
Tanpa segan Caka langsung melandaskan sebuah ciuman brutal di bibir istrinya. Mencium dalam dengan sesapan yang terasa begitu nyata. Gerakannya lembut, tetapi menuntut. Kedua tangan Caka beralih untuk memegang tangan El dan menguncinya di atas kepala.
Sementara handuk pria itu entah bersembunyi di mana, gerakan Caka yang begitu keras membuat kain lembut itu terbang tanpa guna. Caka beberapa kali memutar kepala untuk memperdalam ciumannya.
Sebuah gerakan yang membuat El gelagapan, sebab dia telah menerima serangan dadakan. Dia mencoba untuk sadar, apalagi tubuhnya berubah memanas dengan lelehan kenikmatan yang membuncah.
Wanita itu hanya senantiasa menutup mata dengan aliran darah menderas, berjalan cepat hingga naik ke atas puncak kepala. Caka menggigit-gigit kecil benda ranum yang sudah menjadi candunya, agar El mau memberikan dia akses.
Tanpa menunggu lama dalam beberapa kali gigitan El sudah membuka mulut, membuat lidah Caka langsung melesak masuk.
"Ah, Kak!" desahh El, mulai mengeluarkan suara yang membuat Caka semakin berubah beringas. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang telah El berikan. Dia berhak atas tubuh ini, hingga tanpa tahu malu Caka menjamahnya sesuka hati.
Caka meremass-remass gundukan yang sedari tadi menggodanya dengan pucuk yang terlihat sangat imut. Benda kecil berwarna merah jambu itu disesapnya hingga membuat El menjerit.
Sementara otak wanita itu mengingat setiap bait adegan yang telah ditontonnya. Hah, ternyata memang sama. Caka telah berhasil membuat dia basah.
Tak tinggal diam, El pun mulai membalas ciuman suaminya, dia sedikit membuka mata dan melihat Caka yang terus menatapnya dengan begitu lekat.
El mengalungkan tangannya di sepanjang leher Caka. Sementara tangan kekar pria itu mulai berlarian, bergerilya mencari tempat yang akan menjadi kesukaannya. El tak bisa menampik semuanya terasa begitu nikmat, sentuhan Caka yang menyeluruh juga membuai tubuhnya, membuat dia meremang.
Ciuman mereka terlepas sejenak, saling memandang dengan debaran dahsyat yang menyatu dalam gelora yang sama. Jari jemari Caka mengitari wajah cantik El, hingga bermuara di bibir ranum milik istrinya yang sempat mendesaah.
"Sayang," panggil Caka untuk pertama kalinya. Tatapan pria itu penuh kabut cinta, membuat El tak bisa menahan detak jantungnya yang berdebar kencang. Dia sangat senang Caka memanggilnya seperti itu. Apalagi di malam istimewa milik mereka berdua.
El semakin mengangkat wajahnya yang merona. Wanita itu mengukir senyum. Malam ini dia akan pasrah, menyerahkan seluruh jiwa dan raganya pada pria yang kembali memangkas jarak, menekuk kedua tangannya hingga kedua benda kenyal itu kembali menyatu.
Tidak ada paksaan apapun, keduanya melakukan semua itu dengan senang hati dan rasa cinta di hati masing-masing. Caka kembali mengulumm bibir El, lalu menyesapnya dengan kuat hingga wanita itu melenguh. El secara reflek mencengkram bahu Caka, berputar dan naik hingga ia meremass rambut pria tampan itu.
Nafas Caka yang memburu terasa menampar wajah El, berhembus hangat dengan deru yang terdengar tak beraturan. El berganti memeluk leher Caka saat pria itu memberikan sentuhan basah di telinganya.
Tubuh El berkedut tak menentu, bahkan seperti tersengat. Merasa geli bercampur nikmat yang menggelora. Gerakan Caka semakin turun ke leher, memberikan sesapan hingga menimbulkan bekas kemerahan yang begitu kontras di tubuh putih wanitanya.
Caka sudah mulai pandai mencumbu, gerakan pria itu begitu cepat hingga tanpa terasa kepala Caka sudah bersemayam di antara pangkal paha istrinya. Lekuk tubuh El yang begitu indah sudah dia jamah dengan menyeluruh. Dia menatap dengan kabut yang berkelebat pada kain tipis yang masih menutupi inti tubuh El.
Caka meneguk ludah saat melihat dengan jelas apa yang bersembunyi di balik kain merah itu, Caka menariknya perlahan dengan sorot mata yang tak lepas memandangi wajah cantik El.
Tidak ada yang bisa ditutupi lagi oleh El, sebab Caka telah melihat semuanya. Kaki wanita itu terbuka sementara Caka berada di antaranya. Pria itu tersenyum kecil, menatap El yang sudah merah merona, tanpa ba bi bu dia langsung menyesap benda tersebut hingga membuat El mendesaah.
"Ught, Kak."
Yang dipanggil tak peduli dan asyik dengan aksinya. Naluri seolah tengah bereaksi, membuat pergerakan yang membuat El lagi-lagi mengangkat pinggangnya. Suara lenguhan itu benar-benar terasa merdu di telinga Caka, hingga membuat pria itu semakin bergerak tidak sabaran.
