenai kontrak kerja sama. Andreas sengaja memilih tempat di sudut ruangan, agar suara musik tidak terlalu terdengar.


Namun, ditengah pembahasan itu, tiba-tiba pandangan mata Aneeq menangkap sosok yang begitu dia kenal. Aneeq mencoba menajamkan pandangannya, dan dia benar-benar tidak salah lihat.


Ada El di meja lain, bersama dengan kedua temannya. Wanita cantik itu terlihat sudah mabuk. Karena sepertinya El meminum minuman beralkohol. Aneeq merasa geram, sebab El berani meminum minuman seperti itu.


Dan lebih geramnya lagi saat Aneeq melihat ada seorang pria yang mencoba menggoda adik kembarnya. Sorot mata Aneeq memicing, menghunus mematikan. Dia hendak bangkit dari sofa, tetapi secepat kilat Caka menghentikannya.


"Biar saya saja, Tuan. Selesaikan saja pekerjaan anda," ucap pria itu, tahu apa yang membuat Aneeq merasa sangat kesal. Karena sebenarnya sedari tadi dia juga sudah melihat semuanya.


Caka hanya bisa mengawasi wanita itu. Setidaknya sampai Aneeq menyelesaikan pekerjaannya. Namun, sayang Aneeq justru sudah tahu, jadi biarlah dia yang menangani El.


Aneeq ingin menolak, tetapi mengingat ucapan El yang meminta untuk didekatkan dengan Caka, membuat dia urung. Aneeq mendesaah kecil, lalu menganggukkan kepala.


Setelah mendapat persetujuan dari Aneeq, Caka melangkah mendekati meja El dan teman-temannya. Wanita itu terlihat tengah didekati oleh seorang pria, dan hal tersebut membuat dada Caka memanas.


Dia segera menyingkirkan pria yang lancang menyentuh lengan sang wanita. "Jangan macam-macam!"


Pria itu menyipit, menatap Caka dari atas sampai bawah. Caka terlihat sangat rapih berbeda sekali dengannya. "Siapa kamu?"


"Tidak peduli siapa aku, yang jelas jangan pernah lancang untuk menyentuhnya!" Tegas Caka, sementara El yang sudah mabuk, tertawa-tawa melihat aksi heroik pria yang dicintainya, dia bahkan langsung memeluk lengan Caka. Bergelayut manja di sana.


Pria itu tak ambil pusing, lagi pula dia hanya iseng ingin mendekati El. Hingga akhirnya dia melenggang kembali ke mejanya.


Caka menoleh ke arah El yang terus memeluk lengannya dengan erat. "Nona, biar saya antar pulang." Ajak Caka, tetapi El justru menggeleng.


"Tidak mau, Sayang. Aku masih mau di sini. Kita minum lagi yah, yah," pintanya dengan bibir yang mengerucut, alkohol telah berhasil mengambil kesadaran wanita itu.


"Nona, kita harus pulang. Nyonya akan memarahimu nanti." Caka masih berusaha untuk membujuk wanita satu ini, meski El terus menolak. Dia ingin tetap tinggal, dan Caka tidak punya waktu banyak untuk meladeni tingkah El.


"Aku tidak mau pulang. Aku mau di sini!" rancau El sambil memukul dada Caka dengan tenaga seadanya. Caka terus melangkah, hingga mereka sampai di mobil.


Caka langsung memasukkan El ke dalam sana dan menguncinya.


"Jangan culik aku! Lepaskan aku brengsekk!" pekik El, tidak sadar siapa yang sedari tadi menggendong tubuhnya. Dia mencoba membuka pintu mobil, tetapi tidak berhasil.


Caka mencoba memasang seat belt, tetapi karena El yang tak mau diam, membuatnya kesulitan. "Jangan macam-macam kamu, dasar pria kurang ajar! Aku menjaganya untuk suamiku. Kalau kamu macam-macam, nanti milikku rusak!"


"Diamlah."


"Tidak mau! Pergi kamu badjingan! Daddy tolong El, Dad."


"Diam!"


"Calon suamiku, mana calon suamiku. Harusnya dia datang."


"El, diamlah. Ini aku Caka," cetus Caka akhirnya, karena sedari tadi El terus saja meronta. Mendengar nama Caka, seketika El langsung tak bertenaga.


Dia menatap pria yang ada di hadapannya. Sorot mata sayu, nyaris meredup membuat Caka tak bisa memarahi El begitu saja.


"Caka? Maksudmu Kak Caca? Kamu—calon suamiku?" tanyanya, dan Caka tidak bisa menjawab pertanyaan El. Hingga wanita itu tersenyum kecil, meraba wajah tampan Caka lalu menarik kepala pria itu untuk menyatukan bibir mereka.


Dan apa yang seharusnya terjadi, terjadilah.


*


*


*


Ngapain kamuhhh Sanchaaa?


Jangan bilang mau bikin adonan donat sama Caka🤣🤣🤣