Kepala Caka terangkat, dia semakin naik menciumi perut El dengan penuh hasrat. Hingga dirinya kembali berhenti di dua gundukan kesukaannya. Sebuah sumber kenikmatan yang hampir membuatnya gila.
"Kakak, ini kapan selesai?" tanya El dengan nafas terengah-engah. Sedari tadi sepertinya Caka terus menggoda dengan sentuhan-sentuhan yang membuat dia kelabakan. Sementara pria itu tidak mendapatkan apapun.
Mendengar itu, Caka terkekeh lalu menautkan kedua tangan mereka. "Sabar, ini belum apa-apa, Sayang. Memangnya kamu sudah siap menerima seranganku?"
Pria perkasa itu sudah tidak dapat menahan kembali gelora yang sudah memenuhi dadanya. Dia semakin memajukan tubuhnya, membuat kaki El reflek terbuka lebar, dan dia bisa melihat semuanya.
Wajah sensual El kembali bersemu memerah, El menggigit bibir bawahnya mulai gelisah. Padahal mulut berkata siap, tetapi tubuh tak bisa bohong. Dia gemetar saat Caka memberi perkenalan dengan menempelkan benda panjang itu pada inti tubuhnya.
Caka mendekatkan wajahnya dan mengadu pucuk hidung mereka. Dia mengecup bibir El sekilas memberikan ketenangan pada wanita itu. "Jangan tegang, aku akan melakukannya dengan pelan-pelan. Ini akan sedikit sakit, tapi tenanglah, rasa sakitnya hanya sebentar." Ucap Caka dengan suara beratnya, suara yang mampu menghipnotis El hingga secepat itu dia mengangguk patuh pada ucapan suaminya.
Pria tampan itu tersenyum, dan detik selanjutnya dia mencoba menembus pintu surga dunia milik istrinya yang masih tertutup rapat. Nafas El tersengal-sengal, dia mulai merasakan sakit yang begitu nyata, tetapi dia hanya bisa mencengkram kuat bahu Caka dan menancapkan kuku-kukunya di sana.
"Kakak sakit!" adu wanita itu merintih.
"Tahan, Sayang." Pria perkasa itu masih berusaha keras untuk mengoyak inti tubuh istrinya. Caka tak peduli lagi dengan rasa perih yang menjalar di sekitar leher dan bahunya akibat cakaran El.
"Kakak, stop! Ini menyakitkan!"
Caka menengadah. "Tahan, Sayang. Sebentar lagi oke, aku pasti berhasil."
"Tapi sakit!" rengek wanita bak barbie hidup itu sudah menangis sesenggukan. Di awal dia yang menantang. Giliran sudah diserang, malah menyuruh Caka untuk menghentikannya begitu saja.
"Tidak akan lama, El."
"Hiks, Daddy ... sakit." Tak peduli dengan ucapan Caka, dia malah memanggil Ken dalam percintaan mereka. Dia terus memukul-mukul dada Caka dengan derai air mata.
Melihat itu, Caka kembali merampas bibir El. Sementara di bawah sana, dia mendorong keras. Hingga El kembali menjerit, bersama pecahnya selaput yang berhasil Caka tembus.
Dada El bergerak naik turun, sakitnya benar-benar luar biasa, wanita itu terus sesenggukan, sementara Caka bergeming ingin membuat El merasa tak asing dengan kehadirannya.
"Sayang, berhentilah menangis," ucap Caka sambil menghapus jejak basah El.
"Tapi itu aku sakit!"
"Iya, setelah ini tidak lagi."
"Bohong!
"Janji, Sayang. Makanya kamu rileks, oke? Ikuti sesuai nalurimu."
Baru saja El akan percaya, dia malah dibuat menjerit bersamaan dengan Caka yang menggerakkan anggota tubuhnya. El kembali sesenggukan dengan mencakar tubuh suaminya tanpa segan, hingga bahu Caka berdarah-darah.
Namun, lama semakin lama tangis El mulai mereda, saat rasa perih yang menjalar berubah menjadi lautan kenikmatan. El mengekspresikan semuanya lewat suara, juga gerakan tangan yang terus meremass rambut Caka.
"Bagaimana, Sayang?" tanya Caka sambil memompa tubuh El, wanita itu terlihat meliuk keenakan dan tersenyum tipis.
"Tidak sakit lagi," jawabnya lalu melenguh, dia tidak bisa mendefinisikan semua rasa yang dia terima, begitu pun dengan pria yang masih bergerak di atas tubuhnya. Hingga tak berapa lama kemudian, tubuh mereka terasa menegang. Seluruh urat syaraf mereka seperti ditarik, menyisakan lunglai yang tak berkesudahan.
Dan akhirnya gelombang pelepasan itu datang. Caka semakin menekan tubuhnya, membiarkan tubuh mereka menyatu semakin dalam. Sementara bibit-bibit berkualitas miliknya mulai menyemai, siap menjadi bayi lucu yang menggemaskan.